
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Lucia.
"Aku baik-baik saja, jangan berlebihan seperti itu," ucap Azriel yang hanya bisa menggeleng pelan melihat bagaimana gadus itu menangis tersedu-sedu menghampirinya. Iya bahkan tak menyangka Lucia akan datang menjenguknya, padahal Ia tahu jika saat ini Lucia juga sedang sibuk-sibuknya dengan kuliahnya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja," ucap Lucia yang mulai menenangkan dirinya.
Mungkin terlihat sangat lebay. Namun, itulah yang dirasakan oleh Lucia saat ini, ia sangat khawatir mendengar kondisi Azriel.
"Lucia kamu datang dengan siapa?" tanya Abidzar menghampiri anak tiri dari Farah itu, walau mereka tak ada hubungan lagi. Namun, Abizar dan Khanza sudah menganggap Lucia seperti putri mereka sendiri.
"Aku datang sendiri paman, aku sangat khawatir saat mendengar jika Aziel mengalami kecelakaan," jawabnya.
"Tapi, orang tua kamu tahu kan? Jika kamu datang ke sini?" tanya Abizar lagi.
"Iya, mami dan papi tahu dan mereka akan menyusul. Aku merengek dan memaksa ingin pergi lebih dulu," lirih Lucia membuat Abizar hanya menggeleng kemudian mengusap rambut Lucia.
"Ya sudah, kamu pasti lelah. Istirahatlah dulu sekarang Aziel sudah baik-baik saja, dia hanya tinggal memulihkan kondisinya saja tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," jelas Abizar yang tak ingin Lucia khawatir dengan kondisi putranya, ia menganggap kekhawatiran itu adalah sebagai kekhawatiran seorang adik kepada kakaknya.
__ADS_1
Tanpa ia ketahui kekhawatiran itu berasal dari perasaan lain, berasal dari perasaan suka seorang wanita kepada seorang pria.
"Aisyah, Lucia, kalian pulang ke rumah saja ya, besok kalian bisa datang ke sini lagi," ucap Aisyah.
"Enggak, aku mau nemenin Aziel di sini saja, aku nggak lelah Kok, Paman," jawabnya.
"Pulanglah, datanglah besok pagi. Malam ini Paman akan berjaga di sini, kita bergantian. Besok pagi kalian yang menjaga Aziel. Paman akan pergi ke kantor, ada urusan penting," ucap Abizar membuat Lucia pun mengangguk kemudian Ia pun kembali ke kediaman Abizar.
Sementara itu di kediaman Abizar, Khanza sudah membuat makanan untuk putra dan suaminya, malam ini ia juga akan menginap di sana.
Setelah membuat makan malam, Khanza pun segera bersiap-siap ingin ke rumah sakit, baru saja ia keluar dari pintu utama ia bisa melihat Lucia dan juga Aisyah turun dari mobil diantar oleh sopir yang memang diminta oleh Khanza untuk menjemputnya.
"Siang tadi, Tante. Mami dari papiku mungkin akan datang besok," jawab Lucia.
"Ya sudah, kalian pasti capek. Istirahatlah! Aisyah bawa Kak Lucia masuk, malam ini Mama ingin menginap di rumah sakit," ucap Khanza pada putrinya membuat Aisyah pun mengangguk.
"Iya, Mah," jawab Aisyah yang baru berusia 17 tahun itu, ia terlihat sangat ceria dan merasa lega saat dokter mengatakan jika kakaknya baik-baik saja, ia juga bisa melihat jika mamanya kini sudah tak lagi bersedih, tak sama saat kakaknya itu masih belum sadar.
__ADS_1
"Oh ya, Mama sudah siapkan makan malam untuk kalian, bersihkan dulu badan kalian mandilah dan ganti pakaian. Setelahnya barulah kalian makan malam dan jika kalian masih membutuhkan sesuatu minta saja pada bibi."
"Iya, Mah. Tante," jawab keduanya serempak.
"Satu lagu! Ingat! Jangan keluar rumah, istirahat di rumah saja," peringat Khanza sebelum pergi, membuat keduanya pun kembali mengangguk kemudian ibu dari Azriel itu pun masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya menuju ke rumah sakit.
Saat ini di kamar perawatan Azriel hanya ada Abidzar dan juga Aziel sendiri.
"Azriel, kamu nggak ada hubungan kan dengan Lucia?" tanya Abidzar melihat bagaimana sikap Lucia tadi.
"Hubungan apa, Pah? Aku dan Lucia nggak ada hubungan apa-apa, aku hanya menganggapnya adik saja sama seperti menganggap Aisyah, tak lebih," jawab Azriel, walaupun ia tau pasti jika Lucia menginginkan hubungan lebih di antara mereka.
"Kamu yakin? Papa bisa melihat jika sikapnya berbeda, tak seperti seorang adik pada kakanya?" tanya Abidzar lagi menatap selidik.
Mendengar itu hasil menghala napas karena beberapa kali Lucia mengatakan perasaannya padanya dan beberapa kali pula ia menolak pernyataan Cinta dari Lucia, karena menganggap Lucia sama seperti Aisyah, adiknya.
Mereka tengah berbincang dan sebuah ketukan terdengar dari pintu. Mereka pun berbalik dan melihat seorang gadis cantik yang terlihat perlahan membuka pintu.
__ADS_1
"Mentari, masuklah!" panggil Aziel berbinar senang bahkan ia yang tadinya berbaring kini berusaha untuk duduk saat melihat Mentari datang menjenguknya.