
Sepanjang perjalanan Farah terus saja merasa gelisa, ia meremas tangannya. Ada ketakutan tersendiri di hatinya akankah ia diterima di keluarga Khanza, akankah ia bisa menatap wajah kakek dan nenek Khanza. Pikiran itu terus berputar di kepalanya.
Warda yang mengerti apa yang dirasakan oleh Farah menggenggam erat tangan menantunya itu, ia juga merasakan hal yang sama, walau bagaimanapun tindakan mereka di masa lalu memang sangat sulit untuk dimaafkan. Namun, semua telah terjadi mereka harus bisa menghadapi dan memulainya dari awal. Warda sudah lebih tenang, karena ini kedua kalinya ia mengunjungi rumah Kakek Khanza.
Ini untuk pertama kalinya Aziel melakukan perjalanan jauh, ia memeluk erat mamanya.
"Anak Mama takut ya, jangan takut ya? Ada Mama kok," ucap Khanza terus mengusap-usap punggung putranya.
Sepanjang perjalanan Khanza terus mengajak bermain Aziel, mengalihkan fokus anak itu agar tak takut lagi.
Hingga Aziel pun tertidur pulas di dekapan sang mama.
"Kamu capek, biar Mbak menggantikanmu," ucap Farah yang melihat Khanza sedari tadi duduk tak tenang.
"Iya Mbak, kaki aku kram," ucap Khanza yang sudah merasa kram di kakinya, ia mencoba untuk tetap menahan putranya agar tak terbangun, takut jika Aziel akan menangis dan bisa mengganggu yang lainnya.
Dengan perlahan Farah memindahkan Aziel ke pangkuannya dan kembali menepuk-nepuk punggung anak itu saat Aziel menggeliat.
Aziel kembali tidur, dan Khanza mencoba memperbaiki posisi kakinya.
"Khanza, apa kau sudah memberitahu keluargamu jika Abizar tak jadi datang dan kami yang menemanimu?" tanya Warda.
"Iya, tadi aku sudah memberitahu Budeku, mereka akan menjemput saat di Bandara nanti."
"Apa mereka tak keberatan jika Abizar tak menemanimu?" tanya.
"Aku sudah menjelaskan kepada Bude, jika Kak Abi ada pekerjaan, mereka pasti bisa mengerti," ucap Khanza.
Warda hanya mengangguk dan tersenyum, berharap apa yang dikatakan Khanza itu benar, mereka bisa mengerti dengan situasi mereka dan mau memaafkan dan memulai dari awal hubungan keluarga.
Warda sudah pernah datang ke kampung halaman Khanza. Namun, ini yang pertama kalinya untuk Farah membuat ia sedikit merasa canggung.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka pun sampai, terlihat Paman Khanza sudah menjemput mereka, membantu menaikkan barang-barang ke mobil dan mereka langsung pulang ke kampung.
__ADS_1
Ini juga untuk pertama kalinya Khanza kembali setelah melahirkan Aziel, membuat Ia sangat senang dan sangat bangga memiliki seorang putra yang sangat menggemaskan, ia sudah tak sabar memperkenalkan putranya.
Semua sudah menanti kedatangannya, semua keluarga besar Khanza sudah berkumpul di rumah kakek.
"Wah ... kampung kita sudah banyak berubah ya, paman?" ucap Khanza melihat deretan rumah yang sudah berubah, rumah-rumah yang telah direhab atau mungkin lebih tepatnya dibuat baru oleh Abizar.
"Iya, semua ini berkat kebaikan hati suamimu, semua penduduk sangat berterima kasih, kehidupan perekonomian mereka juga berangsur membaik karena modal yang diberikan oleh Abizar, mereka sangat berharap bisa berterima kasih langsung padanya, tapi kami sudah menjelaskan jika ia sedang ada pekerjaan dan tak bisa datang," ujar paman.
"Mas Abi sangat ingin datang, tapi sepertinya ia akan datang di lain kesempatan, Pak," ucap Farah.
"Semoga urusannya cepat selesai," ucap Paman Khanza.
Khanza sangat bangga karena kebaikan hati suaminya beberapa rumah yang dulunya hampir roboh kini terlihat sangat kokoh dan sangat layak untuk ditempati, bahkan ada beberapa yang lebih baik dari rumah lainnya, terlihat juga banyak usaha-usaha baru, walau hanya sekedar warung makan, bengkel kecil dan masih banyak lagi.
Mobil memasuki pekarangan sebuah rumah yang bisa dibilang cukup besar dan paling besar diantara rumah-rumah yang lainnya, Khanza tercengang, itu adalah lokasi tempat rumah neneknya, rumah yang dulu sederhana kini disulap menjadi rumah yang sungguh sangat nyaman dan luas bahkan memiliki dua lantai.
Khanza turun dari mobil dan mengagumi rumah kakeknya, dia seperti berada di sebuah vila.
"Semua berkat suamimu," hanya itu yang pamannya katakan sambil menurunkan satu persatu barang-barang mereka semua.
Sepanjang perjalanan Paman Khanza itu terus saja memuji Abizar, ternyata tanpa sepengetahuan mereka, Abizar sering mengirimkan Paman Khanza uang untuk membantu orang-orang yang ada di kampung itu, baik merehab rumah ataupun memberikan modal usaha kecil-kecilan, Abizar juga tak pernah lupa mengirim uang kepada kakek.
"Khanzaβ¦" teriak Bude menyambut Khanza, memeluk kemenakannya itu dengan deraian air mata. Walau mereka sering saling bertemu melalui panggilan video. Namun, sungguh sangat berbeda saat memeluk langsung.
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Bude melepas pelukannya.
"Khanza baik. Bude bagaimana?" tanya Khanza balik.
"Tentu saja Bude sangat sehat, apalagi saat mendengar kabar jika kamu mau datang."
Bude kemudian melihat ke arah Aziel yang berada di gendongan Farah.
"Apa ini cucu Bude?" tanya Bude Maya ingin mengambil Aziel dari gendongan Farah. Namun, Aziel langsung memeluk leher Farah tak ingin diambil oleh Bude.
__ADS_1
Bude yang mengerti pasti Aziel masih belum mengenalnya tak ingin memaksa dan hanya mengusap rambut Aziel, walau ia sudah sangat ingin menggendong cucunya itu.
"Khanza," pekik nenek berjalan menghampiri Khanza dan memeluknya, tangis nenek pecah saat memeluk cucunya itu, semua ikut menangis melihat nenek dan Khanza yang menangis sambil berpelukan.
Hati nenek sangat senang hingga membuat air matanya tak bisa ditahannya. Selama ini ia selalu menyembunyikan rasa rindu kepada cucunya itu, Ia mengerti Khanza sudah menikah dan dia harus ikut dengan suaminya,
kakek selalu mengatakan itu kepada Nenek.
"Kamu sehat 'kan?" tanya nenek melepas pelukannya menatap intens wajah cantik cucunya.
"Alhamdulillah sehat, Nek," ucap Khanza.
Nenek mengusap lembut wajah cucunya, menghapus air mata bahagia yang jatuh membasahi pipi cucunya itu, nenek mencium kedua pipi Khanza dan mencoba untuk tersenyum, mengusir ke sedihannya.
Nenek beralih kepada Aziel, mencium seluruh wajah cicitnya itu, Aziel yang sering melihat nenek saat melakukan panggilan video dengan mamanya merasa mengenal sosok nenek, sehingga ia tak keberatan saat dipeluk dan di cium oleh nenek.
"Nenek ingin menggendongmu, tapi nenek takut kau terjatuh," ucap nenek mencium Kedua punggung tangan Aziel yang masih berada di gendongan Farah. Nenek takut tubuh rendahnya tak bisa menahan berat Aziel yang sudah semakin menggembol.
"Selamat datang di rumah nenek, Semoga kamu betah tinggal di rumah kami yang sederhana ini, jika membutuhkan sesuatu jangan sungkan pada nenek," ucap Nenek menyambut Farah, nenek sudah tahu jika orang yang menggendong Aziel adalah madu dari cucunya.
"Iya, Nek. Terima kasih," ucap Farah.
Farah merasa canggung, sedari tadi semua mata keluarga Khanza tertuju padanya, entah apa yang mereka pikirkan tentang dirinya. Farah hanya mencoba untuk tetap tenang dan tersenyum pada mereka semua.
ππππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
SILAHKAN BERKOMENTAR, kritik dan saran akan selalu diterima selagi itu membangun karya ini menjadi lebih baik π
Jangan lupa like, vote dan beri hadiah π€π€βοΈππ
πππππππππππππππ
__ADS_1