
Pak Matteo mendatangi rumah kakek Khanza yang ada di kampung. Pak Matteo tak begitu sulit menemukan rumah tempat tinggal Khanza karena selama ini ia juga mengawasi tempat kediaman kakek.
Nenek berjalan cepat menghampiri kakek yang sedang bermain dengan Aziel di halaman belakang. Memberi makan beberapa hewan ternak kakek.
"Diluar ada Pak Matteo," ucap nenek tergopoh-gopoh menghampiri kakek dan juga Aziel.
"Pak Matteo? Orang yang memberikan warisan kepada Khanza?" tanya kakek.
"Iya, kek. Mereka ada di luar. Nenek sudah mempersilahkan mereka masuk, ayo kakek temui mereka."
Kakek pun berdiri merapikan penampilannya, "Panggil Khanza," ucap kakek sebelum pergi menemui Pak Matteo, tak lupa ia membawa Aziel bersamanya, sementara nenek kembali
berjalan cepat menuju ke lantai atas dimana Khanza sedang bersama dengan bayinya, yang mereka beri nama Aisyah.
"Ada apa, Nek?" tanya Khanza melihat neneknya ngos-ngosan saat menghampiri mereka.
"Di bawah ada pak Matteo, katanya ingin bertemu kamu dan kakek. Ayo temui sana, Kakak sudah menemuinya Aisyah biar Nenek yang menjaganya," ucap nenek duduk disamping Khanza sambil terus mengatur nafasnya.
Khanza masih melanjutkan apa yang di lakukannya, dan terus memakaikan pakaian pada bayinya yang baru saja selesai dimandikannya.
"Ayo sana, temui tamunya. Tak enak membiarkannya menunggu lama."
"Sabar, Nek. Kan ada kakek yang menemaninya, tamunya nggak sendiri di bawah," ucap Khanza masih dengan santainya memakaikan pakaian kepada bayinya sambil terus mengajaknya berkomunikasi.
Nenek ikut membantu apa yang Khanza lakukan, agar pekerjaannya cepat selesai.
"Bagaimana menurut nenek, apa kita ambil saja apa yang diberikan oleh Mr Alvin?" tanya Khanza melihat pada neneknya.
"Niat Mr. Alvin baik. Kalau menurut Nenek tak ada salahnya menerima apa yang diberikannya, mungkin dengan begitu ia bisa sedikit lebih tenang. Mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menebus rasa bersalahnya kepada kedua orang tuamu. Lagian kalau kamu benar-benar bercerai dengan Abizar kamu membutuhkan biaya untuk membesarkan anak-anakmu, memang sekarang biayanya masih bisa ditanggung Abizar, tapi alangkah baiknya kamu tak tergantung padanya. Kita tidak tahu kedepannya apa yang akan terjadi, sebaiknya kamu ambil saja, itu memang sudah menjadi hak kamu."
"Bagaimana dengan kakek? Bagaimana kalau kakek menolaknya?"
__ADS_1
"Kau jauh lebih berhak atas harta itu Kakek juga pasti menyetujuinya mengingat kau memang sudah membuatkan hatimu untuk berpisah dengan Abizar, tak selamanya kami menemani kalian. Kamu harus menjadi kuat untuk anak-anakmu." Nenek menggenggam tangan cucunya.
"Ya sudah, Nek. Aku titip gadis kecilku ini ya," ucap Khanza mengecup pipi putrinya sebelum pergi menemui Pak Mateo.
Khanza berjalan menghampiri kakek dan Pak Matteo serta Asistemnya.
"Apa kabar Ibu Khanza, kami datang kesini untuk membahas masalah apa yang Mr.Alvin berikan kepada Anda. Kami mohon untuk Anda menerimanya, ini sudah diamanahkan kepada kami. Kami merasa tak enak jika tidak menyampaikan amanah beliau," ucap Matteo.
"Tapi, saya sama sekali tidak terlalu ahli dalam bisnis Pak. Saya pernah bekerja sebagai karyawan biasa saja dan untuk menjalankan perusahaan sebesar saya benar-benar tak sanggup, Pak!" jawab Khanza.
"Jika Itu masalahnya Anda jangan Khawatir, itu tugas kami untuk mempersiapkan Anda menjalankan perusahaan ini, Anda juga tak usah khawatir kami akan terus berada di belakang Anda membantu untuk terus menjalankan perusahaan yang ditinggalkan Mr. Alvin.
"Tapi, bagaimana dengan anak-anak saya?" tanya Khanza yang tahu betul bagaimana kesibukannya menjadi seorang ibu untuk 2 orang anak yang masih balita.
"Untuk itu kami sudah memikirkannya, Anda akan tetap berada di dirumah dan mengerjakan beberapa tugas untuk sementara waktu yang telah kami siapkan via online saja, kami juga akan menyiapkan orang disini yang akan mengajari Anda cara menjalankan perusahaan Mr. Alvin."
Pak Matteo memberikan sebuah berkas yang harus ditandatangani oleh Khanza, berkas yang menyatakan jika Khanza menerima seluruh apa yang Almarhum Mr. Alvin berikan kepadanya.
"Itu adalah hakmu, ambillah demi anak-anakmu," ucap kakek dan mengerti jika Khanza ke depannya akan sangat membutuhkan semua itu, apalagi status pernikahanya yang di ambang perceraian.
Khanza akhirnya menandatangani berkas tersebut dan memberikannya kepada kepada Pak Matteo.
"Mohon bantuannya, Pak. Saya benar-benar tidak tahu mengenai perusahaan ini, bagaimana cara menjalankan sebuah perusahaan besar," ucap Khanza.
"Anda sudah pernah menjadi karyawan itu sudah cukup dan menurut yang saya dengar Anda juga karyawan yang cukup diperhitungkan di perusahaan pak Abizar sebelumnya, jadi saya rasa tak akan ada kesulitan mengajari Anda untuk menjadi pemimpin perusahaan yang akan kami buka tiga bulan lagi.
"Perusahaan? 3 bulan?" tanya Khanza tak mengerti.
"Aku sengaja mendirikan perusahaan cabang perusahaan yang di luar negeri, sehingga Anda bisa mengontrol seluruh saham Anda dari kantor tersebut tanpa harus ke luar negeri ke kantor pusat. Saya berencana perlahan-lahan akan memindahkan Sebagian kerajaan bisnis beliau ke negara ini agar tak menyulitkan Anda."
Khanza menelan liurnya, "Sebenarnya sebanyak apa harta yang baru saja aku dapatkan," batin Khanza melihat berkas yang baru saja di tanda tanganinya.
__ADS_1
"Tiga bulan lagi proyek akan kami mulai, pak Abizar salah satu dari anggota yang menanam saham terbesar di proyek tersebut dan kedepannya kita akan menjalin kerjasama dengan pak Abizar, Apakah Anda tak masalah dengan situasi itu?" tanya pak Matteo memastikan ia mengetahui situasi kondisi rumah tangga Khanza dan Abizar.
"Aku sama sekali tidak masalah, Pak. Aku mohon bimbingannya," ucap Khanza bertekad untuk belajar menjadi lebih baik demi anak-anaknya.
"Kalau begitu kami permisi dulu," ucap Pak Matteo dan kembali ke kota dengan pesawat jet pribadi yang nantinya akan digunakan Khanza mempermudahnya dalam menjalankan Bisnisnya.
Khanza menatap Kakek,
"Ayah dan ibumu selalu ada untukmu walau mereka sudah tak ada. Anggap saja ini adalah pemberian mereka," ucap kakek mengusap punggung cucunya kemudian kembali mengajak cicitnya untuk bermain.
Kehadiran Aziel sungguh sangat menghibur kakek, mereka semakin dekat. Namun, kakek akan merasa sedih saat Aziel terus menanyakan Papanya. Kapan papanya akan datang lagi.
"Aku pasti bisa melakukan ini semua demi anak-anakku. Terima kasih Ayah, Ibu kalian masih ada untuk Khanza sampai saat ini," lirih Khanza.
Hari-hari Khanza semakin sibuk,selain dengan mengurus anak-anaknya ia juga harus mulai belajar bekerja dengan bimbingan 2 orang karyawan yang dikirim oleh Pak Matteo.
Pak Matteo juga menyiapkan pesawat jet pribadi untuk Khanza agar bisa langsung ikut belajar menangani perusahaan Mr. Alvin yang ada di luar negeri.
Saat Khanza sedang sibuk beruntung ada Bude yang selalu membantunya mengurus anak-anaknya.
Seminggu sekali secara rutin pak Matteo akan mengajak Khanza untuk mengikuti rapat di luar negeri dan memperkenalkannya kepada rekan bisnis yang menjalin kerjasama dengan perusahaan Mr. Alvin Alfaro.
Khanza yang awalnya kaku perlahan mulai terbiasa dan sudah mulai mengenal seperti apa bisnis yang dijalankan oleh Perusahaan Mr. Alvin dan bagaimana cara pengoperasiannya.
Khanza yang cepat tangkap dalam pekerjaan dengan mudah mampu mempelajarinya sedikit demi sedikit apalagi dengan bantuan profesional yang selama ini tinggal rumahnya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Salam dariku Author M Anha 🙏
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖