
Farah menikmati harinya dengan kedua temannya, mereka pergi di salah satu cafe ternama yang cukup nyaman di kotanya, bercanda bergembira karena baru bertemu setelah sekian lama.
Di kafe yang sama Daniel dan Aqila juga menghabiskan waktu bersama, tentu saja mereka mengobrol membahas masalah Abizar dan Khanza.
"Bukannya itu Mbak Farah, ya?" tanya Aqila menunjuk ke arah Farah yang sedang tertawa bersama teman-temannya.
Daniel berbalik melihat apa yang ditunjuk oleh Aqila dengan lirikannya.
"Iya, itu ibu Farah istri Abizar," jawab Daniel yang bisa melihat jika yang di sana itu adalah istri pertama Abizar, madu dari Khanza yang terlihat begitu bahagia bersama dengan teman-temannya, tertawa lepas tak ada penderitaan di sana seperti yang ada dalam pikiran Daniel.
Dalam pikirannya, Istri pertama pasti sangat menderita dan selalu memikirkan nasib pernikahannya, selalu merasa sakit hati melihat suaminya bersama dengan madunya. Seperti apa yang di alami adiknya.
"Apa pernikahan mereka benar-benar bahagia?" tanya Daniel kembali melihat ke arah Aqila.
"Kak, Kenapa sih kakak sejak kemarin-kemarin terus mengurusi rumah tangga mereka, itu 'kan bukan urusan kita. Mereka bahagia atau tidak hanya mereka yang tahu," jawab Aqila cuek dan minum minumannya.
"Aku hanya kasihan pada Khanza."
"Kasihan! Kenapa?"
" Khanza. Gadis secantik dan sebaik dia harus menjadi istri kedua, bukannya itu sangat menyedihkan. Kau juga seorang wanita pasti kau tak rela dimadu 'kan?"
"Ya nggak, lah! Kok jadi aku sih yang dimadu," ucap Aqila menatap Daniel tak senang.
"Ya, bukan maksud aku kamu yang akan dimadu, aku hanya apa ya namanya, Hmmmm" berfikir keras, "Mungkin sebagai perumpamaan saja."
"Iya sih dimadu itu memang sakit, tapi ada beberapa poligami yang berhasil, mereka bahagia dengan kehidupan mereka."
"Aku yakin mereka hanya menyembunyikan kesedihannya," ucap Daniel.
"Kenapa kamu beranggapan seperti itu?"
"Aku hanya melihat dari fakta, kemungkinan dari sekian banyak poligami hanya beberapa yang berhasil," ucap Daniel.
"Termasuk mereka Khanza, Abizar, dan Farah. Aku rasa poligami mereka juga berhasil," jawab Aqila akhirnya cepat.
"Kenapa kamu bisa yakin jika Khanza baik-baik saja?"
"Aku dan Khanza itu lebih dari teman, hubungan kami nggak seperti yang kau bayangkan. Aku tahu semua masalah Khanza. Aku tahu Khanza sekarang sangat bahagia dengan kehidupannya, jadi…" Aqila menjeda kalimatnya sedikit memukul meja dan menatap Daniel dengan tatapan tajamnya.
Aqila mencondongkan badannya agar lebih dekat kepada Daniel, "Jadi jangan coba-coba menjadi PEBINOR dalam hubungan mereka."
Daniel menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Apa jelas terlihat, ya. Jika aku berniat menjadi pebinor," kata Daniel sedikit menahan tawanya.
__ADS_1
Aqila memutar bola matanya malas, ia masih menerka-nerka seperti apa sifat Daniel sebenarnya, awalnya Ia berpikir Daniel itu seperti Abizar, dingin dan kaku. Namun, ternyata dugaannya salah. Setelah beberapa kali bertemu sosok Daniel sifat dan karakter mereka sangat jauh berbeda. Walau mereka sama-sama seorang pemimpin perusahaan besar.
Daniel sangat ramah, humoris bahkan Aqila merasa ia sudah sangat dekat dengan Daniel. Karena Daniel juga memperlakukannya dengan santai seolah mereka sudah lama saling kenal, tak ada kecanggungan lagi di antara mereka. Mengesampikan pekerjaannya yang sebagian big bos perusahaan yang setara dengan perusahaan tempat ia bekerja.
Aqila yang awalnya selalu menjaga sikap agar terlihat lebih anggun, lemah lembut dari karakter sebenarnya, kini tak lagi dan bersikap seperti karakter sebenarnya.
Bukan cuman Aqila dan Daniel yang memperhatikan mereka, tapi Farah juga memperhatikan hal sebaliknya. Ia memperhatikan Daniel dan Aqila yang terlihat begitu bahagia, terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan.
"Apa Daniel mendekati Khanza untuk mencari informasi tentang sahabatnya itu atau sebaliknya dia mendekat sahabatnya untuk mencari informasi tentang Khanza," batin Farah menerka-nerka.
"Ada apa?" tanya salah satu temannya yang melihat Farah berfokus pada tempat lain.
"Nggak papa kok Aku hanya melihat orang yang aku kenal," ucapnya.
"Siapa?" tanyanya lagi.
"Pria dan wanita yang duduk disana, itu salah satu rekan bisnis suamiku dan wanita itu sahabat dari Khanza, maduku," ucapnya.
Ke dua teman Farah berbalik menatap Aqila dan Daniel.
"Oh, itu Pak Daniel ya?" ucapnya Yang mengenal sosok Daniel.
"Apa kau mengenalnya?" katanya Farah.
"Apa dia sudah menikah atau memiliki kekasih tanya Farah lagi.
"Setahuku sih dia pak Daniel belum menikah. Dulu saat pertama kali memimpin perusahaan, kekasihnya sering ke kantor. Namun, aku dengar saat mereka akan menikah kekasihnya itu malah menikah dengan pria lain dan Sejak saat itu aku dengar dia tak pernah lagi menjalin hubungan serius dengan wanita, bahkan beberapa wanita yang berbeda sering datang ke kantor untuk menemuinya."
"Maksudmu dia jadi playboy gitu karena patah hati?" tanya salah satu temannya lagi.
"Mungkin saja!" Jawab teman satunya.
"Apa dia juga menjadikan Khanza dan Aqila sebagai sasarannya," batin Farah mulai curiga pada sikap Daniel.
Menurutnya mengirim pesan seperti apa yang dilakukan pada pada Khanza itu tak baik dan sepertinya Daniel memang menyukai Khanza.
Hari sudah mulai malam Farah pamit pulang lebih dulu dan saat berjalan melewati Daniel dan Aqila ia berhenti sejenak dan menyapa mereka.
Aqila yang melihat Farah berjalan ke arahnya sambil tersenyum ikut membalas senyuman dan berdiri menyambutnya, mereka berpelukan dan cium pipi kanan cium pipi kiri.
"Halo Pak Daniel, Senang bertemu Anda di sini," ucap Farah formal menjabat tangan Daniel.
"Iya, Ibu Farah. Mari gabung dengan kami," ucap Daniel.
__ADS_1
"Terima kasih Pak Daniel, saya sudah ingin pulang. Kalau begitu silahkan nikmati jamuan kalian saya permisi dulu, Aqila sesekali mampirlah ke rumah," ajak Farah.
"Iya Mbak," Jawab Aqila dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Iya masih canggung dengan madu sahabatnya itu.
Farah pun kembali melanjutkan berjalan keluar kafe menuju ke mobil dan meninggalkan cafe tersebut.
Aqila terus menatap mobil Farah yang semakin jauh dan menghilang dari balik kaca cafe.
"Beruntung sekali ya, Pak Abizar memiliki 2 istri yang cantik dan baiknya luar biasa," ucap Aqila mengagumi sosok Farah, Ia banyak mendengar cerita dari Khanza jika Farah sangat baik dan perhatian padanya.
"Kau benar, Farah dan Khanza gadis yang sangat baik dan cantik tapi sayang mereka harus berbagi suami."
"Kakak ini, kenapa sih. Sewot sekali dengan hubungan mereka. Mereka aja yang menjalaninya santai aja tuh dengan status mereka," ucap Aqila mulai kesal, sejak tadi Daniel seolah-olah menyalahkan hubungan poligami mereka.
"Aku bukannya sewot, tapi kalau mereka bisa memiliki satu pria untuk mereka sendiri kenapa tidak, aku yakin masih banyak pria yang mau mendampingi dan membahagiakan mereka
"Termasuk kamu, gitu kan maksudmu," ucap Aqila pada Daniel.
"Benar sekali," ucap Daniel mengacungkan jempol pada Aqila.
"Udah ah, ngobrol sama kakak nggak ada faedahnya, Aqila berdiri dari duduknya.
" Jangan coba-coba merusak rumah tangga Khanza," ucapnya sebelum pergi meninggalkan Daniel.
Daniel menenggak minumannya kemudian mengambil kunci mobil yang ada di meja, tak. Lupa ia membayar apa yang telah mereka pesanan. dan berlari mengejar Aqila yang jalan lebih dulu meninggalkannya.
"Berharap nggak ada salahnya 'kan? ucapnya lagi saat berhasil berjalan beriringan dengan Aqila.
"Kak Daniel. Kenapa sih harus menginginkan milik orang, Khanza itu sudah menjadi milik Pak Abizar sudah menjadi istrinya secara resmi. Kenapa kakak masih menginginkannya, masih banyak kan wanita yang lain yang tak memiliki hubungan resmi dan menyukai kakak.
"Termasuk kamu, gitu?"
"Betul sekali," ucap Aqila melakukan hal yang sama, ia juga memberikan dua jempolnya tepat di depan wajah Daniel.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like dan komennya ya, 🙏
Salam dariku Author M Anha
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1