
Kakek sudah berdiri dan mengambil barang-barangnya begitu juga nenek. Khanza juga ingin berdiri. Namun, ditarik oleh Abizar.
"Maaf Pak Mateo, kami tidak butuh semua ini. Bapak ambil saja semuanya. kalau tidak, Anda bisa sumbangkan ke yayasan atau panti asuhan," ucap Khanza.
Khanza kembali yang berdiri. Namun, kali ini Daniel yang menariknya untuk duduk Kembali, Abizar langsung menepis tangan Daniel yang memegang tangan istrinya.
Khanza juga langsung menepis tangan Abizar.
"Maaf Kak, Khanza ingin ikut kakek pulang ke kampung. Khanza nggak mengerti masalah ini yang jelasnya kami semua sudah memaafkan Mr.Alvin yang Bapak maksud, yang telah menabrak ayah dan ibu saya, tanpa ini semua kami sudah memaafkannya, mendengar niat baik beliau ingin meminta maaf kami juga sudah merasa senang. Saya permisi dulu, Pak," ucap Khanza kembali ingin berdiri. Namun, kali ini Danel dan Abizar yang menahannya agar Khanza tetap duduk.
"Kalian ini apa-apaan, sih?" ucap Khanza melihat mereka berdua, memandang keduanya bergantian dengan tatapan tak suka.
Daniel langsung mengambil surat wasiat itu Daniel dan Abizar sangat tahu berapa nominal yang ada di sana.
"Kami akan mengurusnya dan menghubungi Pak Mateo untuk kelanjutannya," ucap Daniel yang dijawab anggukan oleh Abizar.
"Iya Pak, tenang saja. Khanza pasti menerima kebaikan Mr Alvin. Semoga Mr. Alvin tenang setelah mengetahui niat baiknya diterima oleh keluarga Khanza," tambah Damar yang juga setuju jika Khanza menerima apa yang diberikan oleh Mr. Alvin.
"Baiklah kami permisi dulu, nanti kalian bisa menghubungi kami lagi. Masalah perusahaan akan tetap saya sendiri yang mengurusnya sesuai yang tertera di sana . Namun, tentu saja perusahaan itu tetap menjadi milik dari ibu Khanza.
"Tentu saja Pak, Anda yang lebih tahu mengenai perusahaan Mr. Alvin," ucap Daniel berdiri menyambut uluran tangan Pak Mateo begitu juga dengan Abizar dan Damar.
"Kalau begitu kami pamit dulu." Mr Alvin yang sekarang adalah pak Mateo dan beberapa orang nya pun meninggalkan ruangan Khanza.
Khanza hanya melongo melihat mereka bertiga, ia sama sekali tak mengerti dengan apa isi surat wasiat tersebut.
Khanza mengambilnya dari tangan Daniel dan melihatnya.
Khanza bukan orang bodoh dia bisa tahu berapa banyak yang Mr. Alvin berikan kepadanya.
__ADS_1
Khanza Langsung melempar berkas itu ke atas meja. Ia tak menyangka jika nominalnya sangat banyak.
"Anggap saja ini adalah rezeki anak-anakmu, rezeki putrimu," ucap Damar mengambil berkas itu dan memasukkannya ke dalam tas Khanza.
"Jika kau tak mengerti, kau bisa menanyakannya padaku, aku juga akan membantumu sekalian membantu perceraianmu," ucap Daniel.
Abizar hanya melihat pada Daniel dengan tatapan datar nya.
Daniel hanya tersenyum sinis melihat tatapan Abizar kemudian membantu kakek membawa barang-barangnya.
Jika hubungannya dengan Khanza tak memanas seperti ini mungkin Abizar langsung melayangkan tinjunya. Namun, ia menjadi serba Salah dan hanya bisa melihat Daniel yang terus menggoda Khanza.
Abizar melihat Khanza yang mulai mengambil beberapa barangnya, melihat ibunya yang terus menciumi bayi mereka seolah tak ingin berpisah dari cucu-cucunya, Farah yang terus memeluk Aziel.
"Apakah pernikahanku akan berakhir seperti ini," batin Abizar melihat Khanza, ia hanya bisa pasrah dengan keadaan, rasa bersalahnya membuat ia tak bisa berbuat apa-apa. Khanza memaafkannya itu sudah cukup walau perceraian menantinya.
Abizar dengan malas mengambil semua barang-barang yang tersisa dan mereka pun berangkat ke bandara.
"Iya Mbak, sampai kapanpun Khanza akan tetap menganggap Mbak itu sebagai kakak bagiku, Bubu dari Aziel dan bayi kecilku ini, walau aku sudah tak bersama dengan kak Abi, Mbak masih bisa mengunjungi kami kapanpun Mbak mau," ucap Khanza.
"Terima kasih ya, kamu memang wanita yang baik," ucap Farah menunduk mengecup bayi mungil Khanza yang berada di gendongannya kemudian berjongkok mencium Aziel yang sajak tadi menarik baju Khanza, ia sudah tak sabar ingin naik ke pesawat.
"Sampai disana jangan lupa ya sama Bubu, Bubu akan selalu menunggu telepon dari Ziel, ok!"
"Ok Bubu," jawab Aziel.
" Jagain adek juga ya, jangan nakal, dengar apa yang Mama katakan," ucap Farah dengan suara bergetar. Namun, tetap tersenyum. Aziel hanya mengangguk mendengar apa yang dikatakan Bubunya.
"Baik Bubu, Bubu juga jangan lupa kalau tidak sibuk, tidak bekerja, tidak jaga Papa, bubu ke kampung kakek ya, Ziel akan selalu nunggu Bubu," ucap Aziel. membalas pelukan Farah.
__ADS_1
Farah melepas pelukannya dan mencium lama kening Aziel kemudian berpindah menciumi kedua pipinya.
"Bubu sayang sama Ziel, jadi anak yang pintar dan sehat ya, Nak," ucap Farah kembali memeluk Aziel seolah tak rela melepaskan mereka.
Warda juga memeluk para cucunya, nenek pasti akan sangat merindukan kalian," ucap Warda ia benar-benar tak tega melepas kedua cucunya itu, tapi dia sadar atas semua kesalahannya, kesalah yang membuat Khanza memutuskan meninggalkan mereka. Perbuat mereka memang salah dan Khanza berhak atas kehidupannya. Warda sudah mengetahui jika Abizar dan Khanza telah sepakat untuk bercerai.
"Khanza maaf ya, jika selama ini Mama punya salah sama Kamu, Kamu akan tetap menjadi menantu Mama," ucap Warda memeluk Khanza dan mencium cucu-cucunya.
Mereka pun berangkat menaiki pesawat jet pribadi. Kakek, nenek, Khanza, dan kedua anaknya serta Abizar yang mengantar mereka pun meninggal kota mereka.
Daniel, Aqila, Farah, dan Wardah hanya bisa melihat mereka dan melambaikan tangan.
Damar dan keluarga juga keluarganya ikut mengantar mereka.
Kebersamaan mereka beberapa bulan membuat mereka ikut merasakan kehilangan.
"Semoga kalian bahagia," doa mereka semua melihat pesawat mereka semakin menghilang di balik awan.
Warda terduduk, tangisnya pecah, "Cucuku," ucap Warda menangis di pelukan Farah.
Farah hanya bisa mengelus punggung mertuanya itu ia sendiri tak tahu bagaimana cara menghiburnya sementara Ia juga merasa sangat kehilangan mereka semua, Farah terus berdoa semoga Khanza bisa mengubah keputusannya dan bisa memaafkan kesalahan Abizar. Bisa kembali berkumpul bersama mereka walaupun mungkin air sangat kecil. Namun Farah tetap berharap semua itu bisa terjadi.
Warda pulang, ia terus saja mengingat cucunya. Farah mencoba membantu, Warda berdiri dan mereka pun kembali ke mobil. Sepanjang perjalanan pulang Warda terus terisak terus saja menangis bayangan kedua cucunya yang terlintas di benaknya, kita tak akan bisa lagi melihat mereka berdua, mereka sudah jauh. Aku kehilangan kedua cucunya karena keegoisan nya sendiri.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Salam kenal dariku Author M Anha ❤️
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖