
Dengan ragu-ragu Mentari pun masuk dan menyapa mereka. Abidzar yang duduk di samping Azriel pun berdiri dan membantu putranya untuk duduk, ia bisa melihat jika putranya berbinar senang saat mendapat kunjungan dari gadis yang bernama Mentari. Nama yang ia dengar saat putranya memanggil nama gadis itu tadi.
Sebelumnya ia belum pernah melihat putranya bersama dengan wanita dan belum ada gadis yang dikenalkan kepada mereka sebagai kekasihnya. Abidzar berpikir mungkinkah gadis ini adalah kekasih dari putranya.
"Duduklah," ucap Abidzar menyerahkan kursi yang sejak tadi didudukinya pada gadis yang bernama mentari itu.
"Nggak papa, Om. Aku berdiri saja, Om duduk saja," ucap Mentari menawarkan kursinya kembali kemudian ia pun meletakkan buah-buahan yang dibawanya di atas nakas yang ada di samping tempat tidur Azriel.
"Kamu kok sampai capek-capek sih bawah buah segala, kamu datang aku sudah senang," ucapnya membuat Abidzar mengurutkan kening mendengar kata-kata manis putranya itu.
"Ya sudah, kalian bicaralah dulu. Papa ingin cari kopi dulu," ucap Abidzar membuat keduanya pun mengangguk. Abidzar bisa mengerti mungkin anaknya ingin berdua dengan gadis yang bernama Mentari itu.
Begitu Abidzar keluar dan baru menutup pintu Khanza datang dengan membawa kotak makanan untuk mereka.
"Ayo, Mas. Masuk dulu, kita makan malam, ini aku bawakan makanan," ucap Khanza ingin masuk. Namun, Abidzar langsung menahannya.
"Nanti saja, di dalam ada teman Azriel. Kita makan di tempat lain saja," ucapkan Abidzar menarik istrinya itu untuk pergi dari sana dan tak mengganggu keduanya.
"Ya sudah, tapi berikan ini dulu pada anakmu, nanti dia kelaparan. Azriel belum makan loh," ucap Khanza bersikeras. Ia pun mengetuk terlebih dahulu pintunya sebelum masuk dan begitu ia masuk ia melihat gadis cantik yang tersenyum melihat ke arahnya. Gadis itu yang tadinya duduk di kursi di samping tempat tidur Azriel langsung berdiri dan menyapanya, terlihat sangat sopan dan manis.
__ADS_1
"Maaf ya, tante ganggu dulu. Ini tante bawa makan untuk Azriel, bisa tolong bantu Azriel makan? Tante mau temenin papanya Azriel makan di luar," ucap Khanza menyerahkan kotak makan itu pada Mentari.
"Oh iya, Tante. Tentu saja bisa," ucap Mentari yang langsung mengambil kotak bekal tersebut.
"Yang sudah, Azriel. Mama temani papa dulu, jika kamu butuh sesuatu telepon kami saja, kami makan di kantin," ucap Khanza melihat ke arah putranya.
"Iya, Mah. Tentu saja." Azriel memberikan senyum penuh arti pada ibunya seolah meminta ibunya itu cepatlah keluar. Khanza yang mengerti arti tatapan dan isyarat dari putranya itu pun hanya menggeleng dan keluar, ia kembali berpamitan kepada Mentari. Mentari hanya mengangguk dan tersenyum dan ia pun kembali duduk dan langsung membuka kotak makanan tersebut.
"Aku suapin ya," ucap Mentari dan diangguki langsung oleh Azriel, siapa yang tak mau disuapin oleh gadis cantik seperti Mentari.
Selain cantik, Mentari gadis yang sangat baik membuat Azriel sejak lama menaruh hati padanya. Sudah beberapa kali Azriel mencoba untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, setiap ia berhadapan langsung dengan Mentari, mulutnya terasa kaku, ia tak bisa mengutarakan perasaannya jika dia menyukainya dan menginginkan Mentari menjadi kekasihnya.
Gadis cantik berhijab itu juga kuliah di universitas yang sama dengan Azriel, selain cantik, baik, kepintarannya juga tak diragukan.
Mentari pun mulai menyuapinya, Azriel yang tadinya tak memiliki nafsu makan menjadi lahap dan memakan setiap suapan yang diberikan oleh Mentari.
"Gadis itu siapa, Mas?" tanya Khanza sambil membuka makanan untuk Abidzar, mereka memilih untuk makan di taman rumah sakit tersebut, tadinya Khanza ingin pergi ke kantin. Namun, Abidzar menariknya untuk makan di taman, di bawah sebuah pohon rindang dengan ditemani cahaya sinar bulan, walau di rumah sakit suasananya cukup indah ditemani makanan istrinya yang begitu enak.
"Yang aku tahu namanya Mentari dan aku bisa melihat jika Azriel menyukai gadis itu, aku tak terlalu tahu banyak tentang mereka, tadi aku langsung keluar aku mengerti pasti mereka ingin berbicara berdua." Abidzar fokus pada makanannya.
__ADS_1
"Aku setuju dengan gadis itu, semoga saja mereka memang ada hubungan. Azriel sudah cukup dewasa untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis," ucap Khanza dimana selama ini ia juga menginginkan putranya itu mengenalkan seorang gadis pada mereka, walau belum ada rencana untuk menikah setidaknya Azriel mengenal sosok wanita yang mengisi hatinya.
"Nanti saja kita tanyakan, kamu nggak makan?" tanya Abidzar yang melihat Khanza hanya menyiapkan makanan untuknya.
"Tadi aku sudah makan di rumah, aku masih kenyang. Nanti saja lagi aku juga bawa kok makanan untuk tambahan dan beberapa cemilan, malam ini aku akan menginap di sini bersama dengan kalian."
"Iya, bagaimana dengan Aisyah dan juga Lucia? Tadi mereka aku minta pulang dan beristirahat di rumah."
"Aku sudah meminta Aisyah tetap di rumah dan sudah menitipkan mereka pada bibi untuk mengawasi mereka, jadi kamu tenang saja."
"Iya, katanya Farah dia juga akan datang besok, mereka pasti cemas mendengar kondisi Azriel. Apa kamu yang memberitahu mereka?" tanya Abidzar melihat ke arah Khanza, membuat istrinya itu pun menganggu. Karena ia berpikir Azriel sudah seperti anak bagi Farah sama halnya seperti dirinya, membuat dia bisa merasakan bagaimana perasaan Farah jika tak diberitahu tentang kondisi anak mereka.
"Oh ya, kamu pernah memperhatikan sikap Lucia tidak pada Azriel?" tanya Abidzar mengalihkan pembicaraan mereka ke topik lain.
"Maksudnya?" tanya Khanza menatap suaminya dengan tatapan penuh tanya.
"Iya, setiap ia bertemu dengan Azriel aku bisa melihat jika sikapnya itu berbeda, bukan sikap seorang adik kepada kakaknya. Aku berharap Lucia tak memiliki perasaan pada putra kita, jika itu sampai terjadi entahlah mana mungkin kita menikahkan mereka kan?"
"Mengapa nggak mungkin? Jika keduanya memang saling menyukai ya nggak apa-apa, kecuali salah satu dari mereka tak menginginkan pernikahan itu, lagian aku juga berpikir jika mereka menikah itu akan semakin mendekatkan keluarga kita, mereka tak ada hubungan apa-apa yang tak memperbolehkan mereka untuk menikah. Walau mungkin akan sedikit aneh karena kita juga sudah menganggap Lucia seperti putri kita sendiri."
__ADS_1
Mendengar itu Abidzar hanya mengangguk sambil menyuapi makanan ke dalam mulutnya, tiba-tiba ia kembali mengingat Mentari dan Lucia, semoga saja kejadian di masa lalu tak terulang pada putranya, semoga saja kisah memiliki dua orang istri tak dialami oleh putranya juga. Ia selalu berdoa apa yang terjadi di masa lalu dengan dirinya tak terulang pada putranya.