
Khanza dan Abizar kembali ke rumah mereka, sepanjang perjalanan pulang Khanza terus melihat ke arah jendela, ada rasa malu di hatinya mengingat apa yang pagi tadi mereka lakukan, terlebih lagi ia tak menyangka jika Aqila melihat apa yang mereka lakukan. Ia tak ingin melihat Abizar yang terus bersiul bersenandung memukul-mukul setir mobil menyesuaikan dengan irama nya, terdengar begitu senang.
Khanza tersentak saat Abizar menarik tangannya, ia ingin menarik ya kembali, tapi Abizar menggenggamnya dengan erat.
Abizar menyetir sambil menggenggam erat tangan Khanza, sesekali mengecup punggung tangannya. Pagi ini untuk pertama kalinya ia kembali menyentuh Khanza setelah hampir 6 bulan lamanya, pagi yang sangat indah untuk nya.
"Apa kamu mau ke suatu tempat?" tanya Abizar mencoba mengusir kecanggungan yang terjadi di antara mereka.
"Kakak nggak kerja?" tanya Khanza melihat ke arah Abizar.
"Kerja, tapi kalau kamu ingin ke suatu tempat aku temenin!" ucap Abizar kembali mengecup punggung tangan Khanza dan meletakkannya di dadanya.
"Khanza ingin jalan-jalan aja, apa boleh?" ucap Khanza ragu. Selama ia menikah dengan Abizar, ia sangat jarang menghabiskan waktu bersama Abizar untuk sekedar berjalan-jalan keluar rumah bahkan terbilang mereka tak pernah berjalan bersama semenjak menikah.
Kesibukan Abizar di kantornya juga masalah yang sedang mereka hadapi membuat semua itu seakan hanya angan-angan belaka.
"Boleh! Kamu mau kemana?" tanya Abizar sekilas melihat Khanza yang tangah menatapnya kemudian kembali fokus ke jalan.
"Kita nonton aja gimana?" tanya Khanza.
"Iya, boleh. Sudah lama kita tidak ke bioskop."
Khanza hanya tersenyum saat Abizar melihat ke arah nya. Khanza ingin menghabiskan waktu bersama Abizar, walau terdengar munafik, tapi jujur Khanza merasa sangat bahagia bila di samping suaminya. Namun ia harus dihadapkan pada suatu pilihan hati, harus memilih hidup bersama suaminya dan menerima segala sakit yang akan dihadapi atau memilih berpisah dari suaminya dan memulai kebahagiaannya yang mungkin akan didapatkan suatu hari nanti.
Sakit memang saat membayangkan perpisahan yang akan mereka hadapi, tapi Khanza bertekad menguatkan hatinya.
Abizar melajukanΒ mobilnya ke arah Mall terbesar di kota itu.
Mereka sampai, Khanza turun dan berjalan lebih dulu. Abizar menghampirinya dan kembali menggenggam tangan nya.
Abizar terus menggandeng tangan Khanza berjalan menuju ke tempat bioskop, memesan tiket dan membeli beberapa cemilan untuk mereka. Khanza sengaja memilih film romantis.Β
Khanza ingin melupakan segala masalahnya dan mencoba untuk menikmati hari ini bersama dengan Abizar sebelum berangkat ke kampung.
__ADS_1
"Ini film apa?" tanya Abizar saat film akan dimulai.
"Film horor kak!" Khanza menggoda suaminya itu, ia tahu jika Seorang Abizar takut menonton film horor.
"Oh horor," jawab Abizar menelan dengan susah.
Film dimulai, Abizar bersiap menutup wajahnya, biasanya film horor akan diawali dengan adegan yang menegangkan dan menakutkan.
"Kenapa Khanza memilih film horor sih," batin Abizar.
Film terus berputar, Abizar mengerutkan keningnya saat sudah beberapa menit film berjalan, tak ada adegan yang mengerikan. Ia pun menyadari jika istrinya itu Sedang mengerjainya.
Mereka menonton, makan bersama, shopping, bermain di wahana bermain dan masih banyak hal yang menyenangkan yang mereka lakukan.
Membuatkan Khanza larut dengan perhatian dan cinta Suaminya. Khanza benar-benar lupa rasa sakit yang pernah Abizar torehkan padanya. Rasa cintanya semakin dalam, dalam, dan semakin dalam.
Mereka terus menghabiskan waktu bersama, tertawa dan bahagia hingga tak terasa malam pun tiba. Abizar yang khawatir Khansa akan kelelahan mengajaknya untuk pulang.
"Tapi Kakak, aku masih ingin jalan-jalan. Bagaimana kalau kita ke taman dulu, sebelum pilang?" mohon Khanza menggandeng tangan Abizar terlihat begitu serasi dan layaknya tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
Khanza berpikir sejenak, benar yang dikatakan Abizar, ia harus menjaga kondisinya agar bisa tetap kembali ke kampung.
"Ya udah deh, kak! kita pulang saja Sekarang," ucap Khanza akhirnya yang dijawab anggukan oleh suaminya.
Saat sampai di rumah mereka sudah disambut dengan tatapan penuh tanya dari kedua ketiga orang yang ada di sana, mereka semua sedang duduk di meja makan sedang menikmati makan malam mereka.
"Kamu mau makan?" tanya Abizar.
"Nggak, Kak. Aku masih kenyang. KakakΒ gabung saja sama mereka, nggak enak sama Mbak Farah. Sudah sedari kemarin kakak bareng sama aku," ucap Khanza yang paham jika suaminya bukanlah miliknya seutuhnya.
"Ya sudah, kamu istirahat, ya. Besok aku rangkuman kan dulu semua pekerjaan kantor dan meminta Fahri menggantikan ku," ucap Abizar mengusap lembut rambut Khanza. Khanza hanya mengangguk sambil melirik pada orang yang memperhatikan mereka.
Khanza masuk ke kamarnya dan Abizar bergabung dengan yang lainnya di meja makan.
__ADS_1
"Kamu dari mana aja," tanya Ward begitu Abizar duduk bergabung dengan mereka semua di meja makan.
"Kami menginap di rumah sahabat Khansa,Aqila."
Farah hanya mendengar penjelasan Abizar suaminya.
"Mas, sudah makan?" tanya Farah.
"Iya, sudah. Perjalanan pulang tadi kami singgah untuk makan dulu, buatkan mas kopi aja ya," ucap Abizar.
"Iya, mas sebentar ya, aku buatkan dulu," ucap Farah dengan sigap langsung berdiri dari duduknya dan menuju ke arah dapur membuat secangkir kopi untuk suaminya.
"Kamu itu kalau mau pergi berdua dengan istri muda kamu, kamu izin dulu dong sama Farah, setidaknya beritahu dia Kalian mau kemana biar dia nggak khawatir dan menunggu Kalian pulang ," ucap Warda.
"Iya, saya setuju, Bu. Walau bagimana pun Farah tetap adalah istri pertama, ia pasti cemas memikirkan suaminya, " ucap Itu Santi dengan wajah kesalnya.
"Kami tak ada rencana untuk menginap disana, semuanya mendadak. Jadi, maaf nggak sempat memberitahu kan pada kalian," ucap Abizar menatap Istrinya pertamanya yang begitu telaten mengurus nya.
"Kamu kan punya ponsel, tinggal telepon atau chat aja "kan bisa, apa segitu sukanya kamu dengan istri kedua mu itu sampai melupakan istri pertama kamu," ketus Ibu Santi berbicara tanpa melihat ke marah besar.
"Bukan seperti itu Bu" Abizar
"Sudah lama mas, nggak usah menghiraukan ucapan ibu," ucap Farah. " meletakkan kopinya di depan Abizar dan memberinya beberapa jenis kue yang telah di buatnya.
"Agila mendiri.
Semalam Farah terus menunggu kedatangan mereka Ia bahkan sampai tidur di luar hingga pagi, menunggu kedatangan abidzar dan Khansa membuat Ibu Santi sangat kesal.
ππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca ππ
Terima kasih sudah membaca πtetap dukungannya ya dengan memberi like , vote dan comment pada karya kami. kak,π
__ADS_1
Salam Dariku Author m anha β€οΈβ€οΈβ€οΈ
πππππππππππππ