
Nenek yang tak tahu menahu masalah yang terjadi di antara mereka menyambut Daniel dengan baik, nenek menganggap jika Daniel adalah teman dari mereka, melihat Khanza yang begitu akrab dengan Aqila taman Daniel datang.
Farah terus mengawasi Daniel melihat setiap gerak-geriknya dan tak membiarkan Daniel berbicara pada Khanza, Farah sudah mengerti jika Daniel memiliki niat untuk mendekati Khanza dan dia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Kakek ikut bergabung dengan mereka dan , mengajak Daniel untuk duduk di ruang tamu. Nenek sudah menyiapkan minuman dan cemilan di sana.
"Aqila. Kamu sedekat apa sih, sama Daniel, sampai mau diajak tanpa tahu mau dia bawa ke mana? kamu pake ikut aja lagi," tanya Khanza saat Daniel sudah ikut bersama kakek duduk di ruang tamu.
"Sedekat apa ya, aku hanya merasa nyaman saat berbicara dengan Daniel. Aku pikir dia orangnya baik jadi nggak mungkinlah dia macam-macam denganku. Aku hanya lagi bosan dan ingin berlibur dan saat itu Daniel menawari, yaudah aku ikut. Tadinya aku pikir dia akan ngajak aku ke luar negeri. Aku sedikit kecewa saat mobil memasuki wilayah ini, tapi sekarang nggak lagi saat aku tahu ini adalah kampung halamanmu," ucap Aqilah.
"Kamu ikut tanpa tahu kemana dia akan membawanya?" tanyanya lagi menatap Aqila tak percaya.
"Aqila, Mbak hanya ingin menasehatimu, kamu jangan tersinggung ya, saran Mbak kamu jangan terlalu dekat dengan Daniel sampai mau diajak pergi seperti ini, kamu boleh akrab dengannya, tapi kamu harus tahu batasan. Tak baik anak gadis sepertimu mau diajak pergi. Daniel adalah seorang pria. Sebaik apapun dia, dia tetaplah seorang pria. Kamu harus tetap menjaga jarak sebelum hubungan kalian resmi," ucap Farah.
"Bener tuh kata Mbak Farah, lebih baik kamu resmikan saja hubunganmu dengan Daniel," tambah Khanza.
Farah terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Khanza, ia meminta sahabatnya itu untuk meresmikan hubungannya dengan Daniel. Apa segitu porosnya kah Khanza sehingga ia tahu jika Daniel mengincarnya," batin Farah.
"Iya sih, aku sudah menargetkan Daniel menjadi suamiku, tapi sepertinya dia menyukaimu," ucap Aqila dengan santainya mengatakan itu.
"Iya sih, aku juga merasa dia seperti sedang mengejarku, tapi maaf ya. Hatiku hanya untuk kak Abi seorang," ucap Khanza melipat tangannya di dada, melihat Daniel yang sedang berbicara kepada kakeknya.
Farah menggelang mendengar obrolan mereka.
"Ya udah gini aja, kalau dia mendekati kamu biarkan saja, kamu buat dia justru mendekati ku bagaimana?"
"Maksudnya?" tanya Khanza tak mengerti.
__ADS_1
"Ya kamu nyomblangin aku gitu. Kamu baik-baikin aku di depan dia," ucap Aqila berbinar saat menemukan ide gila itu.
"Aku bisa dikuliti sama kak Abi jika dia tahu aku dekat-dekat dengan Pak Daniel, bicara dengan dia saja aku nggak boleh," ucap Khanza bergidik ngeri membayangkan tatapan Abizar.
"Haaa …! Kok bisa segitu cemburunya, Kamu kan sudah jadi istrinya nggak mungkin juga kamu akan berselingkuh dengan Daniel," ucap Aqila.
Mereka terus berbincang-bincang sambil bermain dengan Aziel.
"Khanza, Mbak peringatkan sama kamu, walau hanya sekedar bercanda jangan pernah kamu memberi harapan kepada Daniel dan satu hal lagi. Kamu harus ingat jika mas Abi tak suka kamu dekat dengan dia, jadi sebisanya selama dia ada di sini kamu menjaga jarak dengannya. Jangan membuat Mas Abi marah, dia sudah banyak pikiran," ucap Farah menasehati Khanza sebelum ia masuk ke dapur untuk membantu nenek dan Bibi membuat makan siang untuk mereka.
Begitu parah pergi.
"Mbak Farah itu orangnya baik ya," ucap Aqila memuji kebaikan hati Farah.
"Iya. Makin lama aku mengenalnya Aku makin salut sama Mbak Farah, dia selalu tahu dan bisa untuk menjaga hati kak Abi, aku bisa melihat bahwa Mbak Farah mencintai kak Abi dengan cara lain," lirih Khanza.
"Mulai sekarang aku tak ingin memikirkan hal-hal yang bisa membuatku bersedih, apa lagi meratapi nasib rumah tanggaku. Aku hanya ingin menikmati hidup, bahagia dengan Putraku, bahagia dengan kak Abi orang yang sangat aku cintai. Aku tak ingin menjadikan kehadiran Mbak Farah sebagai kesedihanku. Kak Abi sudah memberiku banyak kebahagiaan walau dia pernah memberiku rasa sakit."
Aqila menopang dagunya dengan kedua tangannya.
Dia menggeleng menatap sahabatnya itu.
"Ada apa? Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Khanza mengernyitkan keningnya menatap Aqila yang juga menatap ke arahnya.
"Aku seperti tak mengenalmu, kamu bukan sosok Khanza yang aku kenal. Kamu sudah kerasukan, ya," canda Aqila.
"Iya aku sudah kerasukan, kerasukan cinta Pak Abizar," ucapnya kemudian mereka berdua tertawa membuat Aziel yang sejak tadi asyik bermain dengan permainannya juga ikut tertawa. Sehingga langsung mendapat ciuman bertubi-tubi dari Aqila yang begitu gemas dengan anak sahabatnya itu.
__ADS_1
Mereka berdua masih mengingat masa-masa dimana Khanza sangat tergila-gila dengan pimpinan mereka ,Abizar waktu itu.
Khanza sering melakukan hal-hal aneh, seperti ia akan mengintip di balik pintu saat Abizar melewati ruangannya, ia sering mengambil foto Abizar secara sembunyi-sembunyi dan berbicara dengan foto tersebut di layar ponselnya.
Khanza akan bertingkah layaknya orang gila saat pulang kantor terus mengagumi sosok Abizar cinta pertamanya.
Saat Aqila menegurnya dia akan mengatakan jika ia sedang kerasukan cinta Pak Abizar dan tak ingin di ganggu.
******
Sementara itu Abizar yang sudah berada di pesawat merasa tak tenang. Ia terus berpikir dan menyangkut pautkan semua masalah yang ada.
"Jika Daniel yang sudah merencanakan ini untuk datang ke kampung aku rasa tak mungkin karena awalnya akulah yang ingin pergi ke kampung, bukan Farah, tapi jika Ia memang yang melakukannya, tapi apa tujuannya. Jika waktu itu aku tak menggantikan Farah berarti Farah yang akan keluar negeri dan aku yang akan ke kampung,"ucap Abizar yang berpikir jika kedatangan Daniel ke kampung mungkin tak ada hubungannya dengan kepergiannya ke luar negri. Tapi, ada beberapa kejadian lain yang membuatnya yakin jika Daniel pelakunya.
"Aku harus bersikap tegas kepada Daniel, aku tak boleh membiarkannya menghancurkan keluargaku. Aku juga tak boleh menganggap remeh dirinya, dia bukan orang sembarangan," batin Abizar bergulat dengan pemikirannya.
Abizar yang sudah sampai di kotanya langsung mengambil penerbangan lagi menuju ke kampung Khanza, Ia tak ingin membuang-buang waktu, ia bahkan sudah menghubungi pak Hendra untuk menjemputnya di Bandara.
Selama perjalanan Abizar terus merasa gusar. Selama perjalanan bayangan Daniel yang sudah mulai mendekati Khanza terus mengganggu pikirannya. Namun, ia sedikit tenang saat mengetahui Farah ada di sana bersama dengan mereka.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
sambil nunggu update terbaru, yuk mampir ke karya taman ku🙏🙏🤗
__ADS_1