
Pagi hari di kampung Khanza.
Hari ini Kakek ke sawah, ia ingin pergi melihat sawahnya yang sedang panen, kakek sudah memberikan semua petakan sawahnya kepada orang lain, dan membagi hasil. Kakek sudah tak sanggup lagi untuk bekerja begitu pun dengan kebunnya.
"Kakek mau kemana?" tanya Khanza yang sudah melihat kakeknya bersiap-siap.
"Kakek ingin ke sawah, apa kamu mau ikut?" ajak kakek yang tau jika Khanza biasanya memang selalu senang saat diajak ke sawah.
"Iya, Kek. Aku mau ikut, sebentar ya aku ganti baju dulu," ucap Khanza berlari masuk ke kamarnya, mengganti pakaian dengan yang lebih simpel dan bisa melindunginya dari sinar matahari.
"Kamu mau kemana?" tanya Farah saat Khanza mengobrak-abrik kopernya, dia belum sempat membereskan semuanya.
"Aku ingin ikut kakek ke sawah, Mbak aku titip Ziel, ya," ucap Khanza.
Saking terburu-burunya Khanza sudah tak masuk lagi ke kamar mandi untuk mengganti bajunya, ia langsung menggantinya di dekat koper dimana ia mengambil baju ganti.
Farah hanya menggeleng melihat apa yang dilakukan oleh Khanza.
Aziel yang melihat Khanza berganti baju langsung menghampiri dan memeluk mamanya.
"Aziel tinggal sama bubu ya! Mama mau ikut kakek dulu?" ucap Khanza mencoba menjelaskan kepada putranya.
Tapi Aziel seolah tak ingin mendengarkan apa yang dikatakan Khanza dan terus memeluk mamanya.
"Ya udah, kamu bawa aja kasihan nanti dia nangis lagi kalau kamu tinggal," ucap Farah.
"Khanza melihat wajah polos putranya, "Iya, deh Mbak. Aku bawa saja," ucap Khanza mulai mengganti baju Aziel agar badannya tertutupi, memakaikannya topi agar terhindar dari sinar matahari.
"Aku ikut juga ya," ucap Farah merasa tak ada salahnya dia berjalan-jalan ke sawah daripada ia harus sendiri dirumah.
Mereka bertiga pun siap dan bergabung dengan kakek yang sudah menunggunya di teras rumah.
"Khanza, kamu akan bawa Aziel?" tanya kakek melihat Khanza menggendong putra tampangnya itu.
"Iya kek, Aziel mau ikut, nggak papa ya, Kek," pinta Khanza.
"Nggak apa-apa, tapi nanti dia akan kepanasan.
__ADS_1
"Bentar, aku ambil payung dulu," Khanza memberikan Aziel pada Farah dan berjalan cepat ke arah dapur.
"Payung Nenek mana?" tanya mencoba mencari payung, tapi tak menemukannya.
"Payung? Untuk apa payung?" tanya nenek.
"Aku ingin ke sawah membawa Aziel, kami ingin ikut kakek."
"Sebentar," ucap nenek kemudian mencari payung yang sudah lama tak dipakainya, nenek menemukan dua payung.
"Satu aja cukup kok," ucap Khanza mengambil satu payung.
"Yang satunya ini untuk Nenek. Nenek juga mau ikut," ucap nenek berjalan keluar, ikut bergabung dengan kakek.
Warda yang melihat mereka sepertinya ingin pergi tak ingin ketinggalan dan bergabung.
"Ya udah, kita naik mobil aja," ucap kakek akhirnya.
Walaupun jaraknya tidak jauh. Namun, cukup melelahkan jika harus berjalan kaki, apalagi ada Cicitnya.
Tak sampai 5 menit mereka pun sampai.
Aziel sangat senang melihat hamparan padi dan beberapa burung yang terbang di atas hamparan luas sawah yang mulai menguning.
Dibeberapa petakan sawah terlihat beberapa petani sudah mulai memanen hasil tanaman mereka.
"Khanza sawah kakek kamu yang mana?" tanya Farah saat mereka sudah turun dari mobil.
"Itu yang sana," tunjuk Khanza pada sebuah petakan sawah di mana di tengah petakan itu terdapat sebuah rumah panggung yang sederhana, Khanza masih ingat saat remaja, dia sangat senang saat tinggal di rumah itu, tak jarang kakek dan nenek serta Khanza dulu menginap disana.
Farah mengambil Aziel dari gendongan Khanza, sementara Khanza mengambil payung yang tadi di bawahnya, kemudian memayungi mereka berjalan beriringan, beruntung rumah sawah kakek tak jauh dari jalan raya sehingga pematang yang dilewati masih cukup luas untuk berjalan kaki
"Udaranya sejuk, ya," ucap Farah merasakan hembusan angin menerpa kulitnya, walau sinar matahari sedang terik. Namun, hembusan angin tetap membawa kesejukan. Mungkin karena ia berada di tengah hamparan padi dan dikelilingi oleh bukit.
Sepanjang perjalanan beberapa orang melihat ke arah Farah dan Khanza, entah apa yang mereka gunjingkan.
Ternyata benar, kabar buruk lebih cepat tersebar daripada kabar baik. Berita jika Khanza menjadi istri kedua sudah tersebar luas.
__ADS_1
Banyak spekulasi liar mulai bermunculan, mulai dari menyebut Khanza sebagai pelakor, ada juga yang menyebut Khanza menikahi Abizar dan rela menjadi istri kedua demi harta.
Namun, saat melihat kedekatan Khanza dan Farah beberapa penduduk yang menyaksikan langsung kedekatan mereka mulai mengubah spekulasi mereka dan mencoba berpikir positif.
Kebaikan dari sosok Abizar yang mereka kenal membuat mereka bungkam dan tak berani berkata apa-apa tentang kedua istrinya. Mereka hanya menyimpan dalam hati apa yang mereka pikirkan tak berani mengungkapkannya.
Kakek dan yang lainnya akhirnya sampai di rumah sederhana milik kakek, tak lupa nenek juga membawa beberapa barang bawaannya. Membawa cemilan untuk menemani mereka bersantai sambil menikmati hamparan sawah serta menyaksikan beberapa petani yang memanen hasil kerja keras mereka.
"Kakek hasil panennya lumayan ya," ucap Khanza melihat beberapa karung gabah tersusun rapi di setiap petakannya.
"Iya, Kakek dengar suamimu juga memberi modal usaha untuk para petani. Modal untuk membeli pupuk dan bibit unggulan serta beberapa pestisida yang memang dibutuhkan sehingga petani dapat memanen hasil kerja keras mereka dengan sangat melimpah, bisa dibilang dua kali lipat dari biasanya," jawab kakek.
Walau ia marah dengan Abizar. Namun, masih terselip rasa bangga di hatinya memiliki cucu menantu yang dermawan..
Banyak orang yang memiliki harta yang berlimpah. Namun
, entah mengapa jika ingin memberikannya kepada sesama ia akan merasa hartanya itu tak pernah cukup dan takut akan kekurangan jika memberikan kepada orang lain tanpa ia sadari justru itulah yang akan menambah berkah dan rezekinya.
"Wah ternyata Abizar sudah banyak dikenal oleh penduduk disini," ucap Warda merasa bangga dengan putranya sendiri.
Bukan hanya Warda, Farah juga sangat bangga dengan apa yang telah Suaminya lakukan untuk para penduduk di desa ini, Farah bisa melihat dengan jelas senyum bahagia para petani yang memanen kerja keras mereka dengan hasil yang maksimal.
Sejak kemarin kakek terus memperhatikan Khanza dan Farah, awalnya kakek selalu mengira jika kehidupan rumah tangga cucunya itu menderita dan mengalami apa yang biasanya dialami oleh istri muda dan istri tua, dimana kedua yang selalu berselisih paham dan tak pernah akur. Namun, semua itu dipatahkan dengan kedekatan Farah dan Khanza dan itu membuat hati kakek menjadi sangat lega.
Mereka menikmati pemandangan yang sangat jarang didapat di kota.
Aziel tak pernah tenang, ia selalu ingin jalan membuat Khanza dan Farah kualah, ada saja yang menarik perhatiannya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like dan komennya 🙏
Makasih dukungan, kritik dan sarannya 🤗🙏
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1