Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Buat Dirimu Bahagian


__ADS_3

Khanza yang sedari tadi terus menunduk memberanikan diri menatap suaminya.


Tatapan mereka bertemu, Khanza bisa melihat tatapan kemarahan dari mata Abizar.


"Kakak marah, ya?" tanya Khanza dengan suara yang mulai bergetar. 


"Jangan mengulanginya lagi, jangan pernah membalas pesan darinya. Jangan pernah bertemu dengannya lagi, dan jangan menyembunyikan pertemuanmu dengannya." Menatap tajam pada Khanza.


"Iya Kak! Nggak lagi," jawabnya.


Abizar beranjak dari duduknya merapikan semua pekerjaannya dan memasukkan ke dalam tas kerjanya.


"Ini sudah sore, sebaiknya kita pulang. Kasihan Aziel," ucapnya ingin berjalan keluar, tapi Khanza langsung berdiri dan menghalangi jalan Abizar.


"Kakak udah nggak marah lagi 'kan sama aku?" tanyanya rentangkan kedua tangannya menutupi jalan Abizar.


Abizar tak menjawab, hanya menatap Khanza dengan tatapan kesal dan ingin melewatinya. Namun, Khanza lagi-lagi menghalanginya tak membiarkan Abizar lewat.


"Awww," pekik Khanza saat Abizar menyentil jidatnya.


"Kali ini aku memaafkanmu, tapi awas kalau kamu coba dekat-dekat dengan Daniel lagi."


"Ih … kakak! Bukan aku yang deketin Pak Daniel, dia aja tuh yang deketin aku, dia juga yang mulai chat. Aku nggak bales kok , chatnya," bela Khanza pada dirinya sendiri.


Abizar memberikan tas kerjanya pada Khanza, dengan sigap Khanza langsung memeluk tas kerja suaminya.


"Kau sudah benar dengan tak membalas pesannya, masalah Daniel biar aku yang urus, kita pulang sekarang!" Abizar berbalik pada Farah yang masih duduk di sofa melihat tingkah mereka.


"Ayo kita pulang," ucapnya pada Farah.


Farah berdiri dengan malas dan menghela nafas.


"Mas pulang lah lebih dulu dengan Khanza, aku mau ke suatu tempat, aku ada janji dengan teman-temanku."


"Mbak mau kemana? Aku ikut Mbak aja ya" ucap Khanza cepat.


"Ya sudah hati-hati, pulangnya jangan kemalaman," ucap Abizar yang diangguki oleh Farah.


Abizar langsung menarik Khanza keluar. walaupun Khanza terus menolak .


"Kak, aku  ikut Mbak Farah aja," kekeh Khanza.

__ADS_1


"Nggak, kamu pulang sama aku aja, kasian Aziel," ucap Abizar kembali menarik Khanza. 


Khanza tetap melepaskan rangkulan Abizar dan tetap ingin ikut dengan Farah hingga saling tarik-menarik pun terjadi di antara suami istri itu.


Farah lagi-lagi menghela nafas melihat tingkah suami dan madunya, mungkin jika Abizar melakukannya dengan perempuan lain, ia akan merasa cemburu. Namun, tidak dengan Khanza. Sikap polos dan keceriaan Khanza membuat Farah  benar-benar sudah menganggap Khanza seperti Adiknya sendiri, adik yang masih perlu banyak perhatian darinya dan juga suaminya.


Farah membereskan barang-barangnya kemudian ikut keluar, mengunci pintu.


Farah melihat mobil Abizar yang sudah lebih dulu melaju maju dengan Khanza yang terus melandai padanya.


"Ya Allah, jangan biarkan keluarga kami hancur ," batin Farah ikut melambaikan tangan pada Khanza.


Farah  ingin pergi ke suatu tempat, sudah lama ya tidak bertemu dengan teman-temannya, waktunya habis mengurus pernikahan mereka.


Teman-teman Farah banyak membantu dalam menghadapi masalahnya.


Hari ini, ia ingin menghabiskan waktu dengan mereka.


Kesabaran dan keikhlasannya berbuah manis, kini tujuannya sudah tercapai.


Suami yang begitu dicintai kini sudah memiliki seorang Putra, dan hubungan ketiganya sudah kembali membaik.


Farah sangat senang bisa di pertemuan dengan sosok Abizar, walau telah menikah lagi ia tak berubah, Farah masih bisa merasakan cinta suaminya seperti dulu walau harus berbagi dengan Khanza.


Masih jelas di ingatan Farah saat untuk pertama kalinya Aziel menangis di pelukannya, ia merasa waktu itu dialah yang melahirkannya. Rasa Bahagia, syukur, menyeruak dari hatinya saat bayi kecil itu menangis dalam gendongannya. Walau saat itu mereka dalam situasi yang sangat sulit untuk dikatakan. 


******


Mobil Abizar memasuki gerbang, Khanza bisa melihat putranya sedang bermain di halaman bersama dengan neneknya.


Mereka turun, Abizar langsung menghampiri putranya, yang terlihat begitu bahagia menyambut kedatangannya. Ia mencium seluruh wajahnya.


"Papa kangen banget sama Aziel," ucapnya memeluk dengan erat Aziel dan menggoyangkannya kekiri dan kekanan dengan sangat gemas membuat anak itu tertawa.


"Aziel, bilangin mama, ya. Jangan nakal, mama nggak boleh deket- deket sama pria lain," ucap Abizar berbicara pada putranya.


"Kak, udah, ya! Ini itu bukan salah aku, Aku nggak pernah dekat-dekat sama Pak Daniel, dia kok yang dekat-dekat sama aku, dia juga yang mengirim chat kepadaku. Kenapa kakak malah nyalahin aku sih! Emangnya di wajahku ada tertulis dilarang dekat-dekat, dilarang chat ini istri orang! Nggak ada kan," ucap Khanza kesal kemudian dia berjalan masuk sambil sedikit menghentakkan kakinya.


"Kenapa malah dia yang marah,"ucap Abizar mencoba mengingat apakah ia mengucapkan kata-kata yang salah.


"Sudahlah. Yuk, kita mandi," Abizar mengedikkan bahunya, tak menghiraukan Khanza dan mengajak putranya ikut masuk.

__ADS_1


"Farah mana?" tanya Warda yang sudah selesai mengumpul mainan Aziel.


"Katanya ingin keluar sebentar, Mah," jawabnya.


Kemudian mereka pun masuk karena memang hari juga sudah mulai sore.


****


Sementara itu, Daniel di kantornya terus membolak-balik laporan yang dikirim oleh orang yang diminta untuk mencari tahu tentang Khanza.


Daniel menatap foto Khanza yang juga terselip diantara kertas-kertas tentang informasi Khanza.  Orang itu benar-benar mengambil informasi yang sangat lengkap, bahkan alamat Khanza di desa juga tak luput dari pengamatannya.


Daniel mengusap foto Khanza, "Cantik," satu kata yang terucap dari mulutnya.


Mungkin tak pantas ia mengagumi istri orang lain, tetapi ia tak bisa memungkiri jika sosok Khanza sudah menggetarkan hatinya, ia melihat sosok wanita kuat dalam diri Khanza dibalik sikapnya yang lembut.


"Apa kau bahagia dengan pernikahanmu!" ucapnya masih menatap foto Khanza.


Daniel melihat ponselnya, melihat satu pesan yang belum dibukanya. Ya, itu pesan dari Abizar. Daniel membukanya dan melihat isi pesan dari Abizar, dia tersenyum tipis saat membacanya, bisa dibilang ia iri pada Abizar, rekan bisnisnya itu memiliki dua istri yang sangat mencintainya. Namun, dirinya terus saja ditinggal dengan orang-orang yang dia cintai.


'Jangan membandingkan kehidupanmu dengan orang lain, tetaplah berpikir positif maka kamu akan bahagia.'


Daniel tidak membandingkan kehidupannya dengan kehidupan Abizar, ia hanya tak ingin ada yang bernasib sama seperti yang dialami oleh adiknya.


Daniel mengambil ponselnya, menekan nomor Aqila dan mengajaknya untuk bertemu. 


Daniel ingin tahu lebih banyak tentang Khanza dan ia bisa mendapatkannya dari Aqila.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Selamat tahun baru 🥳


Karena ini tahun baru, boleh dong kak, bagi Vote nya🥰 jika ga ada hadiah juga boleh, ga ada lagi🥺 ya udah, like dan komen aja, biar makin semangat di tahun ini. Makasih untuk dukungannya di tahun kemarin 🙏❤️ Minta dukungan nya lagi ya kak di tahun ini.


Khusus untuk hari ini yang selama ini baca tapi ga like🤗 mohon beri like ya😉


SEMANGAT.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1




__ADS_2