Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Anakku bahagiaku


__ADS_3

5 bulan kemudian.


Khazna sedang bermain di taman, taman adalah tempat favoritnya bermain bersama dengan anak-anak. Walau mereka sudah bercerai Abizar sesekali datang menemui anak-anak mereka. Walau hak asuh anak jatuh ke tangan Khanza ia tak pernah melarang Abizar untuk bertemu dengan anak-anaknya terkadang Aziel juga ikut bersamanya, menginap di rumah mereka.


Aisyah sudah berusia 9 bulan dia sudah mulai diajarkan cara berjalan, menyentuh 'kan kaki telanjangnya ke rumput.


Momen-momen itu bagi seorang ibu adalah momen yang sangat berharga, di usia Aisyah seorang ibu akan bertambah repot. Namun, diusia itu juga seorang ibu akan dibuat bahagia dengan kelucuan tak terduga dari buah hatinya, begitu pula dengan Aisyah, kelucuan putrinya itu sangat membantu Khanza untuk menghilangkan rasa sedihnya selama ini.


"Paman Daniel," teriak Aziel menyambut kedatangan Daniel yang membawa mobil-mobilan untuknya.


Daniel memberikan mobil-mobilan tersebut kepada Aziel kemudian menghampiri Khanza yang sedang mengajari Aisyah berjalan.


"Ayo sini sama Om," ucap Daniel menggoyang-goyangkan boneka yang dibawanya.


Aisyah terlihat antusias untuk mengambil boneka tersebut, perlahan kakinya mulai melangkah menghampiri Daniel, Daniel terus saja berjalan mundur.


Perlahan-lahan Khanza melepas tangannya membiarkan putrinya itu berjalan sendiri menghampiri boneka yang sedang dipegang Daniel.


Perlahan tapi pasti Aisyah melangkahkan kakinya tanpa dipegang oleh Khanza, Khanza hanya siaga di samping. semakin dekat dengan bonekanya semakin Aisyah mempercepat larinya hingga ia hampir saja terjatuh. Dengan cepat Daniel menangkapnya dan mereka tertawa bersama. Daniel melempar Aisyah ke udara dan menangkapnya.


Anak itu tertawa dengan gembira dan memeluk boneka yang dibawa Daniel.


Abizar yang tadinya ingin bertemu dengan anak-anaknya menghentikan langkahnya saat melihat semua Semua itu. Ia kemudian memutuskan untuk kembali dan tak jadi menemui mereka. Kembali ke mobilnya dan menyimpan boneka yang dibawanya di jok belakang.


Semakin hari Abizar semakin merasa kehilangan sosok Khanza dan semakin hari cinta itu seakan semakin tumbuh di hatinya.


Abizar menghentikan mobilnya saat jaraknya sudah jauh dari rumah Khanza memukul-mukul setir mobilnya dengan sangat kesal. Kembali mengingat tawa bahagia anaknya diperlukan Daniel.


Aku tidak akan rela jika Daniel yang mendampingi khanza menggantikanku," kesal Abizar kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Semenjak putusan cerai Abizar dan Khanza, Daniel terus saja berusaha mendekati Khanza. Walaupun mendapat penolakan. Namun, ia tak menyerah.


Khanza yang lelah meminta Daniel untuk berhenti berharap padanya akhirnya membiarkan saja, setidaknya tingkah lucu Daniel mampu menghibur mereka semua.


"Daniel, aku titip anak-anak dulu ya! Aku ingin mengambil sesuatu di dalam," ucap Khanza berlari cepat saat Daniel mengatakan iya untuk menjaga mereka.


Tak lama kemudian Aqila baru datang dari kantor langsung menghampiri mereka sambil membawa rujak di tangannya.


"Pak Daniel, Khanza mana?" tanya Aqila yang tak melihat Khanza ikut bermain bersama dengan mereka.


"Katanya mau ngambil sesuatu, nanti juga balik lagi," ucap Daniel masih terus bermain dengan Aisyah dan membiarkan Aziel bermain dengan mobil-mobilan barunya.


"Itu apa?" tanya Daniel yang melihat Aqilah membuka makanan yang di bawahnya.


"Ini rujak, aku beli di depan kantor, rasanya sangat enak. Kamu suka rujak?" tanya Aqila menyodorkan rujaknya.


"Entahlah, aku belum pernah mencobanya," ucap Daniel mengambil rujak dengan tusuk sate.


"Coba aja," membantu Daniel memilih buah yang enak dari berbagai pilihan jenis buah di rujak tersebut.


Begitu Daniel mencobanya ternyata rasanya enak walaupun sedikit pedas menurut lidahnya.


"Bagaimana? Enakkan?"


"Iya, tapi agak pedas ya?"

__ADS_1


"Namanya juga rujak, ga enak jika tak pedas."


Mereka berdua pun menikmati rujak tersebut saling bergantian. Hanya ada satu tusuk sate yang mereka pakai untuk mengambil rujak tersebut.


Menikmati rujak sambil mengobrol.


Saking asyiknya mereka sampai lupa jika ada Aisyah yang tengah mereka jaga. Aisyah merangkak menjauh dari mereka, untung saja Khanza keluar dan melihat Aisyah yang merangkak ke arah


bola yang ada di depan gerbang. Dengan cepat ia mengambil Aisyah.


"Gimana sih disuruh jagain malah enak-enakan pacaran."


Khanza memperhatikan keseruan mereka timbul di hatinya untuk menjodohkan sahabatnya itu dengan Daniel. Ia juga tahu jika selama ini Aqila menyukai Daniel.


"Tak ada salahnya mencoba menjodohkan mereka," gumamnya kemudian membawa Aisyah masuk ke dalam membiarkan mereka menikmati kebersamaannya.


Khanza tak lupa meminta Bibi memanggil Aziel, sudah waktunya mereka mandi.


Kakek dan nenek Khanza memutuskan untuk tinggal bersama dengan cucunya. Nenek tahu walau Khanza terlihat baik-baik saja ia belum bisa melupakan Abizar sepenuhnya.


Biarlah waktu yang menghapus perasaannya, Khanza menyerahkan semua pada waktu. Semakin hari ia semakin bisa menerima statusnya sebagai single parents. Semakin hari hatinya semakin meresa tenang dan bahagia, dan merasa keputusannya bercerai sangat tepat.


Di kediaman abidzar.


Jika Khanza sudah bisa menerima perceraian mereka, tidak dengan Abizar. Walaupun sudah mencoba untuk melupakan semuanya, tetap saja ia tak bisa melakukannya. Terkadang Abizar terbangun di malam hari dan meratapi perceraiannya. Farah menyaksikan semua itu dan merasa bersalah, semua ini terjadi karena salahnya.


Suaminya sudah menerima keadaannya yang tak bisa memberinya keturunan. Namun, karena dirinya yang terus membujuk untuk menikah lagi semua ini menjadi. Banyak hati yang terluka karena ulahnya termasuk dirinya sendiri. Andai waktu bisa diulang kembali, ia akan menerima apa yang di takdirkan untuk nya. Hidup bahagia dengan cinta Suaminya walaupun tanpa anak sebagai pelengkap.


Malam hari habis kembali terbangun. Dia menghabiskan waktu di ruang kerjanya, walau tak mengatakan apa-apa, tapi Farah tahu jika ia berusaha untuk menghilangkan perasaannya pada Khanza dengan menyibukkan diri.


"Masuklah," ucapnya. "Aku tidak lagi sibuk."


Farah masuk dan menghampiri Abizar ya duduk di meja kerja dan melihat apa yang sedang Abizar kerjakan.


"Nggak kerasa ya mereka sudah besar?" ucapnya saat melihat ternyata Abizar sedang menonton video yang dikirim Khanza, video di mana kedua anaknya sedang bermain dan Aisyah yang terus mencoba belajar untuk berjalan walaupun terus terjatuh.


Walau sudah tak bersama, Khanza terus mengirimkan video perkembangan kedua anak mereka agar Abizar juga bisa melihat perkembangan Aisyah dan juga Azriel.


"Iya, mereka makin menggemaskan, apalagi sekarang Aisyah sudah banyak maunya." Abizar tertawa saat melihat Aisyah yang terjatuh dan menimpa Aziel.


Mereka terus melihat video itu sampai habis, suara Khanza dan Aziel yang terus mengomel karena Aisyah terus mengganggu permainan Aziel sangat jelas terdengar.


"Mas, aku sudah lama meninggalkan pekerjaanku, Ibu juga selalu menelepon menanyakan Kapan aku kembali. Apa aku boleh kembali bekerja?" tanya Farah dengan sangat hati-hati.


Abizar menarik Farah ke pangkuannya memeluknya dengan erat dari belakang.


"Khanza sudah meninggalkanku, apa kau juga berniat untuk meninggalkanku?" ucapnya mempererat pelukannya.


"Jika dulu kita bisa hidup seperti itu, aku rasa kali ini Kita juga bisa melakukannya."


Abizar tak menjawab, ia justru kembali memutar Video lainnya.


"Mas, Aku lebih suka saat kita menjalani pernikahan kita seperti awal pernikahan, Mas tinggal di sini dan aku tinggal di luar negeri, tapi kita seakan dekat,.berbeda dengan sekarang kita berada dalam satu atap, tapi entah mengapa aku merasa kita sangat jauh," ucap Farah mengalihkan tatapan Abizar agar menatapnya.


"Jujur, Mas juga merasakan hal yang sama, 'kan? tanyanya lagi menatap dalam mata suaminya.

__ADS_1


"Maaf jika aku membuatmu merasakan hal seperti itu,"ucapnya, ia sadar jika selama ini ia lebih fokus pada perasaannya untuk bisa melupakan cintanya pada Khanza dan melupakan perasaan Farah.


"Bolehkan aku kembali ke luar negeri dan kita menjalani kehidupan rumah tangga kita seperti dulu lagi. Aku ingin cinta kita kembali tumbuh seperti dulu, mari kita perbaiki dari awal," ucapnya.


Abizar hanya mengangguk, mungkin itu yang terbaik juga untuk mereka, perasaannya pada Khanza semakin dalam. Ia ingin Kembali mencoba melupakan Khanza dan memperbaiki hubungannya dengan Farah. Itulah yang harus ia lakukan sekarang, Khanza sudah bukan miliknya lagi, suatu saat mungkin saja ia menemukan pasangan yang lebih baik darinya.


Farah membawa Abizar ke pelukannya, "Aku tak bisa hidup bahagia denganmu sementara ada Khanza yang sedang terluka. Aku yakin sampai sekarang ia masih belum bisa melupakanmu, Mas. Jauh denganmu mungkin akan menjadi hukuman yang tak seberapa untukku, untuk membayar semua kesalahanku pada kalian," batin Farah.


Sebelum kembali ke luar negeri Farah mendatangi kediaman Khanza, mungkin lebih tepatnya berpamitan pada mantan madunya yang sekarang menjadi adiknya. Saat Abizar sedang bermain dengan anak-anaknya Farah menghampiri Khanza yang sedang menyiapkan cemilan untuk Aisyah.


"Kenapa Mbak harus pergi? Kalau Mbak pergi siapa yang akan mengurus Kak Abi? Apa pekerjaan Mbak lebih penting?"


Farah tersenyum dalam hati mendengar ucapan Khanza yang ternyata masih perhatian pada Abizar walau mereka sudah bercerai.


"Mbak harus kembali, Mbak sudah meninggalkan pekerjaan cukup lama. ada tanggung jawab dengan karyawan dan pelanggan. Mas Abi sudah besar untuk mengurus dirinya sendiri, lagian mas Abi sesekali bisa kesini 'kan untuk numpang makan? Walau tak melayaninya seperti seorang suami kamu bisa 'kan mengurusnya sebagai seorang Adik?"


Khanza hanya tersenyum mendengar ucapan Farah.


Semenjak perceraiannya dengan Abizar hubungan mereka menjadi canggung, Khanza hanya menjawab setiap Abizar bertanya dan Abi bertanya setiap ada hal-hal penting mengenai anak-anak mereka.


Tak lama kemudian Daniel juga datang, ia baru pulang kerja dan datang bersama dengan Aqila.


"Daniel suka datang ke sini ya?" tanya Farah yang melihat Daniel begitu akrab dengan anak-anak.


"Iya, katanya dia kesepian di rumahnya dan lebih asyik bermain dengan anak-anak disini," ucap Khanza menjawab dengan santai sambil tersenyum melihat ke arah mereka yang sedang bercanda.


"Sepertinya Daniel masih menyukaimu?"


"Iya, Mbak. Kak Daniel memang menyukaiku, tapi aku sudah menolaknya berkali-kali Daniel aja yang ga mau nyerah," ucap Khanza tertawa.


"Malah aku berencana menjodohkan dia Mbak dengan Aqila," tambahnya masih dengan tawa renyahnya.


Mereka terus berbincang-bincang, menggosipkan Daniel dan juga Aqila, Khanza bahkan meminta pendapat Farah agar rencananya berhasil. Farah merasa senang inilah sosok Khanza yang pertama dikenalnya sangat periang dan blak-blakan.


Setelah buah racikannya jadi mereka berdua menghampiri anak-anak, Aisyah yang melihat mamanya membawa mangkuk yang biasa dipakai makan langsung merangkak, sepertinya anak itu sudah sangat lapar dan tahu jika mamanya membawa makanan untuknya.


Khanza membawa Aisyah untuk mencuci tangannya kemudian mendudukkannya di kursi makannya.


Khanza sudah mengajari Aisyah untuk makan sendiri walau dengan pengawasannya dan membantunya memasukkan makanan tersebut ke mulutnya.


Khanza sudah mengajari Aisyah hal-hal kecil begitu juga dengan Aziel agar kedua anaknya bisa mandiri kelak.


Daniel menghampiri Abizar.


"Sekarang aku boleh 'kan mendekati Khanza? Jangan bilang kau juga masih melarangku mendekatinya," Ucap Daniel dengan gaya nyelenehnya.


Abizar tak menjawab seolah tak mendengar ucapan Daniel.


"Jandamu itu memang sangat menarik," ucapnya mengedipkan matanya, saat Abizar yang tadi tak menggubrisnya langsung menatap tajam kearahnya, Daniel sengaja memanas-manasi Abizar yang sejak tadi memandangnya dengan pandangan tak bersahabat.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Salam dariku Author M Anha 🥰🥰

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2