Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Kebahagiaan setelah Kesedihan. ( TAMAT)


__ADS_3

Khanza berjalan pelan menghampiri sosok yang telah kaku di ranjang rumah sakit, ia tak menyangka dan tak percaya semua ini terjadi, "Ini hanya mimpi," gumamnya terus berjalan menghampiri Abizar.


"Ini hanya mimpi, ini hanya mimpi," kalimat itu terus diulanginya berharap apa yang terjadi saat ini hanya bermimpi.


Damar hanya melihat Khanza berjalan mendekati ranjang rumah sakit. Ia juga merasa tak percaya dan kasihan melihat Sahabatnya itu.


Begitu juga dengan yang lain, sedangkan Aziel masih bingung mengapa mereka Semua terlihat bersedih. Aziel berdiri dan memegang tangan Aqila yang terlihat lebih tegar dari yang lainnya.


"Kak, Kakak ini Khanza. Kakak jangan bercanda!" ucap Khanza perlahan mengulurkan tangannya menyentuh tangan Abizar dibalik kain.


"Kak bangun," ucap Khanza menggoyang-goyangkan perlahan tubuh Abizar, ia mulai terisak saat menyadari semuanya bukanlah mimpi.


"Jangan tinggalkan Aku, Kak," ucap Khanza memeluk tubuh kaku itu. Ia terus meminta maaf atas segala yang ia lakukan, mengatakan dengan jujur jika ia sangat mencintainya berharap yang tengah dipeluknya merespon ucapannya. Namun, tubuh itu tetap saja kaku tak bergerak sedikitpun.


Khanza semakin mengeraskan tangisnya dan terus memanggil nama Abizar dan semakin mengeratkan pelukannya.


Aziel mulai mengerti apa yang terjadi di rumah sakit itu, ia melihat neneknya yang menangis, bubunya juga, semuanya bersedih. Terlebih lagi saat melihat mamanya yang histeris dan terus memeluk seseorang yang Aziel mulai tau jika itu adalah Papanya.


"Tante papa kenapa?" tanyanya ia juga sudah mulai terisak, aqila langsung menunduk dan memeluk Aziel, ia tak bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Aziel, Aqila hanya bisa memeluknya erat agar anak itu bisa tenang.


"Bu, kenapa Ibu memeluk suami saya?" ucap seseorang yang baru saja masuk ke ruangan itu.


Semua langsung melihat ibu itu dengan keterkejutan mereka masing-masing.


Khanza melepas pelukannya perlahan dan melihat ibu itu dan jasad yang ada di pelukannya.


"Mengapa ibu itu mengatakan jika ini adalah suami ibu?" tanya Khanza mengerjapkan matanya yang kabur karena air matanya.


"Iya ,Bu. Ini suami saya yang baru meninggal, kami akan membawanya pulang," ucap ibu itu.


Khanza yang tadinya menangis histeris terdiam seketika dan menatap ibu itu kemudian kembali menatap tubuh kaku di hadapannya. Jantung berdebar kencang.


Damar yang mendengar itu langsung menghampiri mereka begitu juga dengan yang lain.


Pikiran mereka langsung berharap jika apa yang dikatakan oleh ibu itu benar, jika yang sedang mereka ratapi adalah suaminya.


Damar langsung memeriksa laporan yang ada di meja samping ranjang jasad itu, mencari tahu kebenaran apakah itu Abziar atau bukan.


Daniellangsung menghampiri mereka dan langsung membuka penutup wajah orang itu dan ia bernafas lega ternyata itu bukanlah Abizar tapi orang lain.


Mereka semua saling tatap dan merasa lega.


"Lalu dimana Putraku?" tanya Wardah yang sedikit merasa kekuatannya kembali pulih saat mengetahui jasad itu bukanlah putranya.


Damar langsung menyibak tirai yang ada di sampingnya dan mereka bisa melihat Abizar ada disana. Walau dengan kondisi penuh luka dan tak sadarkan diri. Namun, setidaknya ia masih hidup itu bisa membuat mereka semua menjadi lega.


Semua kembali menangis bukan lagi air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan.


Khanza langsung menghampiri Abizar dan menggenggam tangannya erat, membawanya ke pelukannya seolah tak ingin ada yang mengambil darinya.


Damar mengusap rambut Khanza dan menepuk bahunya pelan.


"Dia pasti sangat membutuhkanmu," ucapnya.


Khanza mengusap luka yang ada di wajah Abizar,


"Kak, jangan tinggalkan kami, aku sangat mencintai kakak," ujarnya, Aziel berjalan menghampiri mamanya melihat papanya yang penuh luka dan menutup matanya.


"Papa bangun, Mama Papa kenapa?" tanyanya mencoba goyang-goyang lengan Papanya.


Damar memanggil Dokter dan meminta penjelasan kondisi Abizar, sementara mayat yang tadi sudah dibawa oleh keluarganya.

__ADS_1


Dokter datang dan mengatakan jika pasien baik-baik saja Ia hanya sedang dalam pengaruh obat bius. Lukanya tak ada yang serius hanya tangannya saja yang patah akibat kecelakaan tadi, selebihnya kondisinya baik-baik saja. Kita hanya menunggu sampai ia sadar dan kembali melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisinya.


"Terima kasih Dokter," ucap Damar saat Dokter tersebut undur diri.


Abziar pun dipindahkan ke ruang perawatan.


Mereka semua dengan cemas menunggu Abizar sadar, mereka masih belum lega sepenuhnya.


Khanza tak pernah melepas genggaman tangannya dari mantan suaminya itu, Ia baru menyadari jika ia benar-benar sangat mencintai Abizar saat ia merasakan kehilangan Abizar untuk selama-lamanya. Ia baru menyadari jika ia tak bisa hidup tanpa Abizar di sampingnya.


Beberapa saat kemudian Abizar membuka mata, mereka semua langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaan kak Abi?" lirih Khanza.


Abizar tak menjawab, ia masih mencerna apa yang sedang terjadi, ingatan kecelakaan terlintas di pikirannya ia baru mengerti jika sekarang ia sedang berada di rumah sakit dan membuat semua keluarganya khawatir.


Abizar melihat khanza yang begitu cantik dengan pakaian pengantinnya. Timbul rasa perih di hatinya, ia mengira jika Khanza sudah menikah dan ia sudah kehilangan wanita yang dicintainya untuk selama lamanya.


Abizar mencoba untuk tersenyum. Namun, setetes air mata jatuh di pelupuk matanya.


Khanza menggenggam erat tangan Abizar kemudian mengecupnya, "Kak jangan pernah tinggalin kami lagi! Jangan pernah meninggalkanku dan anak-anak, kami sangat membutuhkan Kakak. Tetaplah berada di sisi kami," Mengecup tangan Abizar yang ada di genggamannya. "Maaf jika selama ini aku telah menyakiti kakak, aku menjadi wanita yang egois yang mementingkan diri sendiri tanpa melihat Kakak dan anak-anak, tanpa mau memaafkan segala kesalahan kakak, tak memperdulikan hatiku yang juga masih sangat mencintai Kakak. Aku minta maaf, jangan pernah pergi lagi, jangan pernah pergi dariku. Aku sangat mencintaimu, Kak," ucap Khanza yang kembali berderai air mata, ia baru menyadari jika ia benar-benar mencintai dan membutuhkan Abizar disampingnya. Ia baru menyadari jika keputusannya untuk menikah dengan Damar itu salah, dan mengikuti amarahnya, hatinya masih menginginkan Papa dari anak-anaknya itu.


"Khanza apa yang kau katakan, bukankah kau sudah menikah, itu tak pantas kamu katakan, apalagi di depan suamimu," Abizar menatap Khanza dengan air mata yang tergenang di pelupuk matanya.


Khanza menggeleng, "Aku belum menjadi istri siapa-siapa, aku hanya ingin menjadi istri Kakak," ucapnya di sela-sela tangisnya.


Abizar terkejut sekaligus senang mendengar apa yang baru saja Khanza katakan.


Abizar mencoba untuk duduk, Daniel langsung sigap membantunya.


"Apa yang baru saja kamu katakan?" Air mata bahagia kembali keluar dari kelopak matanya.


"Aku mencintai Kakak, Aku tak ingin menjadi istri siapapun," ucapnya semakin terisak.


Khanza mengangguk dengan cepat dan berulang-ulang.


Abizar langsung menarik Khanza kepelukannya.


"Terima kasih ya Allah, aku janji akan membahagiakan kalian," ucapnya dengan suara bergetar dan semakin mempererat pelukannya pada Khanza walau satu tangannya tak bisa digerakkan.


Semua ikut bahagia melihat mereka, begitupun dengan Damar, mereka semua berharap kedua dapat kembali bersama.


Sebulan kemudian.


Acara pesta pernikahan kembali digelar, Namun, kali ini bukan acara Khanza dan juga Damar melainkan pernikahan kembali Abizar dan juga Khanza.


Semua keluarga datang dan ikut bahagia menyambut pernikahan mereka begitu juga dengan keluarga Damar.


Walau Khanza bukan menjadi menantunya, Khanza tetap menjadi anak dan bagian dari mereka. Mereka juga bahagia untuk kebahagiaan Khanza.


Abizar duduk di depan penghulu sambil memangku Aisyah, anak itu tak mau lepas dari pangkuan Papanya.


Aziel juga duduk di dekat mamanya dengan senyum yang terus diperlihatkannya. Ziel sangat bahagia keinginannya akhirnya terwujud, Papa dan Mamanya kembali menikah. Mereka akan tinggal bersama seperti mama dan papa teman-temannya.


Kata SAH yang menggema membuat Abizar kembali menjadikan Khanza sebagai miliknya, istrinya yang sah di mata hukum dan agama.


Abisan menarik Khanza ke pelukannya, ia sangat bahagia bisa menjadikan Khanza sebagai miliknya lagi, Aziel juga ikut bergabung memeluk Papa dan Mamanya. Semua tersenyum bahagia menyaksikan kebersamaan mereka.


Hari terus berganti, kebahagiaan terus menghampiri keluarga kecil mereka.


Di pagi hari selalu disambut dengan senyum.

__ADS_1


Khanza terbangun dan melihat wajah tampan suaminya, pemandangan yang kini dilihatnya saat ia membuka matanya.


Mendengar keributan kedua anaknya. Semua itu sungguh sangat membuatnya


bahagia.


Selama menikah Aziel tak pernah membiarkan Papa dan mamanya tidur berdua, ia dan Aisyah selalu ada bersama dengan mereka.


Mereka kembali tinggal di rumah lama. Rumah yang mempunyai kenangan indah dan buruk. Namun, Khanza menganggap semua itu adalah perjalanan dirinya mengejar Cinta pertamanya.


Khanza memutuskan untuk menyerahkan semua urusan kantor kepada Aqila, ia lebih fokus untuk mengurus kedua anaknya dan suaminya.


Mereka semua berkumpul di ruang tv sambil menikmati puding yang dibuat oleh Warda. Semua menyukai puding buatan Warda termasuk Aisyah. Mereka menikmati puding sambil terus tertawa melihat kelucuan Aisyah.


Khanza tersenyum melihat kebahagiaan anak-anak dan suaminya, ia berharap semoga kebahagiaan itu Terus bersama dengan mereka.


"Khanza kemari!" Panggilan Abizar.


Khanza ikut duduk melantai bersama mereka.


Abizar menyuapi ketiganya berganti.


Aisyah terus saja mendorong Aziel saat papanya ingin menyuapinya.


Aziel membalas adiknya dengan memakan jatah pudingnya.


Aisyah terus membuat mereka tertawa dengan tingkah lucunya yang tak sabar mendapatkan giliran.


Saat pudingnya tersisa sedikit, Abizar membiarkan Aisyah makanan sendiri.


"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku dan mau memberikan kesempatan kedua," ucap Abizar mengecup kening Khanza dan membawanya ke pelukannya.


Aziel yang melihat Mama dan Papanya berpelukan ikut bergabung dan memeluk mereka berdua.


Aisyah yang duduk sendiri tak jauh dari mereka juga mencoba merangkak menuju pada Mama, Papa dan kakaknya sambil tersenyum melihat mereka dan ikut bergabung.


Abizar memeluk ketiganya ia benar-benar bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa membahagiakan ketiganya.


TAMAT


Happy ending.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membaca dan menemani dari awal sampai akhir 😘


Aku ga minta vote atau like lagi.


Tapi aku mohon komentarnya.


Silahkan berkomentar


Kritik pedas πŸ™silahkan.


Kritik membangunπŸ™ silahkan.


Semuanya akan menjadi acuan agar karya kedepan lebih baik lagi.


Terima kasih semua.


Sampai ketemu di karya berikut.

__ADS_1


Silahkan mampir kak ke karya ku yang lagi on πŸ™πŸ™ Terima kasih sekali lagi.



__ADS_2