
Satu hari menjelang pernikahan, semua keluarga sudah berkumpul di kediaman Abidzar begitupun dengan Farah, Dev dan juga adik Lucia, anak kandung dari Farah. Mereka semua bersama-sama berkumpul, meluangkan waktu mereka untuk saling bercengkrama mengingat mereka hanya berkumpul di waktu-waktu tertentu saja.
Saat mereka semua sedang berkumpul bersama, Azriel mendapat panggilan dari kantor mengatakan jika ada pekerjaan yang harus dikerjakannya.
"Azriel, kamu mau ke mana, Nak?" tanya Khanza yang melihat anaknya ingin keluar.
"Ada pekerjaan kantor yang harus aku selesaikan dulu, Bu. Sekalian nanti aku pulang dengan ayah," ucap Azriel di mana Abidzar masih belum pulang karena harus mengerjakan pekerjaannya.
"Ya sudah hati-hati ya, Nak. Besok adalah pernikahanmu," ucap nenek Azriel, ibu dari Abidzar yang selama ini memilih untuk tinggal di luar negeri.
"Iya, Nek. Pasti aku pasti akan hati-hati," ucap Azriel kemudian ia pun melajukan mobilnya keluar dari gerbang kediamannya.
Sementara itu di kediaman sederhana Mentari, ia juga sudah mulai menyiapkan beberapa perlengkapannya di mana besok adalah hari bahagianya. Sopir sudah siap menunggunya di mana malam ini Mentari akan menginap di gedung di mana tempat akan dilaksanakannya acara, di sana ia akan dirias Mentari sengaja memilih untuk bersiap-siap di kediaman tersebut mengingat mobil pun tak bisa masuk ke area tempat tinggalnya. Tak mungkin ia berjalan kaki menggunakan gaun pengantinnya, membuat ia menyewa salah satu kamar yang kebetulan disiapkan oleh pihak penyelenggara gedung dilaksanakannya acara sakral besok.
__ADS_1
"Ibu, Ibu datang ya? Ibu akan menjadi pengganti nenekku," ucap Mentari pada ibu Erwin membuat karyawan pertamanya itu pun mengangguk begitupun dengan karyawan yang lainnya, mereka berjanji akan datang lebih awal mereka akan berada di pihak Mentari, mereka akan datang bersama dengan beberapa warga lainnya.
"Erwin, kamu siapkan semuanya," ucap Mentari membuat Erwin pun mengangguk, Mentari pun meninggalkan kediamannya diantar oleh sopir yang sudah dikirim oleh Azriel. Ia pun langsung menuju ke gedung di mana ia akan menginap di sana, begitu sampai Mentari langsung masuk ke kamarnya, ia tertegun melihat kamar yang disiapkan Azriel untuknya, kamar yang begitu indah.
"Permisi, Mbak. Apa ini juga akan menjadi kamar pengantin kami nantinya?" tanya Mentari, jika memang itu akan menjadi kamar pengantin mereka ia akan mengeluarkan semua pakaiannya dan menyimpannya di lemari.
"Bukan, Bu. Ada kamar lain yang telah kami siapkan untuk kamar pengantinnya. Ada apa, Bu? Ada yang bisa kami bantu," tanya karyawan tersebut.
"Apa boleh aku pergi ke kamar itu?" tanya Mentari.
Mentari pun mengangguk mengerti apa yang dimaksud oleh karyawan tersebut.
"Tapi, bagaimana dengan pakaianku nanti? Apa kamarnya berada di lantai ini juga?" tanya Mentari lagi, ia sadar ia tak punya siapa-siapa lagi, tak akan ada yang bisa dimintai untuk membawa pakaiannya nanti, takutnya mereka langsung menuju ke lantai di mana kamar pengantin itu berada.
__ADS_1
"Bukan, Bu. Kamar pengantinnya berada di lantai atas gedung ini, jika Ibu mau saya akan membawa pakaian ganti Ibu dan menatanya di lemari yang ada di sana," tawar karyawan tersebut membuat Mentari pun mengangguk, ia dengan cepat menyiapkan beberapa pakaian yang akan dipakainya, pakaian tidur dan pakaian ganti untuk menggantikan gaun pengantinnya nanti.
Mentari mengeluarkan beberapa pakaiannya dan kembali memasukkannya ke dalam tas miliknya, serta pakaian yang lainnya dibiarkan di atas tempat tidur.
"Ini saja, tolong tata di lemarinya ya," ucap Mentari menyerahkan tasnya membuat karyawan itu pun mengangguk.
"Apa ada lagi, Bu?" tanyanya dengan ramah dan sopan.
"Nanti aku di rias di kamar ini ya? Apa calon suamiku sudah menyiapkan semuanya?" tanya Mentari lagi di mana ia memang tak tahu menahu mengenai semua itu dan menyerahkannya kepada keluarga calon suaminya.
"Iya Bu. Jam 04.00 subuh nanti akan ada MUA yang datang ke sini, kami sudah mengatur semuanya. Ibu tenang saja, tolong berikan nomor ponsel Ibu di sini agar kami bisa menghubungi Ibu," jelas karyawan tersebut memberikan secarik kertas dan juga pulpen. Mentari pun menulis nomornya di sana, setelahnya karyawan tersebut pun pergi untuk meninggalkan Mentari di kamar itu.
Mentari menghela napas panjang, ia sendiri menghadapi hari bahagiaan, seharusnya malam ini menjadi malam bahagia andai saja ibunya masih hidup. Mereka akan menginap di kamar itu bersama dengan ibunya, ibunya pasti bahagia melihatnya bisa menikah dengan Azriel.
__ADS_1
Mentari mengeluarkan foto ibunya yang tadi di bawahnya, ia memajangnya di atas nakas yang ada di samping tempat tidur, mengusap wajah ibunya yang tersenyum melihat ke arahnya.
"Ibu, doakan kelancaran pernikahan Mentari ya dan semoga Mentari bisa bahagia dengan rumah tangga ini, semoga Mentari bisa menjadi istri yang baik dan mendapatkan suami yang baik dan sayang dengan Mentari," ucap Mentari dengan lelehan air mata yang tak bisa ditahannya, di hari bahagianya seharusnya ia bersama dengan semua keluarganya. Namun, Mentari tak seberuntung itu, keluarga satu-satunya yang ia ketahui kini juga telah meninggalkannya. Ia hanya berharap semoga dengan menikah, semua rasa kesepian yang selama ini dirasakannya bisa ia bagi dengan suaminya dan bisa diterima dengan keluarga besar suaminya.