
Malam Abizar tak bisa tidur, kata-kata Khanza siang tadi terus terngiang di telinganya.
Ia benar-benar tak menyangka jika Khanza bisa berfikir seperti itu.
Abizar tak bisa tidur, ia hanya terus melihat langit-langit kamarnya. Abizar bangun dan duduk ditepi tempat tidur, ia memegangi dadanya rasa sakit dan perih kembali dirasakannya. Hatinya benar-benar sakit mendengar kalimat itu keluar dari mulut Khanza.
"Apa sejahat itu aku di matamu, sedikit pun tak pernah terbersit pemikir itu. Aku hanya ingin kita lebih bahagia."
Abizar meremas dadanya saat mengingat air mata Khanza yang jatuh saat mengatakan semua itu. Tetap kebencian dari Khanza begitu membuatnya hancur.
Ia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi nomor Khanza.
Baru deringan pertama Khanza sudah mematikannya, Abizar beberapa kali mengulanginya hingga nomor Khanza sudah tak aktif lagi.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkanku," lirihnya menarik rambutnya.
Abizar mengambil kunci mobilnya dan keluar,
"Kamu mau kemana?" tanya Warda.
"Aku mau keluar, Mah. Mencari udara segar," jawabnya kembali berjalan keluar.
"Mengapa rumah tanggamu jadi seperti ini, Nak," lirih Warda yang merasa kasihan pada putranya.
Abizar melajukannya mobilnya ke rumah Khanza, ia kembali menelpon nomor Khanza saat sudah sampai di depan gerbangnya. Nomornya belum juga aktif.
Abizar turun dan menemuimu satpam, ia meminta izin untuk menemui Khanza.
"Sebentar ya, Pak. Saya tanya dulu. Ibu melarang kami membukakan gerbang malam hari tanpa izin."
"Iya, Pak. Saya Abizar suaminya."
"Suaminya? Suami ibu Khanza?" tanya satpam mengernyitkan keningnya, setaunya Majikannya itu tak memiliki suami.
"Iya, Pak. Saya suaminya, Papa dari Aziel dan Aisyah. Tolong beritahu padanya jika saya ingin menemuinya."
"Baik, Pak," ucap Satpam berlari menemui Bibi dan memintanya menyampaikan pesan pada majikannya.
Khanza dan Aqila sedang di ruang kerjanya. Mereka semakin sibuk. Khanza sangat terbantu dengan adanya Aqila yang bekerja dan tinggal bersamanya.
Sambil bekerja mereka bisa mengobrol dan melakukan hal lain saat jenuh dengan pekerjaan mereka.
__ADS_1
Ruang kerja Khanza juga sangat berbeda dari ruang kerja pada umumnya. Ruang kerjanya lebih mirip kamar kosan dan minimarket.
Selain meja kerja di ruangan itu juga terdapat tempat tidur yang berukuran besar. Jika mereka bekerja lembur Aziel dan Aisyah akan tidur di sana begitu juga dengan mereka berdua. Cemilan tertata rapi di raknya.
"Permisi, Bu."
"Masuk, Bi. Apa apa?" tanya Khazna saat Bibi mendekat.
"Maaf, Bu. Di luar gerbang ada pak Abizar, ia ingin bertemu dengan Ibu katanya."
"Ha, Papanya Ziel?" tanya Khazna tak percaya.
"Iya, Bu. Dia masih di luar gerbang, apa disuruh masuk, Bu?" tanya Bibi.
Khanza dan Aqila langsung berlari ke jendela dan melihat keluar gerbang, ternyata memang benar, Abizar ada di depan gerbang duduk di kap depan mobil sambil terus mencoba menghubungi seseorang di ponselnya.
"Pasti dia menghubungi ponselmu," tebak Aqila.
"Kenapa sih dia harus datang lagi, apa dia nggak tau setiap dia ada hanya rasa sakit yang ia berikan padaku," lirih Khanza melihat Abizar. Bukannya merasa lega setelah mengeluarkan isi hatinya ia malah kembali merasa sakit dan seolah kejadian itu baru saja terjadi luka lama yang telah di kuburnya dalam-dalam seakan kembali naik ke permukaan.
"Bi, katakan saja kalau Khanza dan anak-anak sudah tidur," ucap Aqila.
"Baik, Bu," jawab Bibi keluar dari kamar.
"Kenapa sih, kak Abi nggak pergi saja dari kehidupku? Aku capek Qila. Aku sudah berusaha melupakannya, mengapa saat semua sudah baik-baik saja kak Abi kembali mengacaukan hatiku?" ucapnya kembali terisak.
"Sudahlah, semua akan baik-baik saja, kamu pasti bisa melalui ini semua," ucap Aqila hanya bisa mengelus punggung Sahabatnya itu, ia tau benar seperti apa perasaan Khanza pada Abizar. Ia menjadi saksi betapa sahabat itu sangat mencintai suaminya, ia tak bisa membayangkan rasa sakit yang dirasakan sahabatnya saat ini hingga rasa sakit itu mampu mengalahkan rasa cintanya.
Aqila mempererat pelukannya saat tubuh Khanza semakin terguncang kerena tangisnya.
"Aku benci kak Abi, aku benci dia, sangat membencinya," ucap Khanza di sela-sela tangisnya.
Aqila melihat keluar jendela dan melihat Abizar masih ada di tempatnya walau Bibi terlihat sudah mememuinya.
"Sudahlah, sebaiknya kita tidur, ini sudah larut malam. Besok kita akan ke kantor." Aqila menarik Khanza ke tempat tidur, ikut bergabung dengan Aziel dan Aisyah yang sudah lebih tertidur pulas di sana.
Abizar yang tak tahu harus berbuat apa dan kemana, ia memilih untuk tetap di mobilnya terus melihat ke arah rumah Khanza. Hatinya merasa lebih tenang saat berada di dekat mereka.
Lama Abizar di depan gerbang itu hingga Ia memutuskan untuk ke rumah lama Khanza dan tidur disana.
Pagi hari Abizar berangkat lebih pagi, ia tak langsung ke kantornya, tapi ia ke rumah Khanza.
__ADS_1
Begitu ia sampai di sana ia bisa melihat mobil Daniel sudah terparkir di depan rumah kanza.
Pintu gerbang masih terbuka sehingga ia bisa masuk dan memarkirkan mobilnya.
Pintu rumah tak tertutup ia juga langsung masuk dan melihat Daniel sedang sarapan bersama dengan anak dan istrinya serta Aqila. Mereka terlihat begitu bahagia, Khanza bahkan menambah makanannya ke piring Daniel.
Abizar mengeraskan rahangnya melihat semua. Namun, ia Sebisa mungkin menahan amarahnya. ia tak ingin hubungannya dengan Khanza semakin keruh.
Ia masih berharap Khanza mau memaafkannya.
"Papa," Aziel berlari saat melihat papanya. "Papa kok baru datang lagi sih, Aziel selalu nunggu Papa, Ade Aisyah juga kangen Papa." Aziel mengalungkan tangannya ke leher Papa.
Aisyah juga sangat senang melihat Papanya. Ia seakan ingin melompat menghampiri Papanya saat melihat papanya datang, tersenyum lebar memperlihatkan gusinya dan merentangkan tangannya.
"Pagi cantiknya Papa," ucap Abizar menghampiri putrinya dan langsung menggendongnya, menghujaninya dengan ciumannya membuat bayi cantik itu tertawa kegelian.
Khanza tak bisa pungkiri hatinya menghangat melihat semua itu, garis senyum terbit di bibirnya.
Khanza menggelang, dengan cepat ia menepis perasaan itu.
"Bi, Kami ke kantor dulu, titip anak-anak ya?," ucap Khanza beranjak dari duduknya dan langsung mengambil tas kerjanya, tak mempedulikan Abizar yang ada di dekatnya.
"Masakan istri kamu ternyata sangat enak," ucap Daniel sebelum ikut keluar menyusul Khanza dan Aqila.
Abizar menghembuskan nafasnya pelan mencoba mengatur ritme jantungnya yang semakin ingin meledak.
Abizar bisa melihat jika Khanza dan Aqila naik ke mobil Daniel dan Khanza duduk di jok depan.
Abizar mengeratkan giginya menahan emosinya yang sudah meluap-luap dan menyesakkan dadanya.
'Daniel kau benar-benar di luar batasanmu,' barunya hanya bisa melihat mobil Daniel pergi membawa Istrinya.
"Papa nggak ke kantor?" tanya Aziel membuyarkan pikir Abizar.
"Nggak sayang, hari ini Papa akan main dengan kalian," ucap Abizar membuat putranya melompat kegirangan.
Rasa sakit yang dirasakan sedikit terobati dengan kehadiran kedua anaknya. Hari ini Abizar menghabiskan waktu bersama dengan keduanya hingga sore hari.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
__ADS_1
Salam dariku Author M Anha ❤️🤗
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖