Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Cinta yang menyakiti.


__ADS_3

Khanza mengobrol banyak hal dengan neneknya, orang yang sudah menjadi orangtua bagi Khanza semenjak meninggalnya kedua orang tuanya, Nenek tempat Khanza meluapkan segala sedih dan senangnya, kepada neneknya Khanza bercerita segala sesuatunya, kecuali rasa sakit yang ia rasakan saat ini, Khanza sebisa mungkin merahasiakan rasa sakitnya, ia tak ingin neneknya tak tenang memikirkan dirinya.


"Suamimu mana?" tanya nenek di tengah obrolan mereka.


"Kak Abi sedang keluar, Nek. Khanza mintanya di belikan sesuatu," jawabnya.


"Khanza, Nenek bisa melihat dari caranya memperlakukan mu, suamimu itu sangat menyayangimu dan mencintaimu."


"Iya, Nek. Khanza juga bisa merasakan jika kak Abi sangat mencintai Khanza. Seandainya kak Abi hanya milik Khanza seorang," lirihnya pelan.


"Buang segala pikiran yang bisa membuatmu bersedih, Farah juga baik 'kan sama kamu, jadi belajarlah untuk menerima semua apa yang sudah Allah berikan padamu, jangan terlalu banyak mengeluh, gak baik," Nasehat nenek.


"Khanza sudah mulai belajar menerima semuanya kenyataan rumah tangga Khanza Nek, mohon doanya semoga semua ini cepat berlalu dan hati Khanza benar-benar ikhlas."


"Amin, Nenek akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian bertiga," ucap nenek.


"Nek?" tanya Khanza ragu.


"Ada apa, Nak."


"Menurut Nenek apa lebih baik jika Khanza meminta untuk berpisah rumah dengan mbak Farah, dengan begitu kami akan bisa membagi waktunya. Kak Abi juga bisa membagi waktunya antara bersama dengan Mbak Farah dan juga bersama dengan ku. Dengan begitu  mungkin saja cara itu akan mengurangi rasa sakit hati Khanza Nek saat kak Abi sedang bersama Mbak Farah," kata Khanza meminta pendapat pada neneknya.


"Kalau masalah itu nenek sangat setuju, memang seharusnya kalian tinggal di rumah yang berbeda dan mulai mencoba untuk berbagi waktu suamimu," ucap Nenek.


"Apa kak Abi akan mengabulkan permintaan Khanza, Nek?"


"Kamu coba saja dulu, tapi sebaiknya kamu mintanya baik-baik dan apapun jawaban suamimu harus kau dengarkan dan patuhi. Sebaiknya jika memang kamu ingin pindah lakukan setelah kamu melahirkan, tapi kalau kamu sampai pindah kamu sama siapa, Nenek juga  tidak bisa menemanimu," ucap nenek yang kini khawatir tak ada yang membantu merawat cucunya.


"Kalau masalah itu aku bisa mengajak Aqila. Aqila itu sudah lebih dari sahabat bagi Khanza Nek, jadi dia bisa nolongin Khanza nenek tak usah khawatir," ucap Khanza.


"Cobalah bicara dengan suamimu  secara perlahan, tapi kalau dia memang tak setuju kamu jangan memaksa cobalah memintanya secara lembut," Nasehat nenek.


"Iya, Nek," ucap Khanza.


"Sudah dulu ya, Nek. Khanza matiin, nanti Khanza  telepon lagi," ucap Khanza matikan teleponnya saat Abizar sudah datang dan membawa kotak makanan untuknya.


"Telepon siapa?" tanya Abizar yang sempat melihat Khanza sedang menelpon saat dia masuk.


Khanza meletakkan ponselnya di sampingnya, kemudian mengambil kotak yang dibawa oleh Abizar.


"Telepon dari nenek. Nenek menanyakan kabar ku dan bayi kita. Nenek juga akan mengusahakan akan datang saat persalinan ku nanti." 


Khanza tersenyum bahagia, ia merasa lega setelah bercerita dengan neneknya. 


Khanza sangat senang Abizar memilih kue yang memang ia inginkan sedari tadi.

__ADS_1


"Aku akan mengirim orang untuk menjemput nenek."


"Nggak usah Kak, nenek bilang nggak usah, nenek bisa datang sendiri nanti jemput pas di bandara sini aja," ucap Khanza yang sudah mulai memakan pesanannya.


"Kamu suka?" tanya Abizar melihat Khanza makan dengan lahap, membersihkan bibir Khanza yang terkena krim lalu memakan krim dari bibir istrinya.


"Ya, Kak.  Rasanya enak," ucap Khanza memberikan makanan yang dipegangnya ke mulut suaminya.


Mereka makan kue dengan Sangat bahagia, seakan tak ada masalah yang terjadi. Tertawa bersama, sifat ceria Khanza semakin membuat Abizar jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya pada istri cantiknya itu.


Itulah Khanza, ia bisa dengan cepat melupakan kesedihannya, bisa dengan mudah membuat dirinya bahagia walau Karena hal kecil.


Dengan sangat mudah melupakan masalahnya, tadi ia menangis. Namun, lihatlah  sekarang ia tersenyum bahagia di pelukan sang suami.


"Kak. Apa boleh aku minta sesuatu?"


"Apapun yang kau inginkan, mintalah. Aku akan berusaha mengabulkannya," ucap Abizar memainkan rambut Khanza Yang sedang bersandar di dadanya.


"Khanza ingin pindah dari rumah ini," ucap Khanza tegas.


"Pindah?" tanya Abizar menghentikan tangannya dan melihat Khanza.


"Iya Kak, dengan begitu Kakak bisa membagi waktu antara bersama dengan Khanza dan Mbak Farah," jelas Khanza.


Aku akan mencoba mencari rumah untukmu, tapi pindahnya setelah melahirkan ya!" Abizar langsung setuju dengan permintaan Khanza.


"Jadi bolehkah?" tanya Khanza berbinar bahagia.


Abizar mengangguk mengiyakan.


Kalimat persetujuan dari permintaannya membuat Khanza semakin bahagia. Tadinya Khanza berpikir Abizar tak akan mengabulkan permintaannya


Banyak hal kecil yang bisa membuatnya bahagia, ia berusaha melupakan semua apa yang bisa menyakitinya.


"Inilah takdir yang di pilih Allah SWT untuk ku," kalimat itu seperti mantra pemenang hatinya yang sakit.


Ponsel Abizar berbunyi, itu panggilan dari Farah.


"Iya, Farah ada apa?" tanya Abizar mengangkat panggilan Farah.


"Mas, apa bisa kamu datang ke kantor sekarang, rapat ini sangat penting. Aku dan Fahri tak bisa menanganinya, para  klien mas meminta bertemu langsung," ucap Farah.


"Kakak pergi saja, Khanza Nggak papa kok," ucap Khanza pelan yang masih dapat didengar oleh Fara di seberang telepon.


"Baiklah tolong kau urus mereka dulu, aku akan segera ke kantor," ucap Abizar dengan segara memakai kembali pakaiannya.

__ADS_1


Farah melihat layar ponselnya yang sudah menggelap, menghela nafas berat, kini suaminya benar-benar sudah berada dipeluk Khanza," pikir parah mengelus dadanya.


"Aku ke kantor dulu ya, jika ada apa-apa kau tinggal hubungi aku," ucap Abizar sambil terus memakai pakaiannya kembali, memberikan satu kecupan kepada Khanza dan bayinya sebelum dia berangkat ke kantor.


Khanza hanya bisa melihat punggung suaminya yang menghilang di balik pintu, mengusap perutnya yang tiba-tiba mengeras.


"Papa berangkat ke kantor dulu," ucap pada bayinya. Khanza memegang perutnya yang telah diberi kecupan oleh Abizar begitu juga dengan keningnya. Semoga kebahagiaan ini akan selalu bersama denganku," batin Khanza.


Abizar sampai di kantor, Syukurlah Farah  bisa menangani sedikit masalah sampai ia datang, Abizar meminta maaf karena ada urusan lain.


Abizar sudah terlambat beberapa menit dari perjanjian. Namun, semua itu tak masalah bagi kliennya, bekerjasama dengan perusahaan Abizar merupakan suatu kehormatan. Namun, ia tak ingin apabila kerjasamanya diwakili oleh orang lain. Mereka ingin Abizar sendiri yang menyetujui dan hadir di rapat mereka.


Rapat berlangsung lancar Abizar berhasil mendapatkan investornya kembali, bahkan ia menanamkan modal lebih tinggi dari yang sebelumnya.


*****


Khanza merasa bosan di rumah sendiri, Ia hanya duduk sambil memakan sisa kuenya. Ingin keluar kamar ia tak ingin bertemu dengan Santi, ia sudah banyak masalah pagi ini. Khanza memutuskan untuk mengambil ponsel, dengan ragu Ia membuka aplikasi media sosialnya.


"Baru berapa jam tidak membukanya ternyata sudah banyak sekali kirimannya pesan yang masuk di ponsel.


Awalnya Khanza membuka wa pribadi, semua ucapan permintaan maaf.


"Kenapa mereka meminta maaf??" batin Khanza.


Tiba-tiba Khanza teringat akan FB-nya, tadi ia melihat Abizar menulis sesuatu di ponselnya.


Khanza kembali membuka aplikasi,


"Apa yang tadi di tulis kak Abi."


Khanza memeriksa statusnya.


Khanza membulatkan matanya melihat Abizar memposting foto pernikahan mereka dan juga foto pernikahan.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 💗


Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏🙏


Salam dariku.


author m anha


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2