
Hari berganti Hari, rumah-rumah yang sedang dibangun berkat bantuan Abizar kini sudah hampir rangkum. Beberapa rumah bahkan sudah jadi dan sudah kembali bisa ditempati pemiliknya.
Mereka tak menyangka Abizar membuat rumah permanen untuk mereka.
Mereka semua sangat bersyukur dan berterima pada Abizar.
"Terima kasih ya, Nak. Berkat kamu kami semua bisa mendapat rumah yang layak" ucap salah satu warga yang sudah menempati rumahnya.
"Sama-sama, Pak. Ini semua rezeki datangnya dari Allah saya hanya sebagai perantara saja, mungkin ini jawaban atas doa bapak selama ini," jawab Abizar ramah.
Semakin hari, Khanza semakin merasa jika Abizar benar-benar tulus mencintainya, suaminya itu tak pernah membujuknya untuk kembali, ia benar menepati kata-katanya akan menunggu sampai ia sendiri yang ingin kembali dan ikut bersamanya.
Ia juga melihat jika suaminya itu berusaha tetap adil pada mereka. Abizar tak pernah lupa untuk menelpon Farah setiap malam dan mengajaknya mengobrol bertiga.
Keramahan Farah padanya membuat Khanza merasa bersalah dan egois.Β
Hari ini adalah jadwal pemeriksaan ke rumah sakit,
"Apa Nenek nggak mau ikut? tanya Khanza yang sudah siap. Namun, nenek masih sibuk di dapur.
"Iya, sebentar ini bereskan ini dulu." Nenek nggak akan tenang jika meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan.Β
Begitulah nenek, orangnya sangat suka kebersihan, ia tak akan meninggalkan rumahnya dalam keadaan kotor khususnya di dapurnya.
Abizar, Khanza, dan kakek sudah siap, mereka menunggu nenek di teras rumah.
Kakek terus meneriaki nenek agar lekas bersiap-siap dengan cepat, sesekali kakek menengok ke dalam melihat apakah nenek sudah siap atau belum.
"Kenapa lama sekali sih, bagaimana kalau kita terlambat?" ucap kakek saat nenek keluar dan mengunci pintu.
"Kita 'kan sudah punya mobil sendiri jadi nggak usah khawatir. Ini juga baru jam berapa," ucap nenek memperlihatkan jam di pergelangan tangannya.
Jika ingin ke kota biasanya mereka harus bersiap lebih awal, selain harus menunggu angkutan umun mereka juga harus berputar-putar mengikuti angkutan tersebut membawa penumpangnya.
"Iya, Kek. Nggak apa-apa kok, ini juga belum terlambat," ucap Khanza kemudian mereka semua berjalan ke mobil.
Setelah Melawati drama nenek, akhirnya mereka bisa berangkat.
Abizar melajukan mobilnya, kakek duduk di depan sedangkan nenek duduk di belakang bersama Khanza..
"Sebentar lagi persalinan kamu. Apa kamu ingin melahirkan disini atau ingin kembali ke kota suamimu?" Tanya nenek.
"Pembangunannya 'kan belum selesai, masa kita harus meninggalkannya."
"Kalau kalian memang mau pulang, pulang saja. Pembangunan di sini biar kakek dan paman mu yang mengawasinya. Suamimu juga sudah lama 'kan meninggalkan pekerjaannya," ucap kakek.
__ADS_1
Abizar hanya fokus menyetir sambil mendengarkan obrolan mereka, dia terus menyimak apa jawaban Khanza di setiap pertanyaan kakek dan neneknya.
Tersirat rasa senang di hati Abizar saat ia bisa menangkap jika Khanza sepertinya kemungkinan akan ikut bersamanya dan segara pulang.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, akhirnya mereka sampai di klinik.
Abizar membawa kendaraannya cukup pelan, mengingat ia membawa istrinya yang sedang hamil, dia menyesuaikan dengan jadwal pemeriksaan.
Tak butuh lama mengantri, nama Khanza sudah dipanggil. Khanza memasuki ruang perawatan di temani Abizar tentunya begitu juga dengan nenek, kakek memilih menunggu di luar.
"Bagaimana keadaan bayi saya, Dokter?" tanya Abizar.
"Keadaan bayi Bapak sangat sehat, tapi sepertinya ada masalah dalam proses persalinan kelak," jawab sang Dokter.
"Maksudnya apa Dokter?"
"Sepertinya perputaran bayinya agak sedikit lambat dan menurut perkiraan kelahirannya kemungkinan bayinya tak akan sampai pada posisi yang baik."
"Apa bayi kami akan baik-baik saja, Dokter?" tanya Khanza khawatir.
"Tentu saja, Bu. Semua akan baik-baik saja, tapi sepertinya akan kesulitan untuk melakukan proses persalinan secara normal. Saran saya ibu melakukan operasi sesar," ucap Dokter.
Mendengar kata sesar nenek menjadi takut.
"Apa tidak ada jalan lain Dokter selain sesar?" Tanya nenek.
"Apa Bapak dari kota ini?" tanya Dokter tersebut melihat penampilan Abizar.
"Kami dari Jakarta," jawabnya.
"Saran saya, sebaiknya Bapak bawah istri bapak melahirkan di sana, perlengkapan di sana jauh lebih lengkap daripada di kota ini. Tapi itu cuman saran saya, Pak. Jika mau melahirkan disini kami akan berusaha membantu."
"Terima kasih Dokter atas sarannya," jawab Abizar.
Jika disuruh memilih pasti Abizar akan memilih membawa Khanza kembali ke kotanya, bahkan mungkin sampai ke luar negeri jika menyangkut keselamatan Khanza dan bayinya. Namun, itu semua kembali lagi semua keputusan ada di tangan Khanza.
Kesalahan fatal yang Abizar lakukan membuat dia kehilangan beberapa haknya, ia berusaha lebih menekan dan lebih sabar dan menuruti apa yang diinginkan oleh istrinya agar ia bisa memaafkannya.
Sepanjang perjalanan Khanza hanya diam sambil terus mengelus perutnya, Abizar sesekali melirik istrinya, melihatnya dari kaca spion. Ia bisa melihat jika istrinya itu sedang memikirkan sesuatu.
Rasa takut mulai menjalar di hati Khanza, mendengar kata operasi membuat nyalinya menciut walau tak mengatakannya. Namun, selama ini Khanza sangat takut Saat memasuki bulan bulan masa persalinannya.
Usia kandungan Khanza sudah memasuki usia 9 bulan dan hanya tinggal menunggu hari saja.
Di kamar kanza.
__ADS_1
Abizar duduk di samping Khanza, mengausap lembut perut istrinya, merasakan setiap gerakan yang ada di dalam sana sambil menatap lekat mata sang Khanza.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Abizar.
"Aku takut. Bagaimana kalau aku tak bisa melahirkan bayi kita, bagaimana jika aku gagal menjadi seorang ibu," ucap Khanza
"Aku takkan membiarkan apapun terjadi pada bayi kita, ada aku ayahnya yang akan melindunginya, melindungi kalian," ucap Abizar mengelus lembut pipi Khanza.
"Aku ingin pulang, Kak," lirihnya sangat pelan.
Namun kata itu mampu membuat Abizar begitu senang, Khanza mengucapkannya dengan sangat pelan, tapi Abizar masih bisa mendengarnya.
"Katakan sekali lagi," ucap Abizar ingin memastikan.
"Aku ingin melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap, Aku takut jika melahirkan di rumah sakit disini. kakak dengar sendiri 'kan tadi apa yang dikatakan Dokter, kalau persalinanku ada masalah," ucap Khanza sedih.
"Baiklah, kita akan pulang. Aku akan memesan tiket pulang, sebaiknya kita pulang lebih cepat sebelum usia kandungan mu semakin mendekati hari persalinan."
"Iya Mas, kita bisa pulang besok," ucap Khanza akhirnya memutuskan untuk kembali pulang bersama Suaminya..
Tak membuang waktu lagi, Abizar langsungkan menyewa pesawat pribadi untuk mengantar mereka kembali ke ibu kota.
"Terima kasih sudah setuju kembali ke kota dan melahirkan di sana. Aku janji akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian," ucap Abizar tersenyum senang.
Abizar sangat senang saat Khanza sudah mau kembali lagi ke kota, ia tak bisa berbuat apa-apa saat di rumah ini, ia juga mengkhawatirkan kondisi perusahaan nya.
"Apakah ini jawaban dari segala doa doaku," batin Khanza.Β Selama ini ia selalu meminta petunjuk, pilihan mana yang harus di ambilnya, Apakah ia harus bertahan dengan pernikahan ini atau menyerah.
Khanza tak pernah melewatkan di setiap doanya, untuk meminta petunjuk. Apakah ia harus mengakhiri pernikahannya dengan Abizar atau bertahan dengan berpoligami dengan Mbak Farah.
Dengan adanya kejadian ini, khanza yakin ini adalah jawaban dari doa-doanya.
"Aku akanΒ mencoba bertahan dan kembali hidup bersama dengan kak Abi dan mbak Farah."
πππππππππππ
Terima kasih sudah membacaπ
Sambil nunggu update terbaru, bisa mampir ke karya teman literasi ku, Kak π
Salam dariku Author m anha β€οΈ
love you all πππ
__ADS_1
πππππππππππππ