Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Apa Aku Salah.


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang Abizar masih dalam keadaan emosi, Daniel benar-benar membuatnya marah dengan setiap ucapannya,


"Mencintai, bisa-bisanya dia dengan tak tahu malunya mengatakan mencintai istriku," gerutu Abizar membuka dasinya dengan kasar dan melemparnya ke segala arah , kemudian juga melemparkan jasnya ke jok belakang.


"Sial, sial, sial, awas kamu Daniel, aku tak akan membiarkanmu mendekati Khanzaku," geram Abizar.


Fahri hanya diam dan fokus menyetir tak menghiraukan Abizar yang sejak tadi memaki Daniel. Sesekali Abizar meringis merasakan sakit pada luka yang ada di wajahnya.


Apa kita ke rumah sakit dulu, Pak?" tanya Fahri yang mendengar Abizar meringis memegang lukanya.


"Tidak usah, kita langsung pulang saja," ucapnya.


Fahri hanya mengangguk mengiyakan apa yang diperintahkan oleh bos-nya.


"Tunggu, cari apotek dulu," ucap Abizar, lagi-lagi Fahri hanya mengangguk.


Fahri melihat ke kiri dan ke kanan sepanjang jalan, mencari apotek yang mereka lewati.


Fahri dengan segera memarkirkan mobilnya saat menemukan apotek yang dicarinya, tanpa diminta ia langsung turun dan membeli obat-obatan untuk luka Abizar.


"Ini Pak, obatnya." ucap Fahri memberikan apa yang baru saja di dibelinya pada Abizar.


"Mau saya bantu, Pak?" ucap Fahri yang melihat Abizar, kesusahan mengobati luka-lukanya.


Luka dibagian pelipis, pipi, dan bibirnya terasa perih. Daniel benar-benar mengeluarkan kekuatannya untuk membalas setiap pukulan Abizar padanya.


"Tidak usah, aku bisa sendiri, cepat jalankan mobilnya kita kembali," ucapnya.


"Batalkan kerjasama kita dengan Danie, aku tak ingin berhubungan lagi dengannya tak peduli berapapun kerugian yang akan kita tanggung untuk itu," ucap Abizar sambil terus mengobati lukanya.


"Tapi, Pak. Kerjasama ini sangat menguntungkan bagi perusahaan kita dan jika kita membatalkannya kita akan merugi," jelas Fahri.


"Aku tak peduli, aku tak ingin bekerja sama dengan orang brengsek seperti Daniel," gerutunya meringis.


"Baik, Pak," ucap Fahri tak punya pilihan lain. Ia hanya bawahan, semua keputusan ada di tangan Abizar.


Setelah sampai di rumah Abizar langsung turun sedangkan Fahri langsung kembali melajukan mobilnya.


Farah, Khanza dan Aziel sedang bermain di ruang tengah.


Abizar masuk dan mengucapkan salam.


Yang langsung dijawab Aziel putranya.


Abizar yang baru masuk langsung disambut oleh Aziel rasa lelah dan kesalnya seakan menguap tanpa sisa.

__ADS_1


Aziel yang baru belajar berjalan melangkahkan kaki kecilnya menuju ke Papanya.


"Papa," celotehnya.


Abizar berjalan cepat menghampiri putranya, takut jika Aziel terjatuh.


Aziel merentangkan tangannya ingin digendong,


Balita itu menatap wajah papanya yang terdapat banyak plester di sana-sini, dengan tangan kecilnya ia mencoba untuk memegang plester tersebut. Melihat papanya seolah bertanya papa kenapa.


Abizar mencium gemes putranya.


"Mas wajah kamu kenapa?" tanya Farah langsung menghampiri Abizar, melihat kondisi suaminya yang benar-benar berantakan, kemejanya sudah tak beraturan lagi, dasi dililit di telapak tangannya dan beberapa luka lebam serta plester di wajahnya.


"Nggak papa," jawabnya berjalan melewati Farah, memberikan tas dan jasnya.


Abizar berjalan ke sofa, duduk sambil memangku Aziel, bermain di sana.


"Itu kamu Kenapa Mas? Kamu berkelahi ya?" tanya farah ikut duduk di sofa di samping suaminya, mencoba memeriksa luka yang ada di pipi Abizar.


"Nggak kok, ini nggak apa-apa," jawabnya.


"Kakak berantem ya dengan Pak Daniel?" tanya Khanza yang ikut bergabung setelah membereskan mainan Aziel.


"Aku sudah menahan diri, Daniel yang lebih dulu mulainya."


"Tapi, kata Aqila kakak yang pertama memukul pak Daniel," ucap Khanza yang baru saja mendapat telepon dari Aqila dan menceritakan jika suaminya dan Daniel baru saja saling pamer kekuatan.


"Kamu lebih percaya Daniel daripada aku?! kamu pikir aku memukul orang tanpa alasan, dan kau menganggapku salah, begitu?! bertanya pada Khanza dengan menaikkan nada suaranya.


"Aku hanya dengar dari Aqila, Kak," lirih Khanza sedikit takut melihat tatapan Abizar.


"Kau tak usah berkomunikasi dengan Aqila jika kalian hanya membahas masalah Daniel."


"Loh ... kakak yang punya masalah dengan pak Daniel kenapa aku yang ga boleh berhubungan dengan Aqila, Aqila itu sahabat aku."


Farah yang sudah mencium aroma perdebatan langsung mengambil Aziel dari pangkuan Abizar, ia tak ingin memperlihatkan pertengkaran itu kepada Aziel yang ia yakin sedang merekam apa saja yang dilihat dan alaminya di usianya saat ini.


"Khanza kamu bisa 'kan menurut saja dengan perkataanku tanpa harus melawan."


"Aku gak ngelawan, Kak. Aku cuman bilang kalau aku dan Aqila itu sahabat dan kakak nggak boleh melarangku berhubungan dengannya."


"Untuk apa kau berhubungan dengannya jika hanya membahas tentang Daniel, apa tak ada pembahasan lain."


"Bukan aku yang mulai, aku tak membahas pak Daniel, Aqila cerita sendiri tanpa aku tanya."

__ADS_1


Abizar ingin bicara lagi. Namun tak jadi, dia mencoba mengontrol dirinya.


Abizar tak ingin berdebat, ia memilih keluar dari rumah tanpa kata, ia benar-benar membutuhkan ketenangan untuk saat ini.


"Kakak mau ke mana?" tanya Khanza mengikuti Abizar yang berjalan cepat keluar dari rumah menuju ke mobilnya.


"Kakak baru datang, kenapa mau pergi lagi. Kakak mau kemana?" tanya Khanza sedikit berlari mengejar Abizar, tapi ia sudah masuk ke dalam mobil, menyalakan mobilnya dengan cepat keluar dari gerbang. Meninggalkan Khanza yang terus memanggilnya.


Khanza mendengus kesal, melipat tangannya ke dada.


"Kenapa dia marah padaku, dia yang bertengkar dengan pak Daniel. Apa coba salahnya aku," gumam Khanza menatap kesal pada mobil Abizar yang semakin menjauh.


"Khanza, kalau mas Abi sedang marah bisakah kau diam, biarkan dia tenang jangan kau menentangnya, ia sangat tidak suka jika ditentang dalam kondisi marah seperti tadi," ucap Farah mode menasehati.


Khanza tak menjawab, ia hanya merasa perlu menjawab apa yang dituduhkan oleh Abizar dan merasa tak melakukan kesalahan apa-apa.


"Khanza, mas Abi baru saja pulang, dia masih lelah, dia juga masih emosi dengan Daniel, jika kau menambah masalah seperti ini kita akan semakin menyudutkannya dan itu akan semakin membuatnya emosi."


Khanza tetap diam.


"Mbak memohon, apapun situasinya jangan menyebut Nama Daniel lagi, kamu tahu sendiri 'kan kalau mas Abi tak suka dengan Daniel, dia itu merasa cemburu, karena Daniel yang berusaha mendekatimu. Kamu bukan anak kecil, Mbak rasa kamu tahu jika Daniel menyukaimu."


"Mbak salah paham, Pak Daniel dia tidak menyukaiku, aku hanya tahu tentang Daniel dari Aqila dan Aqila menyukainya.


"Apapun alasannya, mulai sekarang jangan menyebut Nama Daniel di rumah ini," ucap Farah tegas dan kembali masuk ke dalam rumah.


Khanza mendengus kesal dia melihat ke arah gerbang, mobil Abizar sudah tak terlihat lagi. Kemudian ia melihat ke arah pintu rumah, mbak Farah juga sudah tak ada.


"Apa aku salah, ya," gumamnya Kemudian memilih untuk menenangkan diri dengan berjalan ke taman samping kediamannya.


Melihat tukang kebun yang sedang merapikan taman. Menikmati keindahan berbagai macam jenis tanaman yang ada disana.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Terima kasih atas komentarnya di bab sebelumnya.


Maaf tak bisa balas satu persatu. Saran dan kritik kalian akan di pertimbangan 🙏🙏💖


Jangan lupa beri dukungan di bab ini lagi ya 🙏🙈


Jangan lupa like, dan komennya 🙏 jika ada vote bolehlah 😉


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2