
"Bu, ini namanya apa?" tanya Aisyah memperlihatkan bumbu dapur pada ibunya, saat ini mereka tengah membuat semur ayam kampung.
"Itu namanya lengkuas, Sayang. Ayo kupas dulu lalu cuci bersih, kupasnya tipis aja ya ini kulitnya sangat tipis jangan sampai membuang banyak isinya," jelas Khanza, ia sudah menjelaskan beberapa jenis bumbu yang sudah disiapkannya untuk membuat semur tersebut, saat ini Khanza tengah mencuci ayam yang telah dipotongnya menjadi bagian-bagian yang kecil.
Mendengar penjelasan ibunya, Aisyah hanya mengangguk dan kembali melakukan apa yang diperintahkan oleh ibunya saat Khanza tengah menyiapkan ayamnya, Aisyah ditugaskan untuk menyediakan bumbunya. Sesekali Aisyah akan bertanya jika ia melupakan sesuatu yang sudah diterangkan oleh ibunya dan Khanza sebagai ibu dengan perlahan menjelaskan kembali pada putrinya, sesekali ia juga melihat bagaimana cara putrinya itu meracik bumbu yang sudah disiapkannya itu.
"Bagaimana, apa sudah selesai?" tanya Khanza yang sudah selesai dengan ayamnya.
"Sudah, Bu. Coba diperiksa lagi, tadi aku memasukkan semuanya sesuai dengan petunjuk Ibu, semoga saja nggak ada yang salah," ucap Aisyah memberikan bumbu yang sudah dihaluskan pada ibunya.
"Ya sudah, sekarang tumis bumbunya dulu," ucap Khanza menyerahkan kembali memasak semua itu pada Aisyah.
Aisyah dengan semangat pun melakukan semuanya, walau ia sedikit takut saat terkena percikan minyak. Namun, Khanza terus menyemangatinya jika ia bisa dan suatu saat nanti dia akan terbiasa menggunakan alat-alat dapur. Membuat Aisyah pun kembali melanjutkan memasaknya.
Satu persatu bumbu dimasukkan ke dalam wajan sambil mengaduknya, Khanza hanya memperhatikan bagaimana putrinya itu melakukannya. Ia bangga walau pertama memasak, tapi putrinya itu sudah dengan lihai melakukannya, tentu saja di bawah arahannya.
"Apa ini sudah matang, Bu?" tanya Aisyah setelah semua bumbu sudah dimasukkan dan diaduk-aduk di atas wajan panas.
"Iya, ini sudah beraroma harum. Sekarang masukkan ayamnya dan tambahkan sedikit air lalu itu kita tunggu saja sampai ayamnya empuk, tutup wajannya," jelas Khanza lagi membuat Aisyah mengangguk dan melakukan kembali sesuai dengan petunjuk ibunya, sambil menunggu mereka kembali membuat hidangan lain.
Setelah berkutat beberapa lama di dapur akhirnya beberapa menu makanan porsi dan menu utama adalah opor ayam buatan Aisyah.
__ADS_1
"Ya sudah, ini kamu istirahat saja selebihnya biar ibu dan Bibi yang mengerjakannya, nanti jika ayah dan kakakmu sudah datang ibu akan memanggilmu untuk kembali menatanya di meja ya?" ucap Khanza membuat Aisyah pun hanya mengangguk. Ia memang sangat gerah, pakaiannya sudah berbau bumbu walau menyenangkan memasak bersama dengan ibunya. Namun, rasa lelah berdiri hampir beberapa jam membuat kakinya terasa pegal. Ia pun masuk ke kamarnya, segera membuka pakaian dan mengisi bak mandinya, ia ingin berendam untuk merilekskan tubuhnya.
Ia ingin berendam di air wangi, menghilangkan bau-bau bumbu yang terasa menyengat di tubuhnya.
"Ya ampun, aku kan tadi ingin membuat kue untuk Dewa. Aku bahkan belum membeli bahan-bahannya, mengapa aku sampai lupa," gumam Aisyah yang lupa membeli bahan-bahan untuk membuat kue yang akan diberikan pada Dewa, ia terlalu keasikan memasak hingga melupakan hal itu.
Aisyah meraih ponselnya yang diletakkan di bagian atasnya kemudian dengan cepat ia meminta bibi untuk membeli bahan-bahan yang telah ditulisnya dalam pesan.
"Baik, bibi akan membelinya. Kebetulan bibi juga ingin keluar untuk membeli beberapa keperluan dapur," jawab bibi membalas pesan Aisyah.
"Makasih ya, Bi. Maaf merepotkan," ucap Aisyah lagi membalas pesan bibi, walaupun bibi hanyalah asisten rumah tangga di rumahnya. Namun, Khanza selalu mengajari anak-anaknya untuk menghormati mereka, Aisyah menganggap semua asisten rumah tangga di rumahnya sudah seperti keluarganya, mereka sudah bekerja di sana sejak ia kecil hingga dewasa. Mereka sangat akrab. Namun, tetap saja para asisten rumah tangga itu tahu pekerjaan mereka dan tetap menjaga batasan mereka pada majikan mereka.
Aisyah yang sudah selesai dengan mandinya segera mengenakan pakaiannya dan berjalan keluar menghampiri ibunya yang sedang bersantai di ruang tengah.
"Mereka sudah ada di jalan," jawab Khanza menatap putrinya.
Dengan malas Aisyah duduk di samping ibunya. "Bu, kak Lucia kok tetap tinggal di sini sih? Ia kan sudah ditolak oleh kak Azriel, nggak tahu malu banget masih berharap. Jika aku jadi dia aku pasti akan langsung pulang ikut dengan ibuku, ngapain juga mengejar-ngejar cinta orang yang tak mencintai kita, belum lagi dia sudah tahu jika kak Azriel mencintai seseorang, mencintai Kak Mentari, mengapa dia masih keras kepala untuk menjadi orang ketiga dalam hubungan kak Azriel dan kak Mentari."
"Ibu juga nggak tahu, semua orang punya pikiran masing-masing. Selagi Lucia tak membuat masalah, tak masalah dia tinggal di sini, biarkan saja dia mencoba meluluhkan hati kakakmu."
"Apa Ibu merestui mereka, Bu? Percaya pada Aisyah jika kak Mentari jauh lebih baik dari kak Lucia."
__ADS_1
"Kamu nggak boleh menilai seseorang dan membandingkannya seperti itu, walaupun di mata kamu kak Mentari lebih baik dari kak Lucia, kamu juga tak boleh mengatakan hal itu. Kasihan kan kak Lucia jika dia mendengarnya, biarkan saja kakakmu yang memilih kita ikuti saja apa pilihan kakakmu, mau memilih Mentari atau Lucia."
"Tapi kan, Bu. Nggak bisa kah Ibu memberitahu kepada kak Lucia untuk mencari pria yang memang cocok dengan karakternya. Kak Azriel terlalu baik untuk seseorang kak Lucia yang pergaulannya bebas."
"Kamu ini sok tahu, dari mana kamu tahu karakter kak Lucia dan kenapa kamu mengatakan jika dia memiliki pergaulan bebas?" ucap Khanza mencubit gemes pipi putrinya.
Ingin rasanya Aisyah mengatakan apa yang dialaminya bersama Lucia di klub malam. Namun, ia masih menahannya, ia tak mau jika sampai ibunya itu khawatir dan marah pada Lucia, ia juga sudah terhindar dari masalah tersebut dan tak akan lagi ikut dengan Lucia.
"Aku yakin, Bu. Jika kak Lucia dan kak Azriel bersama mereka juga tak akan bahagia karena karakter mereka yang saling bertolak belakang, aku yakin kak Lucia hanya menyukai kak Azriel karena kak Azriel tampan, dia belum tahu saja kak Azriel itu tak suka dengan wanita yang suka kasar seperti kak Lucia."
Khanza tersenyum mendengar ucapan putrinya, ia juga merasa hal yang sama, ia tak akan mengizinkan mereka bersama. Namun, ia juga tak akan melarang Lucia untuk mendekati putranya, Khanza yakin jika putranya tahu bagaimana cara menolak Lucia tanpa menyakiti perasaannya. Walau bagaimanapun hubungan keluarga mereka cukup dekat. Khanza menyerahkan dan percaya pada putranya jika putranya mampu mengatasi semuanya.
Menjelang magrib Abidzar dan Azriel serta Lucia pun datang, Khanza langsung menghampiri suaminya dan mereka menuju ke kamar begitupun dengan Azriel dan Lucia mereka ke kamar mereka masing-masing. Mereka sama-sama membersihkan diri dan baru berkumpul kembali di lantai bahwa saat mereka sudah akan makan malam.
Selepas melaksanakan salat magrib tadi Khanza dan Aisyah sudah menyiapkan makan malam untuk mereka semua, saat mereka semua sudah berkumpul di meja makan dan mulai mengambil makanan mereka ke piring masing-masing, Khanza menjelaskan jika hari ini masakan dibuat oleh Aisyah dan Aisyah langsung mendapat pujian dari Azriel begitu mereka sudah mencicipi masakan yang dihidangkan di meja makan. Abizar juga memuji masakan anaknya.
"Ini opor ayamnya dibuat Aisyah juga ya, Tante?" tanya Lucia setelah menghela napas dan mencicipinya.
"Iya, itu masakanku. Kenapa, Kak?" tanya Aisyah dengan nada bicara tak suka dengan ucapan Lucia. Dari nada ucapan dan halaan napas Lucia sebelum menanyakan hal itu, Lucia jelas jika dia kembali ingin protes akan masakan yang telah dicicipinya itu. Aisyah bisa menebak jika Lucia tak suka masakannya.
"Nggak papa, aku sudah kenyang. Aku ke kamar dulu," ucap Lucia yang tak menghabiskan makanannya dan langsung berdiri pergi dari meja makan tersebut membuat Aisyah menatap Lucia yang sudah berjalan menaiki anak tangga, ia memanyunkan bibirnya dan mengancam ingin melempar sendok pada wanita yang sudah dianggap seperti kakak kandungnya itu, tapi sepertinya anggapan itu tak akan disematkan lagi pada sosok Lucia, tetapi sepertinya mereka akan mulai menjadi musuh.
__ADS_1
'Lihat saja nanti, aku akan membalasmu akan kupastikan kamu akan kebakaran saat melihat kak Azriel bersama kak Mentari, lihat saja nanti,' gumam Aisyah dalam hati.
"Sudah, kalian makanlah," ucap Khanza bisa melihat ekspresi ketiganya menatap ke arah Lucia yang sudah menghilang dari pandangan mereka.