Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Season 2: Bab 44


__ADS_3

Tikar telah digelar, makanan telah dihidangkan di bawah pohon rindang, Mentari dan Aisyah sibuk menyiapkan makanan yang mereka bawa ada beberapa yang mereka buat sendiri juga ada beberapa yang mereka pesan.


"Aisyah, Kakak kamu jadi datang nggak ya?" tanya Mentari saat melihat jam sudah jam istirahat kantor. Namun, orang yang mereka tunggu belum juga datang bahkan keduanya sudah mulai mencicipi makanan yang ada di hadapan mereka, keduanya tergiur dan sudah merasa lapar. Namun, mereka masih menahan untuk menunggu seseorang yang belum datang, Mentari menunggu Azriel dan Aisyah menunggu Dewa.


"Itu Kak Azriel datang," ucap Aisyah menunjuk ke arah kakaknya, senyumnya kembali semakin lebar saat melihat Dewa juga berjalan di belakang kakaknya, sepertinya mereka bersama-sama sampai ke taman tersebut.


"Dewa? Apa Azriel mengajak Dewa?" ucap Mentari yang melihat Dewa terlihat melambai ke arahnya dan juga berjalan beriringan dengan Azriel.


"Enggak, Kak. Aku yang mengundangnya, tadi aku nggak sengaja bertemu dan mengundangnya ke sini, nggak apa-apa kan?" ucap Aisyah melihat ke arah Mentari membuat Mentari pun menggangguk.


"Iya, nggak apa-apa. Tapi, lain kali jika ingin mengundang orang bilang dulu ya, untung saja kita menyediakan banyak makanan, bagaimana jika sedikit kan malu jika sampai tak cukup dan kita mengundang orang."


"Iya Kak, lain kali jika mengundang siapapun aku akan beritahu Kakak dulu, makanya tadi aku menyiapkan makanan lebih," ucap Aisyah kembali mengeluarkan sebuah rantang kecil dari dalam ranselnya, makanan itu sengaja dipesan via online saat akan menuju ke taman tersebut dan memintanya langsung diantarkan ke taman.


"Dasar ya kamu, kamu senang ya dengan Dewa? Jangan bilang kamu menyukainya," goda Mentari membuat Aisyah kembali merona, pipi putihnya kini kembali memerah membuat ia langsung salah tingkah dan memegangi kedua pipinya yang semakin merona saat Dewa kini menyapanya dan duduk di sampingnya sementara Azriel duduk di samping Mentari.


"Kalian lama banget sih, ini kami sudah lapar," ucap Mentari yang langsung mempersilahkan mereka untuk menyantap hidangan yang telah disiapkan.


"Maaf, tadi di jalan macet," jawab Azriel melihat ke arah Dewa, Dewa pun mengangguk dan keduanya sama-sama memulai acara piknik mereka.


Mereka berempat makan dengan lahap dan sesekali bercanda, sementara itu di tempat lain yang juga berada di taman itu yang jaraknya cukup jauh dari mereka. Lucia mematahkan ranting yang ada di tangannya, ia merasa kesal saat melihat pemandangan yang ada di depannya, ia gagal untuk menahan Azriel agar tak datang ke sana.

__ADS_1


Tadi ia sudah berpura-pura sakit perut dan meminta Azriel membawanya ke rumah sakit. Namun, bukannya menunggu dirinya di sana, justru Azriel langsung pergi dan meminta sopir kantor untuk menjemputnya, ia merasa sangat kesal.


Lucia yang memang tak sakit, tak jadi memeriksakan kondisinya dan langsung mengikuti Azriel dengan supir kantor yang sudah datang menjemputnya dan di sinilah dia dengan kesendirian dan kekesalan yang menatap 4 orang yang terlihat serasi duduk sambil menyantap makanan mereka.


Di saat mereka tengah bercengkrama, ponsel Mentari berdering, itu adalah panggilan dari Erwin.


"Apa? .... Kamu jangan bercanda Erwin!" ucap Mentari, matanya berkaca-kaca membuat Azriel langsung menatap khawatir pada Mentari.


Aisyah dan Dewa juga bisa melihat ekspresi kesedihan di wajah Mentari membuat mereka yang tadinya masih menyantap makanan di hadapan mereka kini saling pandang dan saling mengangkat bahu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Mentari pada seseorang yang bernama Erwin di seberang telepon sana.


"Ya sudah, aku titip ibu ya aku ke sana sekarang," ucap Mentari yang kini bahkan sudah terisak, ia menutup teleponnya dan menatap ke arah Azriel yang sejak tadi sabar menunggu sampai Mentari selesai berbicara dengan orang yang ada di seberang telepon sana, ia tahu siapa Erwin.


"Ada apa?" tanya Azriel mengusap air mata Mentari yang berderai membasahi pipinya.


Aisyah hanya mengangguk dan langsung membereskan semuanya dibantu oleh Dewa, sementara Mentari dan Azriel sudah berlari menuju ke mobil mereka.


Dewa yang juga khawatir dengan kondisi ibu Mentari juga langsung menuju ke rumah sakit bersama Aisyah setelah mengumpulkan semuanya.


Mentari berlari begitu ia sudah sampai di parkiran rumah sakit, bahkan Azriel belum mematikan mesin mobilnya Mentari sudah berlari. Ia langsung menuju ke tempat di mana ibunya dirawat.


"Bagaimana dengan ibuku?" tanya Mentari pada Erwin, Erwin hanya menunjuk ke arah ruangan tempat dirawatnya ibu Mentari, ia tak bisa menjelaskan apa-apa.

__ADS_1


Mentari langsung masuk ke dalam ruangan ibunya melihat ibunya yang juga menatapnya dengan infus yang melekat di punggung tangannya dan alat bantu pernafasan yang digunakannya.


"Ibu, Ibu kenapa?" tanya Mentari menggenggam tangan ibunya.


"Ibu nggak apa-apa, Nak. Ibu hanya kelelahan dan kurang menjaga kesehatan ibu," ucap Rusmi dengan suara lirihnya, Mentari hanya menggeleng ada rasa bersalah di hatinya. Ia terlalu ambisi untuk meningkatkan usahanya. Ia lupa jika usia ibunya sudah tua, ibunya pasti akan sangat kelelahan mengerjakan semuanya.


"Ibu, maafkan Mentari. Ini semua salah Mentari," ucap Mentari yang sudah terisak.


"Ini bukan salah kamu, Nak. Ibu sudah tua, wajar jika ibu merasa kelelahan dan sakit," ucap Rusmi di mana sudah seminggu terakhir ini ia merasa jika kondisinya tidak begitu stabil. Namun, ia mengabaikannya karena terlalu banyak pesanan.


Walau ia sudah memiliki beberapa pegawai, Mentari sudah menambah dua pegawai lagi untuk membantunya dan meminta ibunya untuk tak banyak bekerja. Namun, Rusmi yang sudah terbiasa bekerja tetap membantu dan ikut terjun langsung membuat kue-kue tersebut.


Azriel yang sudah sampai ikut menghampiri ibu dari kekasihnya itu, ibu Mentari langsung menatap Azriel dan meminta Azriel untuk menggenggam tangannya. Azriel pun menggenggam tangan ibu mentari yang terulur ingin memegangnya, ibu Mentari menyatukan kedua tangan mereka, tangan Mentari dan juga tangan Azriel.


"Azriel, ibu tahu kamu orang yang baik dan mencintai anak ibu, jika terjadi sesuatu pada ibu, ibu titip Mentari ya," ucap Rusmi membuat Azriel pun mengangguk, sementara Mentari kembali terisak mendengar ucapan ibunya.


"Ibu istirahatlah, jangan berpikir macam-macam. Ibu pasti sembuh," ucap Mentari di sela isak tangisnya.


Rusmi hanya mengangguk dan ia pun menghela napas lega, walau ia harus meninggalkan putrinya ia merasa tenang karena ada sosok Azriel yang telah berjanji padanya akan menjaga putrinya.


Aisyah dan Dewa pun ikut sampai, mereka juga menjenguk ibu Mentari. Rusmi senang anaknya memiliki orang-orang yang menyayanginya, ia juga sudah mengenal siapa Dewa. Ibu Mentari juga menitipkan Mentari pada Dewa untuk menganggapnya sebagai adiknya dan Dewa pun ikut mengangguk menuruti apa permintaan dari ibu Mentari, ibu Mentari memejamkan mata dan tiba-tiba alat yang sejak tadi mendeteksi detak jantungnya berdetak cepat, garis yang tadinya masih membaca detak jantung ibu Mentari itu kini garis itu telah lurus. Suara monitor juga sudah berubah tak lagi menandakan jika bisa mendeteksi suara detak jantung dari Rusmi.

__ADS_1


"Ibu, Ibu kenapa?" ucap Mentari panik, Dewa dan Azriel yang tahu akan hal itu Dewa langsung berlari memanggil dokter sementara Azriel mencoba menenangkan Mentari. Aisyah sendiri menutup mulutnya dan memundurkan langkahnya memberi ruang pada dokter yang baru saja datang.


__ADS_2