Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Seasin 2: Bab 27


__ADS_3

"Apa ini rumahnya?" tanya Azriel begitu ia memarkirkan mobilnya tepat di pintu gerbang.


"Iya, sebentar aku titip ini dulu pada satpam, katanya Dewa belum pulang dia minta untuk dititipkan ke satpamnya saja," ucap Mentari yang sepertinya tadi melakukan komunikasi via chat dengan Dewa.


"Memangnya Dewa itu masih muda ya, kamu kok nggak manggilnya dengan pak Dewa, dia seusia kita ya?" tanya Azriel.


"Nggak sih, dia mungkin lebih tua dikit, dia kan sudah bekerja di kantor. Entahlah dia usianyq berapa, tapi ga jauh beda dengan kita. Aku lebih nyaman memanggilnya Dewa, waktu itu dia juga memperkenalkan namanya dengan Dewa saja dan tak keberatan aku panggil Dewa," jelas Mentari dengan santainya.


"Ya sudah, cepatlah ini sudah malam," ucap Azriel membuat Mentari pun mengangguk dan turun dari mobil tersebut.


Baru saja Mentari ingin menyerahkan kue tersebut pada satpam, sebuah mobil menghampiri mereka.


Mentari dan pak satpam serta Azriel yang masih duduk di mobil melihat ke arah mobil yang baru datang tersebut yang berhenti tepat di samping mobil Azriel dan seorang pria berjas turun dari sana.


"Apakah itu Dewa?" gumam Azriel menatap pria yang terlihat masih sangat muda.


Mentari yang melihat Dewa datang pun langsung menghampirinya dengan membawa kuenya.


"Ini untukmu, maaf ya tadi sempat tertukar." Mentari menyerahkan kuenya dengan senyuman di wajahnya.


"Ya sudah, terima kasih. Mau mampir dulu?" ajak Dewa.


"Nggak usah ya, ini sudah malam. Terima kasih sekali lagi telah membantuku, berkat dirimu usaha ibuku semakin lancar."

__ADS_1


"Iya nggak papa, jika ada yang bisa aku bantu katakan saja. Nanti aku bantu, lagian jika hanya sekedar mempromosikannya bukanlah sesuatu yang sulit."


Azriel yang sejak tadi melihat mereka mengobrol tanpa mendengar apa obrolan mereka, membunyikan klakson membuat keduanya berbalik ke arah mobil Azriel. Azriel tak suka melihat kedekatan mereka.


"Sudah dulu ya, aku sudah ditunggu. Aku permisi, ditunggu lagi ya orderannya," ucap Mentari membuat Dewa pun mengangguk dan Mentari segera berlari naik ke mobil tersebut.


Dewa memperhatikan siapa yang membawa mobil itu, tak biasanya Mentari datang dengan mobil, ia biasanya selalu datang ke kantor ataupun ke rumahnya dengan motor bututnya. Lalu siapa pemilik mobil mewah yang mengantar Mentari, ada begitu banyak pertanyaan di hati Dewa saat ini. Entah mengapa semenjak bertemu dengan Mentari, ia merasa senang, hari-harinya yang dulunya hampa terasa berwarna. Terlebih lagi Mentari selalu aktif membalas pesannya.


Azriel pun melajukan mobilnya menuju ke kediaman Mentari.


"Kalian bicara apa lama sekali? Kenapa nggak diberikan saja lalu pergi?" ucap Azriel tanpa melihat ke arah Mentari, terdengar nada cemburu dari ucapannya.


"Enggak kok, aku hanya mengucapkan terima kasih dan kata maaf."


"Hanya itu?"


"Kamu sejak kapan akrab dengannya?" tanya Azriel lagi.


"Waktu pertama kali promo kue spesial itu. Kebetulan hari itu aku mempromosikannya pada salah satu teman kita yang kakaknya bekerja di perusahaan itu, waktu itu kakaknya itu tak bisa menyediakan kue untuk perusahaan mereka, makanya aku dipilih untuk membantunya dan waktu itu aku bertemu dengannya, orang yang sangat baik."


"Kalian nggak ada hubungan spesial kan dengan si Dewa itu?" tanya Azriel hqnyq melirik Mentari.


"Hubungan spesial apa maksudmu?" tanya Mentari masih dengan kepolosannya.

__ADS_1


"Lupakan saja," ucap Azriel.


Mentari sebenarnya tahu apa maksud dari temannya itu, hubungan apa yang dimaksudnya. Namun, dia berpura-pura seolah tak mengerti, ia tak ingin memberi harapan pada siapapun dan juga menyakiti hati siapapun. Mentari tahu Azriel menyukainya. Namun, ia tahu jika begitu besar jarak di antara mereka dan dia tak berani mengambil resiko untuk mengikis jarak tersebut, ia hanya ingin hidup tenang dan menggapai cita-citanya. Mentari hanya ingin membahagiakan ibunya di masa tua, simple dan tak mau terlalu terbebani.


Keduanya pun sama-sama terdiam dengan pikiran mereka masing-masing, hingga Mentari menyadari jika mereka berkendara bukan ke arah alamat rumahnya.


"Azriel, kita mau ke mana?" tanyanya menatap Azriel yang sejak tadi tetap fokus pada kemudinya.


"Aku lapar, kita makan dulu," ucapnya tanoa menoleh, kemudian ia menepikan mobilnya di sebuah warung pinggir jalan. Di mana yang Azriel tahu Mentari sangat suka dengan makanan yang ada di warung tersebut, walau hanya warung pinggir jalan. Namun, bersih dan juga sangat nyaman.


Mentari yang juga lapar hanya mengikuti saja Azriel masuk ke dalam warung pinggir jalan tersebut, mereka memesan menu makanan yang juga biasa mereka pesan saat berada di sana, lagi-lagi mereka makan dalam situasi sunyi, sepi tak ada pembahasan di antara mereka hingga Azriel membayar semua yang telah mereka makan.


Azriel memesan dua minuman dingin dan membawanya ke mobil, ia memberikan satu pada Mentari kemudian ia melajukan kembali mobilnya sambil sesekali meminum minuman dinginnya.


"Kamu nggak masalah kan kita ke tempat lain lagi? Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu." Azriel melihat Mantari sejenak.


"Iya, nggak papa. Aku sudah bilang kepada ibu jika aku akan pulang terlambat, lagi pula di rumah sudah ada dua orang yang membantu ibu membuat pesanan untuk besok. Memangnya kita mau ke mana?" tanya Mentari.


Azriel tak menjawab dan hanya terus melajukan mobilnya hingga mereka berhenti di sebuah taman.


Keduanya tak turun dari mobil dan hanya duduk di mobil, melihat orang-orang yang berlalu lalang di tempay yang paling nyaman tersebut. Walau jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Namun, taman itu masih ada beberapa pengunjung.


"Mentari, kita sudah bersama sejak lama, kita sudah saling mengenal dan aku merasa sangat nyaman," ucap Azriel menatap ke arah Mentari.

__ADS_1


Mentari hanya diam dan meminum minumannya, ada rasa getaran yang berbeda di hatinya, ia takut bagaimana jika Azriel mengungkapkan perasaannya padanya hari ini. Jawaban apa yang harus dia jawab.


"Aku tahu tak seharusnya aku menyimpan perasaan ini, tapi itulah yang aku rasakan. Aku menyayangimu lebih dari seorang teman, aku mencintaimu Mentari," ucap Azriel membuat Mentari yang sejak tadi hanya menunduk sambil memasukkan pipet ke dalam mulutnya langsung melihat ke arah Azriel. Apa yang ditakutkannya akhirnya didengarkannya, pernyataan cinta dari Azriel.


__ADS_2