
"Aku memang sangat mencintai Khanza, tapi aku tak bisa mempertaruhkan semuanya. Ambillah petunjuk itu, aku yakin kamu mampu melakukannya. Mr. Alvin bukanlah orang biasa, menyinggungnya Sama saja bunuh diri. Aku tak ingin kerja kerasku selama ini hancur sia-sia hanya karena bersinggungan dengannya," ucap Daniel.
Abizar melihat flashdisk yang ada di tangannya.
"Pilihan ada ditanganmu. Apakah kau akan mencari Khanza dan menyinggung Mr Alvin atau mundur dan menikmati kehidupanmu. Aku rasa kau sudah tahu tanpa ku jelaskan Siapa Mr, Alvin 'kan?" ucap Daniel berdiri dan membereskan berkasnya.
Daniel sengaja melakukan itu, ia menganggap dirinya tak akan sanggup untuk menyelamatkan Khanza, jika harus bersaing dengan Mr Alvin. Daniel memilih memberikan semua bukti yang dimilikinya kepada Abizar.
Daniel tau, Abizar yang selama ini mencari istrinya. Daniel yakin Abizar akan melakukan apa saja untuk menemukan Khanza termasuk mencarinya hingga ke kawasan Mr. Alvin.
"Terima kasih informasinya."
Abizar berlalu dari ruang rapat itu kemudian langsung meminta Fahri untuk menyiapkan keberangkatannya menemui Mr. Alvin, di luar negeri.
"Apa kamu yakin ingin menemuinya.
Dari beberapa informasi yang kudengar jika ada yang berani berseberangan dengannya, sekuat apapun perusahaan mereka pasti akan bangkrut dengan sangat mudah," ucap Fahri sambil menyetir mobil tanpa melihat ke arah Abizar.
"Jangankan seluruh hartaku, nyawaku pun akan aku pertaruhkan untuk mendapat mereka kembali. Khanza dan Aziel adalah hidupku. Apakah tahu, setiap hari terasa sangat berat bagiku. Aku sungguh sangat merindukan mereka berdua, aku benar-benar bisa gila jika lebih lama lagi berpisah dengan mereka," ucap Abizar menyandarkan dirinya.
Fahri bisa melihat sisi lemah dari Bosnya itu, selama ini dia mengira Bosnya itu sudah lebih tegar. Namun, ternyata ia salah, Abizar hanya tegar di hadapan yang lainnya. Namun, dalam hati ia begitu lemah dan sangat merindukan sosok Khanza dan Aziel.
Malam ini Abizar langsung pulang ke rumah lama, ia memberitahu pada Farah apa yang baru saja Daniel berikan kepadanya. Farah mendukung apapun yang Abizar lakukan untuk mencari Khanza. Dia juga sudah siap dengan konsekuensi yang akan mereka tanggung, sekalipun mereka akan hidup susah nantinya.
"Khanza dan Aziel jauh lebih penting dari semuanya. Aku yakin Mr. Alvin tak sekejam itu, kita tidak menyinggungnya karena hal lain, kita hanya mencari keluarga kita yang mungkin saja secara kebetulan diselamatkan oleh mereka. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai Mas busa menemuinya, Kalau perlu aku juga akan ikut bersama Mas menemui Mr Alvin. Selain ia terkenal kejam kepada rekan bisnisnya, Mas jangan lupa dia juga sosok dermawan yang selalu membantu. Jadi aku pikir dalam hal ini kita sama sekali tak perlu takut," jelas Farah.
Abizar mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Farah, Ia hanya ingin mencari anak dan istrinya, tak ingin mengganggu.
"Kamu di rumah saja, jangan beritahu Mama kalau aku pergi mencari Khanza."
Farah mengangguk dan mulai menyiapkan keperluan suaminya.
Keesokan harinya Abizar langsung bertolak ke luar negeri dan tujuan utamanya yaitu menemui Mr. Alvin Alfaro.
Dugaannya benar, sangat susah untuk bertemu dengannya. Banyak penjagaan sebelum masuk ke kantornya, mereka juga mengatakan jika ingin bertemu harus membuat janji sebulan sebelumnya.
Abizar tak menyerah, ia terus mencoba dan mencoba agar bisa masuk dan mememuinya, bahkan bisa sampai menunggu Mr. Alvin Alfaro di parkiran perusahaannya. Beberapa kali ia hampir menemuinya. Namun, penjagaan ketat tak mengizinkannya bertemu dengan crazy rich itu.
Ponsel Abizar berdering dan itu telepon dari Farah.
"Halo Mas, bagaimana? Apakah sudah ada kabar tentang Khanza?" tanya Farah.
"Belum. Sudah beberapa hari ini aku terus berusaha mencarinya. Namun, tak ada kabar sedikitpun, aku bahkan belum bisa menemui Mr. Alvin.
__ADS_1
"Mas harus terus berusaha, aku yakin mas pasti bisa membawa mereka pulang," ucap Farah yang terus memberikan dukungannya.
****
Fahri memberi kabar jika Mr. Alvin akan datang dan akan segera mengadakan rapat lanjutan mengenai kerjasama mereka.
Mendengar hal itu Abizar langsung pulang.
"Ini kesempatanku, aku harus berusaha menemuinya dalam rapat itu. Apapun yang terjadi aku harus bisa mencari dimana Khanza berada."
Dua hari kemudian rapat pun digelar di sebuah restoran dan benar saja, Mr. Alvin Alfaro ikut hadir dalam rapat tersebut.
Rapat berlangsung selama 3 jam, setelah rapat selesai Abizar tak membuang kesempatan langsung menemui Mr Alvin.
"Permisi, Pak. Apa boleh saya bicara dengan Anda?" tanya Abizar berjalan menghampirinya.
Beberapa pengawal langsung menghalanginya.
Mr Alvin memberi isyarat agar membiarkan Abizar mendekat padanya.
"Tinggalkan kami berdua. Aku hanya ingin bicara dengannya," ucap Mr. Alvin meminta beberapa anak buahnya dan yang lainnya untuk meninggalkan dia dan Abizar di ruang rapat tersebut.
"Ada apa? Aku dengar beberapa hari ini kau selalu ingin menemuiku?" tanya Mr Alvin berpura-pura tak tahu, ia tahu jika Abizar beberapa hari lalu mendatangi kantornya.
"Apa Anda mengenal Khanza istriku?" tanya Abizar tak ingin berbasa-basi langsung pada inti pertanyaannya.
"Anda tidak usah berpura-pura, Aku tahu Anda kan yang menghapus jejak di mana istri saya berada, saya mohon beritahu saya di mana dia sekarang," pinta Abizar.
"Bukankah kau telah menyia-nyiakan istrimu itu, untuk apa kau mencarinya lagi."
"Apa maksud Anda?" tanya Abizar mengernyitkan keningnya menatap menelisik mendengar ucap Mr. Alvin.
"Maaf, sebelumnya jika aku lancang mencari tahu apa penyebab Khanza meninggalkan Anda."
"Mr Alvin," Abizar berdiri menantang dan mendengar jawaban Atas pertanyaannya.
"Apa maksud Anda? Apa selama ini menyelidiki keluarga kami," bentak Abizar terbawa emosi. Ia tak menyangka jika selama ini ternyata pergerakannya diawasi oleh mereka.
"Bawa dia keluar dari sini, pembicaraan kami sudah selesai," teriak teriak Mr Alvin memanggil bawahannya.
"Dimana istri saya?" tanya Abizar menatap Mr. Alvin. Abizar semakin yakini dialah dalang dari semua ini. Namun, beberapa orang Mr. Alvin sudah membawanya keluar. Seberapa kuat pun ia memberontak ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Lepaskan dia," ucap Daniel datang membantu Abizar.
__ADS_1
Abizar kembali ingin menemui Mr Alvin. Namun, Daniel melarangnya.
"Kita cari cara lain, jangan seperti ini. kita tak akan mendapatkan apa-apa jika melawannya seperti ini," ucap Daniel mengajak Abizar pergi dari sana.
"Kita tak akan mampu menembus pertahanan mereka," ucap Daniel lagi setelah berada di ruangan lain.
Abizar meninju dinding, hingga tinjunya mengeluarkan darah segar. Jika benar Khanza bersama Mr Alvin, ia akan kesulitan menemuinya.
Sementara itu di rumah Damar.
Khanza terus saja merengek pada Aqila, ia sangat ingin membeli es krim. Sudah dari pagi Khanza merayu Aqila untuk keluar dari rumah itu. Namun, Aqila terus menolaknya.
"Aqila ayolah, aku ini sedang ngidam. Aku benar-benar ingin makan es krim," ucap Khanza merayu Aqil memohon dan memelas.
"Khanza, kamu tahu 'kan apa yang bisa kita alami jika kita keluar dari rumah ini, beberapa orang yang mencarimu bisa saja menemukan kita. Lagi pula bibi kan sudah membelikanmu banyak eskrim," Aqila mencoba menyakinkan Khanza melupakan keinginannya untuk keluar.
"Tapi, aku benar-benar tak tahan. Ayolah aku mohon, kita bisa memakai Khimar mereka pasti tak akan mengenali kita," ucap Khanza sudah menyiapkan dua Khimar yang diambilnya dari tas nenek.
Aqila melihat apa yang dibawa oleh Khanza. Ia hanya bisa menghela nafas. Aqila mengerti jika Khanza sedang hamil dan mungkin saja itu adalah bawahan bayinya.
"Ya sudah, tapi ini yang pertama dan yang terakhir kalinya, ya. Kita nggak boleh keluar lagi dari sini," ucap Aqila yang dijawab anggukan antusias oleh Khanza.
Mereka pun memakai khimar tersebut dan keluar mencari es krim menggunakan sepeda motor.
Khanza sangat senang saat sudah berhasil menemukan es krim dan membelinya sendiri, ia memilih berbagai macam es krim yang selama ini diinginkannya. Rasanya sungguh sangat berbeda jika Ia memilih sendiri dan diberikan oleh Bibi, yang selama ini sering membelikannya.
"Ayo kita cepat pulang," ucap Aqila, mereka berjalan menuju ke motor mereka, Khanza yang sudah tak tahan membuka satu es krim membuka cadar penutup wajahnya dan mulai memakan nya.
"Khanza," teriak seseorang dari seberang jalan,
Aqila dan Khanza menghentikan langkah mereka saat mendengar teriakkan itu.
Alangkah terkejutnya mereka saat berbalik dan melihat ternyata yang memanggil nama Khanza adalah Abizar dari seberang jalan.
Ya, Khanza dan Aqila membeli es krim di depan restoran di mana tempat mereka melakukan rapat.
Aqila melihat Khanza dan kembali menutup wajahnya dan menariknya pergi dari sana.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏
__ADS_1
Salam dariku Author M Anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖