
Mentari mengendarai motornya kembali ke kediamannya, ke kediaman sederhana. Ia hanya tinggal bersama dengan ibunya yang menyambung hidup dengan berjualan kue, ia terus mendumal kesal saat sampai di rumah
"Ada ya orang seperti itu, mentang-mentang kaya mulutnya tak dijaga. Untung saja kamu masih ada hubungan keluarga dengan Azriel, jika tidak ... aku masih memaklumimu jika tidak aku sudah menghajarmu dan menyumbat mulutmu dengan kueku ini," kesal Mentari sambil berjalan masuk. Ia bahkan sampai lupa mengucapkan salam saking kesalnya, belum juga rasa kesalnya hilang karena orderan kuenya di batalkan. Mentari kembali bertemu dengan Lucia di jalan dan semakin membuatnya merasa kesal. Untung saja tadi ia bisa menahan diri sehingga tak melemparkan kue yang di cancel oleh pelanggannya itu ke wajah Lucia.
"Mentari, kamu kenapa, Nak?" tanya Rusmi, ibu dari Mentari.
"Ini, Bu. Aku bertemu dengan nenek lampir di jalan," kesalnya membuat Rusmi pun hanya menggeleng.
"Loh, ini kok kuenya masih kamu bawa pulang, Nak? Orangnya nggak jadi beli, ya?" tanya Rusmi lagi saat melihat kue yang tadi di bawah oleh putrinya ada yang tersisa.
"Iya, Bu. Orangnya nggak jadi ambil, katanya sudah pesan di tempat lain. Aturannya kan jika dia sudah pesan dengan kita, dia nggak boleh pesan lagi ke tempat lain, atau jika dia memang sudah pesan di tempat lain, dia harus meng-cancelnya lebih awal pada kita. Ini kan kita jadi di rugikan berkali-kali, Bu. Rugi bahan-bahan kue ini, rugi uang bensin dan rugi waktu. Belum lagi aku juga tadi buru-buru mengantarkannya takut terlambat." Mentari menjeda kalimatnya, "Yang paling membuat rugi aku, Bu. Aku bertemu dengan seseorang yang membuatku kesal," ucap Mentari panjang lebar, dia sangat kesal karena kejadian tadi, jika saja tak ada orang lain di mobil itu mungkin ia akan mengajak Lucia untuk aduh tonjok saja tak perlu aduh bacot.
"Sudahlah, memang mungkin belum rezeki kita, kamu nggak boleh gitu namanya juga berjualan ya kita kadang untung dan kadang rugi, jika kita marah di saat kita rugi itu hanya akan menambah kerugian kita."
Mentari pun dengan kesal memutuskan untuk beristirahat di kamarnya, di semester terakhir ini ada banyak tugas-tugas kuliah yang harus dikerjakannya, semua itu sangat menguras otak dan juga tenaganya. Belum lagi ia harus mencari biaya untuk melunasi uang semesternya nanti, karena jika ia tak bisa membayar semuanya ia tak akan diizinkan ikut wisuda tahun ini. Semua itu membuat Mentari akan melakukan segala cara untuk mengumpulkan uang itu termasuk membuat kue lebih banyak dari biasanya dan juga mengantarkan.
Walaupun tempat pemesanannya lumayan jauh dan walaupun hanya sedikit keuntungan yang akan ia dapatkan, ia akan tetap mengambil orderan tersebut.
Mentari yang tadinya ingin istirahat dan tidur lebih awal kembali terbangun saat mendengar ibunya yang sedang melakukan sesuatu di dapur, terdengar bunyi-bunyian di sana dan ia yakin jika ibunya itu pasti sudah mulai membuat kue lagi. Ia pun segera menyusul ibunya ke dapur, dan benar saja. Ibunya sudah membuat adonan kue untuk di jual besok.
Selain di jual secara online, mereka juga menjual kue itu dengan menitipkannya ke warung-warung terdekat.
"Kamu pasti lelah kan seharian mengantar kue dan juga kuliah, istirahat saja ini biar ibu yang kerjakan. Ini ibu hanya membuat beberapanya dan sisanya kita buat besok lagi sama-sama. Sana istirahat saja!" ucap Rusmi. Namun, Mentari menggeleng, ia pun mengambil wadah lain dan juga membuat adonan lainnya, ia tetap membantu ibunya walaupun ia sudah sangat memgantuk.
"Ibu, apakah menurut Ibu kue kita ini enak?" tanya Mentari kembali mengingat ucapan dari Lucia.
"Tentu saja rasanya enak," jawab Rusmi yang masih terus mengaduk adonannya.
"Ibu, apa Ibu punya resep kue lain yang lebih enak dari ini? Walaupun harganya mahal?"
"Tentu!"
"Benarkah? Bagaimana jika kita coba membuatnya, Bu? Kita akan menargetkan orang-orang kaya sebagai konsumennya."
"Bagaimana cara kita menjualnya?"
"Aku punya teman dan beberapa dari mereka orang kaya yang baik hati. Aku bisa mempromosikan kepada mereka dan meminta mereka melanjutkan promonya ke keluarga mereka.
__ADS_1
"Bolehkah seperti itu? Apa mereka akan membelinya?"
"Tentu saja. Apalagi jika memang rasanya enak sebanding dengan tampilannya dan harganya. Mungkin beberapa orang kaya tak mau membeli kue kita karena selera mereka tak sama dengan selera kue yang kita buat ini yang harganya murah." Mentari masih bersemangat denga ide barunya.
"Resep kue ini memang ada yang lebih enak dari ini. Ini sebenarnya bukan resep sesungguhnya. Ibu hanya membuat sesuai harganya saja, karena jika membuat harga yang lebih mahal takutnya kita tak akan balik modal, ibu juga tak punya modal sebanyak itu."
"Benarkah? Ya sudah Bu kita coba satu dua adonan saja, nanti aku akan meminta teman-temanku mempromosikan kepada kolega mereka, siapa tahu saja ada yang suka kan?"
"Tapi modalnya akan sangat banyak dan lagian jika sampai tak laku kita akan rugi, kamu kan sedang butuh uang biaya kuliahmu. Lagian harga semua bahannya juga tak sedikit, mungkin kisaran 200 ribuan satu adonan."
"Nggak papa, Bu. Kita coba dua adonan saja, nanti aku akan coba menjualnya dengan harga 300 sampai 350."
"Ya sudah, boleh. Jika kamu memang ingin mencobanya nanti ibu belanja dulu bahan ini. Bahan yang ada tak cukup dan masih banyak bahan-bahan lain yang memang tak ada.
Sekarang harga kuenya memang murahan, lihat saja suatu saat nanti, aku akan menjual kue dengan harga 1 juta per kotaknya, lihat saja nanti ia akan buktikan jika dia tak menjual kue murahan yang rasanya juga murahan, walaupun murahan rasanya sangat enak.
Mentari akan buktikan kepada Lucia jika kue buatannya adalah kue yang enak tak kalah dengan kue luar negeri.
***
Sementara itu Lucia, Khanza dan juga Farah sudah sampai di rumah Abidzar. Farah membawa dua kotak kue, satunya langsung diberikan kepada Aisyah.
"Iya, ayo sana makanlah," ucap Farah, ia juga menganggap Aisyah seperti putrinya sendiri mereka sudah seperti keluarga.
"Ya sudah, kamu istirahat lah dulu, besok kita menjenguk Azriel lagi," ucap Farah yang memang lelah dan membutuhkan istirahat. Farah pun mengangguk dan menuju ke kamarnya, tak lupa ia meminta Lucia untuk ikut dengannya.
Lucia yang merindukan ibunya pun menghampiri ibunya ke kamar, malam ini ia ingin tidur bersama dengan ibunya.
Farah akan menginap berapa hari di sini. Begitu mereka sudah sampai di kamar dan Farah sudah mulai membuka barang-barangnya Lucia menjatuhkan bokongnya di tempat tidur.
"Berapa lama Mommy di sini?"
"Mommy tak bisa lama, mungkin hanya 3 hari mommy harus pulang. Lagian kamu juga harus pulang kan, kamu itu sudah kuliah dan ini semester terakhir kuliah kamu."
Mendengar itu Lucia terus memasang wajah cemberutnya, jika diizinkan ia ingin tinggal di negara itu saja.
"Kenapa? Apa kamu tak ingin pulang?"
__ADS_1
"Bolehkan aku lebih lama, Mom?"
"Tenanglah, Azriel sudah baik-baik saja."
"Mom, bolehkah setelah lulus kuliah nanti aku lanjut di sini? Aku ingin dekat dengan Azriel."
Mendengar itu Farah ikut duduk di samping putrinya, ia menggenggam tangan Lucia dengan erat.
"Sebenarnya apa perasaanmu pada Azriel?" tanya Farah yang selama ini juga sebenarnya memperhatikan sikap putrinya itu pada Azriel.
"Bu, apakah salah jika aku mencintainya? Cinta seorang wanita pada seorang pria? Bukan cinta seorang adik pada kakaknya."
"Lucia, apa kamu yakin itu cinta? Bukan hanya sebuah kasih sayang pada Kakaknya?" tanya Fatah membuat Lucia menggeleng cepat.
"Aku tidak tahu, Mom. Kapan cinta ini hadir, tapi aku sangat mencintai Azriel, apalagi jika bersama dengan wanita tadi aku tak tahu apa hubungan mereka, tapi aku bisa melihat jika Azriel menyukainya. Aku bahkan melihat foto wanita itu di ponsel Azriel dijadikan wallpaper, Bu. Aku tak suka."
"Oh jadi itulah penyebabnya kamu bersikap seperti itu pada gadis tadi? Iya?" ucap Farah, ia tahu anaknya itu memang sangat manja dan tak terlalu memikirkan kehidupan orang lain, tapi sikapnya tadi membuatnya cukup terkejut. Dia bukan Lucia yang dikenalnya, ia tak akan menghina seorang seperti yang dilakukannya tadi.
"Apa kamu pikir menghina wanita yang disukai Azriel di depannya itu akan membuatnya senang denganmu? Tidak, Nak. Dia akan semakin membencimu dan berpikir negatif tentangmu, ibu bisa melihat ekspresinya tadi ia tak senang akan ucapanmu pada gadis itu."
"Aku tahu, aku sangat tahu. Kalian semua juga tak senang kan, tapi aku sengaja melakukannya, aku puas melakukannya," ucapnya melipat tangannya di dada.
"Lucia, mommy sangat tahu seperti apa sifat Azriel dan dia tak suka sifat gadis seperti kamu, sifat yang kamu tunjukkan tadi itu akan semakin membuatnya tak menyukaimu. Jadi, berhenti tunjukkan sikap seperti itu jika kamu memang menginginkannya."
"Apa aku harus berpura-pura suka dan bermuka dua dihadapannya? Apakah aku harus tersentum menyambutnya? Tetapi tak suka dengannya, itukah yang Ibu inginkan?"
"Bukan seperti itu, Nak. Setidaknya kamu jangan menghinanya dan sikapmu tadi saat kita di jalan itu sangat tak pantas, kamu bukan hanya menghinanya, tapi juga menghina pekerjaannya."
"Mommy kok membelanya sih! Disini yang anak Mommy itu siapa, aku atau gadis tadi?"
Farah tahu saat ini putrinya itu sepertinya sedang emosi, cemburu pada wanita yang bernama Mentari tadi. Sebaiknya ia memilih untuk mendiamkan situasinya yang mulai menegang.
"Ya sudah, kamu istirahatlah. Mommy mandi dulu," ucap Farah kemudian ia pun masuk ke kamar mandi, sementara Lucia pun berbaring sambil mengambil ponselnya.
Di lantai bawah. Khanza duduk di meja makan bersama dengan Aisyah.
"Aisyah, apa kamu gadis yang bernama Mentari?" tanya Khanza sambil memakan kue yang dibawa oleh Farah, kuenya memang lebih enak dari buatan Mentari. Namun, kue buatan Mentari juga rasanya enak dan tak pantas Lucia menghinanya seperti itu, apalagi Mentari memiliki niat baik memberikan kue itu pada Azriel.
__ADS_1
"Mentari? Aku tak begitu tahu, dia teman kampus Kakak. Aku beberapa kali bertemu dengannya saat bersama dengan Kakak," jawab Aisyah dengan santai.
"Apa mereka memang benar belum pacaran?"