
Sinta dan Nindi merasa bersalah, mereka juga tadinya berpikir jika Khanza telah dengan sengaja masuk ke dalam rumah tangga pak Abizar dan ibu Farah, mengingat jika Khanza begitu mengagumi sosok bos mereka itu sewaktu mereka masih bekerja bersama.
Dulu Khanza sangat sering bercerita kepada mereka jika pak Abizar adalah cinta pertama nya dan ia akan menjadikannya cinta terakhir. Mereka juga selalu mengejek Khanza yang tak pernah lelah mengejar cinta pak bos dengan datang lebih awal ke kantor sebelum yang lainnya datang hanya untuk menyelinap masuk ke ruangan Abizar, ia akan sangat senang jika mengetahui apabila kopi buatannya yang disiapkan di meja diminum dan cemilan juga dihabiskan oleh Abizar. Ia akan memamerkan kepada mereka jika ia berhasil.
Masih jelas di ingatan mereka kegilaan Khanza mengajar cintanya tanpa putus asa walau ia terus tak dianggap waktu itu.
****
"Maksudmu pak Abizar dan Bu Farah menyembunyikan pernikahannya begitu? Mereka menyembunyikannya dari Khanza?" Tanya Nindi yang lagi memotong pembicaraan Aqila dengan pertanyaan cepatnya.
"Nindi kamu bisa diam gak sih!" Gerutu Sinta.
"Iya maaf," ucap Nindi kembali menutup mulutnya.
"Kok bisa sih, Pak Abizar membohongi Khanza, seharusnya kan pernikahan harus didasari kejujuran apalagi yang ditutupi adalah keberadaan istri pertama, itu kan benar-benar menyakitkan," kata Sinta yang diangguki oleh Nindi yang masih terus membekap mulutnya.
Aqila menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya.
"Itulah yang membuat Khanza sangat sakit sampai sekarang. Ia baru tahu jika suaminya ternyata punya istri lain setelah 2 bulan pernikahan mereka dan parahnya lagi Khanza mengetahuinya di saat dia sudah mengandung, ingin mundur, tapi dia juga memikirkan bayinya."
"Tapi, aku lihat Khanza sudah mulai menerima dimadu dan dijadikan istri kedua," sahut Sinta.
"Ya begitulah, Khanza tak punya pilihan lain selain menerima rumah tangganya, di sisi lain selain takut anaknya tak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya dan dia juga sangat mencintai pak Abizar dan ingin berusaha menerima rumah tangganya.
"Kasihan juga ya Khanza, dia berhasil mendapatkan orang yang dicintainya dan menikah dengannya, tapi ia harus menerima kenyataan yang begitu menyakitkan. Jika Aku jadi dia walau aku mencintainya mungkin aku akan minta pisah. Itu sebuah kebohongan yang sangat menyakitkan, aku tak bisa membayangkan apa yang dirasakan Khanza saat mengetahui semua itu." Sinta membayangkan keceriaan Khanza saat masih bekerja di perusahaan itu.
"Aku nggak nyangka jika pak Abizar mampu melakukan semua itu, membohongi Khanza, aku merasa Khanza seperti dijebak ya dalam sebuah pernikahan." Nindi bergidik ngeri.
"Ya seperti itulah yang dirasakan Khanza saat ini, ia masih bingung apakah Pak Abizar itu mencintainya atau hanya membutuhkannya," ucap Aqila.
"Maksudnya?" Tanya mereka bersamaan.
Aqila mengangkat bahunya sebagai jawaban. "Kudengar ibu Farah tak bisa memberikan keturunan," ucapnya singkat dan kembali ke pekerjaanya.
"Sudahlah kita bekerja kembali, sepertinya anak-anak juga sudah tak meributkan status Khanza." Tambah Aqila.
Status Khanza sebagai istri kedua sudah tak ada yang mempertanyakannya lagi. Aqila yang melihat media sosial juga sudah tak ada satupun postingan tentang Khanza, bahkan beberapa postingan yang sudah terlanjur terkirim telah mereka hapus.
__ADS_1
"Siapa juga yang berani membahas masalah itu jika taruhannya adalah pekerjaan kita," ucap Sinta berjalan ke meja kerjanya.
"Khanza entah bagaimana akhir dari rumah tanggamu," gumam Aqila melihat postingan Khanza yang tersenyum bahagia dan terlihat sangat cantik mengenakan pakaian pengantinnya.
****
Sementara di kediaman Abizar, Khanza langsung masuk ke kamarnya di ikuti oleh Abizar.
Abizar membuka jasnya dan masuk ke kamar mandi, keluar dengan sudah menggunakan baju kaos mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian rumah.
Melihat itu Khanza yang tadinya berbaring kini duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur, terus melihat Abizar yang berjalan ke arahnya.
"Kakak nggak kerja, nggak ke kantor lagi? Ini kan masih jam kerja," tanya Khanza.
"Aku akan menemanimu hari ini," mengecup kening. "Apa ada yang kau inginkan?" Tanyanya dengan tangan yang berada di perut Khanza, merasakan gerakan kecil dari bayinya.
"Aku ingin makan sesuatu yang manis, Kak."
"Apa kamu mau aku belikan cake?"
Khanza mengangguk.
Khanza kembali mengangguk, dan senyum sudah mulai terbit di wajahnya.
Abizar keluar kamar bersamaan dengan itu ponsel Khanza kembali berdering.
Khanza hanya melihat. Ia tak berani mengangkatnya takut jika panggilan itu dari teman sekantornya yang ingin menanyakan status dirinya bersama dengan Abizar.
Khanza hanya melihat ponselnya sampai nada dering nya berhenti sendiri. Namun, tak lama kemudian ponselnya kembali berdering. Khanza memberanikan diri untuk melihat siapa sebenarnya yang memanggil dirinya.
"Ya ampun, telepon dari nenek," ucap Khanza dengan cepat langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Nenek. Maaf kalau agak lambat diangkatnya, aku nggak tahu kalau yang nelpon nenek," ucap Khanza menjelaskan tanpa ditanya saat mendengar suara neneknya di seberang telepon.
"Iya nggak apa-apa, ini cuma mau tahu bagaimana kabar kamu?" Tanya nenek.
"Khanza baik, Nek. Nenek sendiri bagaimana?" Tanya Khanza balik.
__ADS_1
"Nenek juga baik saja. Bagaimana dengan kandungan kamu, apa semua baik-baik saja?"
"Iya, Nek. Semuanya baik-baik saja, Khanza tinggal menunggu waktu persalinannya. Dokter sudah menjadwalkan minggu depan Khanza akan operasi Nenek. Bisakah Nenek datang menemaniku?" Tanya khanza.
"Minggu depan ya? …,Iya Nenek usahakan datang, kamu baik-baik ya sama suami kamu nggak usah pikirkan masalah yang ada, fokus saja sama suamimu dan persalinan mu saja "
Khanza terdiam sejenak mendengarkan apa yang dikatakan Neneknya.
"Apa kamu ada masalah lagi dengan suamimu?" Tanya Nenek yang tak mendengar jawab Khanza.
Khanza tetap diam.
Nenek menghela nafas, ia tahu jika memang cucunya itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Khanza serahkan dirimu dan masalahmu pada Allah, minta tolong untuk menguatkan hatimu, mintalah ketenangan dan kesabaran darinya. Kamu harus percaya akan pertolongan Allah. Libatkan Allah dalam setiap langkahmu dalam setiap mengambil keputusan, insyaallah hati kamu akan tenang, kamu akan mendapatkan kebahagiaan. Allah sedang mengujimu melalui cobaan ini. Nenek yakin kamu akan dapat melalui semua ini dan mendapatkan kebahagiaan kelak," ucap nenek yang memberi nasehat dan penyemangat.
"Iya, Nek. Khanza akan terus mencoba tetap tenang dan sabar, Semoga Allah memberi kekuatan kepada hati Khanza dalam menjalani rumah tangga dengan kak Abi dan anak Khanza, semoga kami bisa bahagia suatu hari nanti, Nek."
"Bagaimana dengan madumu, apa dia masih menyambut kedatangan?"
"Iya Nek, Mbak Farah orangnya sangat baik dia sudah seperti kakak bagi Khanza."
"Syukurlah, Jika dia bisa menjalani semua ini kamu juga pasti bisa, cobalah untuk ikhlas."
"Dengar ya, Nak. Kamu harus belajar untuk bersikap dewasa, sekarang Kamu adalah seorang istri yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, belajarlah untuk menekan amarah dan egoismu sekarang kamu tak sendiri.
"Iya, Nek. Khanza mengerti apa yang dimaksud, Khanza tak boleh menuntut Kaka Abi hanya untuk Khanza, ada Mbak Farah yang juga membutuhkan mas Abi, begitu kan maksud nenek?"
"Syukurlah kamu mengerti tanpa harus menjelaskannya, belajarlah berbagi dengan nya selama suamimu bertindak adil pada kalian berdua," ucap Nenek, berharap rumah tangga cucunya tetap bahagia. walau dengan keadaan yang berbeda.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Mohon dukungannya ya dengan memberi like, vote dan komennya 🙏
Salam dariku Author M Anha.
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖