
Abizar terus saja mencoba untuk mencari Khanza hingga ia menemukan keberadaannya. Namun, tetap saja ia tidak bisa menjangkau Khanza. Penjagaan berlapis dari Daniel dan Mr. Alvin tak bisa dilewatinya.
Abizar pernah mencoba untuk memaksa menemui Khanza. Namun, hasilnya tetap saja gagal, bahkan ia menerima beberapa pukulan dari orang-orang Mr. Alvin.
Kali ini Abizar mencoba mendatangi kantor Daniel.
Ia harus kembali bersitegang dengan satpam yang tak mengizinkannya masuk mengingat satpam itu pernah diperingatkan oleh Daniel agar tak membiarkan Abizar masuk lagi ke kantornya.
"Biarkan dia masuk," ucap Daniel yang baru datang dan meminta Abizar untuk ikut dengannya.
Daniel berjalan masuk ke ruangannya diikuti oleh Abizar.
"Daniel aku mohon, aku ingin bertemu dengan Khanza, biarkan aku bicara dengannya," Pinta Abizar yang kini menurunkan segala egonya dan memohon kepada Daniel.
"Bukannya aku tak ingin mempertemukanmu dengan Khanza. Namun, mengertilah jika sekarang ia dalam kondisi yang tidak baik-baik saja dia sedang hamil dan sedang mengalami trauma melahirkan dan menurut dokter yang menanganinya ia belum siap bertemu denganmu."
Abizar tak bisa berkata apa-apa mendengar penjelasan Daniel.
"Bagaimana kondisinya sekarang? apa segitu tak maunya ia bertemu denganku?" tanyanya.
Daniel tersenyum tipis mendengar pertanyaan Abizar.
"Tanyakan pada dirimu sendiri, seberapa besar luka yang kau berikan padanya. Maka sebesar itulah rasa sakit yang ia rasakan sehingga tak mau bertemu denganmu. Oh ya bagaimana tentang perceraian kalian?"
"Daniel berhenti ikut campur dengan urusan rumah tangga aku, kau tak berhak mengajukan surat gugatan seperti itu."
"Aku tidak mengajukan surat gugatan cerai tanpa persetujuan Khanza, dia sendiri yang ingin berpisah denganmu, katanya di muak melihat tampang bajinganmu itu," ucap Daniel.
"Kau hanya mengada-ngada, Khanza tak akan mengatakan itu. Khanza tidak mungkin ingin berpisah denganku, jadi berhenti membujuknya meracuni pikiran, menjauhkan darinya, dia itu istri ku dan akan selalu menjadi milikku."
"Terserah kau menganggapku apa, tapi yang jelas Khanza benar-benar tak ingin lagi kembali denganmu, setelah melahirkan ia akan segera memproses perceraian kalian dengan atau tanpa persetujuan mu, bukan cuman Khanza kakek dan neneknya juga sudah setuju. Sebaiknya kau jangan mempersulit perceraian kalian, agar semuanya cepat selesai dan kalian akan bisa hidup bahagia dengan pasangan kalian masing-masing nantinya."
"Aku sudah mengatakannya, aku takkan pernah menceraikan khanza," ungkap Abizar.
"Abizar kamu jangan egois, Apakah seperti ini cintamu pada khanza yang mengekangnya, dan membuatnya terluka. Kamu sadar atau tidak dengan menduakannya dengan Farah itu sangat menyakitinya mungkin dia tersenyum dan bahagia di depanmu tapi tidak di hati mereka. Jangan egois dan pura-pura menutup mata dengan perasaan mereka berdua."
Abizar tak bisa berkata apa-apa, Daniel memang benar semua itu mungkin saja dialami mereka berdua. Dialah yang egois yang menginginkan mereka berdua, tapi ia benar-benar tak bisa memilih, dia mencintai mereka berdua tak bisa memilih salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Tentukan keputusanmu sekarang, sebentar lagi Khanza akan melahirkan, kau memilih untuk melanjutkan rumah tanggamu dengan Khanza atau memilih dengan Farah. Pilihlah salah satu diantara mereka berdua, pilihanmu akan memutuskan nasib mereka. Aku dengar setelah melahirkan Khanza akan kembali ke kampung aku yakinkan padamu jika ia kembali kau takkan bisa membawanya lagi." Nasehat Daniel.
"Aku ada rapat penting, silahkan kau pikirkan sendiri masalahmu berikan cepat keputusan jika kau sudah memilih, jika kamu memilih Farah tentu saja kami akan melanjutkan kan perceraian kalian, tapi kalau kau memilih khanza tentu saja aku tak akan melanjutkannya dan menunggu keputusan Khanza, tapi asal kau tau, Khanza sendiri sudah memilih mundur dan ingin berpisah denganmu."
Daniel merapikan berkas-berkasnya dan bersiap untuk pergi rapat. sedangkan Abizar masih duduk memikirkan nasib pernikahannya dengan khanza.
"Oh ya, seminggu lagi Khanza Akan melakukan operasi persalinannya. Aku hanya ingin menginformasikan padamu," ujar Daniel sebelum keluar dari ruangan itu.
Abizar merasa kembali tertampar mengetahui kenyataan itu, seminggu lagi anaknya akan lahir ke dunia ini. Namun, sekalipun ia tak pernah memberi perhatian padanya selama dalam kandungan. Abizar benar-benar merasa menjadi sosok Ayah yang gagal untuk kedua anaknya.
*****
Abizar terus berkutat dengan pikirannya, memikirkan Semua ucapan Daniel. Meminta untuk memilih di antara kedua istrinya.
Abizar melihat Farah yang sedang tertidur pulas di sampingnya, dialah wanita yang selama ini menemaninya dalam suka dan duka. Ia sangat sangat mencintainya sejak pertama kali mengenal cinta. Namun, di sisi lain hatinya juga tak ingin kehilangan Khanza, wanita yang sudah memberinya segalanya, memberinya anak dan memberinya cinta.
Abizar tak tahu siapa wanita yang dia cintai, yang lebih dia cintai di antara Farah dan juga Khanza.
Abizar begitu banyak menghabiskan waktu bersama dengan Farah, ia kembali mengingat masa-masa bahagianya dengan Farah. Farah yang selalu ada di dekatnya, selalu ada mendampinginya baik suka dan duka. Selalu setia memberinya perhatian dan Cinta. Demi dirinya ia bahkan melupakan mimpinya, meninggalkan karir yang sudah menjadi impiannya sejak kecil impiannya yang sudah di bangunnya sedikit demi sedikit hingga sukses seperti sekarang.
Farah memberinya banyak kebahagiaan, ia bahkan rela mengorbankan kebahagiaannya demi memberikan kebahagiaan lagi untuk, mengizinkannya menikahi wanita lain.
Abizar juga mengingat masa-masa bahagianya dengan khanza, di mana tingkah lucu dan polos Khanza selalu membuatmu bahagia, Khanza sudah menjadi candu buatnya. Khanza mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anaknya, bahkan ia kembali dihadapkan pada kematian demi benihnya yang sedang tumbuh di rahimnya.
"Aku tak bisa memilih salah satu diantara kalian berdua, kalian berdua adalah hidupku, apa yang harus aku lakukan, aku benar-benar tak bisa memilih," batin Abizar dilema.
****
Hari terus berganti hari dan kini tiba saatnya Khanza harus mempersiapkan diri untuk persalinannya.
"Nek, doain Khanza ya, biar operasi Khanza berjalan dengan lancar," ucap Khanza berbaring di pangkuanmu neneknya.
Malam ini Khanza benar-benar merasa takut, besok adalah jadwal operasinya, malam ini ia ingin tidur bersama neneknya.
"Nenek yakin kamu akan baik-baik saja, semuanya pasti akan lancar. Aziel pasti sangat senang saat bisa bertemu dengan adiknya," ucap nenek terus menyemangati Khanza, menghadapi proses persalinannya walau dia sendiri merasa takut.
"Jika terjadi sesuatu pada Khanza, tolong jaga anak-anakan Khanza ya Nek, beritahu pada mereka Kalau Khanza sangat menyayangi mereka," ucap Khanza dengan suara tercekat dan bergetar.
__ADS_1
"Kamu ini bicara apa, kamu pasti baik-baik saja. Kamu pasti bisa membesarkan anak-anakmu dan bisa menunjukkan kepada mereka jika kamu sangat menyayanginya."
"Iya Nek, pasti sangat bahagia bisa membesarkan mereka, bisa bermain dengan mereka. Khanza sangat bersyukur bisa merawat mereka di dalam rahim khanza," ucap Khanza terus mengelus perutnya.
"Jika terjadi sesuatu pada Khanza dan jika kak Abi ingin mengambil mereka, Nenek harus berjanji tetap mengingatkan mereka jika Khanza adalah ibu kandung mereka."
"Kamu ini bicara apa, berhenti berbicara seperti itu," bentak Nenek. "Tak ada yang akan memisahkan kalian, kamu akan merawat anak-anakmu dengan tanganmu sendiri, jangan pernah berbicara seperti itu lagi. Nenek tak suka mendengarnya," bentak Nenek pada cucunya, air matanya terus mengalir tak tahan mendengar kata-kata khanza seolah tak bisa merawat anak-anaknya.
"Khanza takut terjadi sesuatu pada ku nanti Nek, bagian jika operasinya gagal dan Khanza …," tangis yang sejak tadi ditahannya kini pecah, Khanza menangis di pangkuan sang nenek.
"Dengarkan nenek, semua akan baik-baik saja. Kamu dan bayimu akan baik-baik saja, semua ini akan berlalu. Begitu bayi mu lahir kita akan kembali ke kampung dan memulai kehidupan di sana, Nenek tak akan membiarkan kamu hidup dalam penderitaan lagi, Sudah cukup semua ini. Kita akan membesarkan anak-anakmu, Nenek dan kakekmu masih sanggup menjaga kalian."
Khanza hanya bisa menangis memeluk Nenek, sambil terus mengangguk, meyakinkan dirinya jika operasinya akan baik-baik saja.
Aqila menghampiri mereka.
"Apa yang dikatakan nenek benar. Tante Dewi sudah menyiapkan semuanya dengan sangat baik, kita percayakan semua pada Tante Dewi dan kita serahkan hasilnya pada sang pencipta," ucap Aqila mencoba menguatkan khanza.
"Terima kasih ya Aqila, kamu selalu ada buat aku, maaf karena masalah aku kamu jadi ikut dalam masalahku, kamu jadi meninggalkan kehidupanmu. Aku benar-benar berterima kasih atas semua yang kau lakukan selama ini padaku. Aku tak tahu bagaimana harus membalasmu."
"Kamu itu adalah teman sekaligus saudariku, aku akan merasa sangat jahat jika tak membantumu. Jangan pernah berbicara seperti itu, kita tidak tahu suatu saat nanti mungkin aku yang akan membutuhkan bantuanmu dan aku yakin jika kau dalam posisiku kamu juga pasti akan melakukan yang sama 'kan?" tanya Aqila
Khanza mengangguk dan memeluk sahabatnya itu.
Sekarang tidurlah, pagi-pagi kita harus pergi ke rumah sakit. kamu tak boleh kelelahan dan terlalu banyak pikiran, ingat ada bayimu, ada Aziel yang sangat menyayangimu dan membutuhkanmu.
"💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏
Salam dariku Author M Anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mampir ke karya temanku
__ADS_1