Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Kebaikan Farah.


__ADS_3

"Mbak Farah sangat perhatian dan baik padaku, tapi mengapa aku masih saja menjaga jarak padanya," batin Khanza. "Betapa egoisnya aku, ia bahkan tak keberatan jika kak Abi lebih banyak menghabiskan waktu denganku."


"Sebaiknya kamu istirahat dulu, Kamu pasti capek 'kan," ucap Farah membantu Khanza untuk berbaring.


Khanza yang memang sangat lelah kembali menurut pada Farah, Farah seperti seorang ibu dan kakak baginya, wanita yang begitu baik dan lembut, itulah yang Khanza lihat dari sosok Farah. Khanza menuruti apa yang Farah katakan.


Farah dengan telaten membantu Khanza, menaikkan kakinya, memperbaiki posisi bantal, menyelimuti kakinya hingga ke pinggang.


" Terima kasih kamu sudah mau kembali lagi ke rumah ini, tolong jangan pergi lagi, ya! Tolong jangan tinggalkan kami," ucap  Farah dengan penuh ketulusan seraya menggenggam kedua tangan Khanza  yang berada dalam di atas perut buncitnya.


Khanza hanya mengangguk samar dan tersenyum. Yang juga dibalas senyum oleh Farah.


Farah keluar dari kamar, entah mengapa hati Khanza begitu damai mendengar setiap kata-kata Farah, setiap perhatian Farah padanya.


Rasa sayang sebagai seorang adik kepada kakaknya kembali dirasakan Khanza pada istri suaminya itu, sama seperti pertama kali Khanza bertemu dan mengenal sosok Farah. Mengesampingkan kenyataan jika ia adalah istri dari suaminya.


Khanza memang sudah sangat kelelahan sehabis perjalanan jauh dan efek kehamilannya saat ini membuat ia cepak lelah dan dengan cepat akhirnya ia tertidur pulas.


"Khanza mana?" Tanya Abizar pada Farah yang baru saja keluar dari kamar utama.


Khanza sedang beristirahat, ia sudah tertidur. Mas mau aku buatkan sesuatu?" Tanya Farah.


"Nggak usah, Mas juga ingin beristirahat," jawab Abiza memijat tengkuknya, ia juga meresa lelah. 


Abizar berjalan  perlawanan dari arah kamar utama, "Mas, Mas mau kemana?" panggil Farah  membuat Abizar menghentikan langkahnya kemudian berbalik melihat parah yang masih berdiri di tempatnya.


"Mas mau mandi, kemudian istirahat. Ada apa?"  Tanya Abizar.


"Sebaiknya Mas melakukan semua itu di kamar Khanza, aku tak ingin dia salah paham lagi dengan kita. Sebaiknya kita pelan-pelan membuat dia mengerti dengan kondisi rumah tangga kita."


"Bukannya kamu bilang dia sudah tidur, aku mandi di kamarmu saja," ucapan Abizar kembali berjalan menuju ke lantai bawah, menuju ke kamar Farah.


Farah melihat ke pintu kamar Khanza, kemudian ia mengikuti Abizar turun ke bawah. 


"Aku senang Khanza balik lagi ke rumah ini," ucap Farah membantu suaminya membuka beberapa kancing kemejanya.


"Semoga saja tak ada masalah lagi, yang membuat ia mencoba untuk pergi."


"Aku akan berusaha mendekatkan diri pada Khanza."

__ADS_1


"Terima kasih ya sudah mengerti Khanza, memahaminya dan mau memaklumi sifatnya," kata Abizar mengecup kening Farah.


"Iya, Mas. Aku akan melakukan apa saja demi kebahagiaan kita semua, kebahagiaan kita bertiga."


"Mas mandi dulu ya," ucap Abizar berlalu kekamar mandi sementara Farah  menyiapkan pakaian yang akan digunakan oleh suaminya. Ada rasa senang di hati Farah bisa menyiapkan lagi pakaian untuk suaminya.


"Semoga kamu selalu bahagia Mas," lirih Farah mengusap kemeja Abizar dan meletakkannya di atas kasur kemudian menuju ke dapur. Ada tugas yang menantinya di sana.


Farah, ditengah kesibukannya dengan bisnisnya ia juga tak pernah lupa dengan kewajibannya yang sudah menjadi kebiasaan nya semenjak menikah dengan Abizar yaitu menjadi ibu rumahtangga, profesi yang sangat unik dan menyanangkan menurut Farah.


Saat makan malam Khanza belum juga turun.


"Mas, seperti Khanza masih tidur sebaiknya Mas bangunkan dia," ucap Farah pada Abizar yang baru saja datang dan bergabung dengan mereka, Ia baru saja dari ruang kerjanya. sejak pulang dari kampung Abizar banyak menghabiskan waktu di ruang kerjanya bersama dengan Fahri, ada banyak pekerjaan yang menantinya.


"Hmm,  Mas ke atas dulu," ucap Abizar berlalu dari sana menuju ke kamar Khanza.


Saat membuka pintu kamar, Abizar melihat jika istrinya itu masih terlelap, perlahan Abizar duduk dan mengelus pipi Khanza.


"Khanza, bangun dulu ya, kita makan malam."


Khanza yang bisa merasakan sentuhan Abizar perlahan membuka matanya,


Abizar mengambil ponsel Khanza dari laci, "Cari ini?" Tanyanya. "Jangan biasakan menyimpan ponsel di dekatmu saat tidur, simpanlah di atas  meja atau laci," ucap Abizar.


 Setelah membersihkan diri, Abizar memeriksa Khanza di kamarnya. Abizar khawatir dengan istri kedua itu.


Saat Khanza tidur ia akan lupa jika ia sedang hamil besar, terkadang Khanza tidur dengan posisi sembarangan. Terkadang ia mendapati istrinya itu berada di pinggir kasur yang sekali berbalik saja ia bisa langsung terjatuh, atau Khanza sangat suka tidur di sofa saat tak ada dirinya.


Saat masuk apa yang di khawatirkan nya benar, Khanza tidur dengan asal dengan masih memegang ponselnya.


Abizar memperbaiki posisi tidur Khanza agar lebih nyaman dan menyimpan ponselnya di laci meja yang ada di samping tempat tidur.


Khanza mencoba mengambil ponselnya. Namun, Abizar langsung menjauhkannya dari jangkauan Khanza.


"Ponselnya aku sita dulu, nanti sudah makan baru aku kembalikan dan mulai malam ini, jangan simpan ponsel mu kasur atau di bawah bantal mu. Kau bisa menyimpannya di atas meja sebelum tidur." Mengantongi ponsel Khanza.


"Kak apa-apaan sih, emangnya aku anak kecil apa, ponsel pakai disita segala,"  ucap Khanza menanyunkan bibirnya. Namun, ulahnya itu membuat Abizar sangat gemas dan langsung memberi ciuman di sana.


"Kamu kok, makin cantik sih," goda Abizar.

__ADS_1


"Kak, sudah, Ah! Aku mau ke kamar mandi," ucapnya mencoba untuk turun.


Abizar langsung berdiri dan membantu Khanza turun dan berdiri.


Perutnya yang semakin membesar dan berat badannya yang semakin bertambah, membuat khanza kesulitan melakukan segala sesuatunya, bahkan untuk turun dari tempat tidur pun ia merasa sangat kesulitan. Beruntung selama ini ada suaminya yang selalu setia di dekatnya dan membantunya.


Abizar selalu ada bersamanya membantunya dalam segala hal, bahkan hal-hal kecil sekalipun.


Khanza masuk ke kamar mandi di ikuti oleh Abizar. 


"Kakak di luar aja, aku mau pipis," ucap Khanza langsung menutup pintu saat Abizar juga ingin masuk.


Abizar menunggu dengan sabar Khanza keluar dari kamar mandi.


"Sudah?" Tanya Abizar saat Khanza membuka pintu.


"Sudah," ucap Khanza mengedipkan matanya dengan ekspresi genit.


Abizar menghalangi jalan Khanza yang ingin berjalan keluar.


Khanza kembali menggodanya dengan memainkan jari telunjuknya di wajah suaminya, Abizar menikmati sentuhan tangan Khanza di wajahnya, memejamkan matanya.


Abizar membuka matanya saat Khanza menghentikan aksi jahilnya. Melihat wajah cantik istrinya itu yang terseyum manis padanya.


Abizar yang sudah tak tahan, dengan perlahan ia medekatkan wajahnya ke wajah Khanza, tujuan utama adalah bibir yang sungguh sangat menggodanya.


 Saat bibir mereka hampir bersentuhan, Khanza mundur dan melangos begitu saja meninggalkan Abizar.


Abizar tertawa bodoh, istrinya itu kembali berhasil mengerjainya. Abizar hanya bisa menggelang dan berjalan mengikuti Khanza yang sudah keluar kamar.


"💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Beri dukungan kalian ya dengan memberi like, vote, dan komennya 🙏💗


Salam dariku Author m anha ❤️😘


Love you all 💕💕💕

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2