Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Season 2: Bab 30


__ADS_3

Pagi hari Mentari sudah siap dengan kue yang telah dibuatnya, ia mengirim pesan pada Azriel apakah dia akan pergi ke kampus hari ini atau tidak. Jika tidak, ia akan mengantar kue tersebut ke rumahnya langsung.


"Aku sudah menunggumu dari tadi di depan gangmu. Hari ini kita ke kampus sama-sama, pulangnya kamu akan ke rumahku mengambil motormu. Motormu kan ada di rumahku?" ucap Azriel membuat Mentari menepuk jidatnya. Ia baru mengingat jika semalam ia meninggalkan motornya di sana.


"Oh ya, sudah aku langsung keluar, kalau begitu aku bawa kuenya sekalian ya?"


"Kue apa?" tanya Azriel.


"Kue, aku sudah membuatnya khusus untukmu, ini aku hanya buat satu kok dan aku jamin ini paling spesial untukmu yang pernah aku buat dan aku tak pernah membuatnya untuk siapapun," jelas Mentari, ia tahu Azriel masih marah dengannya masalah yang kemarin, pasti ia masih kecewa karena memberikan kue yang sama dengan Dewa.


"Aku kan sudah bilang tak usah membuatnya, lagian kemarin itu sudah cukup."


"Nggak kok, ini aku buat semalam saat pulang, aku keluar sekarang," ucap Mentari mengakhiri pesan singkat mereka. Ia pun dengan cepat bergegas menuju keluar


Mentari berjalan kaki menuju keluar gang, ia bisa melihat mobil Azriel terparkir di sana.


Sepanjang menuju ke kampus mereka hanya diam, hingga Azriel memarkirkan mobilnya di parkiran kampus. Mentari bingung harus memulai percakapan mereka dengan apa setelah penolakannya semalam dan ada keinginan untuk menceritakan apa alasan ia menolak.


"Ayo, tanya kenapa aku menolakmu," batin Mentari. ia terus menunggu sampai Azriel menanyakannya.


"Azriel ini untukmu, tolong diterima ya," ucap Mentari membuat Azriel melihat kue yang diberikan oleh Mentari. Ia pun membuka kotaknya, Azriel bisa melihat kue yang berbeda di sana.


Azriel mengambil satu potong kue kemudian membaginya menjadi dua, satu dimakannya satu disuapkannya pada Mentari.


Mentari memakan suapan tersebut dan sebuah krim menempel di sudut bibirnya. Azriel membersihkannya dengan ibu jarinya kemudian memakan sisa krim yang tadi menempel di bibir Mentari. Hal itu membuat Mentari berdebar.

__ADS_1


"Hari ini kita hanya punya satu mata kuliah saja kan?" tanya Azriel membuat Mentari mengangguk sambil mengunyah pelan kue yang diberikan Azriel padanya sembari menetralkan kembali detak jantungnya.


"Hari ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, kamu nggak masalah kan?" tanya Azriel membuat Mentari kembali hanya mengangguk.


"Terima kasih kuenya, ini lebih enak," ucapnya kemudian ia pun meletakkan kue itu di jok belakang kemudian keduanya sama-sama turun, mereka berjalan menuju ke ruangan mereka seperti biasanya. Para teman-teman Azriel menyambutnya karena lebih dari sebulan mereka tak bertemu akibat kecelakaan yang dialami oleh Azriel.


Mereka hanya tinggal menyelesaikan skripsi terakhir mereka saja sebelum wisuda, membuat Azriel walau belum sembuh total memutuskan untuk masuk kuliah, ia tak ingin terlalu banyak ketinggalan dan ingin pendidikannya selesai di tahun ini juga.


Mereka menerima materi seperti biasanya, sesekali mereka saling melihat, tatapan mereka beberapa kali bertemu. Mentari mencoba mencari cara bagaimana agar ia bisa mengungkapkan alasan ia menolak Azriel, ia tak ingin sampai Azriel salah paham padanya dan menjauhinya, ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dewa jika sebaiknya ia mengungkapkan alasannya jika memang Azriel ingin memperjuangkannya. Ia pun akan memperjuangkan perasaannya dan menerima cinta dari Azriel.


Setelah mereka pulang Azriel kembali melajukan mobilnya menuju ke kediamannya.


"Hari ini kita jalan-jalan pakai motormu saja ya?" ucap Azriel yqng sudah melajukan mobilnya kembali.


"Aku sudah baik-baik saja, tenanglah. Ayo naik," ucap Azriel yang sudah membunyikan motor butut milik Mentari, Mentari pun hanya mengangguk dan mengikuti kemana Azriel membawanya, tak lupa Mentari membawa kue yang tadi diberikan kepada Azriel atas permintaan Azriel.


Azriel membawa Mentari ke sebuah perbukitan yang cukup sejuk dan sunyi, mereka pun menuju ke salah satu bukit dan duduk di tempat di mana di sana sudah disediakan tempat untuk, menikmati pemandangan yang ada di sekitaran bukit tersebut.


Itu adalah salah satu wisata baru yang ada di kota itu, masih belum terlalu banyak pengunjung membuat Azriel memilih tempat itu untuk membawa Mentari.


Azriel membuka kue yang tadi diberikan oleh Mentari dan baru dimakan satu potong tadi, ia pun kembali mengambil sepotong lagi dan kembali membagi dua potongan kue tersebut, satu untuknya dan satu untuk Mentari. Mentari lagi-lagi hanya menurut, membuka mulutnya saat Azriel menyuapinya.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Azriel menatap Mentari sambil membersihkan sisa krim yang ada di sudut bibir Mentari.


"Tentu saja rasanya enak, ini kan aku buat spesial untukmu dan dengan hati-hati," ucapnya mengambil satu potong dan memakannya sendiri, ia mengakui jika rasanya memang enak dari yang sebelumnya, entah apa yang ditambahkan di dalamnya, ia sendiri lupa. Untung saja rasanya enak karena sepertinya ia menambahkan sesuatu di luar resep.

__ADS_1


"Kamu benar, kue apapun yang kamu buat pasti enak, apalagi kamu membuatnya dengan perasaan dan cinta untukku. Iya kan?" ucapnya membuat Mentari langsung menatap Azriel.


"Azriel, sebenarnya."


"Mentari, aku akan berpura-pura tak pernah mendengar penolakanmu yang semalam. Aku sepertinya terlalu cepat mengungkapkan perasaanku padamu, aku akan mulai memberikan waktu untuk hubungan kita dulu. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan membuka hatimu untukku dan mengatakan iya untuk pernyataan cintaku," ucap Azriel yang kini sudah menggenggam tangan Mentari.


Mendengar itu Mentari hanya mengangguk, mungkin lebih baik mereka menunda hubungan mereka dan lebih memilih untuk menjalani ikatan sebagai seorang teman saja. Mentari sendiri takut tak bisa menjalani hubungan mereka yang ditentang oleh keluarganya, ia tak tahu apakah kedua orang tua Azriel juga berpikiran sama dengan ibu dari Lucia, jika dia tak pantas untuk Azriel walau selama beberapa kali bertemu ia bisa melihat keduanya sangat baik padanya, tapi mungkin mereka hanya menganggapnya sebagai sahabat dari Azriel, tak ada hubungan yang lebih diantara mereka.


Mereka menikmati udara yang menerpa kulit mereka, memandang luas rumput-rumput hijau dan beberapa hiasan yang dipasang oleh pemilik tempat wisata tersebut.


Mereka bisa melihat banyak muda-mudi yang melakukan acara foto di beberapa spot foto yang juga disediakan di sana.


"Sebentar lagi kita akan lulus, kamu ingin kuliah di mana?" tanya Mentari.


"Di kampus yang sama, aku akan kuliah sambil membantu ayah di perusahaan. Ayah memintaku untuk sudah terjun ke perusahaan setelah lulus nanti sambil melanjutkan pendidikanku. Kamu sendiri, kamu masih tetap lanjut di kampus yang sama kan?" tanya Azriel membuat Mentari menggeleng.


"Kenapa? Kamu ingin lanjut di kampus mana? Aku juga akan lanjut di kampus yang sama denganmu," tanya Azriel cepat, ia tak akan mau berpisah dengan Mentari. Jika mereka kuliah di kampus yang sama, maka peluang mereka untuk bertemu juga pasti akan lebih sering. Berbeda, jika mereka kuliah di kampus yang berbeda belum lagi kesibukan keduanya pasti akan bertambah dimana Azriel sendiri akan terjun bekerja di perusahaan ayahnya dan Mentari akan semakin sibuk dengan usaha bari ibunya.


"Aku istirahat dulu, aku akan fokus pada bisnis ibuku. Ibu sudah menabung uang untuk menyewa ruko di depan gang tempatku tinggal, nanti kami akan membuat toko kue di sana, sepertinya akan sulit jika aku kuliah sambil bekerja. Aku akan fokus pada pekerjaanku dulu lagian aku tak mau membebani ibu dengan biaya kuliah yang juga pasti akan lebih mahal lagi kan?"


Mendengar itu Azriel terdiam, ingin rasanya ia mengatakan biar dia saja yang membayar uang kuliahnya. Namun, ia sadar hubungan mereka tak sampai sedekat itu, ia juga takut menyinggung perasaan Mentari, baginya urusan uang adalah sesuatu yang sangat sensitif. Iq juga masih belum memiliki penghasilan sendiri.


"Aku yakin bisnismu akan cepat berkembang dan nanti jika kamu sudah memiliki waktu luang kamu bisa kuliah kembali." Azriel menatap Mentari dan Mentari pun menggangguk.


"Oh ya, aku dengar kamu sudah dijodohkan dengan Lucia ya?" tanya Mentari membuat Azriel terkejut, dari mana Mentari tahu akan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2