Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Bahagia Itu Sederhana.


__ADS_3

Hari berganti Hari, Khanza sudah mulai kembali pulih, tapi tetap saja ia masih perlu beristirahat, Khanza sudah bisa  ke kamar mandi bahkan memandikan Aziel. Namun, semua itu tetap masih berada di bawah pengawasan Abizar.


Abizar belum mengizinkan Khanza untuk menggendong bayi mereka, mengingat bobot tubuh Aziel sudah mulai naik dan Khanza masih sangat lemah.


Abizar tak ingin ia  kembali kelelahan dan kembali sakit.


Salah satu kebahagiaan seorang wanita adalah menjadi seorang ibu, begitu juga dengan Khanza, ia sangat bahagia bisa memiliki Ziel, Putra pertamanya.


Putra yang menurutnya sangat tampan, paling tampan, begitulah semua ibu mereka akan menganggap jika putra merekalah yang tertampan.


Pagi hari Khanza terbangun dan melihat Aziel dan Abizar yang masih tidur, ia menatap dua pria yang begitu disayanginya, 2 pria yang beda usia sangat jauh berbeda. Namun, gaya tidur mereka sama membuat Khanza merasa lucu dan mengambil ponsel memotret mereka berdua, pemandangan yang langkah, pikirnya.


Khanza terus mengganggu tidur Aziel, ia terus menciumi pipinya, leher, serta perutnya berharap anaknya itu bangun. Namun, Ziel hanya menggeliat kemudian tertidur kembali, Ia bahkan berbalik memunggungi mamanya, membuat Khanza semakin gemas. Ingin rasanya ia menggigit putranya itu.


"Ziel bangun, yuk," ucap Khanza terus mengganggu putranya, bukan putranya yang bangun justru Abizar lah yang terbangun.


Abizar menarik Khanza ke pelukannya, mencari posisi nyaman. 


"Kakak nggak ke kantor?" tanya Khanza, mengusap lembut rambut suaminya yang sedang bermanja di dadanya.


"Kantor, agak siangan. Aku sudah minta Fahri untuk mengurus semuanya," ucapnya dengan mata yang masih tertutup, ia merasa sangat nyaman berada di posisinya saat ini,  istri yang sangat dirindukannya kini telah kembali kepadanya.


"Kak, kita telpon nenek dan kakek sekarang, ya!" ucap Khanza mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video kepada neneknya.


"Halo, Nek!" ucap Khanza saat panggilan videonya diangkat oleh nenek.


"Khanza," Nenek menjerit, menangis bahagia saat melihat cucunya menyapanya.


"Nenek jangan nangis," ucap Khanza yang juga ikut berkaca-kaca.


"KHANZA, cucuku, Alhamdulillah, kamu  sudah sadar, Nak?"


"Ia, Nek. Maaf Khanza baru nelpon nenek Sekarang.


Khanza yang melihat kondisi tubuhnya waktu itu, memilih untuk menunda menelpon Nenek beberapa hari, ia tak ingin membuat nenek khawatir melihat kondisinya, setelah beberapa hari ia sudah kembali segar barulah ia menelpon nenek.


"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya nenek.

__ADS_1


"Khanza baik, Nek! Khanza saat bahagia," ucap Khanza kemudian mengarahkan kameranya pada Ziel yang sedang tertidur pulas.


Nenek ikut tersenyum bahagia melihat cicitnya dan kebahagiaan yang terpancar dari senyum cucunya.


"Nek, kakek mana?" tanya Khanza.


"Sebentar," terlihat jelas di dalam rekaman jika nenek sedang berjalan keluar memanggil kakek.


"Khanza," panggilan kakek terharu.


"Iya, Kek!" Khanza sudah meneteskan air mata, saat mendengar suara kakek bergetar dan mata yang mulai memerah.


 Kakek selalu menyembunyikan air matanya, di saat ia merasa sedih, kakek selalu mampu menahannya agar anak-anaknya tak merasa cemas. Namun, kali ini kakek membiarkan air matanya tumpah. Rasa bahagia bisa melihat senyum cucunya lagi.


Khanza berbincang-bincang dengan kakek dan nenek, sementara Abizar yang merasa jika Khanza memang membutuhkan waktu untuk bersama kakek neneknya memilih untuk ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk ke kantor.


Khanza berjanji kepada kakek dan neneknya jika Ia sudah benar-benar sembuh ia akan mengunjungi mereka,  membuat kakek dan nenek bahagia dan menjadi lebih tenang. Sebelum panggilan berakhir Khanza kembali mengarahkan kameranya pada Aziel yang baru bangun. Menambah kebahagiaan di hati kakek dan nenek melihat cicit mereka yang sangat menggemaskan.


****


Walau belum sepenuhnya sehat. Namun, Khanza sudah bisa melakukan beberapa aktivitasnya di dalam kamarnya.


Mereka bersama-sama mengurus Ziel.


Aziel yang sudah mulai aktif menyusahkan Khanza, ia masih belum kuat menggendong Aziel terlalu lama, kehadiran Farah sangat membantu, Khanza  bisa melihat jika Farah sangat menyayangi anaknya.


Khanza terus memperhatikan Farah yang begitu bahagia bermain bersama Aziel.


Selama ini Khanza selalu iri pada Farah, menurutnya, madunya itu adalah wanita yang sangat sempurna, memiliki karir yang sukses, pintar dan juga sangat cantik, selain itu dia memiliki hati yang sangat baik. Ia sangat ingin menjadi sosok seperti Farah. Namun, kali ini ia baru menyadari jika setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, Khanza baru menyadari jika ia juga memiliki kelebihan yang mungkin tak dimiliki oleh Farah, ia bisa menjadi seorang ibu. Namun, tidak dengan Farah.


Setiap kekurangan pasti ada kelebihan dan begitupun sebaliknya, setiap kelebihan pasti ada kekurangan. Tak ada yang sempurna di dunia ini, kesempurnaan hanya milik Allah SWT.


Jadikan kekurangan adalah kelebihanmu. Syukuri kedua, maka engkau akan di jauhkan dari rasa iri dan kufur nikmat.


Benar apa yang di katakan sebagai orang, jangan selalu melihat keatas, sesekali lihatlah kebawah agar kamu bersyukur, lihatlah ke atas sebagai motivasi.


Khanza melihat putranya yang begitu menggemaskan, ia sangat bersyukur di beri anugrah yang begitu indah, begitu berharga, titipan yang membawa kebahagian untuk mereka semua yang lahir dari rahimnya.

__ADS_1


Menjadi seorang ibu adalah kebahagiaan tersendiri oleh setiap wanita, begitu pula dengan Khanza.


Khanza juga bisa melihat kebahagiaan suaminya memiliki seorang putra, "Apa ini alasan mbak Farah mengizinkan kak Abi menikah lagi dengan ku," batin Khanza yang tau jika Farah salah satu wanita yang tak memiliki keistimewaan menjadi seorang ibu.


******


Hari ini khanza sudah mulai turun untuk ikut bergabung dengan yang lain untuk sarapan.


Abizar turun sambil menggendong Aziel dengan Khanza yang berjalan di sampingnya, sungguh sangat indah dipandang mata.


Warda tersenyum melihat senyum bahagia di bibir putranya yang terus menciumi Aziel Putra pertamanya.


Mereka terlihat sangat bahagia.


Tangan Santi yang sedang memegang cangkir tehnya bergetar saat ia ingin meminum. Ia menyimpan kembali cangkir tersebut di meja dengan sangat kasar, beruntung tak ada yang pecah.


Pemandangan yang sungguh membuat hatinya berdesisi, melihat suami anaknya terlihat bahagia dengan wanita lain. Santi melihat ke arah putrinya yang terlihat begitu santai saat suaminya sedang bermesraan dengan wanita lain.


"Farah terbuat dari apa hatimu mengapa kau begitu ikhlas untuk berbagi suami dengan Khanza, kamu itu istri pertama kamu berhak atas suamimu, Kenapa kau seolah menjadi yang kedua dan mengurus madumu," gumam-gumam kesal Santi.


"Anak ibu tampan sekali," ucap Farah langsung mengambil Aziel dari gedongan Abizar dan terus menciuminya, membuat anak itu terus tertawa dan memainkan air liurnya.


Aziel yang sudah menganggap Farah juga sebagai mamanya, meresa nyaman berada di pangkuan Farah.


Khanza mengambilkan makanan untuk Abizar disaat Farah mengurus Aziel, putra mereka.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Like, Vote dan komennya 💗


Mampir kak, di karya temanku.🙏



Jangan lupa di favorit ya🤗

__ADS_1


author M Anha ❤️


__ADS_2