Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Season 2 : Bab 2


__ADS_3

Mereka semua berlarian setelah sampai di rumah sakit tersebut, langsung menanyakan pada resepsionis di mana putranya dirawat. Kemudian mereka pun langsung diarahkan ke ruang di mana saat ini Azriel masih dalam penanganan dokter.


Mereka kini duduk sambil menunggu Azriel yang masih berada di ruang operasi. Khanza sudah menangis sedari tadi, ia bahkan sesegukan dan terus memeluk suaminya. Sementara Aisyah hanya mengusap punggung ibunya, ia juga bersedih atas apa yang menimpa kakaknya.


"Bagaimana ini, aku tak mau jika terjadi sesuatu pada putra kita," lirih Khanza masih terus memeluk Abidzar.


"Tenanglah, tak akan terjadi sesuatu apapun pada putra kita. Dia anak yang kuat, dia pasti bisa melalui semua ini dengan mudah, tenanglah," ucap Abidzar mengelus punggung istrinya yang terus bergetar karena tangisannya, walau sebenarnya ia juga merasa khawatir dan tak tahu bagaimana kondisi putranya saat ini. Namun, sebisa mungkin ia bersikap tenang. Jika mereka semua panik, maka semua akan semakin kacau.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dokter pun keluar dari ruang operasi, sontak saja mereka bertiga langsung menghampiri dokter yang baru saja membuka masker dan menatap mereka semua.


"Dokter, bagaimana kondisi putraku? Ia baik-baik saja kan, dokter?" tanya Khanza cepat sambil mengusap air matanya yang sejak tadi terus saja menetes, matanya bahkan kini membengkak. Bagaimana tidak semenjak mendapat kabar itu hingga mereka sampai di rumah sakit dan bertemu dokter, Khanza terus saja menangis. Ibu mana yang tak khawatir jika mendengar kabar jika anaknya sedang dalam masa kritis, nyawanya seakan ingin melayang mendengar kabar tersebut.


"Kecelakaannya cukup parah, kondisinya juga cukup serius. Namun, alhamdulillah operasinya berjalan lancar. Anak Ibu sudah melewati masa kritisnya. Namun, tetap saja kami harus masih mengecek perkembangannya dan harus tetap dirawat beberapa hari ke depan. Saat ini kondisi pasien masih dalam pengaruh obat bius," jelas dokter tersebut membuat Abidzar, Khanza dan Aisyah bernapas lega, walaupun belum sadar setidaknya anaknya sudah keluar dari masa kritisnya.


"Maaf, dokter. Bolehkah kami memindahkan anak kami ke rumah sakit yang lebih besar? Ke rumah sakit yang ada di kota kami," ucap Abidzar yang ingin anaknya mendapatkan yang terbaik, jika perlu ia akan menerbangkan anaknya itu ke luar negeri untuk mendapatkan fasilitas terbaik. Ia sama sekali tidak memikirkan berapapun biaya yang akan dihabiskannya, asalkan anaknya bisa kembali pada mereka seperti semula, tak kurang satu apapun apalagi jika sampai terjadi sesuatu padanya.

__ADS_1


Mereka pun dengan sabar menunggu Azriel dipindahkan ke ruangan perawatan, saat ini Azriel yang sudah melewati masa krisisnya dipindahkan ke ruangan VVIP yang ada di rumah tersebut. Walau tidak masuk ke dalam ruangan ICU. Namun, tetap saja di dalam ruangan itu mereka diharap tenang dan tak mengganggu pasien, membuat mereka pun hanya duduk terdiam di sofa dengan mata yang tertulis tertuju di ranjang rumah sakit, dimana seorang pemuda tampan sedang berbaring tak sadarkan diri di sana dengan beberapa alat yang menunjang kehidupannya.


'Cepatlah bangun,' batin Khanza terus melihat mata anaknya, berharap mata itu cepat terbuka dan melihat ke arahnya.


Sementara itu di tempat lain, Lucia yang sudah mendapat kabar itu dari Aisyah segera memesan tiket dan ingin langsung terbang menghampiri mereka di negara tempat di mana Abidzar dan juga anak dan istrinya berada.


Sejak kecil ia sudah mengagumi Azriel dan hingga kini ia masih mengagumi sosok pria tampan itu, mendengar jika dia sedang mendapat musibah membuat Lucia tak tenang dan kini ia sudah ada di pesawat menuju ke Indonesia.

__ADS_1


Sesampainya di negara yang dimaksud, Lucia langsung berlari menuju ke mobil Aisyah yang sudah menunggunya di bandara, karena kondisi yang sudah lebih baik ia pun hanya menginap di rumah sakit tempat ia mendapatkan operasi selama sehari dan kini sudah dipindahkan ke rumah sakit yang ada di kota, ia sudah sadar. Namun, tetap saja harus masih berbaring di ranjang rumah sakit, ada beberapa yang perlu di tangani langsung oleh seorang dokter


Lucia langsung berlari masuk, ia langsung menangis saat melihat kondisi pria yang dicintainya itu, walau Azriel hanya menganggapnya sebagai seorang teman dan saudari. Namun, tetap saja Lucia terus mengatakan cintanya. Sekeras apapun Azriel menolak. Namun, Lucia mengatakan jika dia akan menunggunya sampai Azriel mau menjadi kekasihnya.


__ADS_2