
Warda yang sudah sampai berlarian masuk ke rumah sakit, meninggalkan Santi yang terus menggerutu sepanjang jalan menyusul di belakangnya.
Warda menelpon Farah menanyakan dimana posisi ruangan mereka sekarang.
Farah sedang berada luar kamar bayi Khanza yang masih mendapat perawatan di kamar bayi.
Kondisi bayinya tiba-tiba menurun.
"Ya ampun Farah, kenapa semua ini bisa terjadi?" tanya Warda.
"Mama β¦ Khanza, Mah," ucap Farah langsung berhamburan memeluk mertuanya itu dengan air mata yang kembali menetes.
"Bagaimana keadaan Khanza, dimana dia?" tanya Warda.
"Khanza mengalami koma, Mah. Sekarang dia sudah di ruang perawatan, mas Abi sedang menemaninya.
"Khanza β¦ Bagaimana semua ini bisa terjadi?" tanya Mama Warda.
"Ini semua salah Farah, Mah. Farah ga bisa membawa Khanza tepat waktu ke rumah sakit," ucap Farah menyalahkan dirinya sendiri.
"Kamu yang membawa Khanza ke rumah sakit, lalu dimana Abizar?" tanya Santi cepat tak ingin Warda menyalahkan anaknya.
"Mas Abi lembur Mah di kantor jadi Farah yang bawa Khanza ke rumah sakit," jelas Farah.
Farah pun menjelaskan semua apa yang terjadi dimulai dari ia menelpon Abizar yang tak kunjung diangkat hingga bagaimana ia membantu Khanza melahirkan.
Warda mengeratkan giginya, mengepalkan tangannya, mana mungkin anaknya itu lebih mementingkan pekerjaan daripada kesehatan menantu dan cucunya.
"Dimana cucuku?" tanyanya.
"Ada di dalam, Mah," ucap Farah menunjuk bayi yang baru dilahirkan Khanza, bayi itu masih berada di dalam inkubator dan masih dalam pengawasan yang ketat mereka hanya bisa melihat dari luar, dibalik kaca.
Farah, Warda, dan Santi terus berada di luar Kamar menjaga bayi itu, sedangkan Abizar hanya bisa menatap Khanza yang terbaring lemah sambil terus mengajaknya berbicara berharap istrinya itu bisa membuka mata. Abizar duduk di samping Khanza hingga matahari terbit. Ia tak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Pandangan tertuju pada kelopak mata Khanza.
Tak lama kemudian Farah menghampirinya.
"Mas, Khanza biar aku yang jaga. Mas sarapan dulu dan ganti pakaian Mas dulu," ucap Farah yang melihat kondisi Abizar masih sama dengan semalam, tangan dan kemejanya masih berlumuran darah Khanza yang sudah mengering.
"Aku masih ingin bersamanya," ucap Abizar singkat tanpa melihat Farah sambil terus menggenggam tangan Khanza.
Farah mengelus punggung suaminya mencoba memberi kekuatan di sana, dia tahu kondisi suaminya saat ini sangat terpuruk. Farah mengerti jika suaminya saat ini benar-benar mencintai madunya itu. Namun, itu tak membuat cemburu, ia juga menyayangi Khanza.
"Sabar ya Mas, Farah yakin Khanza akan kembali sehat dan kita bisa membesarkan anak kita bersama-sama," ucap Farah berdiri di samping Abizar.
Farah membawa suaminya ke pelukannya, menyandarkan kepalanya di kepala suaminya dan ikut menatap Khanza yang masih menutup mata, terlihat sangat tenang.
Abizar mengelus lembut tangan Farah yang melingkar di lehernya.
__ADS_1
"Tolong kau jaga anak kita, ya," ucapnya.
"Tentu, masalah bayi kita Mas nggak usah khawatir, fokus saja pada Khanza, tapi sekarang sebaiknya Mas sarapan dan ganti baju dulu. Mas gak mau 'kan saat Khanza bangun dan melihat kondisi Mas seperti ini, dengan kondisi suaminya yang sangat jelek dan bau amis," ucap Farah memegang wajah Abizar dengan kedua tangannya memberi kecupan di kening suaminya itu dan mencoba untuk tersenyum.
"Baiklah aku akan kembali dulu, aku titip Khanza."
"Iya, Mas. Khanza biar aku yang jaga, bayinya sudah ada Mama yang menjaganya."
Abizar hanya mengangguk mendengar ucapan Farah kemudian berdiri, sebelum iya keluar Abizar kembali mengecup kening Khanza.
"Cepatlah sadar," lirihnya.
Kemudian Abizar juga mengecup kening Farah.
"Aku pulang dulu, kabari aku jika terjadi sesuatu pada Khanza."
"Iya Mas, pastikan ponselmu berdering," ucap Farah memukul pelan dada Abizar.
Setelah Abizar pergi, Farah duduk di tempat Abizar.
"Khanza, bangun lah. Kau sudah berhasil melahirkan bayimu, dia sangat lucu. Apa kau tak ingin menggendongnya," ucap Farah mencoba membuat Khanza terbangun dari komanya.
"Khanza, Mbak mohon buka matamu," ucap Farah mengeratkan genggamannya.
Farah tak mendapat respon apa-apa. Namun, ia bisa melihat ada air mata yang menetes di mata Khanza.
"Khanza kamu nangis," ucapnya menghampiri, "Apa kau bisa mendengarku," Farah sangat senang saat mengetahui Khanza merespon dirinya, ia pun langsung memencet tombol untuk memanggil dokter. Namun, setelah dokter datang memeriksanya kondisikan tetaplah sama, Khanza masih dalam kondisi koma.
"Itu biasa terjadi Ibu, kemungkinan pasien bisa mendengar apa yang kita katakan," jelas dokter.
Tadinya Farah berpikir jika Khanza sudah sadar. Namun, ternyata dugaannya salah. Khanza dalam kondisi yang sama.
*****
Fahri menunggu Abizar di parkiran, saat melihat orang yang sejak tadi di tunggunya datang, Fahri langsung menghampirinya dengan memarkirkan mobilnya di depan teras rumah sakit.
Abizar masuk ke mobil Fahri dan mereka pun langsung berangkat.
Dalam perjalanan, Abizar hanya terdiam dan memandang keluar jendela, Fahri juga tak berani menegur atau menanyakan keadaan Khanza. Ia hanya fokus menyetir.
****
"Terima kasih, ya," ucap Abizar saat turun dari mobil.
"Sama-sama Pak," ucap Fahri kemudian kembali melajukan mobilnya meninggalkan Abizar yang masih berdiri di teras rumahnya.
Abizar baru teringat jika ia belum mengaktifkan nada dering ponselnya.
__ADS_1
Abizar merogoh sakunya dan melihat lagi lagi beberapa panggilan di sana. Dan salah satunya adalah dari nenek Khanza.
Abizar menghela nafas, Ia tahu bagaimana caranya mengabari kondisi Khanza saat ini pada neneknya.
Abizar menghembuskan nafasnya kasar, menarik nafas kemudian menekan tombol panggil pada nomor nenek Khanza.
Panggilan terhubung, Abizar bisa mendengar suara nenek Khanza dibalik telepon.
"Maaf ya, sepertinya nenek belum bisa kesana hari ini, mungkin besok nenek dan kakek akan berangkat. Nenek sudah menelpon Khanza, tapi ia tak mengangkatnya."
"Nek, Khanza sudah melahirkan," ucap Abizar.
"Apa ... Benarkah, Alhamdulillah akhirnya Khanza bisa melahirkan secara normal," ucap nenek bahagia, nenek tau jika Khanza cucunya sangat takut melakukan operasi.
"Iya, Nek. Khanza melahirkan secara normal," jawab Abizar.
"Ya sudah, nenek jadi berangkat hari ini."
"Nek?"
"Iya, ada apa, Nak?"
Lama Abizar terdiam,
"Apa terjadi sesuatu pada cucu nenek?" tanya nenek tegas, dengan suara bergetar. kekhawatiran mulai menghinggapinya.
"Iya, Nek. Sebaiknya nenek kesini sekarang, aku akan menyuruh orang untuk menjemput Nenek di kampung."
"Tak usah, Nenek dan kakek akan kesana sekarang juga, kamu jemput di bandara saja," ucap nenek.
"Iya, Nak. Aku β¦" Ucap Abizar tak meneruskan perkataannya, nenek sudah mematikan panggilan mereka.
Abizar bersandar, ia tak tau apa yang akan kakek dan nenek Khanza katakan saat melihat kondisi cucu mereka.
Abizar berjalan gontai memasuki kediamannya yang terasa kosong.
πππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
semoga bab ini bisa menghiburπ
Gimana pendapat kalianπ€ komen yaπΉ
Beri dukungan kalian ya dengan memberi like, vote, bisa kasih hadiah juga bolehππ
Salam dariku Author m anha β€οΈπ
__ADS_1
Love you all ππ
πππππππππππππ