Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Season 2: Bab 7


__ADS_3

Semua yang ada di ruangan itu terdiam melihat tingkah Lucia, semua melihat ke arah Mentari. Mereka bisa melihat raut wajah Mentari yang berubah.


Abidzar yang juga menyadari hal itu langsung mengambil sepotong kue buatan Mentari dan memakannya.


"Rasanya sangat enak, mungkin kamu nggak terbiasa makan kue seperti ini makanya tak suka, menurutku ini sangat enak sesuai dengan seleraku," ucap Abidzar, hanya dengan dua kali suapan kue sudah habis ditangannya.


Khanza juga yang menyadari situasi di ruangan itu juga langsung mengambil kue buatan Mentari dan mencicipinya.


"Wah, hebat ya Mentari. Kamu masih muda sudah bisa buat kue seenak ini, pantas saja Azriel suka, rasanya memang enak," ucap Khanza ikut memuji kue Mentari.


"Enak dari mana?" gumam Lucia sambil kembali mengambil satu potong kue yang dibawa oleh mommynya, kemudian ia pun duduk di sofa. Dia bisa menyadari jika suasana di ruangan itu menjadi tegang karena ulahnya. Namun, ia tak perduli, ia juga bukanlah orang yang akan berpura-pura baik di hadapan orang yang tak ia sukai, saat ini ia sangat tak menyukai sosok Mentari dan dia akan memperlihatkan ketidaksukaannya, itulah sifatnya.


"Maaf ya Mentari, mungkin putriku memang tak menyukai kue buatanmu karena tak biasa memakannya, tapi tante yakin kuenya pasti enak apalagi buatan sendiri, tante saja tak tahu membuat kue. Tak kebayang jika tante membuat kue mungkin takkan ada yang mau memakannya," ucap Farah tertawa canggung agar situasi yang diciptakan putrinya itu tak berlarut-larut.


"Ya sudah. Oya, kalian sudah makan belum? Ini tadi kami singgah membeli makan siang untuk kalian. Mentari, apa kamu sudah makan?" tanya Khanza ikut mengalihkan pembicaraan mereka.


"Sudah kok, Tante. Sebelum datang ke sini aku sudah makan. Ya sudah ya, aku hanya ingin memberikan kue ini pada Azriel, aku ada kegiatan lain di kampus, aku permisi dulu," ucap Mentari membuatkan Khanza hanya mengangguk, ia bisa melihat jika Mentari tak nyaman lagi berada di tengah-tengah mereka.


"Azriel, cepat sembuh ya aku permisi dulu," ucap Mentari melihat ke arah Azriel membuat Azriel hanya mengangguk, saat ini Azriel tengah menahan amarahnya ia tak suka dengan sikap Lucia, ia tahu Lucia memang seperti itu. Namun, sikapnya kali ini benar-benar tak bisa dimakluminya.


Begitu Mentari keluar dari ruangan itu, ia pun berjalan cepat meninggalkan rumah sakit tersebut dengan tergesa-gesa. Entah mengapa ia juga tak suka melihat Lucia, ia sadar jika dia hanyalah wanita sederhana, tapi bukan berarti bisa mendapat perlakuan seperti yang dilakukan oleh Lucia padanya. Mereka masih belum saling kenal mengapa ia menghinanya seperti itu. Namun, Mentari mengabaikannya dan memilih untuk melajukan sepeda motornya menuju ke kampus, ada rasa menyesal di hatinya karena membawa kue buatannya itu pada Azriel.


Tadi ia memang tak ingin membawanya. Namun, ibunya memaksa dan hasilnya ia hanya mendapat penghinaan. Walaupun ayah dan ibu Azriel mengatakan jika kue buatannya enak, tapi entah mengapa ia masih merasa sakit hati dengan perlakuan Lucia.

__ADS_1


Suasana di kamar perawatan Azriel kini kembali sunyi, Azriel makan makanan yang di bawah oleh ibunya dengan diam begitupun dengan Lucia.


"Aku sudah kenyang, Bu," ucap Azriel minta ibunya menghentikan menyuapinya makanan tersebut kemudian ia menatap ke arah Lucia yang makan dengan lahap makanannya, terlihat jelas tak ada rasa bersalah karena telah menyakiti perasaan Mentari.


Khanza yang masih bisa melihat kemarahan di wajah putranya hanya mengusap punggung tangannya, mencoba untuk meminta putranya itu memaklumi sikap Lucia.


"Bu, kenapa Lucia mengatakan hal itu? Apakah dia tidak memikirkan perasaan Mentari? Mentari sudah bersusah payah membuat kue itu untukku dan menurutku rasanya juga sangat enak. Walaupun memang rasanya tak enak baginya sangat tak sopan menghinanya seperti itu," ucap Azriel dengan suara pelan, tetapi penuh penekanan, membuat Khanza hanya menggeleng pelan dan mengusap punggung tangan putranya.


Azriel hanya menghela napas, jika tak mengingat hubungan mereka mungkin ia sudah memarahi Lucia saat ini juga. Namun, ia berusaha menahan diri, Lucia dan ibunya datang jauh hanya untuknya.


Saat menjelang malam Lucia pun pulang begitupun dengan Farah dan juga Khanza, malam itu Abidzar sendiri yang menemani putranya di rumah sakit. Di mana dokter masih belum mengizinkan Azriel untuk pulang, putra Abidzar itu membutuhkan beberapa perawatan lagi.


Saat perjalanan pulang mereka kembali tak sengaja bertemu dengan Mentari. Mobil mereka berhenti begitu lampu merah begitupun dengan Mentari yang berhenti dengan sepeda motornya tepat di samping mobil mereka.


"Kamu Mentari kan?" tanyanya membuat Mentari yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh dan mengangguk, ia sedikit terkejut saat melihat yang di dalam mobil adalah Lucia, orang yang telah membuat mood-nya seharian menjadi kacau.


"Iya, senang bertemu denganmu kembali," ucap Mentari ramah walaupun hatinya ingin memaki. Ia juga mengangguk hormat saat tatapannya bertemu dengan Khanza.


"Kamu ngapain di tengah malam seperti ini naik motor? Kamu baru pulang kuliah?" tanyanya melihat penampilan Mentari.


"Enggak kok, aku sudah pulang kuliah sejak sore tadi, ini aku habis mengantar pesanan kue," jawabnya membuat Lucia langsung tertawa.


"Ya ampun, kue jelek tadi ada yang mau membelinya?" ucapnya membuat Mentari hanya terdiam dan menatap tak suka pada Lucia.

__ADS_1


"Lucia, kamu nggak boleh ngomong gitu, Nak," tegur Farah.


"Mam, kue sejelek itu ada yang beli? Aku hanya tak bisa menahan tawa, memangnya berapa harga kuemu?" tanya Lucia lagi melihat ke arah Mentari tanpa rasa bersalah sedikitpun karena telah menghina, ia masih menanyakan harganya dengan tertawa kecil.


"50.000 satu kotaknya," jawab Mentari dengan nada datar.


"Pantas saja rasanya tak enak, ternyata harganya memanh murah, kamu tahu nggak harga kue yang dibeli oleh mommyku tadi? Itu harganya kisaran 500.000, beda jauh kan dengan kue yqng kamu bawa untuk Azriel. Pantas saja rasanya juga beda dari kue buatanmu."


Mendengar itu Mentari hanya terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa, apakah memang orang kaya seperti mereka menganggap semua itu hanyalah hal biasa. Mentari bisa melihat jika Lucia begitu bahagia menghinanya.


"Aku heran mengapa Azriel mengatakan kue itu enak, padahal kue yang di bawa mommyku itu adalah kue kesukaanya. Juga mengapa ia mau bertemu teman dengan orang sepertimu, kamu pasti orang miskin kan?" tanyanya lagi.


"Lucia, cukup," ucap Khanza yang sudah tak tahan mendengar ocehan dari Lucia, ia tahu Lucia adalah gadis yang manja, tapi dia tak menyangka jika dia sampai bisa menghina orang seperti itu. Lucia bukan orang yang bodoh yang tak tahu jika ucapannya itu bisa menyakiti hati orang yang sedang diajaknya berbicara.


"Aku hanya bertanya Tante."


"Lucia, hentikan!" bentak Farah yang juga bisa mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya.


"Ada apa? Apa aku membuat kesalahan? Dia memang orang miskin kan? Lihat saja kita duduk di mobil mewah dia duduk berkendara di atas motor butut," ucapnya lagi.


Mentari yang melihat warna lampu sudah berubah memutuskan untuk meninggalkan mereka, ia menarik gas motornya dan melaju lebih dulu.


"Lucia, mommy nggak suka dengan ucapanmu, itu tak sopan, Nak," ucap Farah membuat Lucia yang melihat Mentari sudah pergi kemudian menaikkan kaca mobilnya, ia tahu jika semua itu bisa menyakiti hati Mentari. Namun, ia sengaja melakukannya, ia tak suka saat mengetahui Azriel menyukainya.

__ADS_1


__ADS_2