
Fahri melakukan apa yang diperintahkan oleh Abizar, mengecek CCTV dan berhasil, Fahri mengantongi plat taksi yang ditumpangi oleh Aqila dan segera meminta untuk melacaknya. Ternyata taksi itu mengarah ke Bandara.
"Bandara, apa khanza berniat untuk pergi dari kota ini," batin Abizar dengan cepat langsung menuju ke Bandara yang dituju taksi Aqila, begitu juga dengan beberapa orang yang telah disewa untuk mencari Khanza.
Tak tanggung-tanggung, Abizar menyewa beberapa agen untuk mencari keberadaan mereka.
Semua terkejut saat rombongan Abizar memasuki Bandara, mereka menjadi pusat perhatian, bagaimana tidak puluhan orang berjas langsung masuk ke Bandara dan langsung mencari keberadaan Khanza dan Aqila.
Aqila yang sudah diberitahu jika kakek dan nenek Khanza sudah datang dan diberi titik lokasinya tak membuang waktu langsung menemui kakek dan nenek.
Kakek dan nenek sudah mengetahui situasinya dari Khanza, sehingga mereka menurut apa yang khanza dan Aqila katakan.
"Apa Kakek harus pakai ini juga?" tanya kakek saat Aqila juga menyodorkan khimar ( pakaian syar'i + cadar) kepadanya.
Aqila tersenyum cengir,
"Hehehe. Maaf ya kek, kakek pakai juga ya," ucap Khanza tak enak. "Kakek mengertikan situasinya!" ucap Aqila.
Kini mereka sekarang berada di toilet wanita, saking paniknya Aqila juga membawa kakek masuk ke sana.
Kakek melihat Khamir di tangannya, tak ada pilihan lain hanya itu satu cara saat ini untuk terhindar dari Abizar dan orang-orangnya, kakek sempat melihat saat orang-orang Abizar masuk menyusuri Bandara, yang kakak yakin tujuannya mencari mereka.
"Kakek pakaian demi Khanza," tambah Aqila yang melihat kakek merasa ragu memakai apa yang dipegangnya.
Nenek juga ikut membujuk,
Kakek pun pasrah dan memakainya.
Tadinya Aqila ingin membeli juga untuk kakek. Namun, karena terburu-buru takut ketahuan Fahri, saat di toko pakaian Aqila langsung ngambil 4 Khimar.
Aqila berharap mereka juga bisa mengelabui orang-orang Abizar dan Abizar sendiri tentunya. Sama dengan caranya mengelabui Fahri.
Aqila yakin jika Fahri pasti banyak cara untuk menemukannya, termasuk cctv sehingga Aqila mengganti khimar yang dipakainya dengan warna yang lain.
"Cari di semua tempat, aku yakin mereka pasti masih ada di bandara ini. Tutup Bandara Jangan biarkan ada yang pergi dari sini," ucap Abizar memerintahkan anak buahnya. Beberapa dari mereka mengecek keberangkatan, Apakah Khanza salah satu dari penumpang yang berangkat hari ini.
"Ayo kek, nek! kita harus santai jangan panik, jangan sampai mereka curiga pada kita," ucap Aqila berjalan sambil terus berbisik.
Aqila melihat penjagaan yang sepertinya mereka dilarang untuk keluar.
"Bagaimana ini, bagaimana caranya kita keluar," batin Aqila, mereka harus cepat keluar sebelum ada yang menyadari mereka.
Aqila melihat ada helm, entah helm Siapa, dia pun mengambil helm itu dan memasukkannya ke dalam bajunya. Berpura-pura jika ia sedang hamil, kemudian berjalan menuju ke orang yang berjaga di depan.
"Pak tolong cucu saya, dia mau melahirkan, kami harus cepat pergi ke rumah sakit," ucap nenek pura-pura panik begitu pula dengan Aqila yang pura-pura kesakitan.
Sementara Kakek hanya berdiri mematung menggeleng melihat dua wanita yang sedang berakting. Kakek serasa bermimpi melihat adegan di depannya. Tak menyangka akan dalam posisi seperti ini, memakai Khamir dan melihat nenek berakting.
"Iya Pak, nanti keburu melahirkan di sini," tambah pengunjung lainnya.
Aqila semakin menjerit kesakitan. Namun, tetap di kontrol nya agar aktingnya itu tak menjadi pusat perhatian dan malah mengacaukan rencananya.
__ADS_1
Seorang pengunjung menghentikan taksi dan meminta mereka untuk segera masuk, beberapa orang penjaga hanya melihat apa yang mereka lakukan, ingin menghentikan dan menahannya, tetapi mereka juga merasa panik melihat Aqila yang terus saja berakting layaknya orang yang ingin melahirkan dengan nenek yang berakting mengalahkan akting pemain artis papan atas.
Mereka baru bernapas lega saat taksi mulai meninggalkan Bandara. Aqila dan nenek melihat ke belakang dan mereka bisa melihat Abizar berada di tempat tadi mereka berada.
"Nenek tak menyangka Abizar berbuat seperti itu pada kita pada Khanza. Kenapa nenek jadi takut ya," ucap nenek.
"Sudahlah Nek, sekarang kita pergi ke rumah Khanza, Aziel pasti senang kalau kakek dan nenek bisa tinggal bersamanya."
"Kenapa nasib rumah tangga Khanza bisa jadi seperti ini," gumam kakek menerawang membayangkan wajah cucunya kemudian melihat pakaiannya.
Lama mereka berkendara hingga akhirnya mereka sampai di sebuah gedung Apartemen dimana Khanza tinggal.
"Ini bagaimana? apakah sudah bisa di buka?" tanya kakek yang masih menggunakan Khamir.
"Eh ... iya. Maaf Kek, Aqila lupa. kayaknya sudah bisa di buka kok, disini aman sepertinya pencarian Pak Abizar belum sampai ke sini. Kakek pakai masker aja ya, untuk berjaga-jaga," ucap Aqila memberikan kakek masker dan mengambil Khamir.
Sedangkan ia dan nenek masih memakai khamir nya.
Kakek dan nenek mengeluarkan semua barang-barang mereka, kemudian berjalan masuk ke dalam gedung Apartemen.
"Apa Khanza tinggal di Apartemen ini?" tanya nenek.
"Iya, Nek. Kami hanya bisa mencari tempat ini untuk sementara waktu."
"Aku dan Khanza sedang mencari tempat yang lebih aman, tapi untuk sementara waktu kita tinggal di sini dulu ya, Nek?" ucap Aqila.
"Terserah kalian saja," jawab nenek.
Damar yang dipanggil menoleh dan melihat Siapa yang memanggilnya. Ia tak melihat siapa-siapa yang di kanalnya.
"Damar kan?" tanya kakek memastikan. kakek membuka maskernya. Damar langsung hampir kakek-kakek.
"Iya kek, ini Damar," ucap Damar mencium punggung tangan kakek dan nenek.
"Kakek lagi apa disini?" tanya Damar.
"Lagi ada urusan, kamu sendiri apa yang kamu lakukan di Apartemen ini?" tanya kakek balik.
"Damar tinggal di Apartemen ini, Kek."
"Syukurlah kalau begitu, Khanza juga tinggal di Apartemen ini," ucap nenek
Membuat Aqila langsung menyenggol tangan nenek.
"Tak apa, Nak! Dia ini teman masa kecil Khanza jadi kita bisa percaya sama Damar," ucap nenek.
Tadinya Damar mengira jika gadis yang bercadar itu adalah Khanza, ternyata ia salah.
Khanza tinggal di Apartemen ini juga?" tanya Damar.
"Iya, kakek dan nenek juga baru datang kesini, sebaiknya kita bicara di tempat Khanza, Aqila tunjukkan pada kami dimana Apartemen Khanza."
__ADS_1
Aqila hanya mengangguk dan menunjukkan di mana Apartemen Khanza.
****
Sementara itu di Bandara Abizar masih kocar-kacir mencari Khanza, semua sudut Bandara sudah mereka Periksa.
"Bagaimana," tanya pada Fahri.
"Aku sudah memeriksa di beberapa penerbangan, tapi tak ada nama Khanza dan Aqila yang melakukan penerbangan.
Jika mereka tidak keluar untuk apa mereka ke Bandara," Gumam abizar bertanya-tanya.
Tadinya Ia berpikir mereka berdua pasti akan pergi ke luar kota atau kembali ke kampung Khanza. Namun, sepertinya dugaannya salah dalam penerbangan tak ada kedua nama mereka.
"Khanza kemana kamu, kemana aku harus mencarimu," lirih Abizar sangat frustasi.
Abizar kemudian menelepon Farah,
"Apa Khanza tidak pernah bercerita padamu tentang masalah ini ?" tanya Abizar saat Farah mengangkat panggilannya.
"Tidak, Mas Khanza tidak pernah mengungkit masalah kehamilan atau sebagainya." Jawab Farah.
"Aku sudah mencarinya, tapi aku belum menemukan jejaknya sedikitpun."
"Mas aku mohon, kamu harus terus mencarinya, temukan Khanza dan Aziel," pinta Farah.
"Apa kau punya bayangan di mana mereka akan pergi?" tanya Abizar.
"Aku tidak tahu Mas, tapi apa ada kemungkinan Daniel ikut campur lagi.
Aku pernah beberapa kali mendapati Aqila berjalan dengan Daniel. Bagaimana kalau mereka meminta bantuan Daniel."
"Kau benar. Mungkin saja Daniel kembali ikut campur. Aku akan mencoba mencarinya. Jika kau menemukan kabar tentang Khanza hubungi aku."
Mengakhiri panggilannya.
"Apa mungkin mereka meminta bantu Daniel," Abizar menggenggam botol plastik hingga tak berbentuk lagi.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏
Salam dariku Author M Anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mampir ke karya TAMAT ku. sambil menunggu update terbaru 🙈🙈🙏🤗
__ADS_1