
Begitu Lucia masuk ke rumah, ia yang sejak tadinya mengomel terdiam saat melihat tatapan tajam dari Azriel yang sudah menyambutnya di ruang tamu.
"Ada apa dengan Aisyah? Mengapa dia menangis?" tanya Azriel yang tadi bertemu dengan Aisyah dan ia bisa melihat adiknya itu berlari ke kamarnya dengan menangis.
"Menangis? Nggak kok tadi dia baik-baik saja di mobil, mungkin dia punya masalah lain dengan temannya," jelas Lucia karena ia sendiri tak tahu jika Aisyah menangis saat bersamanya.
"Memangnya kalian dari mana, ini sudah jam berapa, Lucia?" tunjuk Azriel pada jam besar yang ada di dinding di ruang tamu, jam sudah menunjukkan jam 12.00 malam lewat.
"Kami hanya jalan-jalan saja kok, nggak kemana-mana," jawabnya sambil berlalu menuju ke kamarnya. Azriel berjalan di belakang Lucia.
"Aku belum selesai bicara, Lucia!" ucap Azriel membuat Lucia yang tadi ingin ke kamarnya kini menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Azriel dengan tatapan kesalnya balik.
"Ada apa?" tanyanya ketus, ia masih marah karena tadi Azriel terus saja mengabaikannya saat di tempat acara wisudahannya. Padahal ia sudah dandan secantik mungkin, tetapi Azriel bahkan tak menyapanya. Lucia sangat ingin berfoto dengannya sebagai kenangan.
"Dengar, selama ini Aisyah tak pernah pulang selarut ini dan banyak tempat-tempat yang tak boleh ia datangi. Jadi, jika kamu ingin pergi ke tempat yang tak boleh di datangi oleh Aisyah jangan mengajaknya, terlebih lagi jika kamu ingin pulang larut malam seperti ini."
Mendengar itu Lucia hanya menghela napas, benar-benar membosankan. Di luar negeri, ia pergi jauh lebih tengah malam lagi dan selama ini ia baik-baik saja, kedua orang tuanya juga tak ada yang melarangnya. Mereka percaya padanya.
"Iya, baiklah. Lain kali aku tak akan mengajaknya ke tempat-tempat yang aneh dan tak akan lewat dari jam 10.00 malam, puas! Sudah ya aku pusing, aku mau tidur," ucap Lucia yang berbalik ingin kembali naik ke kamarnya yang ada di lantai 2, ia baru saja menapaki anak tangga.
"Kamu dari klub malam ya? Apa kamu juga membawa Aisyah masuk ke sana? Apa terjadi sesuatu di sana sampai dia menangis?" tegas Azriel, sepertinya Lucia tak bisa diajak bicara baik-baik.
"Aku tak ke sana dan Aisyah tak menangis bersamaku, kamu ini apa-apaan sih!" ucap Lucia tak suka dengan bentakan Azriel.
__ADS_1
Azriel berjalan mendekati Lucia, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Lucia, membuat Lucia yang berpikir Azriel ingin mencium bibirnya karena jarak mereka yang sudah begitu dekat, membuat ia memejamkan matanya bersiap ingin mendapatkan ciuman Azriel.
"Apa kau pikir aku bodoh! Kau bau alkohol, jika bukan ke klub malam di mana kamu minum alkohol itu? Dengar Lucia, aku peringatkan padamu! Jika memang kamu ingin ke tempat seperti itu, jangan sekali-kali kamu membawa Aisyah bersamamu. Jika sampai aku melihatmu, aku akan pastikan kamu tak akan tinggal di sini lagi!" tegas Azriel kemudian ia pun meninggalkan Lucia yang masih terpaku dengan kekecewaannya. Ia tak mendapat ciuman dari Azriel, tapi justru mendapat bentakan dan ancaman.
Lucia menghentakkan kakinya, kemudian ia pun melangkah masuk ke kamarnya, sebelum ia masuk ia melihat tajam ke pintu Aisyah.
"Apakah tadi anak itu menangis?" gumam Lucia kesal, semua karena Aisyah sehingga ia mendapat amarah dari Azriel. "Dasar manja!" kesalnya yang berpikir jika Aisyah menangis hanya karena menunggunya terlalu lama saat ia masuk ke klub tadi.
Sementara itu, Aisyah begitu sampai di kamarnya ia langsung melepaskan semua pakaiannya, ia membuang pakaiannya itu ke tempat sampah, ia merasa jijik karena pakaian yang telah disentuh oleh orang-orang yang hampir melecehkannya tadi. Ia langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, salah satu dari mereka sempat memeluknya dan menciumnya dan ia tak suka akan hal itu.
Aisyah menangis di bawah kucuran shower, tubuhnya masih bergetar hebat. Ia terus menggeleng tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika sampai ia benar-benar dilecehkan.
"Siapa pria tadi? Untung saja dia datang tepat waktu,jika tidak ...," ucap Aisyah kembali menggeleng.
Aisyah terus di kamar hingga ia merasa tubuhnya jauh lebih baik, dia keluar dari kamar mandi dan menatap pantulan dirinya di cermin. Banyak bekas merah di tubuhnya karena ia menggosok tubuhnya dengan begitu lama, ia ingin menghilangkan sentuhan dari pria tadi.
"Kak Lucia, aku membencimu! Semua ini terjadi karenamu!" gumam Aisyah melihat pantulan dirinya di cermin, ia menyesal karena selama ini berpura-pura mendukung Lucia dan kakaknya, ia melakukan semua itu hanya untuk menjaga perasaan Lucia dan berharap Lucia akan mengerti dengan sendirinya suatu saat nanti jika kakaknya tak mencintainya dan tak menginginkan dirinya. Namun, sepertinya Lucia tak mengerti akan hal itu, walau ia melihat Azriel bahagia dengan Mentari ia masih menganggap jika ia bisa mendapatkan kakaknya.
Aisyah menyadari jika ia salah, selama ini selalu mengorbankan waktunya bersama teman-temannya hanya hanya untuk bersama dengan Lucia yang masih baru di kota mereka.
***
Pagi hari, Azriel terlihat bersiap untuk pergi, sedangkan hari ini sudah tak ada jadwal kuliah lagi. Mereka harus menunggu beberapa bulan untuk kembali melanjutkan pendidikannya di kampus yang sama.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Khanza yang menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Mereka sudah duduk di meja makan, ada Abidzar, Lucia, Aisyah dan juga Azriel yang baru saja duduk.
"Aku ingin membantu Mentari membawa kue-kue pesanan Ayah ke kantor, semua sudah jadi dan tinggal di bawah. Juga ada beberapa pesanan lainnya, Bu," jelas Azriel di mana Abidzar kembali memesan beberapa kotak kue untuk dibawa ke acara kantor.
Mendengar itu Khanza hanya mengangguk dan tersenyum, "Semoga saja usaha Mentari samakin maju." Khanza kembali menyendokkan nasi ke piring putranya, sementara yang lainnya sudah mulai dengan sarapan mereka.
Lucia mengepalkan tangan mendengar ucapan Khanza, terlihat jelas jika mereka semua sangqt merestui hubungan mereka dan mengabaikan kehadirannya.
"Kak, aku boleh ikut nggak?" ucap Aisyah di mana ia juga sedang libur selama seminggu, ia baru saja naik ke kelas tiga tahun ini.
"Tentu saja boleh, daripada kamu di rumah kan?" ucap Azriel, ia juga ingin menanyakan adiknya mengapa semalam ia menangis sepulang bersama dengan Lucia. Semalam ia tahu jika Lucia pergi ke klub malam dari aroma alkohol yang tercium di pakaian dan mulutnya, tapi ia tak mencium aroma alkohol saat berpapasan dengan Aisyah dan ia percaya adiknya itu tak akan melanggar apa yang telah diberitahunya. Aisyah tak akan melanggar perintah jika dia tak boleh masuk ke tempat seperti itu.
"Aisyah, kamu ikut denganku saja ya? Aku ingin membeli beberapa pakaian dan juga beberapa perlengkapan untuk kuliah, temani aku ya?" ucap Lucia.
"Maaf ya, Kak. Kakak pergi sendiri dulu, aku ingin pergi dengan Kak Azriel," ucap Aisyah yang hanya melihat sebentar ke arah Lucia dan kembali memakan makanannya. Lucia bisa melihat sikap yang berbeda dari Aisyah, apakah adik dari Azriel itu benar-benar marah karena semalam 30 menit yang dijanjikannya dan ia baru datang setelah 1 jam.
"Ya sudah deh aku pergi sendiri saja," ucap Lucia yang berpikir Aisyah hanya marah dan pasti 1, 2 hari hubungan mereka akan kembali baik seperti biasanya.
Aisyah pun pergi ke rumah Mentari bersama dengan Azriel.
"Aisyah, semalam kamu dari mana?" tanya Azriel saat ia sudah melajukan mobilnya menuju ke kediaman Mentari.
Rekomendasi. Yuk mampir.
__ADS_1