
Semakin hari semakin Khanza semakin memantapkan hatinya dengan keputusannya. Hubungannya juga dengan Abizar sudah mulai membaik, ia tak lagi membatasi diri untuk bertemu dengannya.
Saat datang menemui anak-anaknya, Khanza juga akan ikut bermain bersama dengan mereka, hati Khanza merasa lega setelah pertemuan terakhirnya dengan Abizar dan kesepakatan mereka untuk berpisah.
Hari ini mereka bermain bersama di halaman rumah, Khanza duduk dibangku yang ada di sana sambil memangku Aisyah sementara Abizar sedang bermain bola dengan Aziel.
Khanza dan Aisyah akan bersorak gembira saat Azil memasukkan bola ke dalam gawang Papanya.
"Yeee, Aziel menang," seru Aziel berlarian.
Jika ada yang melihat mereka mungkin tak ada yang mengira jika gugatan perceraian mereka sudah berjalan di pengadilan agama.
Hari ini Abizar tak masuk kantor, ia ingin menghabiskan waktu dengan mereka. Besok adalah sidang pertamanya dengan Khanza.
Mereka sudah sepakat akan menjalani semua proses persidangan dan akan menghadirinya.
Abizar dan Aziel ikut bergabung dengan Khanza dan Aisyah.
Mereka meminum jus dan memakan beberapa buah yang sudah disiapkan oleh Bibi untuk mereka, mereka terus bercanda dan terlihat layaknya keluarga harmonis.
__ADS_1
Warda yang sedari tadi memperhatikan mereka benar-benar tak mengira jika semua akan berakhir seperti ini.
Anaknya sangat mencintai istrinya hingga ia rela menahan sakit hatinya untuk melepaskan Khanza.
"Kalau kita melihat mereka seperti tak ada masalah ya, Bu?" ucap bibi yang ikut memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Bibi benar, mereka seperti keluarga bahagia pada umumnya. Bi, apa salah jika aku berharap mereka memang bahagia dan berharap perceraian mereka tak terjadi?" tanya Warda masih tetap memandang ke arah keluarga kecil yang sedang bermain di taman itu.
"Ibu tidak salah semua itu pasti berharap untuk kebahagiaan anaknya, tapi jika aku diposisi ibu Khanza mungkin aku juga akan setuju dengan perceraian mereka," ucap Bibi yang mengetahui semua apa yang Khanza alami, Bibi sudah menyayangi Khanza seperti Adiknya sendiri atau mungkin anaknya sendiri. Bibi memiliki anak seusia Khanza dan telah menikah. Jadi ia benar-benar bisa merasakan bagaimana jika ia berada di posisi ibunya Khanza.
Warda menatap bibi mendengar apa yang diucapkannya.
"Mungkin mereka terlihat bahagia sekarang, tapi kita tidak tahu apakah Khanza akan bahagia kedepannya," tambah bibi.
"Iya, aku tahu pak Abizar pasti akan bisa membahagiakan Khanza dan anak-anaknya dia juga akan bisa adil kepada keduanya istrinya, tapi sepertinya hati Khanza terlalu mencintai pak Abizar dan tak terima jika orang yang dicintainya mencintai orang lain. Ia harus berbagi cinta suaminya, apalagi dengan semua kejadian yang ada selama ini dialaminya, kesalahan-kesalahan yang Abizar perbuat yang menurutku itu memang sudah sangat tak bisa dimaafkan, jika aku menjadi ibu dari Khanza aku tak akan membiarkan ia terus berada dalam hubungan yang akan menyakiti entah sampai kapan."
"Bibi benar, kami memang sudah melakukan kesalahan yang sulit untuk dimaafkan, dari awal pernikahan mereka, memang sudah ada kebohongan. Mungkin jika saat itu Khanza tahu jika Abizar sudah memiliki Farah dalam hidupnya mungkin dia tak akan mau menikah dengan Abizar, mungkin anak itu akan memiliki kebahagiaan lain di luar sana. Aku merasa malu pada diriku sendiri Karena melakukan semua itu, aku juga seorang ibu jika aku adalah ibu Khanza pasti aku tak akan terima dengan semua itu." Warda mengingat kembali saat dimana mereka sepakat untuk melakukan kebohongan demi membawa Khanza dalam keluarga mereka.
"Khanza anak yang kuat, ia bisa bertahan sampai sekarang, Khanza tak punya siapapun tempatnya mengadu, hanya Aqila tempat ia mencurahkan segala sakit hatinya, tak ada ibu yang bisa mendekapnya saat ia meresa sangat terpuruk. Ia pasti sangat menderita saat mengetahui kenyataan itu, aku tak bisa membayangkan rasa sakit yang dialaminya, aku tak tahu apa yang aku lakukan jika anakku berada di posisi Khanza." Bibi tak bisa menahan air matanya. Membayangkan saja sudah membuat sesak.
__ADS_1
"Khanza memang wanita yang kuat, ia pasti merasa sangat sakit hingga memutuskan untuk pergi saat mengetahui kesalahan kedua Abizar, ia pasti merasa tak dianggap dan tak dicintai saat itu. Aku yakin Khanza selama ini berusaha untuk mencapai keikhlasannya mencoba berbagi cinta dan menerima kenyataan jika suaminya bukanlah miliknya saja," Lirih Warda yang merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya selama ini.
"Di Usianya yang masih sangat muda ia harus menanggung penderitaan sebesar itu dan menjadi seorang ibu tanpa ada suami di sampingnya," ucap bibi yang tau bagaimana perjuangan Khanza selama ini, ia harus mengurus Aisyah dan Aziel. Walau ada dirinya Khanza tetapi menjadi ibu yang selalu ada untuk anak-anaknya. Tak jarang bibi melihat Khanza menangis saat anak-anaknya tertidur, bibi tak tau apa yang di tangisnya, tapi bibi bisa merasakan sakit hanya mendengar rintihannya.
Khanza juga merasa sangat sedih saat terus berbohong pada putranya saat menanyakan keberadaan papanya.
"Sudah dua kali Khanza memberikan kebahagiaan yang tak ada duanya kepada Abizar, memberikan kebahagiaan yang tak bisa didapatkan dari siapapun, dua malaikat kecil yang menjadi tujuan hidupnya saat ini dan sudah dua kali juga Abizar selalu melukainya. Abizar tak pernah ada di saat dia sangat Khanza sangat membutuhkannya. Di saat dia melahirkan kedua anaknya mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anak-anaknya untuk melengkapi kehidupannya. Aku tak tahu kenapa keadaan begitu sangat tak mendukungnya.
"Di awal kehamilan pertamanya dimana saat itu seharusnya ia mendapat kebahagiaan dan kasih sayang yang berlimpah dari suaminya ia justru harus menerima beban kenyataan kebohongan Abizar, kenyataan pahit jika ia adalah istri kedua dan saat proses persalinannya dia berjuang antara hidup dan mati tanpa adanya Abizar disisinya, Khanza bahkan mengalami koma berbulan-bulan.
Kehamilan keduanya pun ia kembali menghadapi kenyataan pahit jika suaminya tak menghargainya, Abizar kembali melakukan kesalahan yang menyakiti perasaannya dan harga dirinya sebagai seorang istri. Persalinannya juga tak lebih baik." Warda terus melihat pada Khanza yang terlihat begitu telaten menyuapi keduanya cucunya, merawat mereka dengan sangat baik.
"Kalau Khanza mengatakan jika ia lelah aku benar-benar percaya jika ia menang sudah lelah, selama pernikahan Khanza memang lebih banyak menghadapi kesulitan dan kesedihan," ucap Warda menghapus air matanya.
Tuhan telah mengirimkan Khanza untuk melengkapi kebahagiaan keluarganya. Namun, sepertinya mereka seakan buta dan tak menghargainya kehadiran Khanza yang dikirimkan untuk mereka. Khanza telah membawa kebahagiaan sebagai pelengkap dari kekurangan yang tak mereka miliki, tapi rasa syukur tak ada dalam hati mereka. Mereka semua lah yang membuat kebahagian itu pergi dari kehidupan mereka. Jika mereka mampu menjaga Khanza dengan baik semua itu pasti tak akan terjadi. Mereka lah yang memaksanya pergi walau selama ini khanza sudah bertahan demi cinta dan anaknya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
__ADS_1
Salam dariku Author M Anha 🥰🤗
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖