
Saat tengah malam khanza terbangun, dia melihat di sekelilingnya tak ada lagi barang-barang Abizar suaminya, tak ada lagi aroma parfum yang selama ini menjadi aroma favoritnya. Aroma yang telah membuatnya jatuh cintanya pada pandangan pertama pada sosok Abizar, aroma yang membuatnya bertahan selama 5 tahun, terus berharap bisa bertemu lagi dengan cinta pertamanya itu.
Yang tersisa hanyalah putranya, wajah putranya yang mirip dengan wajah orang yang sudah menyakitinya.
Khanza mengelus rambut Aziel yang sedang tertidur pulas dan menguncup kencingnya. kemudian ia beranjak dari tempat tidur. Khanza membereskan semua barang-barangnya, memasukkannya ke dalam lemari dan menyimpan beberapa keperluan pribadinya, tak lupa Khanza juga menyimpan dengan baik tas yang berisi uang.
Khanza tak akan menggunakan kartunya, ia tak ingin itu menjadi jalan untuk suaminya menemukan mereka.
Khanza keluar, menuju ke dapur. Dia juga sudah menyiapkan bahan makanan sebanyak-banyaknya. Aqila sengaja membelinya dan meminta agar Khanza tak keluar rumah sementara waktu. Ia yakin suaminya itu pasti menggila mencarinya.
Semua sudah beres, kemudian ia teringat dia belum mengabari neneknya di kampung. Bagaimana jika nenek menelpon, Nenek pasti khawatir jika tak bisa menghubunginya. Pikir Khanza.
Khanza mengambil ponselnya, berniat untuk menelpon nenek. Namun, ia mengurungkan niatnya,
"Ini sudah lewat tengah malam, kalau aku menelpon nenek sekarang pasti nenek akan khawatir. Baiklah aku akan menelpon nenek besok pagi saja," gumam Khanza kembali ke kamarnya.
Sementara itu Abizar sejak tadi menghubungi nomor ponsel Khanza.
"Ada apa, Mas?" tanya Farah.
"Entahlah, sejak tadi aku menelpon Khanza, tapi dia tak menjawab panggilannya." Abizar kembali terus mencoba menelpon nomor Khanza, biasanya sebelum tidur dia selalu menelpon mereka. Namun, sudah sedari tadi dia mencoba, tetap saja tak tersambung.
Tadinya ia berfikir mungkin saja khanza sedang mencharger ponselnya sehingga ia menunggu beberapa saat dan kembali menelpon Khanza saat ia terbangun di tengah malam. Namun, hasilnya tetap sama, ponsel Khanza tak bisa dihubungi.
"Mungkin dia ketiduran, Mas. Makanya lupa mengaktifkan ponselnya," ucap Farah yang masih berbaring di tempat tidur.
"Kamu benar, mungkin saja," ucap Abizar kembali bergabung dengan Farah di atas tempat tidur.
Farah sudah kembali tertidur. Namun, tidak dengan Abizar, hatinya merasa gelisah ia sudah memejamkan matanya, tapi ia tetap tak bisa tertidur.
Abizar kembali mengambil ponselnya dan menelpon Khanza, hasilnya tetap sama. Ingin rasanya ia membanting ponselnya saking kesalnya. Namun, takut membuat keributan dan membangunkan Farah yang sedang tertidur pulas.
*****
Pagi hari setelah sarapan Abizar kembali menelpon nomor Khanza.
"Ada apa dengan Khanza, sejak semalam aku menelponnya dia juga tak mengangkat panggilanku."
"Masa sih, Mas," ucap Farah mencoba menghubungi Khanza melalui ponselnya.
"Iya, tak biasanya Khanza mematikan ponselnya terlalu lama," ucap Farah.
Mereka terus mencoba, hasilnya tetap sama.
"Sudah tadi kalian menelpon ponsel Khanza dan tidak aktif. Kenapa kalian tidak menelepon telepon rumah, Bibi 'kan ada disana," ucap Santi yang jengah melihat mereka berdua.
__ADS_1
"Mama benar," ucap Farah dengan cepat menelepon telepon rumah.
Telepon rumah berdering. Namun, hasilnya tetap sama. Tak ada jawaban, tak ada yang mengangkatnya, membuat Farah menjadi khawatir.
"Ada apa?" tanya Abizar yang melihat Farah.
"Tidak dijawab, Mas. Apa Bibi juga keluar ya," Farah menduga-duga.
Abizar kemudian menelpon Pak Tarno, hasilnya juga sama, Pak Tarno tak mengangkat panggilannya.
Tak menunggu waktu lagi, Abizar langsung mengambil kunci mobil dan langsung menuju ke rumah Khanza, dia sudah sangat khawatir terjadi sesuatu pada anak dan istrinya.
"Mas, tunggu. Aku ikut," ucap Farah yang tak kalah khawatir, berlari menyusul Abizar yang sudah jalan lebih dulu menuju ke mobilnya.
"Ada apa ini, kenapa mereka tak mengangkat panggilan kita?" ucap Abizar yang mengendarai mobilnya dengan cukup kencang, membuat Farah ketakutan dan mengencangkan pegangannya.
Marah, kesal, khawatir, bercampur menjadi satu.
Di kediaman Khanza,
Bibi dan pak Tarno sebenarnya melihat panggilan dari majikannya itu. Namun, mereka tak berani mengangkat, tak tahu harus berkata apa.
Pak Tarno kembali tersentak saat Abizar menelpon ke ponselnya.
"Bagaimana ini, Pak Abizar menelpon," ucap pak Tarno memberikan ponselnya kepada Bibi, Bibi langsung menolaknya.
"Pak Tarno menggeleng dan meletakkan ponselnya di samping telepon rumah.
Mereka hanya berdiri dan melihat telepon rumah dan ponsel Pak Tarno yang terus berdering.
"Bagaimana dengan kamar dan ruang kerja tuan, Apa kamu sudah membereskannya?".
Pak Tarno sudah melihat apa yang khanza lakukan, kamar dan ruang kerja Abizar sungguh sangat berantakan lebih mirip kapal pecah daripada sebuah kamar dan sebuah ruang kerja, benar-benar berantakan, Khanza benar-benar menggila waktu itu.
"Belum. Bibi tak berani membersihkannya, kita tunggu saja sampai Tuan datang." ucap Bibi.
"Apa yang akan kita katakan jika Tuan bertanya kepada kita?" Lanjut Bibi yang sudah merasa ketakutan.
"Kita kabur aja, yuk." usul Pak Tarno.
"Kabur? Tuan itu tahu rumah kita, kalau kabur kita akan semakin disalahkan."
"Iya juga, ya!" Pak Tarno menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya sudah, kita bilang aja nggak tahu apa-apa dan bilang kalau non Khanza melarang kita memberitahu mereka dan menunggu sampai Tuan datang sendiri," usul Pak Tarno.
__ADS_1
"Iya, kita gunakan saja nama nona untuk menyelamatkan diri," ucap Bibi membetulkan usul pak Tarno.
Mereka terus berbincang-bincang mencoba mencari alasan Saat ditanya nanti, mencoba menyelamatkan diri mereka dari Abizar majikan mereka yang ia tahu pasti akan sangat marah saat mengetahui kondisi rumah dan apa yang terjadi dengan Khanza.
Mereka bisa mendengar suara mobil Abizar.
"Pak Abizar datang," ucap Bibi nyalinya langsung menciut, padahal tadi mereka sudah kompak akan memberikan alasan.
"Ya udah, sana Bibi buka pintunya, Bapak mau ke belakang dulu," ucap pak Tarno sudah berlari ke tempatnya dimana ia sering menghabiskan waktu di Rumah belakang.
"Pak Tarno mau ke mana?" Panggil Bibi.
Pak Tarno terus berlari menyelamatkan diri, tak menghiraukan bibi yang memanggilnya.
"Aduh bagaimana ini, habislah aku," ucap Bibi pasrah keluar menyambut majikan.
Saat melihat Abizar dan Farah keluar dari mobil, Bibi melihat kemarahan di wajah.
"Kenapa kalian tak mengangkat panggilan ku?" tanya Abizar saat melihat asisten rumah tangganya menyambut kedatangannya.
"Maaf tuan," hanya itu yang Bibi katakan, dialog yang sudah dirancangnya tadi tiba-tiba menguap dari pikiran Bibi.
"Khanza," teriak Abizar Saat memasuki rumah.
Farah melihat Bibi yang menunduk dan ikut masuk mengikuti Abizar yang terus memanggil Khanza dan berjalan ke arah kamar mereka.
"Khanza," panggil Abizar sambil membuka pintu, mengira jika Khanza ada di dalam kamarnya.
Degβ¦.
Abizar mematung saat melihat kondisi kamarnya yang sangat berantakan.
Farah membekap mulutnya tak kalah terkejut melihat apa yang ada di depannya, kamar Khanza sungguh sangat berantakan.
Farah membelalakkan matanya saat melihat obat berserakan di lantai, yang ia yakin jika itu adalah obat yang ditukar oleh Abizar.
"Apa ini. Apakah Khanza tahu tentang obat ini," batin Farah.
Abizar masuk dan berjalan pelan, melihat apa yang terjadi. Matanya menelisik setiap sudut kamarnya dan matanya tertuju pada secarik kertas yang ada di atas nakas. Yang paling membuat jantungnya berpacu dengan cepat, saat melihat di atas kertas itu ada cincin kawin yang selama ini melingkar di jari Khanza.
πππππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
Jangan lupa like, vote, dan komennya π
__ADS_1
Salam dariku Author M Anha β€οΈ
πππππππππππππππ