
Khanza mulai sibuk dengan agenda rapatnya, Pak Matteo benar-benar membimbing yang menjadi sosok wanita yang tangguh dan mampu memimpin Perusahaan sebesar Perusahaan peninggalan Mr Alvin.
Jika biasanya Khanza hanya mendampingi pak Matteo dalam memimpin rapat. Namun, pada hari ini Khanza sendiri yang akan memimpin rapatnya.
"Apa Anda yakin saya bisa memimpin rapat kali ini?" tanya Khanza merasa belum siap untuk melakukannya.
"Anda tidak akan siap sampai kapanpun jika Anda tak mau mencobanya, jika Anda tidak berhasil untuk rapat kali ini mungkin di rapat berikutnya Anda akan berhasil. Selalu ada awal untuk sebuah kesuksesan, yakin pada diri Anda jika Anda bisa melakukannya. Semua orang pernah melakukan kesalahan begitu juga dengan Saya. Sampai sekarang pun saya masih terkadang melakukan Kesalah. Saya yakin Anda sudah siap, saya akan terus berada di samping anda, jadi Anda tidak perlu takut. Cepat atau lambat Anda harus terbiasa dengan semua ini," Tutur pak Matteo meyakinkan Khanza.
Khanza menghirup udara dalam dan menghembuskannya secara perlahan, "Baiklah, saya akan mencobanya, Pak. Mohon bimbingannya," ucapnya. Sebelum ia masuk ke ruang rapat Khanza kembali mengecup kedua pipi gembol Aisyah kemudian ia berjongkok mensejajaran dirinya dengan Aziel.
"Aziel Mama titip ade ya, Mama mau kerja dulu, Aziel jangan buat Bibi kerepotan, bantuin Bibi jaga Ade Aisyah yah," nasehat Khanza sebelum masuk.
"Iya Mama, Ziel mengerti," ucapnya mengangguk.
Khanza mungecup punggung tangan Aziel, "Terima kasih ya sayang kamu memang jagoan Mama. Mama masuk dulu ya doain Mama semoga Mama lancar memimpin rapat nya."
"Mama yang semangat," ucapan Aziel mengangkat tangannya memberi semangat pada Mamanya.
"Semangat," jawab Khanza membalas mengangkat tangannya.
"Bi, titip anak-anak ya, saya masuk dulu bibi bisa pergi ke ruangan sana," ucap Khanza menunjuk salah satu ruangan yang tak jauh dari ruang rapatnya, itu adalah ruangan pak Matteo, Khanza sendiri belum memiliki ruangan di kantor itu, ruangan Mr. Alvin yang dulu telah di tempat oleh pak Matteo dan masih tempatnya sampai sekarang.
"Iya, ibu tentang saja anak-anak biar saya yang ngurus, ibu konsentrasi saja pada pekerjaan ibu. Aziel anak yang pandai dia tahu jika ia tak boleh nakal," ucap Bibi menggandeng tangan Aziel masuk ke ruangan yang ditunjuk oleh Khanza, sementara Khanza memastikan mereka masuk ke dalam ruangan tersebut kemudian juga masuk bersama pak Matteo keruang rapat.
Ini untuk yang kesekian kalinya Khanza masuk ke ruang rapat tersebut dengan orang-orang yang sama. Namun, kali ini ia begitu tegangan dan merasa gugup karena biasanya dia hanya duduk dan mendengar apa yang mereka bicarakan, seperti apa bisnis yang mereka jalankan, berbeda untuk kali ini dia sendiri lah yang akan memimpin rapat dan mengambil keputusan.
Rapat berlangsung, Pak Matteo hanya mengawasi mereka, diskusi mereka hari ini berjalan lancar, Khanza mampu melakukannya dengan baik.
Matteo merasa senang, ternyata Khanza begitu cepat menangkap apa yang diberikan nya, presentasinya sangat bagus bahkan di luar dari eprestasinya, semua sangat senang dan menyambut Khanza, mereka memberi selamat dan memberi dukungan untuk kerja sama mereka kedepannya.
Khanza dan pak Matteo keluar dari ruangan itu, sementara yang lainnya masih duduk di sana mendiskusikan pekerjaan mereka.
Khanza bernapas lega saat keluar dari pintu ruang rapat.
"Pak bagaimana cara saya, apa semua baik-baik saja?" tanya Khanza mengkhawatirkan apabila tidak sesuai dengan keinginan pak Matteo.
"Semuanya sempurna saya bahkan tak menyangka Anda bisa melakukannya dengan sangat baik. Saya yakin ke depannya Anda akan lebih bagus lagi, teruslah belajar dan jangan pernah menganggap jika Anda tak mampu sebelum mencoba, semua pasti mampu jika kita bisa melakukannya, mau mencobanya," ucap pak Matteo membakar semangat Khanza.
"Terima kasih, Pak. Saya akan melakukan yang lebih baik lagi kedepannya. Kalau begitu saya menyusul anak-anak dulu," ucap Khanza berpamitan lalu langsung menuju ke ruangan pak Matteo, sementara pak Matteo sendiri langsung pergi ke rapat berikutnya, yang dilaksanakan di luar kantor.
__ADS_1
"Mama apa rapatnya sudah selesai?" tanya Aziel melihat mamanya masuk ke dalam ruangan tersebut dan ikut bergabung dengan mereka.
"Iya sayang, rapatnya sudah selesai, Ziel ga nakal 'kan?"
"Nggak mama, Aziel ga nakal 'kan, Bi. Ziel menjaga ade Aisyah," Ucap mencium pipi adiknya membuat Aisyah langsung tertawa kegirangan.
" Ziel akan jadi kakak yang baik untuk Ade Aisyah," tambahnya dengan polos menata Mamanya dengan memperlihatkan deretan giginya.
"Ziel memang anak Mama yang paling terbaik." Membawa Aziel kedekapannya.
"Pak apa bisa antarkan kami untuk berjalan-jalan?" tanya Khanza pada supir yang selalu setia mengantar kemanapun mereka inginkan.
"Tentu saja, Bu. Ibu mau ke mana?" tanyanya.
"Ke mana aja, Pak. Aku tidak terlalu paham dengan tempat ini yang jelasnya tempat itu baik untuk bermain anak-anak," ucap Khanza yang memang belum pernah menikmati tempat-tempat hiburan dan tempat-tempat wisata yang ada di negara itu, waktunya habis dipakai untuk bekerja saat datang ke negara itu.
Sopir membawa mereka ke tempat wisata, ke sebuah taman hiburan. Khanza dan anak-anaknya menikmati wahana yang ada di sana mereka bermain dan bergembira bersama. Khanza belum bisa menikmati semua wahana karena usia Aziel dan Aisyah masih sangat kecil.
Mereka kemudian mencari tempat yang nyaman dan tenang agar Aisyahah lebih tenang lagi.
Mereka pergi ke taman, menikmati hidangan yang tadi di belinya. Bibi menyewa tikar untuk mereka diduduk.
"Aziel senang, sayang?" tanya Khanza. Aziel sedang makan di suap oleh Bibi, sedang Khanza sendiri memberikan ASI pada Aisyah.
"Ziel ga takut naik wanaha?"
"Nggak Mah, jika Aziel besar nanti akan menaikkan semuanya," ucapnya merentang kedua tangannya. Terlihat begitu lucu saat bibi sengaja memasukkan porsi makanan yang penuh pada mulut Aziel.
Mereka terus bersenang-senang dan menikmati indahnya taman.
Saat sedang menikmati makanan sambil melihat pemandangan di depannya, ponselnya bergetar dan itu panggilan dari Abizar.
Khanza melihatnya dengan malas dan tak berniat mengangkat nya.
Abizar tak hentinya melakukan panggilannya.
"Ziel ini papa yang nelpon," ucap Khanza memberikan ponselnya pada putranya setelah mengangkat panggilan video Abizar.
"Halo Papa, papa lagi apa?" tanya Ziel yang melihat papanya sepertinya sedang sangat sibuk.
__ADS_1
"Papa baru selesai bertemu dengan klien, Ziel gimana kabar kamu, Nak?"
"Ziel baik, Pah. Sekarang Ziel lagi jalan-jalan sama Mama sama adek, Papa nanti telpon Ziel ya saat Ziel sudah pulang dirumah," ucap Ziel.
"Memang ada apa dirumah?"
"Ziel mau memperlihatkan gambar Ziel," jawabnya yang masih mengingat gambarnya.
"Iya, Ziel lagi makan apa sayang?" tanya Abizar melihat Aziel berbicara sambil mengunyah.
"Ini mama dan Ziel makan es krim, Pah," jawab Aziel terus meminta Mamanya masukkan eskrim saat mulutnya yang sudah kosong.
"Mamanya mana?" Abizar pura-pura bertanya, ia bisa melihat tangan Khanza menyuapi Aziel.
"Ada, Mama lagi nggak mau bicara sama papa."
"Mama nggak mau bicara sama Papa ya, padahal Papa sangat ingin bicara sama Mama."
Aziel menatap pada Mama nya. Namun, Khanza menggeleng bertanda jika ia tak mau berbicara dengan Papanya.
"Papa bicaranya sama Ade Aisyah aja ya," ucap Aziel kemudian mengarahkan kameranya pada adiknya,
Mereka terus berbincang, Aziel menceritakan keseruan mereka Seharian ini. Abizar juga terus mengajak berbicara bayinya walau mereka tak saling mengerti bahasa masing- masing. Khanza mengalihkan perhatian dari mereka dengan kembali mengerjakan pekerjaannya, beberapa hari lagi launching perusahaan baru sekaligus akan memulai kerja sana nya dengan beberapa perusahaan besar termasuk Abizar.
Abizar bisa melihat Khanza sesekali saat Aziel tak sengaja mengarahkan Kamera ponselnya pada Khanza yang sedang fokus bekerja.
Abizar sangat merindukan sosok istrinya itu, sudahlah sangat lama mereka tak pernah bertemu dan berbicara. Abizar sangat merindukan sosok Khanza yang begitu ceria dan selalu bermanja padanya.
Semua itu tak ada lagi, Khanza bahkan sudah tak sudi untuk berbicara dengannya.
"Apa kau sangat membenciku," batin Abizar melihat Khanza yang terlihat tersenyum ke arah lain.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Salam dariku Author M Anha ❤️🤗
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
Mampir juga kak ke karya teman ku 🙏