
Semua sudah duduk di ruang persidangan kecuali bibi, ia tetap di rumah menjaga Aziel dan Aisyah.
Semua menunggu dengan cemas persidangan akan dimulai.
Abizar dan Khanza masih berada di luar ruang persidangan, mereka berada di ruangan lain di samping ruangan tempat akan berlangsungnya sidang.
Perlahan Abizar mendekati Khanza.
Khanza apa kamu yakin akan melakukan semua ini, masih ada waktu untuk membatalkannya," lirihnya dengan suara tercekat dan menatap dalam mata Khanza.
Walau dengan mata yang berkaca-kaca Khanza mengatakan iya dan mengangguk.
Abizar lemas dan tak bisa berkata apa-apa lagi.
Khanza menggenggam erat ponsel yang ada di tangannya saat mendengar Panitera mulai meminta para hadirin untuk berdiri yang menandakan Hakim yang memimpin persidangan itu akan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Setelah Hakim duduk mereka dipersilahkan duduk kembali.
Bude dan yang lainnya merasa berdebar, mereka tak menginginkan perceraian ini terjadi.
Warda bahkan sudah menetes air mata. Farah mencoba menenangkan mertuanya itu dengan menggenggam tangannya.
Kakek yang terlihat tegar juga berusaha menahan rasa gugupnya, walaupun ia mengatakan iya saat Khanza meminta izin padanya dalam hati kecil kakek tak menginginkan perceraian ini.
Khanza menutup matanya saat mendengarkan Hakim mulai membacakan beberapa pasal-pasal sebagai pembuka diadakannya persidangan tersebut menandakan akan segera dimulai. Hakim juga memimpin doa untuk dilancarkannya proses yang akan mereka adakan pada hari ini.
"Pengadilan ini dibuka dan terbuka untuk umum," ucap hakim tersebut dengan lantang kemudian mengetuk palunya sebanyak 3 kali.
Penitera kembali melanjutkan tugasnya, ia mempersilahkan penggugat dan tergugat untuk masuk ke ruang sidang.
"Ayo, Pak, Bu! Silahkan masuk," ucap pengacara Khanza mempersilahkan Khanza dan Abizar untuk memasuki ruangan.
Khanza sudah berjalan lebih dulu masuk dalam ruangan tersebut bersama 2 pengacaranya dan duduk ditempat yang sudah disiapkan, sementara Abizar masih terus berada di ruangan sebelumnya ia merasa enggan untuk masuk ke ruangan tersebut.
Khanza melihat ke arah tempat dimana Abizar berada, tak ada tanda-tanda jika ia akan ikut dalam persidangan tersebut.
Pengacara Abizar menghampirinya memberikan kekuatan agar dia bisa menghadiri acara.
Dengan gontai Abizar pun berjalan dan duduk di samping Khanza di depan hakim yang akan memimpin sidang tersebut.
Sebelum memulai persidangan Hakim menanyakan kabar mereka berdua, apakah mereka sudah siap dan tanpa paksaan untuk datang ke persidangan tersebut. Mereka berdua hanya mengangguk dan mengatakan iya dengan suara yang sangat pelan.
Hakim mulai membacakan beberapa agenda yang telah mereka lalui sebelumnya.
__ADS_1
Menyatakan Khanza sebagai penggugat dan tergugat Abizar.
Membacakan duduk perkara mengapa persidangan tersebut terjadi, menyebutkan nama-nama anak yang lahir dari pernikahan mereka." Beberapa dari peserta sidang yang tak mengenal Khanza merasa miris dan kasihan saat hakim menyembut berapa usia keduanya.
Abizar memegang dadanya saat nama Azil dan Aisyah disebut.
Hakim juga membacakan tuntutan Khanza dalam perceraian tersebut dan menyatakan alasan mengapa Khanza menggugat Abizar, pernyataan saksi yang menyatakan jika mereka sudah beberapa bulan berpisah rumah, tak ada kecocokan dan sudah tak ada lagi hubungan di antara mereka.
Hakim menjelaskan dasar perceraian, Perselisihan yang terus terjadi di antara mereka, tak adanya keselarasan dan keharmonisan di antara mereka dan tak
ada harapan lagi untuk mereka kembali.
Hakim juga membacakan jika pihak keluarga sudah berusaha membujuk mereka agar bisa mempertahankan rumah tangga. Namun, tetap saja bujukan tersebut tak berhasil.
Tujuan pernikahan untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah sebagaimana yang telah ditulis dalam undang-undang dan pasal-pasal serta di beberapa hadis. Namun, menimbang perkawinan mereka sudah sangat berada di titik kritis yang apabila dipaksakan untuk dilanjutkan maka akan berdampak negatif bagi keduanya dan akan membawa masalah yang lebih besar di kemudian hari dalam pernikahan mereka. Melakukan tindakan perceraian akan lebih baik untuk keduanya daripada terus mempertahankan perkawinan mereka," pernyataan Hakim dibacakan secara jelas dan tegas.
Hakim juga menawarkan upaya banding untuk tergugat, tapi sesuai kesepakatan mereka, pengacara Abizar menyatakan bahwa mereka tidak akan melakukan banding dan akan menerima apapun keputusan Hakim pada hari ini.
Sepanjang sidang tak pernah sekalipun Abizar mengangkat kepalanya, Ia terus saja menunduk, ia tak sanggup menghadapi kenyataan jika ia harus berpisah dengan Khanza. Namun, kenyataan itu harus dilaluinya dan sudah ada di depan matanya.
Selama persidangan semua hanya diam dengan pikiran masing-masing menahan isak tangis mereka agar tidak mengganggu jalannya persidangan, mendengar dengan saksama apa yang Hakim bacaan.
Bibir Khanza sudah bergetar sejak tadi ia menahan tangisnya, Ia terus menguatkan hatinya jika inilah keputusan yang tepat untuk keduanya.
Setelah rangkaian panjang proses persidangan akhirnya Hakim sampai pada tahap akhir dengan lantang Hakim menyatakan gugatan penggugat atas nama Khanza dikabulkan.
Hakim kembali membacakan apa yang harus bisa dilakukan setelah persidangan berakhir. Mulai dari kewajiban Abizar membiayai anak-anaknya hingga anak-anaknya mampu mencari nafkah sendiri, serta mengenai hak asuh yang akan dipegang oleh Khanza juga sampai anaknya berusia dewasa.
Setelah membacakan semua pertimbangan dan kesimpulan atas sidang dari awal hingga saat ini, dan tak ada yang keberatan tetang keputusan yang di ambil Hakim. Hakim pun mengetuk Palu sebanyak 3 kali dan menyatakan jika mereka sudah resmi bercerai secara hukum.
Mereka sudah masuk ke tahap pengucapan ikrar talak yang akan dilaksanakan Minggu berikutnya.
Tergugat bisa mengatakannya langsung kepada penggugat atau meminta diwakilkan oleh pengacara masing-masing.
Abizar semakin menunduk saat mendengar ketukan palu yang menyatakan bahwa hubungannya dengan Khanza secara hukum sudah tak lagi sebagai suami.
Sekuat apapun Khanza menahan air matanya, air matanya pun tumpah saat ia tak lagi menjadi istri dari seorang Abizar, pria yang sangat di kaguminya hingga saat ini.
Mereka kembali di mohon untuk berdiri saat hakim akan keluar dari ruangan tersebut.
Begitu Hakim keluar, Aqila langsung menghampiri Khanza dan memeluk sahabatnya itu. Khanza menangis di pelukan Aqila sementara yang lain hanya bisa melihat mereka dan terduduk lemas semuanya membekap mulutnya menahan tangisnya hanya air mata yang keluar dari pelupuk mata mereka yang menandakan mereka juga ikut merasakan kesedihan keduanya.
Inilah akhir dari pernikahan mereka, akhir cerita cinta mereka yang penuh perjuangan dan air mata. Akhir perjalanan cinta seorang Khanza berujung pada perceraian.
__ADS_1
Khanza langsung berdiri meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh kearah Abizar, dengan cepat Ia berlari menuju ke mobil dan meminta sopir untuk pergi dari sana.
Aqila terus berada di sampingnya menggenggam tangan sahabatnya itu, Khanza menagis sejadi-jadinya, Aqila hanya bisa menggenggam tangannya dan mengelus punggung, ia tak bisa berkata apa-apa ia tahu hari ini sahabatnya itu pasti sangat hancur.
Ingatan Aqila kembali saat Khazan dengan senangnya mengatakan jika Pak Abizar melamarnya, Khanza bahkan tak tidur semalaman dan terus menggangunya mengulangi dengan tidak percaya jika Bos mereka melamarnya, meluapkan rasa senang di hatinya. Penantiannya dan perjuangannya untuk Cintanya tak sia-sia, serunya saat itu. Namun, mungkin inilah akhir semua, yang terbaik untuknya, dari pada harus berbagai cinta.
Abizar masih tetap duduk di tempatnya dan terus menunduk, ia tak lagi menyembunyikan air matanya, Abizar hanya bisa menyembunyikan wajahnya dengan Kedua telapak tangannya. Farah mendekati dan mengelus punggung suaminya itu.
"Kau bawalah mereka semua pulang aku masih ingin berada di sini!" ucap Abizar pada Farah.
Farah lagi-lagi hanya menuruti apa yang suaminya katakan tanpa sepatah kata pun, ia membawa mereka semua pulang termasuk kakek dan nenek Khanza.
Abizar menatap tempat duduk Khanza, ia masih mengingat saat mereka melakukan ijab kabul Khanza terlihat begitu bahagia duduk bersanding dengannya. Namun, kini mereka kembali duduk bersanding, tapi bukan kebahagiaan yang menyertai mereka.
Fahri mendekati Abizar, mengambil kursi yang tadi di duduki Khanza.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya menepuk punggung bosnya, yang masih tetap menunduk.
"Mungkin ini adalah keputusan yang terbaik untuk kami, aku akan mencoba menerimanya," ucapnya menghapus airmata yang masih tergenang di pelupuk matanya.
"Ada rapat apa hari ini?" tanyanya menatap Fahri dengan mata yang masih berair dan merah.
"Aku yang akan memimpin rapat hari ini, kau istirahatlah dan carilah sesuatu yang bisa menghiburmu!"
Abizar tertawa bodoh menertawakan dirinya, "Apalagi yang bisa aku lakukan untuk menghibur diriku selain menenggelamkan pada pekerjaan. Berikan aku pekerjaan sebanyak-banyaknya, akan ku selesaikan semuanya." Abizar kemudian berdiri dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Khanza langsung kembali ke rumah dan mengurung dirinya di kamar Sedangkan Abizar langsung memimpin rapat dan menganggap tak terjadi apa-apa. Ia terus mencoba untuk melupakan semua walau hatinya terasa hancur.
Hari terus berganti hari seminggu sudah perceraian itu terjadi, Abizar tak pernah pulang kerumah ia terus bekerja dan bekerja menenggelamkan dirinya dengan pekerjaan. Dari satu kota ke kota lain ia ingin menghilangkan rasa sesaknya dengan menyibukkan dirinya, tapi usahanya sia-sia rasa sakit itu terus saja menyerangnya.
Sedangkan Khanza sendiri sudah mulai menata hatinya, ia menyebutkan diri dengan pekerjaan dan anak-anak. Disaat di hadapan anak-anak dan yang lainnya ia akan tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. Namun, saat ia sendiri ia kembali menumpahkan segala kesedihannya tak jarang ia mengurung dirinya di kamar mandi dan membiarkan air shower mengguyur tubuhnya sehingga tubuhnya merasa kedinginan. Iya akan merasa lebih baik saat melakukan itu semua.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Salam dariku Author M Anha 🥰🥰
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mampir ke kekarya temannya ku.
__ADS_1