
Hari ini Farah bertolak ke luar negeri, Abizar mengantarnya hingga ke Bandara.
"Mas, sesekali jika kau ingin menemuiku bawa Aziel ya!" pinta Farah karena dia yakin mungkin dia takkan pernah bertemu dengan Aziel jika bukan Aziel yang datang menemuinya.
Tentu saja aku akan membawa Aziel menemuimu dia pasti merindukan Bubunya. Mungkin dalam waktu dekat ini aku tak bisa menemuimu lebih sering, kau tahu kan Perusahaanku sedang berkembang aku benar-benar sangat sibuk, jika ada waktu luang aku akan kesana, jika memang kau yang memiliki waktu luang seperti biasa kalau yang harus datang menemuiku."
"Sepakat."
Memang seperti itulah mereka sebelum Khanza hadir diantara mereka atau mereka yang menghadirkannya ke dalam rumah tangga mereka. Hubungan jarak jauh bukan lagi masalah yang besar untuk keduanya. Namun, berbeda untuk kali ini Farah benar-benar berniat untuk menghukum dirinya sendiri dengan tidak lagi menemui Abizar. Mereka akan bertemu saat Abizar lah yang datang menemuinya.
Abizar melihat Farah naik ke pesawat. Setelah Farah benar-benar pergi barulah Abizar pulang.
Sepanjang perjalanan dia terus memikirkan apakah dia siap jika ada yang bersanding dengan Khanza dan jawabannya adalah tidak. Ia terus saja memaki hatinya mengapa hatinya tak bisa melupakan Khanza, mengapa ia semakin mencintai setelah mereka berpisah. Apakah ini hukuman baginya karena telah menyakiti dan tak menjaganya dengan baik saat berada di sisinya, batinnya terus merasa frustasi dengan keadaannya.
Abizar mencoba menghilangkan segala perasaannya yang terus menyesakkan dadanya itu dengan kembali ke kantor menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Ia benar-benar menghabisi waktu untuk perusahaannya membuat perusahaannya semakin berkembang pesat.
Malam hari saat kembali ke rumah ia benar-benar merasakan arti kesunyian, tak ada lagi Khanza dan tak ada juga Farah, yang ada hanya rasa bersalah dan kerinduannya pada Khanza semakin yang semakin dalam membuat ia semakin tak bisa tidur walau berada di kamar yang nyaman.
Abizar kembali mengambil laptopnya dan memutar video-video anaknya, hanya itulah Salah satu cara untuk menghibur hatinya.
Hari terus berganti hari Abizar terus melakukan hal yang sama, bekerja, bekerja, dan kembali ke rumah dan melihat video rekaman anaknya. Saat ada waktu luang, Abizar akan membawa Aziel untuk menginap di rumahnya. Sesekali membawa anaknya untuk bermain di wahana bermain.
Khanza semakin sibuk dengan pekerjaannya, ia semakin sulit ditemuinya. Aisyah tak ingin lagi di tinggal bersama neneknya, ia selalu ingin ikut ke kantor. Membuat Abizar juga Kesulitan menemui anak-anaknya.
Terkadang ia pergi ke luar negeri untuk mengurus berapa pekerjaannya yang tak bisa diwakili oleh Aqila membuat ia membawa semua anak-anaknya ikut bersamanya.
Terkadang mereka harus pergi selama dua minggu, selama itu pula ia tak bisa bertemu dengan mereka mereka.
Kepadatan pekerjaannya juga sangat mengganggu pertemuannya dengan anak-anaknya, di saat Khanza dan anak-anaknya berada di rumah terkadang dialah yang harus bekerja di luar kota atau di luar negeri.
Aziel yang sudah sudah mulai menyesuaikan diri dan tak lagi mengeluh jika tak bertemu dengan ayahnya. Panggilan video sudah cukup bagi mereka. Ia tahu jika ayahnya sedang bekerja.
"Mama dan Papa masih sibuk ya?" tanya Aziel menghampiri mamanya yang sedang bermain bersama dengan adiknya.
Mendengar kata Papa disebut Aisyah langsung merespon dan juga melihat kearah mamanya seolah menunggu jawaban dari pertanyaan kakaknya.
"Iya sayang, Papa lagi sibuk Aziel mau menelepon papa?" tanya Khanza menarik Aziel ke pangkuannya.
"Papa," seru Aisyah yang begitu antusias mengerti jika mamanya ingin menelpon Papanya.
"Iya, Mah. Ziel kangen Papa, ingin bicara dengan Papa," lirihnya menyandarkan kepalanya di dada mamanya.
"Mama kirim pesan dulu, siapa tahu aja Papa lagi sibuk," ucap Khanza mengirim pesan kepada Abizar dan meminta untuk menghubunginya jika dia sudah membaca pesannya. Mengatakan jika Aziel merindukannya.
Lama mereka menunggu panggilan Abizar. Namun, ponsel Khanza tak berdering.
"Kok Papa nggak nelpon, Mah?"
"Mungkin papa lagi rapat, Nak. Kita tunggu sebentar lagi."
Aziel hanya mengangguk dan terus memegang ponsel mamanya, dan benar saja Setelah menunggu 30 menit Akhirnya Abizar menelpon. Ia baru saja selesai rapat.
Seperti biasa Khazan akan membiarkan kedua anaknya itu berbicara dengan papanya. Jika sudah bicara mereka akan lupa waktu. Terkadang Abizar akan mematikan panggilannya saat mereka sudah tertidur.
Khanza bisa melihat keseruan mereka saat bersama, walaupun mereka bertemu melalui panggilan video.
Samar Abizar mendengar suara laki-laki dewasa di sekitar mereka.
"Apa itu Daniel?" batin Abizar menajamkan pendengarannya.
"Aziel lagi dimana?" tanya Abizar yang juga melihat di sekitaran Aziel tak seperti di rumahnya.
"Ziel lagi di rumah Oma Dokter," jawab Aziel.
"Oma Dokter?" tanya Abizar tak mengerti.
"Iya, di rumah Oma Dokter."
Abizar berpikir sejenak, "Apa oma Dokter maksudnya Dokter Dewi yang pernah membantu proses persalinan Aisyah."
__ADS_1
"Mama lagi sama siapa?" tanya yang tak bisa menahan rasa penasarannya mendengar Khanza berbicara dengan seorang pria.
"Dengan om Damar," jawab Aziel mengarahkan kameranya pada mamanya.
Abizar bisa melihat jika Khanza terlihat begitu bahagia tertawa bersama dengan Damar.
Abizar dan anak-anaknya terus aja berbincang-bincang sedangkan Khanza terus berbincang dengan Damar, Abizar sama-sama bisa mendengar suara mereka dan tawa Khanza dan Damar. Namun ia tak mengerti apa yang mereka bahas.
Semenjak perceraian selain Aqila Khanza juga sering bercerita pada Damar tentang keluh kesahnya, segala sesak di hatinya itu semua saran dari Dokter Nita, Dokter psikiater yang pernah membantu keluar dari traumanya.
Damar adalah sahabat Khanza sejak masih kecil sebelum bertemu dengan Aqila Damar lah tempatnya selalu mencurahkan isi hatinya dan ia kembali melakukannya dan merasa lebih nyaman.
Mereka terus tertawa saat membahas tentang Daniel dan Aqila yang sudah mulai dekat tanpa mereka sadari.
Khanza selalu mengiyakan saat Daniel mengajaknya jalan dan Khanza selalu mengajak Aqila ikut bersama dengan mereka, dan saat berada di tempat yang Daniel maksud Khanza akan pura-pura sibuk atau mengatakan jika Aisyah menangis dan mencarinya. Ia akan meninggalkan mereka berdua.
Terkadang ia juga yang lebih dulu mengajak Daniel untuk pergi bersama dan kembali mengajak Aqila dan anak-anaknya.
Khanza kembali meninggalkan mereka barsama dengan Aisyah, agar mereka bisa bersama-sama mengurus Aisyah yang super aktif dan ia sendiri berjalan-jalan ke tempat lain bersama dengan Aziel.
Aqila sudah banyak berkorban untuknya, melakukan banyak hal bersamanya, Khanza hanya ingin membantu Aqila mendapat cinta, dan iya yakin Daniel pria yang baik untuknya.
Khanza terus tertawa saat menceritakan hal-hal lucu tentang sahabatnya itu membuat orang yang mendengar juga bisa ikut tertawa, termasuk Abizar yang sedari tadi ikut tersenyum mendengar tawa mantan istrinya itu.
Dia bukan siapa-siapa lagi untuk Khanza dan Khanza bebas dekat dengan siapa saja.
'Damar pria yang baik, dia pasti bisa membahagiakan Khanza dan anak-anakku.' batinnya Abizar.
Minggu pagi Abizar menjemput kedua anaknya.
Ia ingin menghabiskan waktu luangnya bersama mereka.
"Kakak yakin ingin membawa Aisyah?" tanya Khanza. Ini pertama kalinya Abizar membawa Aisyah ikut bersamanya.
"Iya, kita mainnya di rumah aja kok, jadi kamu tenang aja. Apa kamu mau sekalian ikut?"
"Aku ada janji dengan Damar, lain kali aja ya, Kak."
"Oh, ok," jawabnya tersenyum canggung.
"Ziel jaga Ade ya!"
"Iya, Mah. Kami akan jadi anak yang baik, iya kan Adek?" tanya Aziel pada adiknya yang hanya di dijawab senyuman dari Aisyah.
Mereka pun pergi ke rumah Papanya, kedua sangat senang. Sudah 2 Minggu ini Abizar tak menemui mereka membuat keduanya begitu merindukan papanya.
Hari ini dia benar-benar menjadi seorang Papa yang siap siaga, Abizar mengurus anaknya seorang diri. Warda sedang pergi ke luar negeri bersama dengan teman-teman sosialitanya.
"Papa kenapa sih Papa tidak tinggal di rumah saja sama Mama? Kita bisa sama-sama terus?" tanya Aziel. Pertanyaan itu juga sering dipertanyakan pada mamanya. Namun, Khanza hanya mengatakan jika dia akan tahu saat ia besar nanti.
Usia Aziel belum mengerti apa itu perceraian, yang ia tahu adalah mama dan Papanya tidak tinggal serumah dan ia berpikir jika itu adalah karena kesibukan mereka, ia bisa melihat mamanya begitu sibuk saat sedang bekerja sehingga ia mengambil kesimpulan jika papanya juga sedang sibuk sehingga jarang menemui mereka dan bermain bersama mereka.
"Mama sama papa tak bisa tinggal serumah lagi sayang," ucap Abizar mencoba menjelaskan.
"Kenapa Papa tak boleh tinggal dengan mama?"
"Aziel akan tahu suatu saat nanti, sekarang yang penting Aziel jadi anak yang baik dulu dan nurut sama mama.
Papa akan selalu ada buat kalian," ucap Abizar mengacak-acak rambut anaknya.
Percuma saja menjelaskannya Aziel tak akan mengerti.
Aziel lagi-lagi mendapat jawaban yang sama jawaban jika ia akan tahu saat dia besar nanti.
Aziel mengedikkan bahunya kemudian kembali bermain dengan Aisyah.
Abizar membiarkan mereka bermain. Mereka bermain apa saja yang mereka inginkan.
Mainan Aziel masih banyak di rumah itulah, dan sekarang bisa di mainkan oleh Aisyah, juga ada beberapa mainan yang masih bisa dimainkan Aziel sendiri.
Abizar bahkan memberikan apa saja yang ditunjuk Aisyah termasuk barang-barang yang tak bisa ia memainkan.
__ADS_1
Abizar membawa mereka dari pagi sampai sore hari. Mereka benar-benar puas bermain bersama.
Khanza sendiri seharian ini memilih untuk menghabiskan waktu dengan Damar.
Saat sore hari, Khanza meminta Damar untuk mengantarnya menjemput anak-anaknya.
Khanza menekan bel berkali-kali. Namun, tak ada yang membukakan pintu untuk mereka. Ia membuka sendiri pintunya, Khanza mematung melihat rumah yang sangat berantakan dan ia yakin itu adalah ulah anak-anaknya
"Ini rumah kenapa bisa jadi seperti ini?" ucap Khanza berjalan pelan masuk kedalam rumah, Khanza semakin terkejut saat melihat beberapa guci pecah dan ia tahu itu adalah guci kesayangan mantan mertuanya.
"Waaaah anak-anakmu benar-benar memberantakkan rumah Papanya." Ucap Damar ikut berjalan di belakang Khanza. Mereka bisa melihat mainan anak-anak berserakan, mainan anak-anak ada di mana-mana.
"Kak, kak Abi?" panggilan Khanza yang tak melihat mereka.
"Ziel, Aisyah?" panggilnya lagi saat tak ada Jawaban.
"Apa mereka sedang keluar?" tanya Damar.
"Sepertinya memang mereka sedang keluar," ucap Khanza.
"Bi, anak-anak di mana?" tanya Khanza melihat Bibi yang baru datang, Bibi juga tak kalah terkejutnya dengan apa yang dilihatnya.
"Bibi nggak tahu, Bu. Bibi juga baru datang," ucap Bibi memperlihatkan kantong belanjaan yang dibawanya, Bibi baru saja pulang dari membeli bahan makanan untuk keperluan dapurnya.
Saat akan pergi Khanza mendengar suara gelak tawa Abizar dari lantai 2 dan Khanza yakin itu berasal dari kamar utama.
"Sepertinya mereka ada di kamar atas, Bu." ucap baby yang juga mendengar suara tawa Abizar.
"Aku naik ke atas dulu ya? Memanggil anak-anak, ini sudah sore," ucap Khanza pada Damar kemudian Ia pun naik ke atas.
Khanza sadar jika kamu itu bukan kamarnya lagi, ia mengetuk pintu dan memanggil Abizar.
"Kakak Abi," ucap Khanza membekap mulutnya saat melihat Aisyah yang ada di gendongan Abizan.
Abizar kembali kue coklat untuk mereka, Abizar asyik bermain dengan Aziel dan memberikan kue itu pada Aisyah.
Abizar yang sering melihat Khanza memberikan Aisyah sendok untuk makan sendiri juga melakukan hal yang sama.
Membiarkan Aisyah makan sendiri
Membuat anak itu menjadi seperti boneka coklat.
Abizar hanya bisa tertawa melihat putrinya dan tak tau mulai dari mana membersihkannya.
Khanza hanya menghela nafas melihat apa yang terjadi pada putrinya, Ia pun membersihkannya terlebih dahulu sedangkan Abizar dan Aziel turun ke bawah menemui Damar.
Mereka terus berbincang-bincang sambil menunggu Khanza.
"Apa kau menyukai Khanza?" tanya Abizar.
Damar yang sedang bermain dengan Aziel langsung melihat ke arah Abizar mendengar pertanyaan itu.
"Aku sangat senang jika kau bersama dengan Khanza, aku yakin kau bisa membahagiakannya."
"Khanza wanita yang cantik dan juga baik aku yakin siapapun yang mengenalnya pasti menyukainya," ucapnya melihat Khanza turun dari tangga sambil menggendong Aisyah yang sudah bersih.
"Kak, Kami pergi dulu ya?" ucapnya. Abizar hanya mengangguk menjawab Khanza.
Abizar hanya bisa melihat Damar yang menggendong Aziel berjalan beriringan dengan Khanza yang menggendong Aisyah.
Hanya bisa melambaikan tangannya saat kedua buah hatinya melambaikan tangan padanya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Salam dariku Author M Anha.😍😍😍
8 hari lagi Tamat ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
Mampir ke karya temanku ya kak🙏🙏🙏