Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Terungkapnya Kebenaran


__ADS_3

"Pak, tunggu sebentar ya. Saya hanya sebentar, hanya memberikan makan pada Ziel. Nanti tolong antar saya ke tempat Aqila


, ya," ucap Khanza pada pak Tarno..


"Iya non, Bapak tunggu di sana," tunjuk Pak Tarno pada satpam yang sedang duduk di pos satpamnya.


"Iya, Pak!"


Dengan hati yang senang, Khanza masuk ke dalam, ia sudah tidak sabar ingin memberikan nasi goreng buatannya itu kepada suami dan anaknya.


Khanza meletakkan makanannya di meja makan.


"Mereka kemana ya," gumam Khanza berjalan mencari mereka semua. Khanza mendengar suara dari samping, dari arah kolam renang.


"Mungkin mereka ada di kolam renang," gumamnya kembali mengambil makanan yang dibawahnya, ia ingin segera memberikannya kepada mereka berdua. Khanza tak bisa lama-lama Ia ada janji dengan Aqila.


Langkah kaki khanza terhenti, saat mendengar obrolan dari mereka semua. Khanza mendekap mulutnya saat mendengar dari mulut Abizar sendiri jika ia telah menukar obatnya bertujuan agar ia bisa hamil lagi. Hatinya semakin sakit saat mendengar kata-kata Santi, begitu juga dengan Warda, mertua yang selama ini dianggapnya menyayanginya terlihat begitu senang menantikan kelahiran cucunya, walau Meraka semua tau apa yang Khanza rasakan, mereka semua tau jika dirinya masih trauma dan meminta waktu. Khanza memeluk kotak makannya sambil membekap mulutnya, ia mencoba untuk menahan isakannya, ingin mendengar semua percakapan mereka.


"Tega kamu, Kak," batin Khanza menjerit tak percaya suami yang begitu dipercayainya, suami yang begitu dicintainya ternyata tega melakukan semua itu kepadanya.


Dengan hati yang terluka Khanza diam- diam pergi dari sana, meninggalkan mereka semua yang seolah menertawakannya penderitaannya.


Lagi dan lagi Khanza merasakan hal yang sama, perasaan beberapa tahun yang lalu, kini dirasakannya kembali. perasaan terkucilkan, perasaan tak di anggap, dia juga merasa sendiri di rumah yang luas itu.


Khanza berjalan pelan menjauhi suara-suara yang terus membahas kehamilannya, ia melihat di setiap sudut ruangan di rumah besar itu, masih jelas terlihat beberapa tahun silam saat ia merasakan perasaan yang sama ia merasa bukan siapa-siapa di antara.


Khanza terus berjalan keluar dengan lelehan air mata yang tak bisa ditahannya, hatinya benar-benar perih.


Saat ini ia benar-benar merasa tak pantas berada di tengah-tengah mereka.


" Siapa Aku, aku hanya gadis miskin yatim piatu yang berharap mendapat kebahagiaan dari seorang Abizar. Orang yang kaya raya, orang yang dihormati. Mengapa aku tak sadar siapa aku ini, yang berharap terlalu tinggi, " batin Khanza.


Khanza terus berjalan keluar menghampiri Mobilnya, Pak Tarno yang melihat Khanza keluar dari rumah berlari dan langsung membuka pintu dan melihat majikan yang tadinya terlihat gembira kini berubah menjadi murung dan gelisah.


Pak Tarno yang melihat jika


Khanza sudah duduk menutup pintu dengan hati-hati kemudian berlari ke arah kemudian.


Pak Tarno ingin menanyakan kemana ia harus mengantarnya. Namun, melihat majikan itu, terlihat begitu terpukul. Pak Tarno memutuskan untuk menjalankan mobilnya, Khanza terlihat menatap kosong pada sekitarnya, tapi lelehan air mata terus mengalir di matanya tak ada Isak sedikitpun dari mulut Khanza.


Pak Tarno mengarahkan mobilnya di jalan raya ia mengendarainya dengan pelan. Pak Tarno tak tahu kemana ia harus membawanya pulang ke rumah atau ke tempat Aqila.

__ADS_1


Setelah sampai pada persimpangan jalan Pak Tarno memberanikan diri untuk bertanya.


"Non, kita mau kemana?" tanya Pak Tarno.


"Pulang," hanya itukah kata-kata yang keluar dari mulut Khanza. Ia seperti mematung menatap satu arah.


Begitu sampai Khanza kembali turun tanpa berkata apa-apa, pak Tarno hanya berbalik dan melihat Khanza turun dari mobil dan melihat kotak bekal yang tadi di bawanya ada di jok samping.


"Ada apa ini sebenarnya, Kenapa Khanza bersikap seperti itu." batin pak Tarno bertanya-tanya.


Pak Tarno merasa kasihan pada apa yang dialami anak itu.


Khanza berjalan masuk ke dalam rumah, tatapannya langsung tertuju ke arah kamar. Khanza masih terdiam dan bahkan ia tak menggubris Bibi yang menyapanya menanyakan mengapa dia cepat pulang, Apakah ada yang terlupa.


Bibi hanya melihat majikannya itu berjalan dengan air mata dan tatapan kosongnya.


Bibi yang khawatir langsung menghampiri Pak Tarno yang baru keluar dari mobil.


"Pak itu Non Khanza kenapa?" tanya bibi.


"Bapak juga tak tau, saat pulang dari rumah lama keadaan Non Khanza sudah seperti itu," jawab pak Tarno.


Khanza berjalan masuk ke kamar, membuka pintu dan kembali menutupnya.


Dikamar itulah Khanza selalu mendapatkan kasih sayang dari suaminya, di kamar itulah dia mendapatkan cinta yang dirasanya begitu besar dari suaminya.


Khanza bersandar di pintu dan melorotkan badannya terduduk di lantai.


Hiks…


Isakan tangis Khanza pecah, ia tak bisa lagi menahan rasa sakit di dadanya.


"Kak Abi kamu jahat," teriaknya menarik rambutnya. Kamu tega sama aku, Kak. Apa salahku, Apakah salah kalau aku terlalu mencintaimu," ucap Khanza dengan berteriak seolah meneriaki Abizar yang ada di depannya.


"Nenek …," lirih Khanza menangis pilu. "Kenapa semua ini harus terjadi pada Khanza, Nek. Disaat aku sudah menahan semuanya demi keutuhan rumah tanggaku, Kenapa semua ini harus terjadi lagi, apa salah Khanza, Nek." Khanza terus menangis, terduduk di lantai kamarnya.


"Ayah, Ibu, Khanza ga kuat, aku ikut kalian saja," ucapnya meracau sambil terus menangis meluapkan segala rasa sesak di dadanya, ia tak peduli jika orang-orang di rumahnya mendengar jerit tangisnya.


Bibi yang ada di balik pintu menutup mulutnya mendengar tangis pilu dari majikannya itu, Bibi yang sudah bekerja lama dan tahu semua permasalahannya ikut merasa sedih dengan kesedihan Khanza.


Khanza terus duduk menangis di lantai layaknya anak kecil, dia meraung sambil terus meracau jika ia membenci Abizar, membenci Mbak Farah, membenci mereka semua.

__ADS_1


Lama Khanza menangis hingga Ia merasa lelah, Khanza mengeluarkan segala jeritan hatinya yang selama ini dipendamnya.


Khanza teringat akan obat yang dimaksud oleh Abizar, ia kemudian berjalan cepat mencari obatnya, dengan tangan gemetar Khanza mengeluarkan obat itu dari tempatnya, melihat obat yang selama 3 bulan ini di konsumsinya.


"Aaaaarg," teriak Khanza melemparkan obat itu hingga berhamburan di lantai kamarnya.


"Bodohnya aku, dengan percaya jika Itu memang lah obat yang selama ini aku konsumsi. Kak Abi, Inikah balasan dari rasa percayaku padamu."


"Lalu dimana obatku," guman Khanza. Jika Abizar menukarnya, pasti dia yang menyimpan obat yang selama ini aku cari. Pikir Khanza.


Khanza kemudian mencari di segala sudut kamarnya, Ia yakin obat yang selama ini dicari pasti disembunyikan oleh Abizar, Khanza membongkar semua lemari, laci mencari obat penunda kehamilannya.


Khanza sudah mengobrak-abrik kamarnya. Namun, tak juga menemukan apa yang dicarinya.


Ia berhenti sejenak kemudian berlari keluar kamar, ruang kerja adalah kemungkinan kedua Suaminya itu menyembunyikan obatnya.


Bibi yang sejak tadi menunggu di luar pintu kamar Khansa, sedikit terkejut saat Khanza membuka pintu dengan tiba-tiba dan berlari.


Bibi yang khawatir juga ikut berlari mengikut Khanza.


Begitu Khanza membuka pintu ruang kerja Abizar, ia berhenti sejenak, melihat ke segala arah ruangan itu.


Rasa kesalnya semakin memuncak saat mengingat wajah suaminya, melihat ruang kerja itu hatinya semakin sakit dan membenci pemilik dari ruangan yang di mana tempat ia berdiri sekarang.


Khanza mengusap kasar air matanya yang lolos dari pelupuk matanya, kemudian kembali membongkar, mengobrak-abrik, mengacak-acak ruang kerja suaminya, tak peduli berkas-berkas yang bernilai ratusan atau mungkin jutaan bahkan milyaran yang sudah berserakan di lantai. Khanza terus mencari apa yang dicari nya.


Bibi yang sudah sampai, terkejut dengan apa yang dilakukan majikan itu dan menghampirinya dengan seger.


"Ada apa, Non. Apa yang non cari, nanti bibi yang carikan," ucap bibi menawarkan diri, bibi takut Abizar akan marah jika melihat ruang kerjanya berantakan.


" Ini, Pak Abi bisa marah," ucap bibi.


"Aku tak peduli Bi, cepat bantu aku cari obat ku, aku ingin tahu apakah kak Abi setega itu padaku sehingga menyembunyikan obat ku dan menukarnya dengan obat lain," ucap Khanza dengan suara bergetar dan lelehan air mata yang terus mengalir bahkan ia berbicara sambil berusaha menguasai Isak tangisnya.


"Obat?" tanya Bibi yang ikut mencari apa yang dimaksud oleh Khanza, ia tak tahu obat apa, tapi bibi hanya tahu yang harus carinya adalah obat.


Khanza terus ngobrak ngabrik ruang kerja Abizar, kini berkas-berkas itu berserakan di lantai.


Khanza mematung saat apa yang dicarinya ternyata memang ada di sana. Khanza menemukan obat yang selama ini dicarinya di laci paling bawah meja kerja suaminya, dengan tangan bergetar Khanza mengambil obatnya.


💖💖💖💖💖M Anha 💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


Mampir kak kak karya temanku.



__ADS_2