
Kakek dan nenek Khanza pulang dengan hati yang perih melihat kondisi cucunya. Namun, kakek sadar semua haknya atas Khanza sudah diserahkan kepada Abizar sebagai suaminya yang akan membimbingnya hingga ke Jannah.
Tanggung jawabnya sudah diserahkan dihadapan Allah dalam proses pernikahan yang telah mereka langsungkan. Secara sakral di hadapan Allah. Segala sesuatu mengenai Khanza adalah tanggung jawab dari Abizar, kakek hanya bisa menasehati dan memberi petuah dalam rumah tangga mereka. Namun, jika suatu saat nanti cucunya sendiri yang datang padanya, ia akan memasang badan untuk melindunginya bahkan dari suaminya sekalipun.
Tapi saat ini, kakek hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mereka semua, Kakak yakin Abizar pasti tak bermaksud melakukan semua itu kepada Khanza cucunya, ia bisa melihat banyak cinta dimata suaminya untuk cucunya. Terlepas mengapa Ia melakukan semua itu menjadikan Khanza wanita kedua dalam hidupnya.
Tak akan ada wanita yang rela dimadu apapun alasannya memang itu benar. Namun, semua tergantung dari keikhlasan dan keadilan seorang suami.
Hati manusia hanya dia sendiri yang tahu, hanya dia sendiri yang dapat mengetahui bagaimana dan seperti apa perasaan yang ia rasakan.
Cinta bisa membawa kebahagiaan dan juga air mata itu adalah fakta yang tak bisa kita hindari, mencintai seseorang bukanlah dosa, tapi mencintai seseorang melebihi cinta kita kepada Allah itulah yang tak benar.
Serahkan semua masalah kita hanya kepada sang pencipta, yakin dan percaya semua sudah ada yang mengatur. Begitu pula dengan jodoh, jika ia memang jodoh kita sejauh apapun dia, seberat apapun rintangannya pasti Ia akan berada disamping kita menjadi pasangan kita. Begitu pula sebaliknya, jika ia bukan jodoh kita seberapa besar dan gigih pun usaha kita untuk menggapainya tetap saja kita akan semakin menjauh darinya.
Jodoh, rezeki, maut, hanya Allah yang tahu. Kita hanya bisa menjalani apa yang sudah Allah takdirkan untuk kita.
Abizar tak bisa berbuat apa-apa, hatinya dilema. Ia mencintai kedua istrinya, ia mencintai mereka dengan cinta yang berbeda. Ia mencintai Farah dengan sikap dewasa dan merasa nyaman saat berada di dekatnya, Farah merupakan cinta pertama bagi sosok Abizar, mengajarkannya apa itu cinta. Abizar mencintai Farah sebagai seorang istri dan partner dalam hidupnya, sedangkan cintanya kepada Khanza karena kepolosan dan keceriaannya ia merasa sangat bahagia saat berada di samping Khanza, khanza sudah merupakan candu baginya, membuatnya merasa nyaman dan selalu merindukannya setiap detiknya.
Abizar mencintai keduanya dan tak ingin kehilangan salah satu dari mereka.
Keegoisan Abizar mungkin saja bisa menyakiti kedua wanitanya, dan itulah yang terjadi saat ini.
Abizar melihat Khanza Yang masih berbaring di ranjang rumah sakit dan melihat Farah yang mengurus putranya dengan begitu telaten dan penuh kasih sayang.
Abizar kembali teringat kata-kata kakek yang menyerahkan semua tanggung jawab Khanza kepadanya dan berharap dia bisa membahagiakannya.
Abizar juga mengingat kata-kata kecewa dan tetapan kemarahan dari kakek sebelum meninggalkannya.
Abizar berjalan pelan menghampiri Khanza dan duduk disisi tempat tidur, mengambil tangan istrinya itu dan menyimpannya di dadanya, mendekapnya dengan sangat erat.
Mengusap pipinya dengan tangan satunya lagi, tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Abizar ia hanya memandang penuh rasa cinta kepada wanita yang sedang terbaring di hadapannya karena melahirkan putranya.
Hari berganti hari, bayi kecil itu sudah dinyatakan sehat dan boleh dibawah pulang. Namun, tidak dengan Khanza, kondisinya masih tetap sama, Khanza masih berada dalam mimpi panjangnya.
"Mas, sebaiknya Mas bicara kepada dokter untuk memindahkan Khanza ke rumah kita, kita bisa merawatnya di rumah dan menyewa beberapa perawat dan meminta Dokter untuk terus mengontrol kondisinya," usul Farah.
Abizar berpikir apa yang dikatakan Farah ada benar, jika Khanza dirawat di rumah itu akan lebih mempermudah mereka untuk mengawasinya dan menjaganya.
Abizar menatap putranya yang berada di gendongan Farah, terlihat begitu lucu yang bisa menghibur hatinya yang sedang dalam kebingungan.
"Mas mau menggendongnya?" tanya Farah.
Abizar masih ragu untuk menggendong bayi kecil itu, ia belum pernah menggendong bayi sebelumnya.
__ADS_1
"Apa tidak masalah aku menggendongnya?" tanyanya.
Farah tersenyum, "Tentu saja, kau adalah ayahnya dia pasti senang saat berada di gendongan mu," ucap Farah meletakkan baik itu di gedongan Abizar dengan sangat hati-hati.
Abizar menundukkan kepalanya mencium kening putranya, selama ini ia sangat ingin menggendong nya. Tapi, takut karena bayi itu masih terlalu kecil menurutnya.
Abizar tersenyum saat bayi itu juga tersenyum kepadanya, kebahagiaan menyeruak di hatinya. sekarang Ia sudah menjadi seorang ayah, sesuatu yang selama ini di nantikan nya.
Wajah Khanza tercetak jelas di sana walau bayi itu bayi laki-laki. Namun, beberapa bagian wajahnya sangat mirip dengan Khanza.
Warda datang dan mengatakan jika ia sudah mengatur semua kepulangan cucunya.
"Sini Nenek gendong, uhhh ... cucuku tampan sekali," ucap Warda mengambil cucunya dari gendongan Abizar.
"Mama sudah mengatur semua kepulangan kita, hari ini kita sudah bisa pulang," ucap Warda menimang-nimang cucunya dengan gemes.
"Kalian pulang saja, aku akan mengurus kepulangan Khanza terlebih dahulu."
"Khanza?" tanya Warda.
"Iya, Mah. Aku akan membawa Khanza pulang," jawab Abizar.
"Apa, dibawa pulang. Itukan akan menghabiskan banyak uang," batin Santi.
"Ya sudah, kami pulang dulu ya, Mas. Mas urus Khanza saja," ucap Farah yang dijawab anggukan oleh Abizar.
Mereka pun pulang membawa bayi Khanza.
Sedangkan Abizar menemui dokter menanyakan apakah ia bisa membawa Khanza pulang.
"Sebenarnya bisa saja, pak. Bapak membawa pasien pulang, tapi biayanya lumayan besar Anda harus menyertakan semua alat medis yang dibutuhkan pasien," jawab Dokter.
"Tentu saja Dokter, berapapun biayanya itu tidak masalah asalkan istri saya bisa dirawat di rumah."
"Baiklah, kami akan mengurus kepindahan nya," jawab Dokter.
"Dokter, apa tidak ada perubahan tentang kondisi kesehatannya?" tanya Abizar berharap kesembuhan Khanza.
"Maaf Pak, sepertinya kondisinya masih tetap sama seperti sebelumnya."
"Apa tidak ada cara lain agar ia bisa cepat sadar?" tanyanya lagi.
"Kami sudah melakukan semua yang terbaik untuk mencoba menyembuhkan pasien. Namun, sepertinya semua itu tergantung dari pasien sendiri, kita berdoa saja semoga beliau bisa cepat sadar dari koma nya.
__ADS_1
"Baiklah Dokter. Tolong dokter urus semua kepindahannya dan lakukan yang terbaik, berapapun biayanya itu tidak masalah bagiku," ucap Abizar.
"Tentu saja, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik untuk istri bapak."
Sesuai permintaan Abizar, Khanza pun dibawa pulang, kamar utama dijadikan kamar perawatan untuk Khanza.
"Khanza cepatlah bangun, sekarang kita sudah ada di rumah, dikamar kita. Aku dan bayi kita sudah sangat merindukanmu, bukalah matamu," ucap Abizar mencoba memberi semangat pada Khanza untuk bisa membuka matanya.
Mengucap keningnya lama kemudian kembali cium punggung tangannya.
Terus berharap jika Khanza akan segera sadar dari komanya, ia berharap Khanza bisa memaafkan semua kesalahannya, ia pasti sangat membencinya saat ini karena telah membuatnya dalam kondisi dimana ia tidak bisa melihat bayinya.
Sementara itu Warda sangat gembira menyambut kedatangan cucunya, mereka menempatkan bayi mungil itu di sebuah kamar yang sudah diatur sedemikian rupa agar nyaman untuk bayi.
Semua perlengkapan bayi sudah ada disana termasuk susu formula yang saat ini dikonsumsi, bayi itu hanya mengkonsumsi susu formula, kondisi Khanza tak memungkinkannya untuk mendapatkan ASI.
Kesibukan di rumah itu bertambah, mereka membagi tugas. Farah dan ibunya mengurus bayi Khanza sedangkan Abizar selalu setia menemani Khanza.
Sekedar mengajaknya berbicara dan melakukan hal-hal yang bisa merangsang agar Khanza bisa merespon dan bisa terlepas dari masa komanya.
Setiap Abizar mengajaknya berbicara hanya Air mata saja yang keluar dari pelupuk mata Khanza, menurut dokter semua itu adalah hal biasa. Namun, setiap Khanza mengeluarkan air mata Abizar merasa jika Khanzanya akan segera sembuh dan kembali bersama dengan mereka.
Abizar sangat merindukan candaan dan kelucuan dari istrinya itu.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Semoga part ini tak mengecewakan 🙏🙏
Tim Khanza mana?
Tim Farah mana?
Adakah ada tim Abizar? 🤭
Beri dukungan kalian ya dengan memberi like, vote, dan komennya 🙏💗
Salam dariku Author m anha ❤️😘
Love you all 💕💕
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1