
Sudah tiga hari Abizar dan Farah mengunjungi kediaman Mr. Alvin di mana Khanza sedang ada di sana bersama dengan kedua anaknya, Farah selalu mengirim pesan kepada Khanza jika ingin ingin bertemu dengannya. Namun, Khanza tetap saja tak membalas pesannya.
Khanza akan pergi sebelum mereka datang dan pulang setelah mereka pergi.
Bukan cuman Farah, Abizar juga terus melakukan hal yang sama bahkan di beberapa kesempatan ia sengaja mendatangi Khanza di perusahaan Mr Alvin. Namun, tetap saja Khanza tak ingin mau menemuinya.
Abizar mengirim pesan kepada Khanza jika mereka akan pulang besok, ia juga menitipkan pesan pada bibi agar menyampaikan pesan tersebut kepada Khanza jika ia ingin bertemu sebelum kembali.
Tak ada ada jawaban, Abizar merasa benar- benar tak dianggap ada oleh Khanza.
Sebelum ke Bandara Abizar dan Farah kembali mengunjungi Aziel dan juga Aisyah, hari itu pun sama walau mereka datang lebih awal dari biasanya Khanza tetap tak mau menemui mereka, Khanza memilih mengurung dirinya di kamar.
Abizar yang tau Khanza belum berangkat bekerja menghampiri kamar Khanza.
Mengetuk pintu.
"Khanza aku tau kau mendengarkan ku, aku tahu kau masih marah padaku, tapi bisakah kita bertemu sekali, aku mohon," ucap Abizar dari balik pintu.
Khanza mendengarnya. Namun, tak ada niat untuk menjawabnya. Khanza bersandar di pintu mendengar semua yang Abizar katakan.
Abizar mencoba membuka pintu, tapi pintunya terkunci.
Setelah lama membujuk Khanza Abizar pun menyerah. Sudah waktunya ia ke Bandara.
Tiba di Bandara.
"Mas aku ga pulang dulu ya!" ucap Farah menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Abizar.
"Aku sedang ada rapat penting, aku tak enak meninggalkan klienku, aku kemarin tak sengaja bertemu dengannya," ucapnya menjadikan pekerjaan tersebut sebagai alasan.
"iya, tak apa. apa tak masalah jika aku pulang lebih dulu?"
"Iya Mas, aku nggak masalah, Mas pulang saja lebih dulu jika urusanku sudah selesai aku akan kembali," ucap Farah.
"Baiklah." Abizar masuk ke dalam pesawat dan kembali ke negaranya dan Farah kembali untuk mengurus bisnisnya.
Bisnisnya sudah lama ia tinggalkan membuat bisnisnya sedikit terbengkalai. Farah memutuskan untuk kembali merintisnya dan kembali mengembangkannya.
'Semoga Khanza bisa memaafkan Mas Abi," lirih Farah melihat foto mereka semua, dimana foto itu ada Abizar, dirinya, khanza dan juga Aziel yang masih bayi, Farah juga mengambil foto Aisyah dan memajangnya di meja kerjanya.
Hari terus berlalu Farah terus mencari alasan agar ia tinggal di negaranya sekarang ya beralasan jika banyak pekerjaan yang tak bisa ditinggalkannya.
__ADS_1
Tak terasa sebulan sudah Farah di negara itu, walau ia di negara yang sama dengan Khanza ia tak pernah mengunjungi mereka, ia tak ingin mereka tau jika Ia ada di negara itu juga.
Khanza juga sudah kembali ke kampung kakek dan neneknya, urusannya sudah selesai sekarang ia tinggal menunggu beberapa hari lagi untuk launching perusahaan barunya, sekaligus merekrut semua perusahaan besar untuk bekerjasama dengan mereka dalam proyek yang akan mereka kerjakan.
"Khanza kamu yakin akan tinggal di sana?" tanya nenek sambil membantu Khanza mengepak semua pakaiannya dan juga pakaian kedua cucunya.
"Iya, Nek. Pak Matteo sudah memberikan rumah yang layak di sana aku dan anak-anak akan tinggal disana, selain nyaman lokasinya juga sangat dekat dengan kantor, jadi aku tak usah membawa mereka ke kantor aku bisa bolak-balik antara kantor dan rumah," ucap khanza menerangkan.
"Apa kamu mau Nenek dan kakek menemanimu?"
"Khanza senang kalau kakek dan Nenek juga ikut dengan Khanza, tapi jika nenek tak nyaman tinggal di kota dan lebih nyaman tinggal di sini Khanza baik-baik saja, kakek dan Nenek sesekali saja menjenguk kami, lagian kan ada bibi yang selalu setia menemani Khanza," ucap Khanza melihat bibi yang ada di dekatnya, yang jaga ikut membantu mengemas barang-barangnya.
"Iya, Nek. Khanza sudah seperti adik saya, saya akan selalu menjaga dan membantunya mengasuh anak-anak. Nenek tak usah khawatir," ucap Bibi.
"Terima kasih ya, Bi. Kamu itu sangat membantu cucu Nenek, terima kasih sudah menjaga cicit dan cucu Nenek selama ini," ucap Nenek pada Bibi.
"Iya, Nek," jawab Bibi tulus.
Tiba saatnya Khanza untuk pindah ke kota ke rumah barunya, ke kota yang sama dengan orang yang dicintai dan dibencinya. Kota yang memberinya banyak kebahagiaan dan juga banyak penderitaan. Namun, Khanza mencoba untuk melupakan semua penderitaannya dan ingin memulai kehidupannya.
Hal pertama yang ia lakukan saat sampai di kota itu adalah menghubungi Aqila.
"Aku pikir kau sudah melupakan ku," Protes Aqila saat mengangkat panggilan Khanza, selama ini Khanza tak pernah lagi meneleponnya.
"Kamu apa kabar, aku kangen banget sama kamu, sama Aziel dan Aisyah. Kalian kapan datang ke kota ini, kapan kalian datang lagi ke kontrakan ku yang sederhana," ucap Aqila.
"Aku sudah ada di kotamu, dan mulai sekarang aku akan tinggal disini. Aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu aku tak mau tahu kau harus datang," ucap Khanza.
"Benarkah? yang sudah kirimkan alamatnya aku akan kesana, lagian sebentar lagi pekerjaanku akan selesai," ucap Aqila yang sekarang sudah bekerja di kantor Daniel.
Aqila langsung menghampiri Khanza di alamat yang dikirimnya. Mereka menghabiskan waktu bersama, mereka sudah sangat lama tak bertemu dan ingin menghabiskan waktu berdua. Khanza juga mengajak Aqila untuk pindah kerumah dan bekerja membantunya, tentu saja Aqila langsung setuju.
"Bagaimana hubungan mu dengan Abizar?" tanya Aqila yang tau benar bagaimana perasaan sahabatnya itu.
"Aku tak mau membahasnya, kita bahas yang lain saja," tolak Khanza, ia tak ingin membahas masalah hubungannya dengan Abizar lagi walau itu dengan Aqila.
Sementara itu Abizar terus merasa kesepian, ya memilih menghabiskan waktunya di kantor daripada kembali ke rumah.
Fahri menghampirinya dan memberikan secangkir kopi di mejanya.
"Aku dengar Khanza yang akan memimpin perusahaan itu nantinya mendampingi Pak Matteo, secara tidak langsung kita akan bekerjasama dengannya," ucap Fahri berdiri di depan jendala besar yang ada di ruangan Abizar.
Abizar hanya mengangguk, ia mengambil kopi nya dan menghampiri Fahri. Memandang kerlap-kerlip lampu di bawah sana.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja," tanya Fahri yang melihat wajah lesu bosnya itu.
"Tak ada yang baik-baik saja dalam kehidupanku sekarang," jawabnya, ia terus memijat tengkuknya merasa sangat pusing dengan kehidupannya, ia memiliki dua orang istri, tapi keduanya tak ada di sampingnya.
Ya, ia merindukan keduanya Farah yang selalu beralasan tak bisa kembali karena pekerjaannya sedangkan Khanza terus aja mengabaikan panggilannya ia benar-benar frustasinya dibuatnya, belum lagi Daniel yang terus menerornya.
"Apakah kau akan lembur lagi?" tanya Fahri.
"Iya, aku lebih suka tinggal di kantor, aku semakin pusing saat kembali di rumah," ucapnya.
"Ya sudah, aku pulang dulu," ucap Fahri berpamitan meninggalkan Abizar yang masih terus termenung memandang keluar jendela.
Abizar yang tak tahu harus berbuat apa memilih untuk pergi ke rumah lama Khanza, rumah yang sudah lama kosong. Namun, kenangan mereka masih ada di sana.
Abizar masuk ke kamarnya mengusap tempat tidur yang selama ini mereka tiduri tak ada yang lagi kemesraan di antara mereka. Ia berbaring dan mengambil ponselnya melihat foto-foto yang sudah diambil nya, banyak foto Aisyah dan juga Aziel di sana.
"Anak-anak Papa, papa sangat merindukan kalian," lirih nya.
Terakhir ia melihat foto Khanza yang senyum, begitu sangat cantik.
Abizar menghela nafas, kemudian ia mengambil handuk dan bersiap untuk mandi, saat masuk kamar mandi ia melihat peralatan mandi Khanza masih lengkap di sana, ia kembali mengingatkan masa-masa indahnya dengan Khanza.
Begitupun saat akan mengambil pakaiannya ia juga melihat pakaian Khanza ada disana, berdampingan dengan pakaiannya. Abizar tersenyum mengambil pakaian Khanza yang sering dipakai Istrinya itu, ia masih mengingat jelas saat Khanza memakai pakaian itu dan tersenyum kepadanya.
Kehidupannya benar-benar berubah biasanya yang tak pernah mengambil pakaiannya sendiri. Begitu ia selesai mandi pakaiannya sudah siap di atas tempat tidur dan ada yang membantu mengeringkan rambutnya.
Abizar menertawakan kehidupannya sendiri, sekarang ia bener-bener merasa sendiri.
Ia memiliki dua orang istri. Namun, seperti tak memiliki keduanya, ia memiliki dua orang anak, tapi ia merasa kesepian.
Abizar berjalan ke balkon kamarnya, di balkon itu biasanya ia selalu menghabiskan waktu dengan Khanza menatap indahnya malam, Namun, kali ini ia hanya sendiri dengan semua kerinduannya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Maaf jika tak sesuai dengan keinginan kalian 🙏🤗
Salam dariku Author M Anha.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mampir kak ke karya ku yang lainnya 🙏
__ADS_1