Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Sebuah Ikatan Cinta


__ADS_3

Semua tersentak kaget saat Daniel menggebrak meja.


"Aku membayar kalian dengan sangat mahal bukan untuk mendapatkan hasil seperti ini. Kalian sudah lama mencari, tapi sedikit pun kalian tak memberikan informasi kejelasan dimana Khanza berada. Apa ini yang kalian namakan bekerja." geram Daniel.


Daniel juga membayar beberapa agen untuk mencari Khanza. Namun, ia juga tak mendapat informasi sedikitpun. Daniel bahkan menjanjikan sejumlah uang bagi yang bisa menemukan Khanza lebih dulu.


"Maaf, Pak. Tapi kami sudah mencarinya kemana pun, memeriksa di setiap tempat, hasilnya tetap sama, orang yang Bapak cari bagaikan hilang ditelan bumi," jawab Salah satu detektif.


Mendengar itu Daniel langsung melempar orang itu dengan pena yang dipegangnya.


"Bukan Itu jawaban yang kuinginkan dari bayaran yang kuberikan," ucap Daniel menatap mereka semua. Jika kalian bisa mendapatkannya informasi secepat mungkin, aku akan membayar kalian 10 kali lipat dari yang kujanjikan," tambah Daniel.


Mereka semua menunduk hormat dan keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana ini, aku sudah mencari ke semua tempat memeriksa bandara, terminal, aku bahkan memeriksa hampir setiap CCTV di pusat perbelanjaan, di jalan, maupun di Bandara. Kita tak bisa menemukan wanita itu, dimana sebenarnya orang itu," ucap mereka sambil terus berjalan meninggalkan ruangan Daniel.


Sementara itu di Apartemen Khanza.


Kakek sudah setuju untuk pindah ke rumah Damar untuk sementara waktu, mereka pun mulai berkemas sambil menunggu Damar pulan dari tempat kerja nya.


"Apa kita harus pindah kerumah Damar, Apa tak bisa kita tinggal di tempat lain saja? Lagian untuk sementara kita tinggal di Apartemen ini juga tak apa, aku sudah sudah merasa betah tinggal di sini, Nek," ucap Khanza merasa tak enak saat mengetahui mereka akan pindah ke rumah Damar.


"Apa kamu nggak kasihan dengan Aziel, dia juga bosan tinggal di Apartemen ini, jika di rumah Damar di sana ada anak kecil yang bisa menemaninya bermain dan ia juga bisa bermain di halaman rumah," ucap nenek asal.


"Iya, bosan juga tinggal di apartemen, Aziel juga pasti bosan 'kan? Dengan pindah ke rumah Damar sedikit bisa membuat ia lupa pada Papanya," ucap Aqila mencari alasan.


Mendengar ucapan Aqila jika Aziel mungkin saja bisa melupakan Abizar membuat Khanza akhirnya setuju dan mulai ikut membantu membereskan barang-barang yang akan mereka bawah.


Mereka sudah siap untuk pergi, tinggal menunggu Damar menjemput mereka.


Damar sebelumnya sudah memeriksa jalan pulang ke rumahnya, ternyata di beberapa titik ada pemeriksaan dan sepertinya pemeriksaan itu mencari mereka, Damar mengawasi mereka semua dan mereka menghentikan pencarian saat lewat tengah malam.


Khanza berbaring di sofa, kepalanya kembali pusing.


"Kamu pusing lagi?" tanya Aqila.


"Iya, Kenapa ya padahal sudah rutin meminum obat yang diberikan Damar, tapi pusingnya nggak ilang-ilang. Aku kok kayak lagi hamil ya, aku masih ingat waktu hamil Aziel, aku juga merasakan seperti ini walau ini lebih pusing," gumam khanza.


Nenek dan Aqila saling melihat.

__ADS_1


"Nanti juga sembuh kok," ucap Aqila menepuk bahu Khanza.


"Ini sudah jam 11 malam, kenapa Damar belum pulang ya, belum menjemput kita" ucap Aqila.


"Mungkin dia masih ada kerjaan, kita tunggu saja," ucap nenek.


"Khanza coba kamu telepon Damar," pinta Aqila.


Khanza memanggil nomor Damar, saat sambungan terhubung Khanza langsung memberikan ponselnya kepada Aqila, dia benar-benar malas untuk berbicara.


"Halo Damar, Bagaimana apa malam ini kita jadi ke rumahmu?" tanya Aqila.


"Iya, jadi. Aku nunggu penjagaan pulang dulu di jalan X, sepertinya masih ada orang-orang yang mencari kalian di jalan ini," ucap Damar yang sedang mengawasi jalan yang akan mereka lalui. Jarak dari Apartemen dan rumah Damar hanya berjarak 3 jam perjalanan, dan mereka harus melawati 2 tempat pemeriksaan.


"Ya ampun, mereka segila itu mencari kami. kita jadi kayak buronan gini Sih" ucap Aqila.


"Kamu tenang aja, aku sudah memeriksanya, diatas jam 12.00 malam mereka sudah pulang dan kita akan aman," ucap Damar yang masih setia mengawasi jalan yang akan mereka lalui.


"Aku tak menyangka jika Khanza bisa sampai diawasi sebegini ketatnya. sebenarnya siapa suami Khanza sampai mereka bahkan mencarinya begitu ketat ," gumam Damar.


Damar sudah menyelidiki sebelumnya ternyata benar apa yang dikatakan Aqila banyak yang mencarinya.


Saat melihat orang-orang yang mengawasi jalan sudah pulang, Damar langsung kembali ke Apartemen, mereka harus cepat, takut jika ada yang lain yang menggantikan mereka.


Aziel sudah tidur dan sudah di gedongan Aqila. Mereka juga memakai penyamaran tak ingin mengambil resiko walau sudah tengah malam.


Saat di tengah perjalanan Aqilah tiba-tiba ingin buang air kecil.


"Kamu tahan ya," ucap Damar.


"Aku udah ga tahan, aku bisa pipis di celana ini, udah kebelet banget ini."


"Kamu ini ada-ada saja, kita lagi buru-buru malah pingin pipis.


"Ya mau gimana lagi, udah ga bisa ditahan ini."


"Ya udah, kita singgah dulu di minimarket," ucap Damar mencoba mencari minimarket atau tempat lainnya.


Damar menepikan mobilnya di parkiran minimarket, Aqila akhirnya pun turun dan langsung berlari ke kamar mandi, sementara Nenek, Kakek, Khanza dan Aziel sudah tertidur di jok belakang.

__ADS_1


Selang beberapa saat sebuah mobil masuk dan parkir di samping mobil Damar, mobil itu adalah mobil Abizar.


Abizar sepertinya singgah membeli sesuatu. Aqila yang telah selesai melihat Abizar dan langsung menghentikan langkahnya mencari tempat yang aman.


"Semoga saja Aziel tidak bangun dan melihat Papanya," batin Aqila yang berjongkok menyembunyikan dirinya.


Tak lama kemudian Abizar keluar dari minimarket dan menuju ke mobilnya. Khanza tiba-tiba terbangun dan merasakan sesuatu dan saat ia berbalik menatap keluar jendela ia melihat suaminya tepat disampingnya.


Beruntung kaca mobil mereka tertutup dan Abizar tak bisa melihat Khanza yang ada di dalam mobil, tapi Khanza bisa melihat dengan jelas Abizar yang ada di luar berdiri tepat di sampingnya.


Khanza membuka sedikit kaca mobilnya, ia bisa mencium aroma parfum yang sangat di rindukannya. Khanza juga melihat penampilan suaminya yang sangat berantakan. Setetas air mata jatuh ke pipinya. Hatinya benar-benar perih. Namun, sekuat hati ia menahan semuanya. Ia sudah bertekad untuk meninggalnya.


Abizar masuk ke mobil dan pergi dari sana.


"Papa" ucap Aziel terbangun merasakan kehadiran papanya.


Khanza hanya mengangguk dan memeluk erat tubuh mungil putranya, dan Aziel kembali tertidur.


Aqila yang melihat Abizar sudah pergi dengan cepat berlari dan masuk ke dalam mobil.


"Kamu kenapa?" tanya Damar melihat heran pada Aqila.


"Mobil yang di samping tadi itu mobil suaminya Khanza, Ayo cepat kita pergi dari sini." Ucap Aqila.


Damar dan Aqila langsung melihat ke arah belakang saat mendengar isak tangis pelan Khanza.


Mereka saling tatap dan mengangguk, Damar pun kembali menjalankan mobilnya. Mereka harus segera sampai.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote, dan komennya 🙏


Salam dariku Author M Anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Mampir ke karya teman ku juga ya kak.😘

__ADS_1



__ADS_2