
"Dengar, pernikahan itu bukan hanya sebuah hubungan antara dua orang yang dinikahkan saja, bukan semata-mata menyatukan mereka, menyatukan raga mereka, tapi juga menyatukan hati dan perasaan mereka. Jadi, aku rasa kita jangan ikut campur. Mau itu Azriel menikah dengan Lucia atau Mentari itu adalah pilihannya," ucap Abidzar.
"Tapi, Mas. Jika kita berusaha untuk menjodohkan mereka, mungkin mereka bisa memiliki perasaan yang sama. Mungkin saja mereka bisa saling mencintai. Lucia sudah mengatakan jika dia mencintai Azriel.
"Iya, Mbak. Lucia sudah mengatakan jika dia mencintai Azriel, tapi Azriel mengatakan kepada kami jika dia mencintai Mentari. Apakah itu tak akan menyakiti perasaannya setelah dia mengatakan kepada kami jika dia mencintai Mentari, kami tiba-tiba memintanya untuk berjodoh dengan Lucia? Tidak, Mbak! Aku tetap tak setuju jika kita memaksa mereka berjodoh."
"Khanza, kamu itu bisa nggak sih diajak ngomong. Aku kan sudah bilang kita nggak memaksa, kita hanya mengarahkan."
"Apa bedanya dengan cara yang Mbak lakukan? Mengarahkan, tapi menggunakan berbagai cara agar memisahkan Mentari, agar membuat Mentari jauh darinya, jika memang bermaksud mengarahkan tidak begitu caranya, Mbak."
"Lalu kamu ingin menjodohkannya dengan Mentari?"
"Aku tak ingin menjodohkannya dengan siapapun, apapun wanita yang ia pilih aku akan selalu merestuinya, mau dia memilih Mentari atau memilih Lucia sekalipun aku merestuinya, tapi dengan satu catatan ia memilih wanita dari hatinya bukan dari paksaan siapapun dan sudah pasti ...," ucap Khanza menghentikan ucapannya dan melihat ke arah Abidzar.
"Sudah pasti apa?" tanya Abidzar yang di tatap oleh Khanza.
"Aku tak mau kejadian kita di masa lalu terulang, aku tak ingin Azriel berada posisimu. Aku ingin dia menikahi satu wanita, hanya seorang wanita dan itu jujur dari hatinya, tak ada maksud dibalik pernikahan itu. Tak ada kebohongan apapun," ucap Khanza, sebenarnya ia tak mau mengungkit masa lalu mereka lagi. Namun, ketegangan yang terjadi di ruangan itu membuat ia mau tak mau kembali mengingat hal itu, hal yang sudah seharusnya tak mereka bahas lagi.
"Itu sudah berlalu, mengapa kamu kembali membahasnya?" tanya Farah merasa kesal mendengar ungkapan dari Khanza.
"Iya, Mbak. Itu sudah berlalu dan tak usah dibahas lagi, tapi kita harus menjadikannya pelajaran untuk anak kita. Kita bertiga tau bagaimana sakitnya," tegas Khanza.
"Sudah, hentikan. Saat ini Azriel sendiri di rumah sakit, aku akan kembali ke rumah sakit sekarang. Aku hanya pulang untuk mandi, aku akan bicara padanya nanti di rumah sakit, apa yang diinginkannya." Abidzar berdiri dari duduknya.
"Tapi, Mas.
"Farah. Jika memang dia menginginkan Mentari, aku harap kamu tak melakukan apa-apa dan memberinya restumu. Walaupun pilihan Azriel akan menyakiti putrimu," ucap Abidzar melihat ke arah Farah, ia juga tak setuju jika memaksa Azriel untuk memilih Lucia jika tak ada cinta di hati mereka dan putranya mencintai wanita lain.
Lucia yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka di balik tembok, mengepal tangannya. Walau Azriel tak akan memilihnya, ia akan melakukan segala cara agar Azriel bisa bersamanya, ia tak peduli Azriel mencintainya atau tidak. Yang jelas, ia harus bersama dengan Azriel, ia akan menikah dengannya apapun caranya. Lucia tak masalah jika ia juga harus berbagi suami dengan Mentari seperti Mommynya dulu.
Lucia sudah tahu bagaimana kisah kedua orang tua Azriel dan juga mommynya, ia sudah tahu mengapa Azriel memiliki dua ibu.
Lucia kembali ke kamarnya, ia berjalan bolak-balik untuk menunggu ibunya kembali masuk ke kamar.
__ADS_1
Begitu ibunya masuk ke kamar, Lucia langsung menarik tangan ibunya untuk duduk di sisi tempat tidur, ia menatap dalam mata ibunya dan perlahan butiran-butiran bening mulai menetes sehingga membasahi pipinya.
"Lucia, ada apa, Nak? Mengapa kamu menangis?" tanya Farah mengusap air mata anak tirinya itu, walaupun Lucia hanyalah anak tirinya. Namun, Farah sudah menyayangi Lucia seperti anak kandungnya sendiri, sama halnya ia menyayangi Azriel yang hanya dilahirkan oleh Khanza saat mereka masih memiliki suami yang sama.
"Aku sudah mendengar semuanya, tak ada yang mendukung Mommy untuk menjodohkanku dengan Azriel. Bagaimana ini Mommy? Aku tak mau sampai itu terjadi, aku tak mau jika Mentari sampai dijodohkan dengan Azriel. Aku tahu Azriel menyukai Mentari, tapi bukan berarti kan aku tak memiliki kesempatan," ucap Lucia yang dimana air matanya semakin menetes begitu deras, membuat Farah langsung mengusap kedua pipi putrinya.
"Tenanglah, percaya pada Mommy. Mommy akan melakukan apapun untuk menyatukan kalian, Azriel anak yang sangat menurut, dia pasti menurut apa yang mommy dikatakan."
"Mommy janji?"
"Iya, Sayang. Mommy akan mencoba mendekatkan kalian sebelum kita pulang, tapi ingat satu hal. Jangan melakukan tindakan-tindakan yang justru malah membuat Azriel berpaling darimu, contohnya menghina orang yang disukainya seperti yang kamu lakukan tadi," ucap Farah memperingatkan Lucia membuat Lucia pun mengangguk, ia sangat tahu jika hal itu memang salah.
"Ya sudah, bersabarlah. Mommy akan selalu membantumu, Nak," ucapan Farah membuat Lucia pun langsung memeluk ibu tirinya itu, walau ia tidak lahir dari rahim Farah. Namun, tak sekalipun Lucia tak pernah merasakan jika Farah bukanlah ibu kandungnya, baginya Farah adalah ibunya.
Sementara itu Abidzar yang sudah selesai mandi mengenakan pakaiannya, Khanza membantu Abidzar mengencingkan kemejanya.
"Mas, aku mohon apapun yang mbak Farah katakan nantinya jangan pernah memaksa Azriel untuk menikah dengan Lucia. Aku mohon biarkan dia menikah dengan wanita pilihannya."
"Iya, tentu saja. Kamu jangan khawatir, aku tak akan memihak pada siapapun, semua keputusan itu ada di tangan Azriel."
"Kamu jangan khawatir, aku tak akan membuat Azriel melakukan kesalahan yang sama yang pernah aku perbuat, maaf ya aku pernah menyakitimu," ucap Abidzar membuat Khanza kembali hanya mengangguk.
Abidzar menarik Khanza ke dalam pelukannya, ia memeluk istrinya itu dengan begitu erat, walau begitu banyak lika-liku dalam perjalanan mereka hingga menuju ke kebahagiaan. Namun, ia sangat bersyukur bisa hidup bersama dengan Khanza, membesarkan dua anak mereka dan bersama hingga saat ini. Ia tak akan membiarkan putranya juga mengalami hal yang sama, hal yang bahkan ia sendiri tak tahu apakah jika ia kembali mengalaminya ia bisa melalui semua itu.
Setelah merapikan penampilannya, Abidzar pun kembali ke rumah sakit, di mana saat ini Azriel sendiri di rumah sakit dengan kondisinya yang sudah lebih baik dari sebelumnya.
Azriel yang sendiri memilih untuk menatap layar ponselnya, hingga ia tak sengaja melihat jika Mentari memposting sebuah video di mana ia sedang membuat kue dengan hastag resep baru.
"Apa ini resep baru?" tanya Azriel mengirim sebuah pesan balasan pada postingan tersebut.
"Iya, aku membuat dua adonan. Mau jadi pelanggan pertama yang mencicipinya?"
"Boleh, bisa kirimkan ke rumah sakit besok?" balas Azriel lagi.
__ADS_1
"Tapi harganya lebih mahal dari kue yang biasa aku jual," balas Mentari.
"Benarkah? Semahal apa?" tanya Azriel balik. Mereka saling berkirim pesan saja sudah membuat hal itu menjadi sesuatu yang istimewa buat Azriel, jantungnya bahkan berdebar saat melihat Mentari di seberang sana sedang mengetik pesan balasan dari pesannya.
"Harganya 250.000, bagaimana? Apa kamu jadi membelinya?"
"Ya sudah, boleh. Nggak papa, kirim ke rumah sakit saja besok, apa kamu mau datang menjengukku lagi? Aku pulangnya sore, kamu bisa datang siang hari atau pagi hari."
"Maaf ya, sepertinya aku tak bisa datang untuk menjengukmu, mungkin besok pagi aku hanya akan mengantar kue itu dan harus pergi ke kampus," jawab Mentari kemudian disusul oleh foto jadwal kuliahnya besok.
"Lihat kan, nggak ada waktu untuk menjengukmu."
"Iya, nggak apa-apa. Besok kamu sendiri ya yang bawa kuenya, aku ingin melihatmu. Aku merindukanmu," tulis Azriel, tapi ia ragu untuk mengirim pesan tersebut. Lama ia berpikir mengganti kalimatnya. Namun, ia kembali mengingat apa yang dikatakan oleh ayahnya. Jika ia harus mulai memberi tanda-tanda jika dia menyukai Mentari, mungkin dengan mengatakan kata rindu, itu bisa memulai misinya untuk mendapatkan hati Mentari, pesan pun dikirim.
Azriel harap harap cemas saat melihat Mentari sedang mengetik sebuah pesan di sana.
"Baiklah, aku akan mengantarnya sendiri. Sudah dulu ya, aku sedang sibuk," balas Mentari.
"Iya, aku tunggu," pesan balasan dari Azriel kembali terkirim dengan senyum di wajahnya. Mentari sama sekali tak keberatan dengan pesannya tadi, lain kali ia akan mengirim pesan-pesan yang lebih menandakan jika dia menyukainya.
"Aku pasti bisa menyatakan perasaanku padanya," gumam Azriel tersenyum melihat layar ponselnya.
"Kamu sedang berkirim pesan dengan siapa sampai senyum-senyum seperti itu?" tanya Abidzar yang baru saja datang.
"Dengan Mentari, Yah," jawab Azriel jujur.
Kebetulan sekali, ayah juga ingin membahas masalah Mentari dan anaknya sudah memulainya. Abidzar menghampiri putranya yang masih bersandar di tempat tidurnya.
"Apa yang kalian bahas hingga kamu terlihat begitu senang?"
"Nggak ada yang spesial kok, Yah. Aku hanya memesan kue buatannya, katanya dia punya resep baru."
"Apa kamu benar-benar mencintai Mentari?" tanya Abidzar membuat Azriel pun mengangguk membenarkan apa yang ditanyakan oleh ayahnya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Lucia?"
"Lucia? Ada apa dengan Lucia, Yah?"