Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
KEBERSAMAAN.


__ADS_3

Pagi hari Farah sudah sibuk di dapur bersama bibi yang selama ini membantu menyiapkan makanan untuk semuanya, Khanza menghampiri,


"Ada yang bisa aku bantu, mbak?" tanya Khanza.


Farah menarik kursi dan mempersilakan Khanza duduk.


"Kamu duduk saja disini, biar mbak yang menyiapkan semuanya."


"Nggak apa-apa kok Mbak, Khanza juga ingin membantu," jawab Khanza yang duduk di tempat yang telah disiapkan Farah.


"Ya udah, kamu motongin sayur aja ya!" ucap Farah mengambil beberapa sayuran di kulkas dan memberikannya kepada Khanza. 


"Apa kamu ingin makan sesuatu? Biar Mbak bikinkan."


"Nggak kok Mbak, aku makan apa yang mbak lagi bikin aja."


"Hari ini Mbak lagi masak rendang, kamu suka rendang?"


"Suka kok mbak, suka sekali. Sudah lama banget Khanza nggak makan rendang, terakhir waktu lebaran di kampung sama nenek," jawabnya.


Bibi sudah mulai memasak rendang, Farah duduk di samping Khanza, membantu memetikmu beberapa sayuran sebagai pelengkap.


"Mbak?"


"Iya, ada apa?" Melihat kearah Khanza.


"Entah mengapa aku merasa takut, Mbak. Menjelang persalinanku," lirih Khanza.


Farah memegang tangan Khanza, mengelus dengan lembut, "Wajar kalau kamu takut, ini adalah persalinan pertama kamu, tapi kamu nggak usah khawatir, ada Mbak dan Mas Abi yang akan menemani kamu."


"Iya, mbak. Makasih ya, aku benar-benar merasa takut. Mendengar kata operasi saja aku sudah membayangkan diriku berada di meja operasi. Bagaimana jika terjadi sesuatu padaku?" 


"Kamu jangan pikirkan hal yang macam-macam, semua pasti akan baik-baik saja. Mas Adi menyiapkan segala sesuatunya dengan baik, kita  percaya kan semuanya pada dokter yang kita membantu proses persalinan mu dan serahkan semua pada Allah SWT."


"Makasih ya, Mbak. Maaf, selama ini aku banyak merepotkan, Mbak."


"Nggak kok, mbak nggak ngerasa direpotkan. Jika kamu ingin sesuatu ngomong aja sama mbak ya, jika bisa mbak akan bantu," ucap Farah.


Khanza tersenyum dan mengangguk, selama ini Farah sangat baik padanya.


Beberapa saat kemudian Abizar datang menghampiri mereka dengan menggunakan pakaian kerjanya. 


"Loh, Mas. Mas mau ke kantor?" tanya parah saat melihat Abizar yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya, karena hari ini adalah hari Minggu.


Abizar duduk di samping Khanza dan mengelus lembut perutnya.


"Iya. Ada hal penting yang harus dikerjakan, mungkin malam ini aku akan lembur," ucap Abizar.


"Bagaimana kandungan kamu?" tanya Abizar yang masih mengelus perut Khanza.


"Baik kok kak, tapi Khanza takut."


"Takut kenapa?"


"Persalinannya tinggal beberapa hari lagi, mendengarkan kata oprasi saja sudah membuat kaki Khanza terasa sangat lemas," ucapnya.


"Kamu nggak usah takut, semua pasti akan baik-baik saja. Percaya padaku."


Khanza hanya bisa mengangguk pelan mendengarkan ucapan suaminya, Abizar mengelus lembut rambut Khanza, istri yang tanpa sadar memenuhi hatinya.


"O ya, Kapan nenek datang?"


"Besok kak, nenek semalam menelpon agar kakak menjemput di bandara."

__ADS_1


"Apa kakek juga datang?"


"Nggak, hanya nenek, kakek akan menyusul setelah bayinya lahir, kakek masih punya pekerjaan di ladang yang ga bisa ditinggalkan," jawab Khanza.


Farah menyiapkan sarapan untuk Abizar.


"Sarapannya, Mas," Farah menyiapkan sarapan untuk suaminya.


Memiliki perut yang buncit membuat  Khanza tak bisa melayani suaminya dan menyerahkan semua pada Farah.


Tak lama kemudian datang Warda dan Santi menghampiri mereka juga dengan pakaian yang sudah siap untuk keluar.


Abizar melihat keduanya.


"Mau keluar, Mah?" tanya Abizar.


"Iya, Mama ada arisan di luar kota. Jadi mungkin Mama pulangnya besok pagi," ucap Wardah, seperti biasa, saat ia keluar kota, pasti Santi akan ikut. 


"Khanza, apa kamu ingin Mama membelikan sesuatu?"  tanya sembil melihat menantunya.


"Nggak usah, Mah. Semua sudah ada kok di sini,".ucapnya.


Mereka pun sarapan, Abizar melihat Khanza makan dengan lahap menu rendah buatan Farah.


"Khanza yang merasa di perhatikan juga melihat Suaminya dan tersenyum malu."


"Makan yang banyak, biar bayi kita sehat," ucap Abizar.


"Mas Abi benar, kamu jangan menahan makan mu hanya karena alasan berat badan," ucap Farah menambahkan rendah ke piring Khanza.


Makasih mbak, sudah cukup ... ini kebanyakan," ucap Khanza saat Farah menambahkan lauk ke piringnya.


Setelah makan, mereka pun berangkat, Khanza dan Farah mengantar mereka semua hingga ke teras melambaikan tangan hingga kedua mobil itu menjauh dari mereka.


Tertawa sejenak , "Sekarang kita hanya berdua, kita ngapain ya bagusnya," sahut Farah.


"Kita nonton aja ya, Mbak," usul Khanza


"Boleh," jawab Farah.


Mereka akhirnya menonton bersama sambil minum jus dan cemilan yang telah dibuat oleh Farah.


Mereka menonton sambil terus tertawa kadang menangis dan terkadang kesal melihat adegan film yang mereka tonton.


"Ternyata jika kita ikhlas menghadapi semuanya rasa sakit itu perlahan menghilang," batin Khanza yang merasa nyaman saat bersama dengan madunya itu.


Hari ini mereka menghabiskan waktu hanya mereka berdua.


Hingga malam menjelang mereka masih saja terus bersenang-senang, melakukan hal-hal yang mereka sukai, Farah juga memberikan warna pada kuku Khanza, semenjak hamil Khanza tak pernah lagi ke salon. Kedua istri Abizar itu terlihat sangat bahagia, bibi yang menyaksikan mereka juga ikut bahagia, selama ini bibi hanya diam, tapi ia tau semua apa yang terjadi di rumah ini.


Abizar sudah menelpon jika ia akan pulang telat, dan meminta mereka untuk tak menunggunya.


"Mbak, Khanza ke kamar dulu ya, aku ngantuk," ucap Khanza pamit ke kamar setelah mereka selesai makan malam.


"Iya, jika kau butuh sesuatu hubungi Mbak aja, ya," ucap Farah.


"Iya, Mbak," Jawab Khanza kemudian berlalu kekamarnya begitupun dengan Farah.


Farah kembali ke kamarnya, ada beberapa pekerjaan yang harus dikerjakannya, belakangan ini Ia terus mengurus perusahaan Abizar dan mengabaikan bisnisnya sendiri.


Walau bisnisnya tak sebanding dengan bisnis Abizar. Namun, Farah membangunnya dari nol, membesarkannya sendiri saat sebelum menikah dengan Abizar. Namun, untuk saat ini Farah menyerahkan bisnisnya itu kepada orang kepercayaannya dan fokus mengurus suami dan madunya. Bisnisnya berada di luar negeri jadi ia akan kesulitan jika harus bolak-balik.


Saat akan tidur ponsel Khanza kembali berdering, itu panggilan dari Abizar.

__ADS_1


"Halo, Kak?" jawabnya saat mengangkat panggilan dari suaminya.


"Kamu lagi di mana?" tanya Abizar.


"Aku sudah di kamar, Kak. Mau tidur," jawabnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Ya sudah, istirahatlah aku belum bisa pulang masih ada beberapa pekerjaan mungkin menjelang subuh baru aku akan pulang."


"Iya, Kak. Hati-hati di jalan saat pulang nanti," ucap Khanza sebelum mengakhiri panggilan mereka.


Abizar sudah menelpon kedua istrinya memberitahu jika ia akan pulang telat agar mereka berdua tak menantikannya, begitu juga dengan mertuanya mereka menginap dan akan pulang besok siang.


Abizar sangat sibuk dengan urusan kantornya, Ia mendapat proyek besar dan mengharuskannya lembur begitu juga beberapa karyawan lain.


Bukan hanya mereka, Farah juga masih berkutat dengan pekerjaannya hingga larut malam.


Khanza yang sudah tidur, tiba-tiba terbangun merasakan sakit di perutnya.


"Ada apa ini, kenapa perutku sakit," gumamnya mencoba berjalan ke kamar mandi, Khanza pikir jika dia sedang ingin buang air.


Beberapa saat kemudian sakit di perutnya pun menghilang.


"Sepatnya ini hanya Sakit biasa, bukan sakit buang air," batin Khanza Kembali ke tempat tidur.


Khanza kembali mencoba untuk tidur. Namun, sakitnya kembali terasa, Khanza mencoba mengambil minyak kayu putih dan membaluri ke perutnya.


"Apakah kebanyakan makan rendang, ya. Jadi perutku sakit begini," gumamnya terus membaluri, mengusap lembut perutnya.


Sakitnya kembali hilang, rasa hangat minyak kayu putih sudah menjalar di perutnya, memberi rasa nyaman, Khanza bernafas lega. Kemudian kembali lagi mencoba memejamkan matanya. Beberapa menit kemudian ia merasakan lagi sakitnya. Namun, kali ini sakit lebih terasa.


Khanza menggenggam selimut, mencoba menahannya sakit, meringkuk, mengeratkan giginya.


"Ada apa dengan perutku. Apa bayiku baik-baik saja," Khanza mulai ketakutan.


Sakitnya kembali hilang, Khanza yakin sakitnya akan kembali lagi, ia teringat penjelasan dokter tentang tanda-tanda akan melahirkan.


"Apa aku akan melahirkan, apakah ini kontraksi," ucapnya memaki kebodohannya sendiri. Saat pemeriksaan terakhir kandungan nya dokter telah menjelaskan tanda-tanda terjadinya kontraksi akan melahirkan.


 Dengan cepat Khanza mengambil ponselnya, ia dengan cepat mencari nomor ponsel Abizar dan mencoba menghubungi suaminya.


Panggilan terhubung. Namun, Abizar tak  mengangkat panggilannya.


Sakitnya kembali datang, Khanza terus mencoba menghubungi Abizar sambil terus mencoba menahan rasa sakit yang seperti melilit perutnya, yang semakin di tahannya sakit semakin memuncak.


"Kak, angkat telponnya," ucap Khanza bibirnya sudah bergetar menahan tangisnya.


Rasa takut, khawatir, panik dan sakit bercampur menjadi satu.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Sambil nunggu update terbaru, yuk mampir ke karya salah satu teman sesama author



jangan lupa like, vote dan komennya 🙏


salam dariku Author M Anha ❤️


love you all 💕💕💕

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2