Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Kunjungan di Pagi Hari


__ADS_3

Malam ini hanya ada mereka bertiga, Khanza, Aziel dan Abizar, mereka benar-benar memanfaatkan kesempatan itu, mereka bermain bersama dengan Ziel hingga larut malam, bahkan mereka tanpa sadar masih bermain sedangkan Aziel sudah terlelap di tumpukan mainannya.


Tak ingin kehilangan kebersamaan mereka, Abizar menggendong Aziel, bukannya membawanya ke kamar ia menggendongnya pergi ke balkon kamar, tempat favoritnya dan Khanza.


Khanza ikut bersandar di bahu Abizar dengan Aziel yang tertidur di dada papanya. Menikmati indahnya malam.


"Aziel kok makin besar makin mirip kakak ya!" ucap Khanza memperhatikan wajah dua pria yang disayanginya, dua pria berbeda usia.


"Dia 'kan anak Aku sayang, benihku masa Ziel mirip dengan orang lain," jawab Abizar sedikit tertawa dan mengecup pipi Khanza yang menyandarkan kepalanya di bahunya.


Khanza mengusap lembut rambut Aziel sambil terus menatap wajah tenang putranya itu.


"Pasti seru jika Ziel punya adik lagi, rumah akan semakin ramai," ucap Abizar.


Khanza menghentikan tangannya mengusap Aziel dan bersandar di sandaran sofa.


Abizar yang menyadari perubahan Khanza menggenggam erat tangannya kemudian mengecupnya.


"Aziel pasti sangat suka jika ia memiliki seorang adik," ucapnya menatap memohon pada Khanza.


"Kak, aku nggak masalah memberikan Kakak anak satu, dua, tiga atau bahkan lebih, tapi untuk saat ini aku benar-benar takut. Membayangkannya saja sudah membuatmu lemas, Kak."


Beberapa hari ini Khanza yang menyadari jika suaminya ingin memiliki anak lagi mencoba terus menguatkan dirinya untuk memberi suaminya anak, menyiapkan diri untuk hamil lagi. Namun, semakin ia mencoba untuk meyakinkan dirinya semakin ia takut bahkan beberapa kali mimpi buruk datang menghinggapinya.


Khanza bermimpi dimana didalam mimpi itu ia melihat dirinya meninggalkan putranya, pergi jauh dari orang-orang yang disayanginya. Khanza sudah mengartikan mimpinya itu jika ia akan dihadapkan pada kematian.


Semua itu sungguh membuatkannya semakin frustasi, sekeras apapun dia mencoba untuk melupakan mimpi-mimpi buruk itu. Namun, seolah mimpi itu semakin menghantuinya.


"Aku akan ada di dekatmu, semua akan baik-baik saja," ucap Abizar kembali meyakinkan Khanza.


"Kak, aku mohon," ucap Khanza sudah berkaca-kaca, menatap penuh sesal karena ia tidak bisa mengabulkan permintaan suaminya.


Abizar mengelus punggung tangan istrinya.


Menepuk pundaknya agar Khanza kembali bersandar padanya.


Lama mereka duduk di balkon kamar hingga Khanza pun tertidur sambil memeluk lengan suaminya.


Abizar menatap wajah kedua orang yang sangat disayanginya itu, lama ia menatap mereka, kehadiran Khanza dan Ziel tak pernah terbesit dalam pikiran dahulu. Abizar tak pernah mengira jika ia akan memiliki seorang anak setelah Farah divonis tak bisa menjadi seorang ibu.


Abizar kemudian dengan perlahan memperbaiki posisi tidur Khanza dan mengangkat Aziel ke tempat tidur kemudian ia kembali untuk mengangkat Khanza.


Mereka tidur bertiga, dengan Khanza berada di tengah.


Abizar mengecup kening Khanza dan menariknya ke pelukannya.


"Aku sangat mencintaimu," bisiknya memeluk erat istrinya itu kemudian ikut tertidur.


*****


Malam hari Abizar terbangun dengan suara kasak-kusuk yang mengganggu tidurnya.


Saat membuka mata ia melihat Khanza mencari sesuatu di setiap laci.


"Kamu lagi cari apa?" tanyanya.


"Maaf ya, Kak. Aku membangunkanmu!" ucapnya.


"Nggak apa-apa" Abizar duduk dan melihat apa yang Khanza lakukan.

__ADS_1


"Kamu mencari obatmu?" tanyanya.


"Iya, sepertinya aku menyimpannya di sini," jawab sambil terus setia mencari.


Dia sangat rutin meminumnya, Khanza benar-benar tak ingin hamil lagi.


Abizar beranjak dari tempat tidur, berjalan mengambil obat yang ada di saku jasnya.


"Minum ini saja, besok kamu cari lagi," ucapnya.


Khanza mengambil obat itu dari tangan Abizar.


"Ini obat apa, kak," tanya Khanza.


"Sama dengan obat yang kamu cari, sudah minum itu saja dan cepatlah tidur," ucap Abizar kembali berbaring dan memanggil Khanza agar ikut bergabung dengan mereka.


Khanza yang memang sudah sangat mengantuk langsung mengambil 1 butir pil dan meminumnya. Ia ikut tidur bersama dengan putranya, dengan Abizar yang terus memeluknya.


Saat Khanza tadi memandikan Aziel, Abizar mencari semua obat Khanza dan menyembunyikannya, Abizar menyimpan semua obat-obat itu di ruang kerjanya, yang ia yakin Khanza tak akan menemukannya di sana.


"Maaf aku melakukan ini semua demi kebahagiaan keluarga kita, Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Aku yakin semua akan baik-baik saja dan kita akan melalui semua ini dan sama-sama menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia baik untukmu dan juga Farah," ucapnya membawa tubuh mungil khanza dalam pelukannya.


Saat pagi hari, Khanza yang masih tertidur sudah dibangunkan dengan suara keributan.


Abizar sedang bermain bersama dengan Aziel, mereka membuat kebisingan dengan memukul-mukul mainan yang ada di sana layaknya pemain drum profesional.


Khanza mengambil bantal guling dan memeluknya erat, melihat apa yang mereka lakukan. Pemandangan yang sangat indah menurutnya, pagi hari melihat Putra dan suaminya bermain, tertawa terlihat begitu bahagia.


******


Hari terus berganti hari, kini Aziel sesekali akan ikut bersama dengan Abizar kemanapun Ia akan pergi, baik itu di rumah Khanza ataupun di rumah Farah.


Abizar selalu menyediakan obat untuk Khanza sebelum obat yang diminumnya habis, Abizar sudah kembali memberikannya cadangan obat, tak membiarkan Khanza membeli sendiri obatnya.


Khanza sama sekali tak curiga dengan obat yang diminumnya. 3 bulan kini sudah berlalu.


Hari ini Abizar tidur di rumah Farah begitu juga dengan Aziel.


Entah mengapa Khanza sangat ingin membuat makanan untuk suami dan putranya. Pagi-pagi sekali ia memasak sendiri nasi goreng kesukaan mereka.


Memasukkannya ke dalam kotak bekal.


"Bi, aku ke rumah lama dulu ya, Bibi tolong bereskan dapur. Aku terburu-buru belum sempat membereskannya, sehabis memasak nasi goreng," ucap Khanza, pada Bibi Yang Sedang membereskan ruangan lain.


"Iya, nanti Bibi yang bereskan," Jawab Bibi masih merapikan ruang tamu.


Khanza berlari naik ke atas untuk mengganti pakaiannya.


"Ohya, Bi Tolong ya beri tahu Pak Tarno untuk memanaskan mobil dan mengantar Ku," ucap Khanza menghentikan langkahnya saat sudah di pertengahan tangga.


"Iya, nanti bibi diberitahu. Jangan lari-lari Non, nanti kepleset," ucap ibu yang melihat Khanza, berlari dengan cepat menuju ke kamarnya.


"Iya, Bi! ucap Khanza mendengarkan kata bibi, Ia pun berjalan walau dengan langkah cepat.


Dengan semangat Khanza mandi dan mengganti pakaiannya.


Ia sedikit memakai make up seperti biasanya, setelah semuanya siap tak lupa ia mengambil kotak makan dan berpamitan pada bibi.


"Bi, aku pergi dulu ya, mungkin aku pulangnya agak sore," ucapnya pamit.

__ADS_1


"Iya, Non. Hati-hati di jalan ya," jawab bibi.


Begitu Khanza keluar, Pak Tarno sudah siap dan langsung membukakan pintu mobil.


"Kita ke rumah lama ya, Pak," ucap Khanza yang dijawab anggukan oleh Pak Tarno.


Sepanjang perjalanan, Khanza terus mengusap kotak bekalnya, ia tak mengerti mengapa ia sangat ingin memasak nasi goreng itu, sangat ingin masakannya dimakan oleh suami dan anaknya.


"Non, saya izin pulang kampung dulu, ya," ucap pak Tarno.


"Emangnya ada apa pak Tarno? kenapa mau pulang kampung?" tanya Khanza.


"Nggak apa-apa, hanya ada urusan penting dan Bapak harus menghadirinya."


"Iya pak, ga apa-apa," jawab Khanza.


*****


Di rumah lama.


Semua berkumpul di halaman samping, di kolam renang melihat Aziel yang sedang belajar berenang. Abizar sengaja membuat kolam renang untuk Aziel karena anaknya itu sangat suka dengan air.


Mereka semua duduk berbincang sambil melihat Aziel yang tertawa gembira dengan beberapa mainan yang ia dimasukkan sekaligus ke dalam kolam.


"Abizar ini sudah tiga bulan, apa obat itu tak bereaksi?" tanya Warda.


"Sepertinya belum, Mah."


"Kamu benar-benar menukar obatnya 'kan, menukar obat penunda kehamilan Khanza dengan obat penyubur?" tanya Santi.


"Iya, aku sudah menukarnya, tapi mungkin memang belum saatnya Khanza hamil," jawab Abizar.


"Mama sudah nggak sabar ingin punya cucu baru lagi," ucap Warda.


"Semoga saja Khanza cepat hamil, jadi Ziel bisa di sini bersama dengan kalian, biar Farah yang mengurusnya hingga ia besar nanti," ucap Santi.


Mereka terus berbincang-bincang tanpa mereka sadari Khanza mendengar semua pembicaraan mereka. Khanza yang tadinya ingin menghampiri mereka menghentikan langkahnya saat mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.










💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like vote dan komennya 🙏

__ADS_1


Salam dariku Author M Anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2