
Aziel dengan cepat akrab dengan Lucia mereka langsung bermain bersama di rumah Lucia, tadinya Abizar ingin ke Apartemennya sendiri. Namun, Farah dan Dev terus memintanya untuk ke rumah mereka.
Abizar tak bisa menolak saat ibu dan anaknya sudah lebih dulu ikut dengan mereka.
Anak-anak sedang bermain di halaman rumah Warda dan Santi sudah pergi entah kemana, yang pasti tujuan mereka adalah berbelanja.
Abizar dan Dev duduk sambil mengawasi anak-anaknya bermain. Farah menghampiri mereka dengan membawa minuman untuk mereka berdua.
"Mas bagaimana dengan hubungan mu dan Khanza Sebenarnya? Mengapa ia akan menikah dengan Damar? Apa memang kalian sudah tak bisa disatukan lagi?" Farah sejak tadi ingin menanyakan hal itu pada mantan suaminya itu.
"Selain masalah anak, kami sudah tidak ada hubungan lagi, kamu hanya mantan suami dan istri, itu saja" ucap Abizar mengambil minuman yang diberikan Farah dan meminumnya. Ia bertingkah seolah-olah semua baik-baik saja.
"Kamu jangan bohongin aku, Mas? Aku mengenalmu bukan satu atau dua tahun, aku tahu kau masih mencintai Khanza dan kamu harus memperjuangkannya!"
"Aku sudah memperjuangkannya dari awal! Apakah aku harus memaksanya untuk tetap disampingku? Nggak 'kan nggak ada gunanya dia bersamaku jika ia sendiri tak bahagia, jika memang dia bahagia bersama dengan Damar mengapa aku tak bisa melepaskannya. Dia sudah memberiku Aziel dan Aisyah, mereka berdua lebih dari apapun. Apakah aku tak egois jika tak memberikan kebebasan padanya untuk bahagia, untuk memilih pilihannya sendiri?"
Farah terdiam dan hanya menatap mantan suaminya itu dengan tatapan kecewa kemudian menatap Dev.
Dev memberinya kode agar ia tak terlalu membahas masalah Khanza dan membiarkan biar dia yang mencoba bicara dengan Abizar.
Farah mengerti arti isyarat Dev kemudian Ia pun membiarkan mereka berdua yang berbicara.
Farah memilih untuk ikut bergabung dengan Aziel dan Lucia.
Lucia yang menganggap para adalah Maminya membuat Farah sangat bahagia dan merasa benar-benar seperti memiliki anak sendiri, manjanya Lusia membuat rasa rindunya kepada Aziel sedikit terobati.
"Pak Abizar Maaf sebelumnya bukannya aku ikut campur dalam urusan Anda, Farah sudah banyak cerita masalah Anda dan Khanza menurut pandangan saya Anda berdua itu masih saling mencintai dan sebagainya Anda …" Dev menghentikan ucapannya saat Abizar memotong pembicaraannya, tadinya ia ingin mencoba berbicara dengan Abizar sebagai seorang psikiater dan pria.
"Maaf Pak Dev aku mengerti apa yang Anda ingin jelaskan kepada saya, tapi saya yang tahu kondisi rumah tangga saya. Saya mohon biarkan saya ya yang menanganinya!" ucap Abizar menatap Dev dengan tegasm
"Maaf bukan maksud saya untuk mencampuri urusan Anda," ucap Dev yang mengerti arti tatapan Abizar.
"Maaf saya sedang ada urusan, saya harus pergi sekarang saya titip Aziel," ucapnya kemudian beranjak dari duduknya dan pergi dari kediaman Dev.
Farah yang melihat Abizar pergi langsung menghampiri Dev.
"Bagaimana? Apa yang Abizar katakan?"
"Kita serahkan saja semua pada takdir, aku rasa keputusan Abizar untuk melepas Khanza sudah tak bisa diubahnya lagi. Jika kita terus memaksa aku hanya takut itu akan melukai perasaan dan harga dirinya," jelas Dev.
"Tapi?"
__ADS_1
"Aku tahu kalian pernah menjadi satu keluarga. Namun, sekarang sebaiknya kita tidak ikut campur terlalu jauh masalah mereka."
Farah akhirnya hanya menurut apa yang dikatakan suaminya dan hanya bisa berharap jika Khanza dan Abizar bisa kembali lagi.
Abizar yang tadinya hanya ingin Sehari disana, tapi karena anak dan ibunya ikut akhirnya mereka tinggal di luar negeri di rumah Farah selama 3 hari. Farah di setiap kesempatan selalu membujuk Abizar untuk mengubah keputusannya mengizinkan Khanza menikah dengan orang lain. Namun Abizar tetap pada pendiriannya. Jika ia sudah tak punya hak lagi mengenai Khanza dan ia yakin jika Khanza bisa bahagia dengan Damar.
Farah semakin putus asa untuk menyatukan mereka, saat mendengar persetujuan dari Aziel dan ia tak menyangka jika kondisinya benar-benar sudah separah itu, bahkan Azril sudah sangat menyetujui dan memanggil Damar dengan sebutan ayah dan itu semua Abizar yang mengajarkannya.
"Mas, kamu benar-benar sudah tak waras." Farah meninggalkan Abizar ya sudah lelah untuk mencoba membujuk mantan suaminya itu.
Keesokan harinya waktunya mereka untuk kembali ke negara mereka. Warda, Aziel, dan juga Abizar berpamitan kepada mereka semua.
"Mah, jika tanggal pernikahannya sudah pasti, hubungi aku ya! Aku akan usahakan untuk datang ke acara pernikahan Khanza," ucap Farah pada mantan mertuannya.
Warda hanya mengangguk dan mengelus tangan Farah, harapannya juga pupus sudah, tadinya ia berharap Farah bisa membujuk Abizar untuk kembali memperjuangkan cinta mereka. Warda sendiri sangat tak terima, tak rela jika Abizar dan Khanza sampai berpisah. Tapi kenyataan itu harus terjadi dan tak bisa dihentikannya. Farah hanya bisa melihat punggung Abizar berjalan menjauhinya,
Farah merasa kasihan melihat sosok yang dulu tegar dan sangat dikaguminya itu terlihat sangat berubah. Dia terlihat sangat lemah dan terpuruk di mata Farah walaupun mencoba tegar di depan orang lain.
Dev yang tahu apa yang di rasakan Farah saat ini hanya bisa menepuk punggung istrinya.
"Apa semua ini Benar?" tanya Farah pada Dev.
"Kita berdoa saja semoga Khanza bisa bahagia dengan pilihannya, dan Abizar bisa kembali menemukan orang yang bisa membuatnya bahagia.
"Apa aku boleh kembali dan menemui Khanza langsung?" tanya Farah pada Dev.
"Tentu saja kita akan kesana, tapi tidak minggu ini. Aku sedang banyak pekerjaan kita pergi minggu depan, ga papa kan?"
'Minggu depan seperti sudah sangat terlambat,' batin Farah, tapi ia tak bisa memaksa untuk pergi tanpa izin Dev.
Begitu mereka sampai di bandara Khanza dan Damar menjemput mereka, Aisyah juga ikut bersamanya.
Tak bertemu Aziel selama berhari-hari membuat Khanza sangat merindukan putranya itu, begitu melihat Aziel Khanza langsung memeluknya, Aziel juga sangat merindukan mamanya.
"Aziel gak kangen ya sama Mama? Selamat di sana kenapa Aziel nggak pernah nelpon Mama?" keluh Khanza.
Selama Aziel pergi ke luar negeri tak sekalipun ia menghubungi Khanza, Ia terlalu larut dalam keseruannya bermain dengan Lucia. Abizar juga terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga lupa menghubungi Khanza, sedangkan Khanza sendiri masih ragu untuk menelpon Abizar lebih dulu. Ia takut mengganggu kebersamaan Abizar dan Farah, Ia berpikir mereka pasti membutuhkan waktu berdua karena baru bertemu Setelah sekian lama.
Khanza tak mengetahui jika Farah dan Abizar sudah berpisah dan Farah sudah menikah kembali dengan orang lain, membuat Ia hanya terus menunggu telepon dari mereka.
Aziel memiringkan kepalanya menatap mamanya dan memukul keningnya.
__ADS_1
"Maaf ya Mah, Azeil terlalu sibuk jadi lupa sama Mama, Aziel tak akan mengulanginya lagi, janji," ucapnya memasang raut wajah bersalah. Namun, bukannya terlihat raut wajah bersalah ia justru memperlihatkan wajah imutnya.
"Mama maafkan, memangnya Aziel lagi ngapain sih sama Bubu di sana? Sampai melupakan Mama? Sibuk apa sih, Sayang?" tanya Khanza, mereka bicara sambil terus berjalan. Khanza berjalan beriringan dengan Aziel dan Damar sementara Abizar dibelakangnya sambil menggendong Aisyah.
"Aziel main dengan Lucia, Mah."
"Lucia? Siapa Lucia?" tanya Khanza yang baru mendengar nama Lucia dari Aziel.
Baru saja Aziel ingin mengatakan jika Lucia adalah anak Bubunya, Abizar langsung menyalahnya.
Farah sudah menjelaskan kepada Aziel jika Lucia juga adalah anaknya sama dengan dirinya, Lucia adalah adiknya juga.
"Lusia teman barunya," ucap Abizar langsung mendahului Aziel. Ia tak ingin Khanza tahu jika dirinya dan Farah sudah bercerai dan sudah menikah lagi. Ia tak ingin Khanza mengasihaninya.
"Oh teman baru ya? Pasti anaknya sangat baik ya sama? Aziel jadi senang bermain dengannya."
"Iya Mama, Lucia sangat baik." Aziel pun menceritakan tentang Lusia, ia menjadi lupa pertanyaan Mamanya yang tadi.
Semua kembali berjalan seperti biasanya. Bahkan lebih baik lagi. Aziel sudah kambali sibuk dengan sekolahnya begitu juga dengan Abizar yang sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Khanza sedikit lebih tenang mengurus pernikahannya karena sudah Aqila yang sudah kembali bekerja.
Aisyah yang sudah semakin besar membuat Ia menjadi lebih mudah untuk dijaga, ia sudah pintar bermain dan tak terlalu bergantung lagi dengan Khanza.
Aisyah yang sudah melepas dari Asinya membuat Warda meminta pada Khanza untuk menjaga Aisyah saat ia sedang bekerja.
Hari pertama dan kedua Aisyah sedikit rewel. Namun hari-hari berikutnya ia menjadi senang bermain dengan neneknya. Warda benar-benar memanjakan Aisyah bahkan tak jarang Warda dan Aisyah yang menjemput Aziel di sekolah dan membawanya ke rumah lama, sepulang kantor barulah Khanza menjemput mereka di rumah lama.
Semua itu sangat membantu Khanza dalam menjalani hari-hari yang semakin sibuk, sebagai calon pengantin dan juga pemimpin dari sebuah perusahaan yang semakin berkembang.
Tanpa terasa pernikahan Khanza tinggal 5 hari lagi.
Keluarga Khanza dari kampung sudah berdatangan, mereka sengaja datang lebih awal agar bisa sekalian menikmati suasana kota. Khanza membawa keluarganya menikmati kotanya, membawa mereka ke tempat-tempat wisata yang ada kotanya.
Tak ada lagi airmata dan Isak tangis yang mewarnai hari-hari Khanza. Hanya tawa bahagia dan cinta dari orang sekitarnya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Salam dariku Author M Anha 🥰🥰
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖