
Setelah menghabiskan makanannya, mereka melihat Mentari terlihat berjalan keluar dari rumah sakit tersebut, membuat mereka akhirnya pun memutuskan untuk masuk kembali ke kamar Azriel. Begitu mereka masuk, ia bisa melihat wajah ceria dari putranya membuat keduanya pun ikut tersenyum menatapnya.
"Hayo jujur, siapa gadis itu. Calon menantunya mama ya?" goda Khanza.
"Bagaimana menurut Mama?" tanya balik Azriel.
"Cantik, sangat cantik. Terlihat juga dia anak yang baik, mama sangat setuju. Kamu kok nggak pernah mengenalkannya pada kami sih, selama ini mama menanti-nantikan kamu membawa gadis ke rumah dan memperkenalkannya kepada kami."
"Sebenarnya dia itu bukan siapa-siapaku Mah, hanya teman, tapi aku serius ingin membahagiakannya, aku bahkan sering ingin mengatakan perasaanku padanya, tapi aku tak berani. Aku takut jika sampai dia menolak dan hubungan pertemanan kami mungkin saja bisa kacau kan?"
"Tapi yang papa lihat dia juga sepertinya menyukaimu, papa bisa melihat raut kekhawatirannya saat menetapmu juga raut wajah bahagia melihatmu baik-baik saja, dari tatapannya saja papa bisa membaca jika dia juga menyukaimu. Jadi, kenapa kamu tak coba untuk mengungkapkan perasaanmu saja?"
"Begitu ya, Pah? Tapi aku masih ragu," ucap Azriel yang tak memiliki keberanian, padahal dia merupakan sosok yang pemberani dalam segala hal, tetapi entah mengapa jika menyangkut Mentari ia jadi menciut.
"Kalau kamu terus menundanya kamu jangan salahkan siapapun ya jika sampai gadis incaranmu itu direbut oleh orang lain, dia gadis yang cantik papa yakin banyak yang ingin menjadikannya miliknya."
Mendengar itu Azriel mengangguk, ia membenarkan apa yang dikatakan oleh mamanya. Memang selama ini Mentari yang sering cerita padanya jika ada beberapa yang menyatakan perasaannya padanya. Namun, ia selalu menolaknya karena merasa dia bukanlah orang yang cocok, hal itu juga yang membuat Azriel takut mengatakan perasaannya pada Mentari, takut mendapat penolakan.
Azriel tak tahu pria seperti apa yang diinginkan oleh temannya itu, apakah pria seperti dirinya atau mungkin pria yang lebih baik dari dirinya, ia sendiri tak tahu.
"Sebaiknya jika memang kamu menyukainya dan takut jika dia menolakmu coba kamu berikan tanda-tanda terlebih dahulu, jika dia tetap bersamamu dan tak menolak saat kalian pergi bersama berarti dia juga menyukaimu, jika memang dia tak ada perasaan padamu jika kamu memberikan tanda padanya dia pasti akan langsung menghindar," ucap Khanza membuat Azriel mengerti apa yang dikatakan oleh mamanya itu, ia pun akan mencoba melakukan trik itu, akan mencoba memberikan isyarat-isyarat pada Mentari jika ia menyukainya.
__ADS_1
"Mah, Pah, sebentar lagi aku kan akan selesai dengan kuliahku, apa menurut kalian aku boleh mengajak Mentari untuk tunangan atau mungkin langsung menikah, bagaimana?" tanya Azriel membuat Abidzar yang sedang meminum air mineral yang dalam kemasan botol pun tersendat, bahkan menyemburkan minuman yang ada di mulutnya.
"Mas, hati-hati dong," ucap Khanza menepuk-nepuk bahu suaminya agar pernapasannya kembali lega.
"Azriel, kamu baru saja ingin menyatakan perasaanmu pada seorang gadis sekarang kamu langsung mau melamarnya?" ucap Abidzar setelah menguasai batuknya.
"Nggak boleh ya, Pah, Mah?" tanya Azriel melihat papa dan mamanya secara bergantian, Azriel sama sekali tak ada pengalaman untuk mengatakan perasaannya pada seorang wanita yang ia tahu ia mencintai Mentari dan ingin selalu bersama dengan Mentari, ingin menjadikan Mentari adalah orang terakhir di dalam hati dan hidupnya.
"Nggak salah kok, mama juga setuju. Bagaimana jika saat wisuda nanti kamu melamarnya?"
"Wah, sepertinya itu ide yang bagus. Bagaimana menurut Papa?" tanya Azriel melihat ke arah papanya.
"Baiklah, sambil menunggu acara wisudanya berlangsung aku akan memberikan sinyal-sinyal jika aku menyukainya. Jika Mentari memberikan respon yang baik aku akan langsung merencanakan lamaranku, tapi jika tidak dan ia menjauhiku ya mau di apalagi mungkin kami memang cocok untuk berteman," ucapnya membuat Khanza hanya menepuk-nepuk pundak putranya.
"Jika kalian memang berjodoh kalian pasti akan bertemu, hanya satu pesan mama padamu, Nak. Jangan pernah menyakiti hati seorang wanita, jika memang kamu ingin menikahinya, buat dia bahagia jangan pernah membohonginya, jangan pernah duakan cintanya, jujur adalah kunci yang utama dalam sebuah hubungan," ucap Khanza, entah mengapa semua ucapan yang keluar dari mulut Khanza membuat Abidzar merasa tersindir, di mana dulu ia menikahi istrinya itu karena sebuah kebohongan, ia juga menduakan dan masih banyak kesalahan yang dilakukannya hingga membuat kehidupan rumah tangga mereka sempat hancur di awal pernikahan bahkan pernah bercerai, beruntung mereka dapat melalui semua lika-liku kehidupan mereka dan sampai pada titik kebahagiaan.
"Iya, Mah. Aku tahu, aku takkan pernah menyakiti hati siapapun terutama orang yang aku cintai," ucap Azriel, ia sudah cukup besar dan mengerti mengapa ia memiliki dua orang ibu, satu ibu Farah dan satu mama Khanza.
Keesokan harinya sesuai dengan kesepakatan mereka, semalam. Pagi-pagi Lucia dan Aisyah sudah datang. Jarak dari rumah sakit ke rumah mereka tak begitu jauh, Aisyah dan Lucia datang dengan membawa sarapan untuk mereka semua, tentu saja dimasak oleh bibi.
"Ya sudah, Azriel. Kamu ditemani Lucia dulu ya, mama dan papa pulang dulu, nanti setelah menjemput ibumu di bandara kami akan langsung ke rumah sakit," ucap Khanza membuat Azriel yang baru saja bangun pun hanya mengangguk sambil mengucek matanya.
__ADS_1
"Tenang saja, Tante. Ada aku kok yang menjaganya, semua pasti baik-baik saja, jangan khawatir. Tante bersantai saja di rumah," ucap Lucia membuat Khanza pun hanya mengusap rambut Lucia. Kemudian mereka pun pergi.
Aisyah yang sudah memakai seragam putih abu-abunya juga ikut bersama dengan papa dan mamanya, mereka akan mengantar putri mereka itu ke sekolah terlebih dahulu sebelum pulang ke kediaman mereka.
Siang nanti mereka akan menjemput Farah di bandara sebelum kembali menuju ke rumah sakit di mana Farah sudah menelpon jika dia akan tiba di bandara siang nanti. Farah hanya datang sendiri tanpa suaminya. Dev sedang ada urusan pekerjaan sementara William saat ini sedang menempuh pendidikan setara dengan sekolah menengah atas, ia hanya berbeda satu tahun dengan Aisyah.
Lucia sedang membantu Azriel untuk berdiri di mana Azriel ingin ke kamar mandi.
"Lucia, tolong panggilkan perawat," ucap Azriel yang tak mungkin ke kamar mandi ditemani oleh Lucia.
"Aku bisa kok membantumu, aku saja," ucap Lucia masih menawarkan diri.
"Lucia, aku mohon," ucap Azriel memalas, ia tak habis pikir dengan Lucia mana mungkin ia membiarkan Lucia menemaninya di kamar mandi, apa dia sendiri tak malu.
"Ya sudah deh, aku panggil perawat dulu," ucapnya kemudian ia pun memanggil perawat, perawat pun datang dan langsung membantu Azriel untuk ke kamar mandi, sementara itu Lucia pun merapikan tempat tidur Azriel. Saat sedang merapikannya sebuah ponsel ditemukannya dibawah bantal dan saat mengaktifkannya senyum yang tadinya menghiasi wajahnya kini berubah suram saat melihat wallpaper dari Azriel adalah foto seorang gadis cantik.
Dengan tangan gemetar Lucia menggenggam ponsel tersebut, ia tak terima dengan apa yang dilihatnya. Azriel tak boleh menyukai wanita lain selain dirinya.
"Siapa wanita ini?" gumamnya kesal, dia ingin mencari tahu siapa wanita itu dari pesan ataupun nomor kontaknya. Namun, begitu ia mengusap layarnya, layar ponsel Azriel terkunci membuatnya tak bisa mengakses ponsel milik Azriel, di saat ia tengah berusaha memasukkan nomor-nomor secara acak dia bisa mendengar suara pintu terbuka membuat dia pun kembali meletakkan ponsel itu di tempatnya.
Walau dengan kekesalannya ia berusaha memberikan senyuman pada Azriel saat tatapan mereka bertemu.
__ADS_1