
Mr. Alvin sedang sibuk di ruangannya. Dia sedang menyiapkan rencana kerja besar-besaran yang akan mengaitkan seluruh pengusaha besar di tanah air, ia Sudah merancang proyek itu sejak lama dan berharap proyek itu bisa berhasil.
Mr. Alvin berencana memindahkan kerajaan bisnisnya di negara ini, ia mengambil langkah besar dengan merangkul Semua perusahaan besar agar bisa membantu kesuksesannya walau tak seberapa di negara asalnya.
Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasinya,
"Masuk," ucapnya tanpa melihat siapa yang masuk ke ruangannya.
Asisten yang selama ini selalu ada disampingnya masuk berdiri dihadapannya.
"Ada apa?" tanya Mr. Alvin.
"Aku dengar Nona Khanza akan kembali ke kampung halamannya bersama dengan kakek dan neneknya besok dan ia juga telah mengajukan gugatan perceraian nya.
"Benarkah?" Mr Alvin meletakkan pena yang dipegangnya dan berfokus pada apa Yang dilaporkan oleh Asistennya.
"Dimana Khanza sekarang?" tanya Mr. Alvin.
"Dia masih di rumah sakit, pagi nanti mereka akan kembali ke kampungnya. Abizar sudah menyiapkan pesawat jet pribadi yang langsung mengantar mereka."
"Abizar yang akan mengantar mereka?"
"Iya Pak. Abizar akan mengantar mereka langsung ke kampung halamannya."
"Ya sudah tetap Awas mereka, jangan sampai dia berbuat ulah."
"Baik Pak."
"Jangan lupa bawa semua yang kita butuhkan, sebelum mereka pergi, aku ingin bertemu dengan kakek dan nenek serta Khanza," ucap Mr. Alvin Alfaro.
"Baik Pak, saya akan menyiapkan semuanya," ucap aasisten tersebut membungkuk memberi hormat dan keluar.
"Semoga saja mereka bisa memaafkan dan menerima semuanya," ucap Mr. Alvin kemudian kembali mengerjakan pekerjaannya.
Pagi hari mereka sudah bersiap-siap dan langsung menuju ke rumah sakit..
"Bagaimana kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya pada asistennya yang duduk di jok depan di samping sopir.
Asisten tersebut langsung mengambil semua berkas-berkas yang ada di dalam tasnya memberikannya kepada tuannya.
"Sudah, Pak," jawabnya memberikan berkas itu.
Mr.Alvin melihat selembar demi selembar berkas yang diberikan oleh Asistemnya kemudian membubuhi tanda tangan di sana.
Kemudian kembali memberikan berkas itu kepada asistennya dan menghela nafas panjang.
"Semoga kau tenang disana," batinnya menatap ke arah langit.
Mereka berjalan menapaki lorong rumah sakit, Mr. Alvin Alfaro mengikuti Asistennya yang sudah tahu tempat perawatan Khanza dan bayinya.
__ADS_1
Asisten tersebut mengetuk pintu saat mereka sudah ada di depan pintu kamar Khanza.
"Mr. Alvin," ucap Daniel dan Abizar bersamaan saat melihat orang yang selama ini sangat sulit ditemui nya kini menghampiri mereka.
Orang yang mereka cari tahu siapa sebenarnya orang tersebut, Apa hubungannya dengan Khanza kini berdiri di depan mereka .
"Apa aku boleh masuk?" tanya Mr. Alvin.
"Tentu saja silahkan, Pak," jawab Damar karena Daniel dan Abizar masih terkejut, mereka hanya saling pandang kemudian menatap kembali pada Mr. Alvin. Berjuta pertanyaan memenuhi kepala mereka.
Apakah Mr.Alvin Alfaro akan mengungkap mengapa selama ini ia terus membayang-bayangi Khanza. pikir mereka berdua.
Damar langsung mempersilahkan Mr. Alvin duduk di kursi yang ada di ruangan itu, disana ada kakek.
Abizar dan Daniel juga ikut duduk di sana begitu juga dengan Damar, sementara para wanita hanya mengerumuni Khanza dan bayinya yang sudah terlihat sangat cantik dengan baju yang digunakannya, mereka akan pulang ke kampung, Aqila membelikan baju yang sangat menggemaskan, semakin menambah cantik bayi kecil mungil itu.
Meskipun begitu perhatian mereka tetap pada Mr Alvin, mereka bertanya-tanya siapakah orang yang baru datang itu sehingga membuat para pria langsung menyambut mereka dan terlihat begitu serius.
"Ada keperluan apa Anda ke sini?" tanya Abizar.
"Maaf jika saya baru bisa menjenguk ke sini, tujuan saya ingin bertemu dengan kakek dan nenek serta Khanza," ucap Mr. Alvin menjawab pertanyaan Abizar.
Kakek dan nenek saling pandang kemudian kembali menatap Abizar.
"Ada apa Anda ingin menemui kakek dan nenek serta istri saya?" tanya Abizar mewakili.
Abizar langsung berdiri dan membantu Khanza untuk ikut duduk bersama dengan mereka sementara khanza memberikan bayinya pada Farah.
Mereka semua bingung dengan apa yang terjadi, mengapa 0rang yang sangat sibuk mendatangi mereka, situasi di kamar itu menjadi tegang Khususnya Khanza, nenek dan kakek karena ialah tujuan Mr Alvin datang ke ruangan tersebut, ingin menemui mereka. Walau tak tau Siapa Mr. Alvin melihat sikap Daniel dan Abizar mereka juga ikut terbawa situasi. Belum lagi beberapa pria berjas hitam berdiri tegak di belakang Mr, Daniel.
"Sebelumnya saya ingin perkenalkan nama saya Matteo."
"Matteo?" ucap Abizar dan Daniel bersamaan, mereka saling pandang kemudian kembali melihat ke arah orang yang menyebut namanya Matteo yang mereka ketahui itu adalah Mr. Alvin Alfaro.
"Iya, saya adalah Mateo. Saya ada asisten Mr. Alvin Alvaro."
Abizar dan Daniel semakin bingung dibuatnya.
Saya mau wakili beliau untuk meminta maaf kepada keluarga Zubair dan Naya. (ayah dan ibu Khanza)
"Zubair, Naya? Siapa mereka?" tanya Abizar.
Khanza langsung mencubit Abizar yang duduk didekat dan menatap tajam suaminya itu, bisa-bisanya ia tak mengetahui nama kedua orang tuanya yang jelas-jelas ia sebut saat menyebut namanya saat ijab kabul.
Abizar hanya meringis dan mengelus lengannya yang dicubit.
Khanza melotot menatap Abizar. Abizar tetap tak mengerti siapa Zubair siapakah Naya.
"Ada apa? Siapa mereka?" tanyanya dengan suara nyaris tak terdengar bertanya pada Khanza yang semakin terlihat kesal.
__ADS_1
"Kakak nggak tau nama orang tuaku?! tanya Khanza kesal.
"Khanza Rifani bin Zubair." Abizar baru mengingat Siapa nama yang disebut saat ijab kabul. Selama ini ia tak pernah memperhatikan Siapa nama kedua orang tua Khanza karena yang dia tahu hanyalah nama kakek dan neneknya.
"Maaf," ucap Abizar yang baru menyadari jika Zubair dan Naya adalah nama kedua orang tua Khanza.
Tingkah mereka layaknya orang yang tak mempunyai masalah, padahal rumah tangga mereka di ambang perceraian.
"Ada apa ya Mr. Alvin, maksud saya Pak Matteo? untuk apa Mr. Alvin Alfaro meminta maaf kepada kedua orang tua Khanza?" tanya Abizar. Pertanyaan Abi wakili pertanyaan semua yang ada di Ruangan itu, termasuk Khanza.
"Beberapa tahun yang silam Mr. Alvin tanpa sengaja menabrak mobil seseorang. Mr Alvin sendiri mengalami koma hingga bertahun-tahun dan 4 tahun yang lalu dia sadarkan diri dan meminta mencari tahu siapa orang yang ditabraknya.
Kami sudah menjelaskan bahwa orang yang ditabraknya bernama Zubair dan istrinya Naya dan mereka meninggal saat itu juga dan mereka meninggalkan Putri bernama Khanza," tunjuk sopan Mateo pada Khanza.
Mr. Alvin ingin meminta maaf secara langsung. Namun, dia kembali drop dan beliau meninggal dunia.
Mr. Alvin tak memiliki anak dan istri, sebelum ia meninggal sebagai permintaan maafnya, ia memberikan semua hartanya kepada putri dari pak Zubair dan Ibu Naya yaitu kanza.
Semua terdiam mencoba mencerna apa yang dijelaskan oleh Mr Alvin atau Mateo.
"Semua?" tanya Daniel.
Mr. Alvin Alfaro atau yang sekarang mereka kenal sebagai Matteo mengeluarkan sebuah berkas dan meletakkannya di atas.
Daniel langsung mengambilnya dan memeriksanya, di sana tertera nominal semua harta yang diwariskan kepada Khanza, baik berupa tabungan, perusahaan, properti, dan masih banyak lagi.
Di sana juga sudah dibubuhi tanda tangan Mr Alvin Alfaro dan juga Mateo sebagai saksi tinggal tersisa satu tanda tangan lagi atas nama Khanza Rifani.
Daniel menyerahkan berkas itu kepada Abizar.
Sama halnya dengan Daniel, Abizar tak kalah tercengangnya melihat apa yang tertera disana. Damar yang penasaran ikut melihat apa yang membuat mereka terkejut.
"Apa semuanya akan menjadi milik Khanza?' tanya Daniel.
"Tentu saja," jawab mateo
"Kami sudah memaafkan orang yang telah menabrak anak kami, kami sama sekali tak ada dendam dari kami tak membutuhkan itu semua. Kami tak menjual nyawa anak kami," ucap kakek menolak apa yang baru saja diberikan kepadanya.
"Maaf Kakek kami tak bermaksud membeli nyawa anak Kakek, ini hanya sebuah permintaan maaf dari Mr Alvin, beliau ingin meminta maaf langsung. Namun, sepertinya takdir tak mengizinkannya mungkin dengan harta yang beliau kumpulkan selama ini bisa menggantikan beliau untuk meminta maaf."
"Kami tak membutuhkannya Ayo kita pulang, Kakek sudah sangat merindukan rumah kakek," ucap kakek.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Salam kenal dariku Author M Anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1