Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Ikut ke kantor part 2


__ADS_3

 Khanza membuang nafasnya, mecoba mengatur debaran jantungnya yang seakan ingin melompat keluar. 


"Inikan kantor suamiku, mereka semua juga sudah tau jika aku adalah istri pimpinan mereka, kenapa aku harus takut," batinnya menguatkan dirinya sendiri. "Ok aku bisa," ucapnya yang membuat Abizar menggeleng mendengarnya.


Khanza turun dari mobil dan menggandeng tangan Abizar dengan pedenya. Namun, baru 10 langka meninggalkan mobil ia kembali berlari dan masuk ke dalam mobil.


Abizar hanya melihat Khanza berlari dengan cepat meninggalkannya.


Abizar menghela nafas panjang.


Berjalan kembali menghampiri mobilnya. Ingin membuka pintu, tapi Khanza menguncinya. Ia benar-benar belum siap untuk kembali melangkah memasuki kantor. Banyak rekan kerja yang mengenalnya, menjadi istri kedua bukan sesuatu yang bisa ia banggakan. Tak ada yang tau apa yang mereka pikirkan tentangnya saat ini.


"Khanza buka pintunya," ucap Abizar menggedor kaca jendela mobil.


Khanza menggeleng, dan bisa dilihat oleh Abizar dari balik kaca.


Abizar menarik-narik pintu mobil dan terus menggedor ya, meminta Khanza untuk membukanya.


Khanza menyerah dan membuka pintu, ia tak ingin jadi pusat perhatian karena ulah suami yang terus menggedor-gedor jendela mobil.


"Kak, aku malu," ucapnya dengan ekspresi memohon bahkan terlihat akan menangis.


"Ayo turun," mengulurkan tangannya tak menerima penolakan.


Khanza pasrah menerima uluran tangan Abizar,


"Jangan kabur lagi," memperlihatkan kedua tangan mereka yang saling menggenggam.


Khanza mengangguk, dengan ekspresi sesedih mungkin.


Abizar menggandeng tangan Khanza masuk ke kantor, ia menggandengnya dengan sangat erat, tak ingin Khanza kabur lagi darinya, tak menghiraukan semua tatapan mengarah pada mereka.


Khanza terus menunduk. Sejak turun dari mobil, beberapa pandangan sudah tertuju pada mereka berdua. Saat berjalan di lobby kantor Khanza terus saja menunduk, ingin tak melihat tatapan orang-orang kepadanya.


Ini pertama kalinya Khanza ikut ke kantor setelah semua tau jika ia adalah istri kedua dari Abizar, pimpinan mereka.


Semua mengucapkan selamat datang, ucapan selamat pagi kepada bos mereka dan juga Khanza, membungkuk memberi hormat.

__ADS_1


Khanza terus menunduk, ia hanya mengangguk pelan membalas sapaan mereka.


Beberapa suara ia kenali.


Ya, hampir semua karyawan kantor dekat dengan Khanza saat masih menjadi karyawan di kantor ini.


Khanza sedikit menarik Abizar agar berjalan lebih cepat, ia baru bernafas lega saat masuk ke dalam lift dan hanya mereka berdua saja.


"Kamu ini kenapa sih? Ini itu perusahaan ku, mereka semua adalah karyawan ku.  Tak mungkin ada yang berani menghinamu jika Aku ada di sampingmu dan sudah mengeluarkan ancaman untuk mereka semua."


"Aku hanya ga enak, Kak. Aku mengenal mereka semua, tapi tak menyapa mereka. Mereka sekarang pasti sudah mulai bergosip."


"Sudahlah lupakan mereka. Nggak mungkin kebiasaan mereka menyebar gosip itu lebih penting dari pekerjaan mereka 'kan," sahutnya.


"Iya sih Kak, tapi aku malu bertemu mereka."


"Apa kamu malu diketahui jika Aku ini adalah suami kamu?"


"Bukan gitu Kak, aku kan hanya Istri Kedua, mereka pasti berpikir yang tidak-tidak tentangku, walaupun mereka sudah mengunci mulut dan jari mereka tak lagi berkomentar, tetap hati mereka pasti masih menghujatku."


Abizar kembali menghela nafas, " Apa aku harus mengeluarkan ancaman lagi, agar tak yang boleh menghujatmu walau di dalam hati mereka, mereka tak boleh menjelek-jelekan mu."


Di lantai itu hanya terdiri dari beberapa ruangan dan semuanya adalah ruangan para petinggi di perusahaan tersebut.


Di lantai itu hanya berjalan beberapa orang tak sebanyak di lobi kantor...Khanza dengan gaya pedenya berjalan santai, berjalan menuju ke ruangan suaminya.


Saat membuka pintu, Khanza kembali teringat masa-masa di mana ia mengendap-endap masuk keruangan itu hanya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, untuk memberikan surat pada Abizar. Ia tak menyangka jika sekarang ini bisa masuk kapan saja dan melakukan apa saja di dalam ruangan itu. Khanza sudah menjadi istri dari pemilik ruangan tersebut..


Khanza mengirim pesan pada Aqila jika ia sudah ada di kantor dan sudah ada di ruangan Abizar, mereka membuat janji akan bertemu siang nanti dan akan langsung ke mall.


"Kamu nggak mau ketemu sama teman-teman kamu?" tanya Abizar yang melihat Khanza hanya duduk di sofa di dalam ruangannya.


"Nggak, Mas. Lagian 'kan ini jam kantor enggak enak juga mengganggu pekerjaan mereka."


"Kamu yakin tak ingin mengganggu pekerjaan mereka, bukan karena malu dengan karyawan lain," Abizar kembali meledek, tanpa melihat Khanza, berpura-pura fokus pada laptopnya.


"Nggak, aku beneran gak mau ngerepotin mereka, nanti kakak marah lagi kalau pekerjaannya mereka nggak kelar-kelar. Kakak 'kan suka marah."

__ADS_1


"Aku ... suka marah?" kapan aku marah padamu?" tanya Abizar yang marasa ia tak pernah marah dengan  Khanza jika menyangkut pekerjaannya dulu.


"Kakak memang nggak marah sama aku, tapi kakak marah dengan yang lainnya jika pekerjaan mereka di tunda-tunda."


"Tentu saja aku akan marah jika mereka tak menyelesaikan pekerjaannya, mereka ke kantor untuk bekerja, bukan hanya bergosip dan mengesampingkan pekerjaannya. Mereka digaji untuk bekerja bukan hanya untuk datang ke kantor tiap hari dan duduk santai."


" Jika mereka tak mempunyai kesalahan dan tak menunda pekerjaannya, untuk apa juga aku memarahi mereka," lanjut Abizar.


"Justru itu aku di sini saja nunggu mereka, aku sudah menghubungi Aqila, dia akan menjemput


saat jam pulang nanti."


"Kan aku yang meminta untuk menghampiri mereka, adapun jika meraka menunda pekerjaanya aku sudah tau alasannya, apa kamu ga bosan menunggu di sini, jam pulang masih lama," melihat jam tangannya.


"Nggak, disini aja."


"Ya sudah, aku ada rapat, kamu mau tetap disini atau mau bertemu dengan teman-teman kamu?" tanya Abizar sekali lagi.


"Nggak, Kak. Aku nunggu sini aja," ucap Khanza merasa lebih nyaman duduk sofa daripada harus keluyuran di kantor.


"Aku keluar dulu," ucap Abizar keluar dari ruangannya.


Khanza berjalan-jalan menyusuri setiap sudut ruangan itu, ia melihat ada pintu lagi di sana, ia masuk dan ternyata itu adalah ruang istirahat dan terdapat tempat tidur besar di sana. Beberapa stelan jas kantor juga tertata tapi dan mata Khanza tertuju pada gelas yang ada di atas meja di samping tempat tidur, itu adalah gelas yang dulu sering ia gunakan membuat kopi.


Khanza menghampirinya dan membuka laci bagian atas, ia tersenyum saat melihat beberapa lembar surat yang dulu sering ia tulis untuk Abizar.


Khanza malu sendiri membaca tulisannya yang terdengar menggoda.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote komennya🙏


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Sambil nunggu update terbaru, mampir yuk kak ke novel terbaruku.

__ADS_1



Makasih, akak🙏🤗🥰


__ADS_2