Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Keputusan Kekek


__ADS_3

Warda yang juga mendengar permintaan nenek langsung menghampiri mereka.


"Nek. Biarkan Khanza dirawat di rumah sakit ini, dia akan mendapatkan perawatan yang lebih baik jika di rawat di sini, Khanza masih sangat membutuhkan perawatan," ucap Warda menghampiri nenek Khanza, ia juga tersentak saat nenek mengatakan jika ingin mengambil Khanza dan bayinya. Warda tidak akan membiarkan nenek Khanza memisahkannya dari cucunya, apapun yang akan terjadi.


"Bu ... Aku menyerahkan cucuku untuk dibahagiakan oleh putramu. Selama ini walau kami hidup sederhana dan banyak kekurangan, tapi kami selalu berusaha membahagiakannya, coba lihat apa yang diberikan oleh anakmu pada cucuku, hanya penderitaan hanya kebohongan dan coba lihat apa yang dilakukan sekarang dia membuat cucuku terbaring tak berdaya, Khanza bahkan tidak bisa melihat putranya," ucap nenek yang sudah tak bisa membendung isakannya, nenek terisak mengeluarkan rasa perih di dadanya.


Warda langsung memeluk nenek Khanza.


"Maaf," hanya kata maaf yang bisa dikeluarkan oleh Warda, hatinya juga merasa sakit melihat tangisan nenek Khanza.


Abizar hanya menunduk menyembunyikan wajahnya, ia merasa benar-benar malu di hadapan nenek. Apa yang dikatakannya memang benar, ia telah menyakiti Khanza membohonginya dan apa yang terjadi saat ini memang adalah kesalahannya.


"Abizar, Nenek tanya sama kamu, apakah kamu mencintai cucu Nenek? Apakah pernah terbesit dalam hatimu untuk membahagiakannya?"


"Tentu saja, Nek. Aku sangat mencintai Khanza, aku akan melakukan segalanya untuk bisa membuatnya bahagia," ucap Abizar dengan mata yang sudah memerah.


"Kalau kamu mencintainya, kamu akan berusaha untuk membahagiakannya, sekarang Nenek tanya, kebahagiaan apa yang telah kau berikan padanya yang sebanding dengan penderitaan yang engkau torehkan padanya, kebahagiaan apa yang sudah kau berikan padanya hingga ia harus terbaring lemah tak berdaya, tak sadarkan diri seperti saat ini. Apakah itu bentuk dari cintamu padanya," ucap nenek berapi-api memandang cucu menantu nya itu.


"Aku benar-benar minta maaf, Nek," Abizar menghampiri nenek dan berlutut di hadapan nenek, memegang kedua tangan nenek menatapnya dengan penuh rasa penyesalan,


"Nek, aku memang salah, aku bukan suami yang baik untuk Khanza, tapi aku akan berusaha membahagiakannya, Nek. Aku benar-benar minta maaf. Aku janji aku akan melakukan apa saja yang akan membuat Khanza selalu membahagiakan. Nenek, tolong jangan pisahkan kami, jangan pisahkan aku dari Khanza dan anakku."


"Lalu kenapa kamu harus membuat Khanza nenek menjadi seperti ini, Apa salahnya padamu," bentak nenek pada Abizar, Isakan nenek semakin keras ia bahkan memukul-mukul Abizar.


Abizar tak bergeming saat nenek Khanza memukulnya, ia memang pantas mendapatkannya.


Merasa terganggu bayi yang ada di pangkuan nenek terbangun dan menangis. Sontak Farah langsung mengambil bayi itu dari gondongan nenek. Nenek merasa tak rela saat Farah mengambil bayi Khanza. Namun, Ia juga tak bisa menolaknya saat melihat bayi itu sudah menangis kencang.


Farah membawa bayi Khanza sedikit menjauh dari mereka, menimang-nimangnya agar bayi itu bisa tenang dan benar saja baru sebentar berada di gendongan Farah bayi itu tenang dan kembali tertidur, Bayinya kembali tenang, Farah mengambil botol susu dan memberikannya. Bayi itu meminumnya dengan lahap dalam dekapannya. Botol susunya sudah habis bertepatan sang bayi tertidur pulas.


Hati Nenek semakin sakit melihat semua itu,


"Khanza cepatlah sadar, Nak! sebelum kau kehilangan bayi dan suami," batin nenek.


Abizar masih berlutut di depan nenek, nenek mengabaikannya menepis tangan Abizar saat coba memegang tangannya.


"Nek, aku mohon jangan pisahkan kami, aku tak akan mengulanginya lagi."


"Bu coba pikirkan baik-baik, ini Rumah Sakit ini rumah sakit terbaik, Khanza akan mendapat perawatan yang baik di sini," ucap warda terus membujuk nenek Khanza.

__ADS_1


"Baiklah Khanza akan dirawat di rumah sakit ini, tapi begitu ia sehat berjanjilah kau akan memulangkan Khanza pada nenek." Ucap nenek.


"Nek, tolong jangan pisahkan kami, Aku sangat mencintainya, aku janji kejadian ini takkan terulang lagi," ucap Abizar.


"Iya, Nek tolong beri meraka kesempatan, Abizar sudah menyesali perbuatannya, beri ia kesempatan kedua agar bisa membahagiakan Khanza." Ucap Warda.


"Kesempatan kedua apa, Bu. Anakmu ini sudah terlalu sering menyakiti cucuku, mau diberi kesempatan berapa kali lagi, mungkin Khanza akan bahagia hidup hanya berdua dengan anaknya daripada harus berbagi dengan wanita lain.


Dan mungkin saja ia akan bahagia bila bersama dengan pria lain yang benar-benar mencintainya," Nenek menatap tajam pada Abizar yang masih berlutut di hadapan.


Farah bisa mendengar apa yang dikatakan nenek, ia memeluk erat bayi itu,


"Aku tak akan membiarkan siapapun memisahkan kami dari bayi ini," batinnya.


Mendengar perkataan nenek sungguh sangat menyakiti hati Abizar, bayangan Khanza berada di pelukan pria lain, membayangkan putranya memanggil pria lain sebagainya Papa, Abizar mengepal tangannya, rahangnya mengeras. Baru membayangkannya saja sudah nya merasa sangat merah dibuat.


"Khanza hanya milikku, aku tak akan membiarkan siapapun memisahkan kami," tegas Abizar dengan kesalnya.


"Itukah yang kau namakan cinta, hanya sebesar itu cintamu pada Khanza, kalau kau memang mencintainya kamu akan rela kehilangannya, melepaskannya agar ia bisa bahagia, jika memang ia tak bahagia dengan mu," ucap nenek.


"Nek, Tolong mengertilah hubungan mereka," ucap Warda.


Tak lama kemudian kakek masuk menghampiri mereka


Abizar yang masih berlutut di hadapan nenek berdiri dan duduk di sofa.


"Ayo kita pulang," ucap kakek tiba-tiba masuk menghampiri mereka.


"Tapi, bagaimana dengan Khanza."


"Sudahlah, Khanza punya suami yang bisa mengurusnya," ucap kakek berjalan mendekati cicitnya.


"Tapi," sanggah nenek, tak mengerti apa yang kakek pikirkan.


"Kami permisi, bisa tolong jaga cucu dan cicit kakek," ucap kakek pada Farah kemudian mengecup kening bayi Khanza berulangkali, dan belrlalu meninggalkan ruangan itu.


Abizar juga tak mengerti apa maksud dari perkataan kakek,


Nenek ikut menyusul kakek.

__ADS_1


"Jaga cucu dan cicit ku, jangan menyakiti mereka lagi," ucap nenek sebelum pergi.


"Iya, Nek." jawab Abizar masih mencerna situs.


Abizar juga tak mengerti mengapa kakek tiba-tiba ingin pulang.


Abizar menyusul yang tersadar berlari menyusul kakek.


"Kakek istirahatlah dulu, tinggal beberapa hari di sini," ucap Abizar menahan kakek.


"Untuk apa kakek sini, untuk melihat cucu kakek yang terbaring tak berdaya? Itu akan semakin menyakitkan, jika kakek melihat semua itu."


"Sebaiknya kamu bertanggung jawab dengan apa yang telah kau lakukan, jangan terus menyakitinya. Istrimu dan semuanya adalah tanggung jawabmu. Kamu punya hak penuh atas Khanza.


Kakek sangat kecewa padamu," ucap kakek berlalu meninggalkan Abizar yang hanya berdiri mematung melihat punggung kakek yang semakin lama semakin menjauh, nenek ikut nyusul kakek melewati Abizar tanpa menyapanya sedikitpun.


Abizar terduduk di kursi ruang tunggu memukul-mukul kepalanya, semua ini terjadi begitu cepat ia merasa jika semua ini hanya mimpi dan ia ingin segera terbangun dari mimpi buruknya.


Abizar meminta seseorang untuk mengantar nenek dan kakek ke Bandara, hari itu juga kakek dan nenek kembali dan menyerahkan Khanza kepada suaminya.


Walau nenek tak ingin pulang, tapi ia mengikuti apa yang kakek katakan.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Apakah menurut kalian tindakan kakek benar???🤔


Apa alasan sebenarnya kakek pulang lebih awal??🤔


Jangan lupa setelah membaca like dan komentar 🥰🥰🥰🥰


Mampir ke karyaku yang lainnya ya kk




__ADS_1


__ADS_2