
"Bos, bagaimana sekarang?" tanya salah satu dari mereka menatap ke arah bosnya, perjanjian mereka suntik ia kan bersama dengan Azriel dalam keadaan sadar.
"Kalian tenang saja yang penting apa yang diinginkan oleh gadis itu terwujudkan, dengan begitu kita juga akan mendapatkan video yang bagus. Ingat begitu mereka sudah selesai memberikan kita tontonan yang bagus, salin semua videonya, kita bisa menjualnya dan ingat jangan sampai wanita itu mengetahui jika kita juga menyimpan salinan videonya."
"Baik." Mereka pun meninggalkan kamar itu dan memilih kembali untuk berpesta di lantai bawah.
Azriel yang tersadar lebih dulu melihat ke arah Lucia yang berbaring di sampingnya dengan busana yang hampir terlepas, terlihat begitu menggoda.
"Lucia, bangun," ucapnya mencoba membangunkan Lucia yang juga tak sadarkan diri, kemudian ia melihat sekelilingnya tak ada siapapun di sana, ia juga melihat jika dirinya tak memakai pakaian. Di mana pakaiannya, ia mencoba mencari dengan kepala yang sangat pusing.
Azriel turun dari tempat tidur dan mencari pakaiannya. Namun, ia tak menemukannya.
"Ada apa denganku?" gumam Azriel yang bisa merasakan ada sesuatu yang aneh dengan tubuhnya, ia melihat Lucia yang masih tertidur di ranjang dengan gaun yang tersibak, menampakkan paha putih mulusnya, tanpa sadar naluri kelakiannya membawa kakinya melangkah mendekati Lucia, kemudian Azriel duduk di samping Lucia. Tangannya juga seperti tak bisa dikendalikannya, kini tangan Azriel mulai menyentuh tubuh Lucia membuat Lucia yang masih belum sadarkan diri terlihat merespon sentuhannya, ia bergerak dan mulai menggeliat.
"Lucia, bangunlah," ucap Azriel, tangannya kini mengusap-ngusap pipi Lucia, membuat Gadis itu semakin menggeliat dan membuka matanya, terlihat mata Lucia yang sayup dan sangat menginginkan sentuhan dan langsung menarik Azriel dan membawa tangan Azriel ke daerah sensitifnya, tubuhnya menggeliat bagai cacing kepanasan meminta dipuaskan. Azriel juga tak bisa menahan diri menuruti apa yang diminta oleh Lucia, bahkan ia kini sudah menciumnya beberapa bagian tubuh Lucia yang begitu menggodanya.
Keduanya larut dalam permainan mereka hingga Azriel kembali tersadar dan menghentikan apa yang dilakukannya, walau obat itu menguasainya. Namun, wajah Mentari kembali terlintas di pikirannya, besok adalah hari pernikahannya dan ia tak ingin merusak semuanya.
"Aku tak boleh melakukan semua ini, semua ini salah," ucap Azriel kemudian ia pun menjauhi Lucia. Azriel terhuyung dan terjatu, ia melihat jika pakaiannya ada di bawah tempat tidur ia pun berjongkok dan mengambil pakaian tersebut. Dengan cepat Azriel kembali memakainya. Lucia terus menarik baju Azriel seolah ia tak terima jika menghentikan apa yang baru saja mereka mulai.
"Lucia, sadar lah. Semua ini tak benar," ucap Azriel mendorong Lucia yang terus menariknya, ia menepis tangan Lucia yang terus saja meminta Azriel untuk bermain dengannya.
Azriel melihat beberapa kamera yang terpasang di sana, ia pun dengan cepat mendekati kamera itu dan ternyata benar, kamera itu aktif dan tengah merekam semua yang mereka lakukan. Ia pun dengan cepat merusak kamera itu, ia tak mau jika sampai ada yang melihat mereka, melihat apa yang ia lakukan pada Lucia tadi, walau mereka belum melakukan apapun. Namun, hal tadi sudah cukup memalukan dan jika sampai Mentari melihatnya ia pasti akan terluka.
Azriel menghancurkan semuanya. Namun, ia tak melihat masih ada beberapa kamera yang tersembunyi yang merekam apa yang mereka lakukan di kamar itu.
Azriel yang tak mau sampai ia tak bisa mengendalikan dirinya lagi dan kembali terbawa nafsunya, memutuskan untuk keluar dari kamar itu, ia mencari ke mana orang-orang tadi. Namun, ia tak melihat siapapun di sana.
__ADS_1
Begitu keluar ia juga tak melihat mobil orang-orang itu, yang tersisa hanya mobilnya saja. Apakah mereka semua meninggalkannya dan Lucia.
Azriel yang masih pusing dan tak bisa mengontrol dirinya berjalan cepat. Namun, ia tak sengaja terjatuh dan kepalanya kembali membentur tembok yang ada di depan rumah tersebut, membuat kepalanya kembali terbentur dengan cukup deras. Ia hanya bisa menekan kepalanya dengan baju yang kembali dibuka untuk menahan darah yang semakin banyak.
Begitu Azriel sudah sampai ke mobilnya, ia dengan cepat menelpon Dev. Ia mengatakan apa yang terjadi pada dia dan Lucia.
"Baiklah, aku akan segera ke sana," ucap Dev dimana ia juga akan pergi ke sana bersama dengan Abidzar. Abidzar yang tahu jika putranya terluka meminta putranya itu untuk segera ke rumah sakit, mereka akan menuju ke sana untuk menyelamatkan Lucia.
Azriel dengan sisa-sisa tenaganya melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit, jika terus berada di sana mungkin dia akan kehabisan darah atau mungkin saja dia akan kembali bertemu dengan orang-orang yang tadi. Ia harus menyelamatkan diri walapun terpaksa meninggalkan Lucia.
Dev dan Abidzar melajukan mobilnya menuju ke alamat yang diberikan oleh Azriel. Azriel sudah mengirim alamatnya melalui Google map.
Dev yang sangat khawatir dengan putrinya melajukan mobilnya dengan sangat kencang, ia terus mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Azriel tadi, sementara Azriel sendiri yang sudah keluar dari gang tersebut dan mereka bertemu di jalan masuk gang itu. Keduanya langsung menghentikan mobil mereka. Abidzar yang tahu jika anaknya terluka langsung pindah ke mobil Azriel dan melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit, sementara Dev sendiri terus melajukan mobilnya menuju ke tempat di mana putrinya disekap.
Azriel tak bisa membawanya karena apa yang tengah dialami Lucia saat ini, ia tak sadar dan ingin menyerangnya. Sangat berbahaya jika ia membawanya. Membuat dia memutuskan untuk meninggalkannya, ia juga tak bisa melawan mereka semua dengan kondisinya saat ini.
****
"Azriel, apa kamu bisa masuk sendiri, Nak?" ucap Abidzar begitu ia sudah sampai ke depan rumah sakit, Azriel pun mengangguk membuat Abidzar kembali melajukan mobilnya menuju di mana Dev saat ini berada. Abidzar takut jika sampai polisi belum sampai dan Dev sendiri.
Abidzar melajukan mobilnya cukup kencang karena rumah sakit tersebut tak begitu jauh dari tempat itu, berharap ia tak terlambat dan bisa menolong Lucia. Dari cerita Azriel tadi, saat ini Lucia sedang dalam kondisi berbahaya.
"Cepatlah, Yah. Mereka ada 5 orang, mungkin saja paman Dev kewalahan untuk melawan mereka semua," gumam Azriel melihat mobil ayahnya melaju kembali ke tempat tadi.
Azriel langsung masuk ke dalam rumah sakit dan meminta bantuan pada dokter yang ada di sana, walau hanya rumah sakit kecil. Namun, mereka mengobati Azriel dengan sangat baik.
Sementara itu Dev yang sudah sampai di kediaman tersebut bisa melihat mobil putrinya, ia pun langsung melangkah masuk tanpa rasa takut sedikitpun pada orang-orang yang ada di dalam sana, ia hanya ingin menyelamatkan putrinya dari mereka semua.
__ADS_1
Dev yang sudah dikuasai oleh amarahnya menghajar dua orang yang datang menghadangnya, ia dengan cepat mengalahkan dua orang tersebut. Perkelahian mereka juga memancing dua orang yang lainnya, membuat orang itu membantu rekannya. Kini empat melawan satu orang. Dev tak mau menyerah walau ia sudah beberapa kali mendapat pukulan dari mereka. Namun, ia terus bangkit dan kembali melawan mereka berempat, hingga Abidzar pun datang dan ikut bertarung.
Setelah petarungan keduanya yang cukup sengit akhirnya keempat orang itu pun tak sadarkan diri, membuat keduanya langsung menuju ke lantai atas dan mencari Lucia.
Azriel mengatakan jika Lucia ada di kamar membuat keduanya pun langsung berpencar mencari di setiap ruangan.
Dev menendang satu persatu pintu kamar tersebut hingga ia sampai di pintu kamar terakhir, ia langsung menendangnya dan sangat terkejut saat melihat seseorang yang ada di atas tubuh putrinya yang sudah tak mengenakan pakaian. Dengan cepat ia pun langsung menarik orang itu dan menghajarnya tanpa ampun.
Abidzar yang datang langsung menutup tubuh Lucia dengan jasnya.
"Dev sudah, berikan pria ini padaku. Urus Lucia sepertinya ia tak sadarkan diri, sepertinya pengaruh obat telah menguasainya," ucap Abidzar yang bisa melihat Lucia bahkan terus membuka jasnya yang menyentuh tubuhnya dan membiarkan tubuhnya terbuka. Saat ia memaksa untuk memakaikannya, Lucia menarik dan meminta lebih darinya.
Dev yang mendengar ucapan tersebut baru mengingat kondisi putrinya. Ia pun menyerahkan orang yang sudah babak belur itu kepada Abidzar. Ia langsung melepas kaos yang digunakannya dan mengenakannya ke putrinya, Lucia terus menggeliat dan bahkan menarik ayahnya dan terus saja menahan tangan yang masih di kuasai oleh pengaruh obat.
Dev membawa Lucia keluar dari kamar itu dengan menggendongnya, dia harus segera membawa Lucia ke rumah sakit, kondisi anaknya benar-benar parah. Entah berapa banyak dosis yang diberikan padanya, takut jika terjadi sesuatu pada Lucia.
Begitu keluar dari rumah itu, ia bisa mendengar sirine polisi sedang menuju ke tempat tersebut.
Tanpa menunggu polisi, ia melajukan mobilnya. Dev tak bisa lagi menahannya. Ia pun langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit agar putrinya cepat mendapat pertolongan.
Polisi pun datang, Abidzar langsung menjelaskan semua situasinya kepada kepolisian, membuat mereka berlima pun langsung ditahan.
Abidzar menelpon Dev, memberitahu kemana ia saat ini membawa putrinya. Setelah mendapatkan alamat dari Dev, Abidzar pun langsung menuju ke tempat tersebut.
Abizar menelpon putranya, dan Azriel mengatakan jika dia sudah baik-baik saja dan tak usah mengkhawatirkannya dan fokus pada Lucia.
Adapun masalah kepolisian mereka akan mengurusnya setelah pernikahan besok, ia tak mau jika pernikahannya sampai gagal hanya karena semua ini..
__ADS_1
Azriel menyerahlan masalah Lucia pada Ayahnya dan ayah Lucia.